
Aris bangun dengan senyum di wajahnya yang tidak lepas dari pulang kantor. Hari ini Aris tidak pulang ke rumahnya tetapi ke rumah utama. Aris rindu dengan kedua orang tuanya. Walaupun mereka tidak sempat berbincang semalam, tapi saat sarapan pagi ini pun sudah membuat Aris bahagia. Aris masuk ke dalam kamar mandi besarnya itu, Aris langsung saja menyiram badannya dengan air yang keluar dari shower. Aris tidak berlama-lama mandi. Selesai mandi dia memakai baju untuk berangkat ke kantor. Setelah itu Aris turun untuk menuju ruang makan sambil bersiul senang hal yang tidak pernah dilakukan Aris selama ini. Papi, Mami dan pelayan yang melihat kejadian langka ini hanya terbengong saja. Aris yang menjadi pusat perhatian pagi itu santai saja turun ke bawah tanpa menghiraukan orang-orang yang tercenang melihat tingkahnya.
"Mi anak kamu kenapa Mi?" tanya Papi kepada Mami.
"Nggak tau Pi. Semoga bukan penyakit kambuhan." jawab mami sambil tersenyum. Papi yang mendengar hanya geleng-geleng kepala saja.
Aris yang baru datang langsung mencium pipi Mami nya. "Muach pagi Mami tercentik sedunia?" kata Aris. Mami yang menerima ciuman pagi langsung memegang kening Aris.
"Kamu amankan sayang?" tanya Mami heran dengan perubahan Aris hari ini.
"Hahahaha. Aris sedang bahagia mami. Tapi apa yang menyebabkan kebahagiaan Aris. Besok Aris ceritakan kalau sudah pasti." kata Aris sambil langsung duduk di kursinya biasa.
"Pagi Pi." kata Aris menyapa Papi.
"Papi kira kamu lupa dengan Papi, Ris." manyun Papi.
"Hahahaha. Lupa dengan Papi? Bisa miskin mendadak aku Pi."
Aris menyamtap sarapan yasng sudah disediakan oleh Mami.
"Ris, Mami mau ngomong serius dengan kamu. Apa bisa pagi ini Ris?" Mami menatap Aris dengan tatapan memohon.
"Bisa Mi. Aris tidak ada meeting hari ini. Sepertinya serius Mi. Ada apa?" Aris menghentikan suapannya.
"Kita habiskan makanan dulu Ris. Baru ngomong." perintah Papi kepada Aris.
Mereka kembali menyantap sarapan yang sudah disediakan. Aris makan dengan pikirannya yang sudah berkelana kemana-mana. Selesai makan Api mengajak Mami dan Aris keruang kerja Papi.
"Duduk Ris." kata Papi.
Aris duduk di sofa yang ada diruang kerja itu. Papi duduk di sofa sebelah Aris. Sedangkan Mami mengambil dokumen yang berada di laci meja kerjanya. Papi dan Mami memang berbagi ruang kerja selama ini. Aris yang melihat Mami mengambil sebuah map langsung berpikiran negatif.
"Mami sakit Mi? Sakit apa?" Aris mulai panik.
Mami melangkah ke dekat Papi, kemudian duduk di sebelah Papi.
"Mami tidak sakit sayang. Mami sehat kok. Mami hanya mau minta tolong sama kamu." kata Mami dengan serius.
"Apa Mi? Aris akan nolong Mami selagi Aris mampu." Aris masih seperti senar gitar yang mau putus.
"Ris, mami mau menyerahkan perusahaan mami kepada kamu. Mami sudah tidak bisa menjalankannya lagi. Mami mau istirahat Ris." kaya Mami sambil menyerahkan dokumen perusahaan Jaya kepada Aris.
"Tapi Mi?" Aris terlihat keberatan.
"Sayang tolong ya. Mami mau istirahat. Mami sudah tidak mampu lagi mengelola perusahaan itu " kata Mami dengan tatapan memohon.
Aris yang memang tidak bisa melihat Mami yang memohon sama dirinya langsung mengangguk mengiyakan permintaan mami.
"Baiklah nanti siang kamu datang ke kantor Mami. Kita akan serah terima perusahaan di sana. Langsung perkenalan kamu dengan semua karyawan mami."
"Baiklah Mami." Aris kemudian menatap papi.
"Nanti setelah pemindahan kepemilikan kepada kamu. Maka dua perusahaan akan kita gabung menjadi satu. Jadi kamu tidak perlu menjadi dua presiden direktur." kata Papi paham dengan tatapan Aris.
"Baiklah Papi, Aris setuju dengan usulan Papi. Aris berangkat ke kantor dulu ya Pi Mi." Aris beranjak dari ruang kerja papi menuju kantor utama Soepomo Grub. Sebentar lagi akan berubah nama menjadi SJ Grub.
Aris melajukan mobil barunya dengan kecepatan biasa saja. Hari ini tidak ada meeting yang haris mereka lakukan. Meeting dengan Tuan Rama diundur menjadi minggu depan, karena mendadak Tuan arama harus kembali kenegara F. Orang tuanya sedang sakit. Sehingga mau tidak mau Aris menyetujui untuk melakukan pemunduran jadwal meeting. Aris sampai di kantornya, dia langsung menuju ruang kerjanya.
Aris kangsung duduk di kursi kebesarannya, di atas meja itu Aris melihat ada tiga duah dokumen yang harus di periksanya. Aris kemudian membaca satu persatu lembaran itu kemudian baru membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut. Tak terasa hari sudah pukul setengah sebelas. Tiba-tina saat Aris akan istiraht pinti ruangannya diketuk dari luar.
Tok tok tok
"Masuk" jawab Aris sambil duduk di sofa dan menikmati kue buatan Mami yang di bawanya tadi.
Seseorang membuka pintu ruang kerjanya terlihat Bram dan Bayu masuk keruang kerja Aris.
"Gue kira loe udah balik ke padang Bay." Aris menatap Bayu.
"Gue akan sekali sekali balik ke Padang Ris."
"Kenapa?" Aris menatap tajam Bayu.
Bayu kemudian terdiam dan memasang wajah sedih. Bayu ingin melihat reaksi Aris saat dia memasang wajah seperti itu.
"Perusahaan loe di Padang bermasalah?" tanya Aris dan menetap serius ke mata Bayu.
Bayu terdiam, dia tidak menyangka Aris akan menganggap serius mimik wajahnya yang menyedihkan itu.
__ADS_1
"Loe kenapa nggak ngomong. Gue kan bisa bantu elo." Aris mulai marah. Bram mengode Bayu untuk jangan membuat mood Aris rusak.
"Nggak Ris. Perusahaan gue aman selagi lie nggak memutus kerja sama. Hahahaha"
"Terus kenapa loe masang wajah sedih depan gue tadi?" Aris mulai paham. sifat jail Bayu mulai muncul.
"Ini yang mau gue omongin ke loe." jawab Bayu.
"Bram kok nggak?" Aris menatap curiga Bram.
"Bram udah tau. Loe kan maren-maren sibuk, mencari tau siapa Gina, makanya gue nggak mau ganggu. Bram lah selama ini yang gue ganggu." jawab Bayu.
"Sukur deh. Kalau nggak mati bosen gue loe ganggu terus." jawab asal Aris.
"Jadi kenapa loe jarang pulang ke Padang?" tanya Aris kembali.
"Jadi gini Ris. Gue mau memindahkan kantor utama Candra Grub ke ibu kota. Kantornya sudah siap dan rencananya dalam minggu besok gue akan meresmikan kantor tersebut."
"Wah gue suka itu. Kenapa nggak dari dulu aja Bay. Sekarang ada yang perlu gue bantu?" Aris menawarkan bantuan kepada Bayu.
"Ada lah Ris. Hanya satu, loe nggak boleh memutus kerjasama dengan gue. Kalau bisa loe tambah. Hahahahahaha"
"Kalau itu gampang bisa di atur." jawab Aris.
Aris kemudian menatap kearah Bram. Bram yang ditatap serius oleh Aris langsung merinding ngeri.
"Loe kenapa natap gue kayak gitu banget. Ada apa?" tanya Bram curiga.
"Gue mau ngomong serius sama loe." kata Aris.
Bayu beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak mungkin mencampuri urusan antara Aris dan Bram.
"Loe mau kemana?" kata Aris saat melihat Bayu beranjak dari tempat duduknya.
"Keluarlah. Loe kan mau bahas masalah perusahaan dengan Bram." jawab Bayu.
"Loe sini aja. Loe bukan orang asing lagi bagi gue." jawab Aris. Bayu duduk kembali di kursinya tadi.
"Ada ada Ris?, sepertinya serius sekali." kata Bram.
"Bram, tadi Mami pagi-pagi udah membuat gue pusing." Aris menghela nafas sejenak.
"Terus hubungan dengan gue apa Ris?" Bram semakin merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Gue mau loe yang ngambil alih perusahaan itu ya Bram. Gue kalau dua perusahaan besar rasanya tidak akan sanggup Bram." Aris menatap Bram.
"Ris. Bukan gue nggak mau. Gue akan selalu bantu loe. Tapi untuk menjadi pengganti Mami di perusahaan gue memang menolak keras Ris." jawab pasti Bram.
"Apa nggak ada solusi lain Ris?" Bayu mulai bertanya.
"Ada sih, tadi Papi usul setelah serah terima kepemilikan, Papi mengusulkan supaya perusahaan Soepomo dan Jaya digabung menjadi satu perusahaan yaitu SJ Grub. Supaya gue tidak memimpin dua perusahaan besar." kata Aris menjelaskan.
"Ha, gue lebih setuju itu Ris. Gue akan tetap ngebantu elo kok." kata Bram. Aris kemudian mengangguk peluang untuk meminta Bram menjadi presiden direktur perusahaan Jaya sudah tertutup.
"Kapan serah terimanya Ris?" kata Bayu
"Nanti siang. Loe berdua harus menemani gue ya. Sekalian hari ini juga langsung pengumuman penggantian dari Mami ke gue."
"Hah? Berarti Mami sudah mempersiapkan semuanya dari jauh jauh hari dong Ris." kata Bayu.
"Loe kayak nggak tau Mami gue aja Bay. Sebelum mami melimpahkan pasti mami sudah mempersiapkan semuanya. Pas gue angguk maka semua langsung dijalankan." kata Aris sambil tersenyum.
"Ris, jadi loe kan menjadi presdir tersibuk neh. Kapan waktunya loe akan mengejar cinta Gina?" tanya Bayu.
"Itu masalah gampang mah bro. Ada Bram yang mengerjakan." kata Aris tersenyum ke arah Bram.
"Maksud loe?" jawab Bram
"Maksud gue, saat gue harus berburu cinta gue makan gue akan melimpahkan pekerjaan ke elo. Tapi kalau tidak maka akan tetap gue yang kerja." jawab diplomatis Aris walaupun dengan senyum yang mencurigakan.
"Loe arep gue percaya gitu? Mana ada." kata Aris menatap Bram.
"Hahahahahahaha. Loe bener bener sahabat dan asisten gue Bram." kata Asris.
Tak terasa hari sudah pukul dua belas siang. Aris mengajak Bram dan Bayu untuk berangkat ke perusahaan Jaya Grub. Ketiga pemuda tampan itu turun dari ruangan Aris, mereka bertiga langsung menjadi sorotan para karyawan wanita di kantor utama. Sampai di lobby ternyata Aris lupa membawa kunci mobilnya.
"Bay, loe bawa kunci mobil kan? Gue lupa membawanya." kata Aris sambil meraba saku jasnya.
__ADS_1
"Neh ada. Gue ambil dulu ya." kata Bayu kemudian berjalan mengambil mobilnya.
Kemudian sebuah mobil sport terbaru berhenti di depan Aris dan Bram. Aris dan Bram kemudian masuk ke dalam mobil Bayu.
"Baru Bay?" tanya Bram yang duduk di sebelah Bayu.
"Barulah. Gue mah gitu kalau pindah kota harus beli yang baru." jawab Bayu ngasal.
"Dasar sombong tingkat dewa loe." Bram menoyor kepala Bayu.
Bayu kemudian menginjak gas mobil lebih dalam. Dia tidak mau Aris telat datang dihari penting nya itu. Tidak berapa lama mobil yang dikendarai Bayu sudah sampai di kantor utama perusahaan Jaya Grub. Aris dan kedua sahabatnya merapikan jas sebelum masuk ke kantor itu.
Ketiga sahabat yang tampan itu berjalan masuk ke dalam kantor Jaya Grub. Seluruh kantor sudah di hias rapi oleh orang suruhan Mami. Mami memang membuat acara itu semeriah mungkin. Aris dan kedua sahabatnya masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan untuk menuju ruangan Maminya.
Tok tok tok
"Masuk" jawab Mami.
Aris dan kedua sahabatnya masuk ke dalam ruangan Mami. Mami melihat Bram langsung memeluk Bram.
"Hey bocah kenapa tidak pernah ke rumah utama lagi. Kamu lupa sama orang tua kamu sendiri" kata Mami sambil menghapus air mata yang sudah dicoba mami tahan.
"Nggak Mami. Bram sedang banyak kerjaan. Aris tidak membiarkan Bram beristirahat Mami." kata Bram dengan ekspresi bener bener seperti orang teraniaya.
"Dram loe bagus Bram." kata Aris sambil memukul kepala Bram. Bram langsung tertawa ngakak.
"Ini Bayu kan?" kata Papi melihat seorang pria tampan berdiri di sebelah kiri Aris.
"Benar pi. Bayu kira papi lupa sama Bayu. Cukup mami saja yang lupa sama Bayu." Bayu kemudian memeluk papi.
"Mana ada mami lupa sama kamu Bay." mami juga memeluk Bayu.
Mereka berlima kemudian mengobrol, tak lama kemudian asisten pribadi mami masuk ke dalam ruangan.
"Buk, acara sudah bisa kita mulai." kata asisten mami yang juga sama tuanya dengan Mami.
"Yuk kita langsung ke aula tempat acara akan dilangsungkan." kata Mami mengajak papi dan ketiga anaknya itu.
Mereka berenam berjalan memasuki aula tempat diadakan acara serah terima kepemilikan perusahaan. Di aula utama itu sudah banyak tamu undangan dan karyawan. Terlihat ada Tuan Wijaya dan istri serta Afdhal, Tuan Rama yang menyempatkan hadir hanya untuk acara itu serta beberapa pengusaha lainnya yang melakukan kerja sama dengan perusahaan Jaya Grub.
Aris dan keluarganya duduk di meja depan. Sedangkan Bayu dan Bram duduk dimeja bulat bagian depan.
Mc kemudian membuka acara tersebut dengan meminta Mami sebagai pemilik perusahaan Jaya untuk menyampaikan kata-kata perpisahan dengan kolega bisnis dan karyawan.
"Assalamualaikum wr wb. Saya Nani Jaya Soepomo mengucapkan terimakasih banyak kepada kolega bisnis saya yang selama ini sudah mempercayakan kerjasama dengan perusahaan Jaya Grub. Kemudian ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada seluruh jajaran direksi, . kepala cabang perusahaan, manager bagian serta seluruh karyawan yang sudah mendedikasikan hidup dan semangat kerjanya untuk membangun perusahaan Jaya Grub menjadi salah satu perusahaan yang sangat diperhitungkan di negara I ini." Mami menghela nafasnya.
"Mulai hari ini sampai selanjutnya Saya Nani Jaya Soepomo menyerahkan kepemilikan atas 100% saham saya kepada anak saya satu-satunya yaitu Aris Nugraha Jaya Soepomoe." kata Mami.
Mc meminta kepad Aris dan Papi untuk menuju panggung kehormatan. "Kepada Tuan Soepomo dan Tuan Aris serta pengacara dan dewan direksi untuk dapat menuju ke atas pangung kehormatan."
Aris dan Mami disaksikan oleh dewan direksi beserta pengacara melakukan serah terima dan penandatanganan pengalihan kepemilikan perusahaan Jaya dari Nani Jaya Soepomo kepada Aris Nugraha Jaya Soepomo. Semua hadirin bertepuk tangan setelah Mami dan Aris selesai melakukan serah terima.
"Kepada Tuan Aris silahlan memberikan kata sambutannya sebagai pemilik batu perusahan Jaya." kata Mc.
Aris maju ke atas mimbar untuk memberikan sambutannya. "Assalamualaikum wr wb. Saya Aris Nugraha Jaya Soepomo pemimpin baru perusahaan Jaya Grub sangat mengharapkan bantuan dan bimbingan dari semua dewan direksi, kepala cabang perusahaan, dan semua karyawan. Saya berharap semuanya tidak ada yang mengubah gaya kerja tapi semakin meningkatkan kinerjanya masing-masing." Aris menatap semua mata orang yang ada di ruangan itu.
"Sebelumnya saya dalam bekerja akan dibantu oleh seorang asisten yang benama Bram. Bram juga memiliki kekuasaan yang sama dengan saya. Sehingga apa yang Bram katakan berarti itu juga adalah kata saya. Bram maju Bram." kata Aris.
Bram kemudian maju kesebelah Aris kemudian menatao wajah mereka yang hadir dengan tatapan tajam dan dingin.
"Mohon kerjasamanya." kata Bram dengan dingin.
Semua karyawan perempuan menatap penuh harap ke arah Bram.
Akhirnya semua acara selesai pada pukul empat sore. Papi dan Mami mengajak Aris dan kedua sahabatnya untuk makan malam di rumah utama. Aris dan kedua sahabatnya menyetujui ajakan Papi.
Mereka secara beriringan pulang ke rumah utama untuk menghadiri acara makan malam perayaan serah terima kepemilikikan perusahaan. Aris sepanjang jalan hanya terdiam saja.
"Semangat bro. Loe bisa kan ada Bram." kata Bayu yang menatap Aris.
"Iyalah semangat Bram ada juga." kata Aris kemudian.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah utama. Aris masuk ke kamarnya. Sedangkan Bayu masuk kedalam kamar Bram. Bram secara pribadi dipanggil papi ke ruang kerjanya.
"Bram, papi minta kamu selalu mendukung Aris Tapi suatu saat kamu memang harus lepas fsri Aris. Papi berencana akan memberikan perusahaan yang di USA untuk kamu pimpin. Tidak ada penolakan Bram. Kamu adalah anak kami juga." Papi bicara langsung menatap Bram.
"Baiklah Pi. Tapi Bram harap papi memberi tahukan jauh sebelumnya kepada Bram. Satu lagi pi beri Bram waktu paling tidak tiga tahun lagi untuk belajar kepada Aris." Bram menatap harap kepadi papi.
__ADS_1
"Papi setuju Bram." papi kemudian keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh Bram.
Bram kemudian masuk ke kamarnya. Ternyata di situ sudah ada Bayu yang sedang tertidur. Bram juga membaringkan dirinya di atas kasir itu.