Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kebahagiaan


__ADS_3

Semua anggota keluarga Soepomo menuju rumah sakit tempat ibu Sari di rawat. Tapi sebelum ke sana, Sari sudah membersihkan dirinyas terlabih dahulu dan sudah menukar pakaiannya dengan pakaian yang baru. Bram sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Sari. Bram tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi dengan Sari.


Semua orang melihat ketakutan dari mata Bram. Mereka sangat kasihan dengan Bram saat ini. Saat melihat Bram seperti ini, semua anggota keluarga Soepomo menjadi sangat yakin kalau Bram benar benar mencintai dan membutuhkan Sari.


"Pi sepertinya Bram sangat mencintai Sari. Gimana kalau pernikahan mereka dipercepat saja, biar Bram kembali tenang. Jadi Bram bisa menjaga Sari dua puluh empat jam." ujar Aris kepada Papi.


Papi menatap Bram. Dia sepakat dengan pendapat yang diajukan oleh Aris tadi.


"Oke Ris. Nanti Papi akan bicarakan dengan Ayah Hans. Semoga dia setuju dengan usul kita ini" jawab Papi yang juga ingin membuat Bram tidak dalam rasa takutnya terus.


"Makasi Pi. Ingat Papi hutang cerita masih ada." ujar Aris mengingatkan Papi lagi.


"Oke sip." jawab Papi.


Aris melihat Ghina yang telah selesai berpakaian. Dia menuju istrinya itu.


"Wow" ujar Aris


"Kenapa sayang??? Mau ngomong cantik lagi???" tanya Ghina yang sudah tau apa yang akan dikatakan oleh Aris.


"Hahahahahahaha. Kali ini tidak, kali ini aku hanya mau mengatakan kalau istriku ini selain cantik juga mengerikan." kata Aris sambil memeluk Ghina dari belakang.


"Tau dari mana menyeramkan?" tanya Ghina lagi.


"Tau dari gaya kamu saat mengatakan hal hal yang akan kamu, Sari dan Mira lakukan kepada manusia hina itu." jawab Aris lagi.


"Kamu mau menyaksikannya sayang?" Ghina menawarkan hal berbeda kepada Aris.


"Apa kamu mau mengajak aku ke sana?" tanya Aris lagi.


"Kalau kamu kuat, aku akan membawa kamu ke sana. Jadi kamu bisa tau Aku, Frenya, Daniel dan Argha melakukan hal apa selain mengurus GA Grub." ujar Ghina lagi.


"Jadi aku semakin gampang menjelaskan kepada kamu siapa aku sebenarnya sayang. Aku nggak harus memilih kata kata. Cukup lihatkan saja buktinya maka kamu akan paham dengan semua yang ada." lanjut Ghina lagi.


"Aku menunggu hari itu sayang." ujar Aris.


"Besok sayang. Kita akan ke sana membawa Argha. Aku sangat yakin Argha sedang marah karena kita tidak membawa dirinya melakukan penyergapan. Padahal dia berusaha mati matian menahan kantuknya untuk bisa ikut." ujar Ghina lagi.


"Tapi ini bukan saatnya Argha ikut. Argha memiliki moment lain untuk ikut dalam pertempurannya sendiri." lanjut Ghina lagi.


"Oke besok kita akan ke sana. Aku juga mau buat perhitungan dengan dia. Apa aku boleh ikut serta sayang?" tanya Aris lagi.


"Boleh lah masak ndak. Kamu lebih memiliki urusan dengan dia. Nanti Steven akan memberikan rekamannya kepada kamu." jawab Ghina.


"Oke semua sudah siap mari kita berangkat." ujar Papi mengurai kemesraan yang terjadi.


"Hahahahahaha iri." ujar Ayah Wijaya yang melihat Papi mengurai kemesraan empat pasang anaknya itu.


"Dikit" jawab Papi dengan pelan.


"Sama" balas Ayah yang sebenarnya juga iri tapi berusaha mati matian menahan rasa irinya.


Mereka semua kemudian meninggalkan butik tersebut. Mereka kembali masuk ke dalam dua buah mobil yang sudah menunggu di depan butik. Mereka akan langsung menuju rumah sakit harapan kita tempat Ibu Sari dirawat.


"Yank kenapa ibu bisa sampai di rawat?" tanya Sari kepada Bram.


Bram terlihat berpikir sesaat.


"Yank" ujar Sari lagi.


"Ibu sempat pingsan saat kamu di culik wanita ular itu. Ibu kemudian di bawa Anggel menuju rumah sakit, tetapi Ibu lebih memilih untuk tetap tidur sampai Ibu mendengar suara kamu." ujar Bram kepada Sari


"Kasihan Ibu sayang." kata Sari sambil mengusap air matanya.


"Sayang jangan nangis ya. Aku menjadi makin merasa bersalah sayang." kata Bram menghapus air Sari.


Sari kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak Bram. Dia benar benar lelah.


Perjalanan dari butik ke rumah sakit usai sudah. Bayu membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran rumah sakit harapan kita. Ssteven yang mengemudikan mobil satunya lagi juga berbelok masuk. Mereka memarkirkan mobil berdampingan. Semua anggota keluarga Soepomo turun dari mobil. Mereka semua berjalan menuju lobby rumah sakit. Saat itulah seorang anak kecil gembul berdiri sambil bertolak pinggang.


"Bunda Daddy" teriak anak kecil itu dengan nada emosi.


"Hay sayang" ujar Ghina menyapa Argha.


"Sayang tapi ninggalin." ujar Argha dengan membudut.


Aris menggendong anaknya itu. Sedangkan Ghina bertugas untuk memberikan pengertian kepada Argha.


"Sayang, Argha taukan gimana bahayanya di sana??" tanya Ghina memancing fokus Argha.


"Tau" jawab Argha.

__ADS_1


"Nah argha juga tau kan mereka memakai pistol?" tanya Ghina lagi.


"Tau." jawab Argha.


"Nah kalau Argha tertembak siapa yang akan meninggal duluan?" tanya Ghina lagi


"Bunda dan Daddy" jawab Argha.


"Apa Argha mau Bunda dan Daddy meninggal?" tanya Ghina selanjutnya


"Iya" jawab Argha sambil tersenyum.


"Apa???" teriak Aris dan Ghina yang mendengar jawaban dari Argha.


"Hahahahahahahaha. Iya, Argha mau hidup dengan Daddy dan Bunda serta semuanya seribu tahun lagi." jawab Argha sambil tersenyum.


"Kirain." jawab Ghina.


"Jadi Argha masih marah dengan Bunda dan semuanya?" tanya Ghina lagi.


"Nggak. Tapi ada syaratnya." ujar Argha mengajukan syarat kepada Ghina.


"Apa?" tanya Ghina yang penasaran.


"Argha harus ikut membalaskan dendam Argha ke nenek lampir itu." ujar Argha mengajukan syaratnya.


"Oke" jawab Aris terlebih dahulu. Aris mengangguk kepada Ghina.


"Oke juga karena Daddy udah oke." jawab Ghina.


Keluarga mereka tertawa melihat kelakuan Argha yang melakukan transaksi dengan Bunda dan Daddynya. Mereka tidak menyangka Argha akan mengajukan syarat itu. Padahal seharusnya anak seusia Argha akan mengajukan syarat seperti minta mainan, minta jajan atau hadiah. Nah Argha memang berbeda.


Akhirnya mereka telah sampai di depan kamar rawat inap Ibu. Sari dan Bram masuk terlebih dahulu. Setelah itu baru anggota keluarga yang lain.


Ayah Hans yang melihat anak perempuannya kembali dalam keadaan selamat dan tidak ada sedikit lukapun membawa Sari ke dalam pelukannya. Ayah Hans menangis bahagia dan juga terharu.


"Kamu kembali sayang" ujar Ayah Hans.


"Ayah, Sari akan selalu kembali kepelukan Ayah dan Ibu. Ayah jangan nangis lagi ya." ujar Sari sambil menghapus air mata Ayahnya.


Ghina dan Maya yang melihat semua itu tanpa sadar juga meneteskan air mata mereka. Ini kali pertama diantara mereka bertiga menjadi korban penculikan. Semoga ini menjadi yang terakhir.


Anggel maju mendekat ke arah Sari. "Sari bangunkan Ibu ya. Ibu akan membuka matanya saat Ibu mendengar suara kamu. Ibu sebenarnya takut membuka matanya karena tidak melihat wajah kamu." ujar Anggel yang kata katanya sudah tidak tersusun rapi lagi akibat luapan emosinya. Terlebih lagi Anggel dalam keadaan hamil, emosinya menjadi tidak stabil.


Sari yang tangannya selalu digenggam oleh Bram berjalan mendekati Ibu. Sari kemudian duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Ibu.


Sari menatap Bram. Bram yang tidak paham menatap Sari kembali.


"Sayang lepaskan bentar ya. Aku mau ngomong dengan Ibu." ujar Sari meminta Bram melepaskan genggaman tangannya yang hanya terlepas saat Sari memeluk Ayahnya.


Bram kemudian melepaskan tangan Sari. Dia berdiri di dekat Sari.


"Bener bener lah tu Kak Bram. Siapa coba yang mau culik Sari di tengah tengah keluarganya." ujar Mira menatap Bram dengan kesal.


"Kamu juga gitu sayang." jawab Bayu


"Hem" jawab Mira.


Bayu kemudian membawa Mira duduk di sofa tempat Ghina dan Aris duduk. Kedua wanita hebat itu terlihat sangat capek. Sedangkan Frenya sudah tertidur dengan menumpangkan kepalanya di paha Steven. Papi dan Ayah sedang berdiri di dekat Ayah Hans. Argha sama tau aja sibuk dengan gamenya sendiri.


Sari meraih tangan Ibunya. Dia mencium tangan Ibunya itu berkali kali. Sari kemudian menarik kursinya, dia mendekat ke kepala Ibu.


"Ibu, ini Sari. Sari kangen dengan Ibu. Ibu bangun ya. Apa Ibu nggak mau lihat Sari menikah sepuluh hari lagi??? Sari nggak mau awal bulan depan menikah Ibu. Sari mau sepuluh hari lagi. Jadi Ibu bangun ya Bu." ujar Sari lagi


Papi dan Ayah Hans yang mendengar apa yang diucapkan oleh Sari sama sama mengangguk setuju. Mereka menyetujui acara pernikahan yang dipercepat itu.


Ibu masih setia dengan tidurnya. Padahal sebenarnya Ibu sedang berusaha untuk bangun kembali. Tetapi Ibu masih perlu diyakinkan kalau yang berbicara itu beneran Sari anaknya.


Sari menatap Anggel kembali. Anggel mengangguk dan mengangkat jarinya satu buah. Sari mengangguk paham.


"Ibu buka matanya Bu. Sari ingin memakan makanan Ibu. Sari lapar Bu. Apa Ibu tega melihat Sari lapar???. Besok ya Bu setelah Sari menikah, Sari akan tinggal dekat dengan Ghina dan Mira. Ibu pasti akan senang karena Ibu akan merasa nyaman karena Sari dekat tinggal dengan Gina dan Mira." lanjut Sari lagi yang berbicara udah kemana mana.


"Ibu apa Ibu nggak kasian dengan Ayah??? Ayah dari kemaren menunggui Ibu tidur terus. Apa Ibu ndak capek tidur terus?" lanjut Sari lagi.


"ayulah Bu bangun. Sari kangen Ibu" ujar Sari kembali


Ibu kemudian menggerakkan kelopak matanya. Ibu akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Sari" ujar Ibu sambil memegang wajah Sari


"Ibu" jawab Sari.

__ADS_1


Sari langsung memeluk Ibunya. Ibu dan Anak itu menangis bahagia. Penderitaan mereka usai sudah.


"Kamu baik baik saja kan Nak?" tanya Ibu sambil memeriksa Sari.


"Baik Ibu. Doa Ibu yang membuat Sari dalam keadaan baik baik saja." jawab Sari lagi.


Ibu beralih melihat Bram.


"Nak Bram tolong nikahi anak ibu dalam sepuluh hari ini ya." ujar Ibu kepada Bram.


"Baik Bu" jawab Bram dengan semangat.


"Hahahahaha. Semangat dia" ujar Aris dan Bayu serempak.


"Sudah jangan mulai. Mari kita pulang biarkan Sari dan Ibu beristirahat. Sari kamu pakai kamar sebelah untuk beristirahat. Bram jangan ganggu Sari." ujar Papi memperingatkan Bram.


Bram mengangguk.


"Anggel kamu juga istirahat ya." ujar Ayah Wijaya kepada menantunya itu.


"Ayah, Anggel pulang sama Ayah ya. Anggel udah selesai kerja." kata Anggel lagi


"Oke sip. Kita akan labgsung ke rumah Wijaya saja." jawab Ayah yang paham anak dan menantunya akan ngapain.


Mereka kembali menuju rumah utama. Aris sudah mebggenggam tangan Ghina dari tadi. Tak terasa mereka sudah sampai di rumah utama


"Pi, kami langsung pulang ya. Kasian Bree udah dua hari ditinggal." ujar Bayu yang ingat anak perempuannya.


"Oke" jawab Papi.


Mereka semua berpisah. Hari ini benar benar hari yang melelahkan bagi semuanya.


Para pengawal yang luka luka sudah di rawat di rumah sakit khusus milik Ghina. Sedangkan Mami sudah berada di markas. Mami tinggal menunggu hadiah dari tiga sahabat itu, Aris dan Argha serta Papi.


"Sayang jadikan ya kita ngeneng ngeneng nya?" tanya Aris kepada Ghina


"Jadi sayang. Tapi kita makan dulu ya. Aku beneran lapar." kata Ghina menjawab pertanyaan absurd suaminya itu.


"Oke. Kita isi stamina dulu untuk olahraga malam." Aris setuju dengan usulan Ghina.


Ghina kembali turun ke lantai satu rumah utama. Dia akan memastikan semua menu makan malam sudah terhidang di atas meja. Saat Ghina memastikan hal itu, Papi dan Argha serta Frenya sudah berjalan menuju meja makan.


"Mana Aris Ghin?" tanya Papi yang tidak melihat Aris berada di sana.


"Sedang bersih bersih Pi. Tadi aku bersih bersih duluan. Bentar lagi juga turun" jawab Ghina.


Mereka makan malam benar benar malam. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi karena perut protes minta di isi makanya mereka tetap akan makan malam.


Tidak beberapa lama Aris turun dari kamar. Mereka kemudian makan malam bersama. Makan malam hanya untuk mengganjal perut sampai pagi saja.


"Ghina, Frenya nanti tolong siapkan semua kebutuhan pernikahan Bram." ujar Papi kepada Ghina dan Frenya


"Aman itu Atuk. Frenya paling suka hal itu" jawab Frenya yang memang paling suka menyiapkan semua pesta.


Mereka telah selesai makan dan mengobrol ringan menunggu nasi turun ke perut mereka.


"Pi kami istirahat dulu ya" ujar Aris kepada Papi.


"Argha bobok sama Daddy" teriak Argha yang langsung berlari dan naik ke punggung Aris


"Huf gagal lagi" ujar Aris yang tau Argha tidak akan bisa dilarang kalau sudah sangat ingin tidur di kamar orang tuanya.


"Okelah Gha kalau begitu. Kamu tidur dengan Dady dan Bunda" jawab Aris lagi.


"Hahahahahaha." Ghina hanya bisa tertawa saja melihat wajah kesal suaminya itu.


Sedangkan Argha mengangkat jempoknya ke arah Atuk dan Frenya. Mereka berdua tersenyum simpul ke arah Argha.


"Oh jadi kerjaan Papi dan Frenya lagi?" ujar Ghina kepada Frenya dan Papi.


"Siapa lagi" jawab Papi.


"Marah Bun?" tanya Frenya kepada Ghina.


"Nggak Nya, malahan sedikit berukur nggak jadi capek lagi" jawab Ghina yang sebenarnya lelah.


Tapi ya itu juga Ghina yang salah yang telah membuat Aris ingin melakukan olahraga malam, karena Ghina yang memancing saat mereka berada di butik tadi.


Ghina kemudian naik ke kamar mereka. Dia melihat Aris yang sudah tertidur dengan Argha memeluk dirinya. Ghina menatap keluarga kecilnya itu. Dia sangat bahagia.


Ghina kemudian membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Ghina naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah Argha. Argha akan sangat marah saat dia terbangun melihat Ghina tidur di sebelah Aris.

__ADS_1


__ADS_2