Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kondisi Sari


__ADS_3

"Ada sesuatu Pi. Kita harus cepat." ujar Daniel.


"Ada Apa Niel?" tanya Aris kepada anaknya itu.


"Susah Niel menjelaskannya Daddy. Lebih baik kita bergerak cepat ke rumah sakit, biar kita mengetahui apa penyebabnya. Niel juga tidak tau pasti apa kabar yang akan diberikan oleh dokter Toni." ujar Daniel menjawab pertanyaan Daddynya itu.


"Oh baiklah." ujar Aris.


"Steven, Jero, Boy tolong bantu supirin kami. Sedangkan pengawal yang lain buka jalan menuju rumah sakit. Kita harus cepat sampai." ujar Aris memberikan instruksi kepada pengawal milik Ghina.


Semua pengawal dan juga keluarga besar berjalan menuju mobil, sedangkan Ghina menuju dapur untuk mencari Bik Ina yang sekarang diangkat menjadi kepala pelayan rumah.


"Bik Ina tolong kalau ada yang datang katakan kami semua ke rumah sakit." ujar Ghina meninggalkan pesan kepada kepala rumah tangga.


"Apa yang terjadi Nona?" tanya Bik Ina dengan nada penasaran.


"Sesuatu terjadi dengan Nyonya Sari. Tetapi kami belum tau apa yang terjadi. Tolong jaga rumah ya Bik." ujar Ghina


"Siap Nona. Hati hati di jalan. Urusan rumah biar saya yang menghandle semuanya." jawab Bik Ina.


"Makasi Bik Ina, tolong bantu doa nya untuk Sari ya. Sampaikan juga dengan semua pelayan." ujar Ghina.


Ghina kemudian berjalan keluar rumah utama, dia melihat semua anggota keluarganya sudah masuk ke dalam mobil. Ghina kemudian juga masuk ke dalam mobil yang masih terbuka pintunya itu.


"Jalan Pak." ujar Aris saat melihat istrinya sudah duduk.


Mobil Aris memberikan kode kepada mobil paling depan untuk mulai jalan. Tiga buah mobil besar bergerak dari rumah utama. Di depannya ada sebuah mobil hitam yang di tugaskan sebagai pembuka jalan dan dua motor hitam, dibagian belakang ditutup dengan tiga motor besar mengiringi perjalanan keluarga besar di negara I. Mereka bergerak dengan sangat cepat.


"Daniel apa yang terjadi?" kata Bram sekali lagi bertanya kepada Daniel. Bram sangat penasaran dengan kondisi istrinya itu. Pagi tadi Bram tinggalkan Sari memang masih belum sadar, tetapi menurut dokter Toni kondisi Sari aman, makanya Bram meninggalkan Sari di rumah sakit dan ikut acara pemakaman Ibu mertuanya.


"Papi, maafin Daniel, sekali ini diluar kemampuan Daniel menjawabnya, biarlah dokter Toni yang menjawab kepada Papi apa yang terjadi kepada Mami. Daniel takut salah Pi. Mohon Papi mengerti dengan posisi Daniel, kalau Daniel tau, Daniel pasti akan katakan." ujar Daniel yang tidak ingin mengambil resiko dengan menceritakan kepada Papinya. Daniel memang mengetahui tetapi hanya sepersekian, makanya Daniel


"Secara garis besar aja Niel, kalau tidak bisa secara rinci." ujar Bram masih mendesak Daniel.

__ADS_1


"Bram" ujar Papi dan Ayah bersamaan.


Bram langsung terdiam saat mendengar Papi dan mertuanya sudah memanggil namanya dengan nada tegas. Bram kemudian memilih untuk diam. Dia tidak ingin Papi dan Ayah semakin marah. Dia juga melihat Daniel yang memang tidak bisa di desak untuk memberitahukan apa yang terjadi.


"Sabar Kak. Kita semua cemas dengan keadaan Sari. Kalau Daniel mengatakan dia tidak tau, maka kita harus percaya dengan dia." ujar Ghina.


Ghina sebenarnya tau kalau Daniel tahu tentang apa yang terjadi dengan Sari. Tetapi karena Daniel tidak tim dokter yang menangani Sari, makanya Daniel tidak mau memberitahukan apa yang terjadi dengan Sari saat ini. Jadi jalan satu satunya mereka memang harus bersabar.


Mereka kembali terdiam, mobil yang dikemudikan oleh Steven melaju dengan kencangnya. Semua mobil bergerak dengan cepat.


Tidak beberapa lama, semua mobil milik keluarga Soepomo berbelok masuk ke dalam perkarangan rumah sakit. Mereka semua turun tepat di lobby rumah sakit. Terlihat seorang dokter sudah menunggu kedatangan keluarga itu.


"Mana dokter Toni, dokter?" tanya Daniel.


"Dokter Toni diruangan Dokter." jawab dokter tersebut.


"Atuk, kita sekarang keruangan Mami Sari." ujar Daniel.


Dokter yang tadi menjemput mereka memimpin berjalan di depan. Dia bertindak sebagai penunjuk arah ruangan dimana Sari di rawat. Bram melihat ini adalah ruangan yang berbeda dengan ruangan saat pagi hari dia meninggalkan Sari. Perasaan Bram mulai tidak menentu. Dia sangat takut terjadi sesuatu terhadap istrinya itu.


"Dokter, Anda salah jalan. Ruangan rawat istri saya bukan ke arah sini." ujar Bram dengan sedikit emosi.


"Maaf Tuan. Istri Anda kami pindahkan ke ruangan lain." ujar dokter tersebut.


Papi yang melihat Bram sudah mulai akan emosi, menahan pundak Bram agar tidak melanjutkan perkataannya. Papi sangat takut Bram nanti akan menyinggung perasaan dokter tersebut.


Mereka kembali mengikuti langkah dokter itu. Mereka sekarang sudah berada di lantai tuga rumah sakit. Peraturan di rumah sakit milik Ghina, pengunjung siapapun itu, dokter yang sedang tidak merawat pasien termasuk pejabat rumah sakit tidak diizinkan memakai lift menuju ruangan. Mereka harus berjalan kaki. Kecuali bagi dokter yang akan visit pasien, maka diperbolehkan memakai lift khusus dokter.


"Sayang, apa kamu nggak bisa mengubah peraturan rumah sakit ini. Bagi siapapun boleh memakai lift." ujar Aris yang terlihat lelah harus berjalan.


"Tidak bisa sayang. Ini sekalian olahraga bagi siapapun." ujar Ghina yang memang memutuskan seperti itu agar semua orabg di rumah sakit menjadi sehat karena harus berjalan kaki tidak diam berdiri dalam sebuah kotak.


Tidak terasa mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang semuanya terlihat steril dan jauh dari keramaian. Semua anggota keluarga heran melihat tempat itu. Mereka sama sekali tidak menyangka Sari akan dirawat di ruangan seperti itu.

__ADS_1


"Niel?" ujar Ghina dan Mira yang terkejut melihat tempat Sari dirawat.


"Bunda ini semua demi Mami. Kita akan dengar penjelasan dari Dokter Toni terlebih dahulu. Baru kita bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya." ujar Daniel menatap Bundanya itu.


Dokter Toni yang dipanggil ke dalam oleh dokter yang tadi menjemput mereka, langsung keluar. Dokter Toni melihat semua anggota keluarga Soepomo hadir kecuali Arga dan Bree yang masih belum cukup umur untuk ke rumah sakit.


"Dokter, ada apa dengan istri saya?" ujar Bram bertanya kepada dokter Toni.


"Sebentar Tuan Bram, saya akan menjelaskan kepada semua keluarga ada apa dengan Nyonya Sari sampai harus tim dokter pindahkan ke ruangan ini." ujar dokter Toni yang bertindak sebagai dokter kepala dalam menangani Sari.


"Jadi, Nyonya Sari mengalami trauma yang cukup berat di otaknya Tuan Bram. Sehingga dia sama sekali tidak mau bangun dari tidur panjangnya. Saya berharap semua keluarga membantu Nyonya untuk bangun dari tidur panjangnya itu." ujar dokter Toni


"Saya berharap semua anggota keluarga membantu Nyonya keluar dari tidur nyamannya ini. Hanya keluarga yang bisa. Dokter Anggel akan membicarakan bagaimana caranya kepada semua anggota keluarga." ujar Dokter Toni.


"Dokter apakah istri saya akan bangun?" ujar Bram bertanya.


"Kita sama sama berdoa dan berusaha Tuan Muda. Kalau berdasarkan analisa kami sebagai tim dokter, Nyonya akan sadar dan bisa kembali seperti biasanya. Tetapi kita juga tidak bisa menargetkan seratus persen hal itu." ujar dokter Toni


"Lebih jelasnya lebih baik dokter Anggel yang memberitahukan kepada kita semua." ujar dokter Toni.


Anggel yang hari itu memang izin tidak praktek karena Ibu Sari meninggal maju ke dekat dokter Toni untuk menjelaskan bagaimana cara mereka menyadarkan kembali Sari.


"Jadi, dari sebanyak ini kita orang yang paling penting bisa membangunkan Ghina adalah Ayah dan Kak Bram, barulah setelah itu Ghina dan Mira." ujar Anggel.


"Kita harus terus berbicara dengan Sari. Kita harus mengingatkan semua kejadian kejadian terlebih kejadian penting yang dialami oleh Sari." ujar Anggel.


Mereka kemudian terlihat terdiam dan memandang ke dalam rungan tempat Sari di rawat. Mereka semua tidak menyangka akibat kecelakaan itu begitu besar dampaknya.


Mira terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Ghina. Ghina menatap dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mira.


"Sayang, aku ke kantin sebentar ya." ujar Ghina pamit kepada suaminya.


Aris mengangguk menyetujui permintaan Ghina. Aris tau kalau Ghina sama sekali belum makan dari tadi pagi.

__ADS_1


Ghina dan Mira berjalan berdua menuju ruangan Daniel. Mereka akan berbicara di sana. Pembicaraan yang cukup penting hasil dari pelacakan Alex dan tim.


__ADS_2