
Gina hari ini pulang cepat dari kantornya, dia akan pergi menuju kantor Aris. Gina sudah membuat janji dengan dokter Ranti untuk melakukan konsultasi kandungannya. Konsultasi terakhir sebelum dia melahirkan.
Gina sudah berada di dalam mobil. Kali ini Gina tidak pergi dengan sopirnya melainkan dengan Sari sahabatnya. Sari juga ingin bertemu dengan Bram. Ntah apa yang sedang mereka bahas. Gina sebenarnya ingin tau tapi mungkin itu privasi Bram dan Sari, makanya Gina tidak mencoba untuk mencari tau.
"Loe udah ngasih tau Aris Gin?" tanya Sari sambil menyetir mobil.
"Belum. Kalau gue kasih tau, pasti dia larang gue untuk ke sana. Jadi ya mending gue nggak bilang aja Sar." jawab Gina sambil memakan buah potong yang dibawanya dari rumah.
"Gin, gue mikir ya, gimana cara loe besok mau ngebalikin berat loe yang lama. Tengok aja sekarang sebesar gini amat." tanya Sari yang heran melihat badan Gina benar benar melebar.
"Gue berencana nggak pake babysitter untuk ngerawat anak gue. Gue akan berenti bekerja aja. Gue akan fokus hanya mengurus anak dan Aris aja." kata Gina sambil menatap keluar jendela.
Gina udah memikirkan semua ini dengan masak. Dia tidak ingin nantinya Blip kurang kasih sayang dari Nananya, makanya sebelum dia membahas dengan Aris, Gina sudah memutuskan untuk berhenti bekerja.
"Udah loe pikir masak masak Gin?" tanya Sari selanjutnya.
"Udah. Gue udah memutuskan untuk mundur dari perusahaan. Gue akan fokus kekeluarga gue." jawab Gina dengan yakin.
"Lagian gue nggak kerja aja uang gue tetap ngalir kok ya. Minimal dari usaha kita." lanjut Gina menjawab pertanyaan Sari.
"Hahahaha. Sekalinya tajir tetap tajir melipir ya Gin." jawab Sari.
"Loe nya aja yang mau kerja di perusahaan Nana. Apasalahnya di salah satu usaha kita aja. Mira juga gitu. Heran gue."
"Nah yang buat kesepakatan kan kita berdua. Kita ingin cari pasangan yang tau dari awal kalau kita adalah orang biasa aja. Nah kalau udah tau seerti sekarang namanya bonus. Aris aja yang ogeb nggak juga tau sampe sekarang." kata Sari sambil geleng geleng kepala.
"Kita mampir di restoran Bayu dulu Sar. Gue mau beli makan siang untuk kita. Gue yakin dua pria itu belum pergi makan siang." kata Gina kepada Sari.
Mobil yang dikemudikan oleh Sari mampir ke restoran milik Bayu. Mereka akan membeli makan siang terlebih dahulu. Gina membeli semua menu favorit dari rumah makan milik Bayu. Selesai membeli makan siang, Gina dan Sari menuju perusahaan Jaya Grub.
Sari mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak mungkin melajukan mobilnya dengan kencang, disaat dia membawa Gina di sebelahnya, bisa dibunuh Aris dia nanti. Tidak beberapa lama mereka sampai juga di perusahaan Jaya. Sari memarkir mobilnya tepat di sebelah mobil Bram.
"Lewat resepsionis aja Sar. Males gue make lift itu." kata Gina sambil menunjuk lift yang ada di bastman.
"Takut mengingat mantan madu buk?" tanya Sari langsung kepada Gina.
"Bener buk. Males aja gue." jawab Gina.
"Terus ruangan Aris?" tanya Sari dengan nada heran.
"Udah pindah lantai dan pindah ruangan. Gue nggak mau bau bau aroma pelakor masih ada di dekat suami gue." jawab Gina sambil tersenyum sinis.
"Gue penasaran gimana nasib mereka yang kita kirim ke sana. Gue kapan kapan ke sana ya Gin?" Sari mengajukan niatnya kepada Gina.
"Sama Bram dan Mira tambah Bayu. Kalau loe sendirian nggak boleh." jawab Gina yang tau Sari lebih suka pergi sendirian ke pulau itu.
"Sip." jawab Sari sambil mengangkat dua jari jempolnya ke depan hidung Gina.
Gina dan Sari melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam perusahaan lewat lobby depan. Kedua wanita cantik itu menjadi perhatian semua karyawan kantor. Mereka memandang sangat takjub ke arah Gina dan Sari.
"Gin gitu amat mereka nengok kita Gin." tanya Sari sambil melihat ke semua karyawan yang dari tadi menetap mereka.
Karyawan yang dilihat oleh Sari langsung menundukkan kepalanya. Mereka takut Gina dan Sari mengadukan perbuatan mereka kepada kedua bos tampan. Gina memencet lift khusus karyawan. Dia tidak mau menggunakan lift khusus CEO dan Asisten.
__ADS_1
Ting.
Bunyi pintu lift yang terbuka. Gina dan Sari kemudian keluar dari dalam lift. Mereka berjalan dengan anggun menuju ruangan Aris.
"Bram bagaimana ini. Kita belum juga menemukan titik lemah perusahaan itu Bram. Perusahaan culas yang mau kerjasama dengan kita." kata Aris dengan nada marah.
Gina dan Sari mendengar semua yang dikatakan oleh Aris. Sari memandang Gina.
"Sepertinya kita harus turun tangan Gin." kata Sari.
"Eeh gue mau makan bukan mau kerja." jawab Gina.
"Tapi Gin?" kata Sari dengan memelas.
"Iya iya. Gue paham. Loe kayak nggak tau gue aja."
"Tau lah. Jangan ganggu gue dan keluarga gue kalau loe nggak mau kelar ditangan gue." jawab Sari dengan gaya khasnya menyindir Gina.
Gina kemudian membuka pintu ruangan Aris. Aris dan Bram sedang sibuk dengan laptop mereka.
"Alah ilmu IT cuma cemen sok pusing pula. Sini biar kami yang kerjain." kata Gina sambil mengambil laptop milik Aris.
Aris melongo melihat Gina dan Sari berada di ruangannya. Mereka berdua tidak menyangka kalau Gina dan Sari berada di ruangan itu.
"Nama perusahaan?" tanya Gina.
"Zain" jawab Aris.
"Nah buat perjanjian dulu sayang. Kalau kami berhasil kurang dari satu jam maka kalian berdua harus nemani kami shooping hari ini. Tapi kalau kami kalah kami akan turuti semua kemauan kalian." Gina mengajukan suatu kompetisi.
"Ya langsung ngaku kalah. Nggak asik kamu sayang." kata Gina sambil memukul pundak Aris.
"Mana ada menang lawan kamu." jawab Aris sambil mencium pipi Gina yang sudah seperti bakpow.
Gina dan Sari langsung masuk ke dalam web milik perusahaan Zain. Mereka memporak porandakan sistem web perusahaan Zain. Dalam.waktu kurang dari satu jam Gina dan Sari mendapatkan banyak bukti kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan Zain.
"Selesai." ucap Gina.
Gina kemudian memberikan flasdis yang berisi semua bukti kecurangan kepada Aris.
"Loe gimana Sar?" tanya Gina yang melihat Sari menggigit kukunya.
"Sepertinya yang gue temui ini lebih menarik." jawab Sari.
Aris, Bram dan Gina melihat apa yang ditemukan oleh Sari.
"Hahahaha mereka berusaha mengganggu Bramantya Grub. Mana bisa." jawab Gina sambil tersenyum sinis.
"Mereka mau bermain main dengan Bramantya juga kalau tidak suskses dengan Jaya." lanjut Aris.
"Udah nggak akan bisa tembis itu." jawab Gina.
Sari kemudian memindahkan semua temuannya ke dalam flasdis yang diberikan Gina kepada Aris.
__ADS_1
"Nanti aja cetak sayang. Aku kelaperan ini." kata Gina sambil memegang perutnya yang memang sudah sangat lapar itu.
Mereka berempat makan siang sambil mengobrol receh.
"Sayang, kita ke mall yok. Aku pengen makan es krim yang ada di situ." kata Gina sambil memegang tangan Aris.
"Sayang jangan es krim, yang lain aja ya. Es krim lagi badan kamu makin besar nanti sayang." jawab Aris.
"Jadi kamu nggak suka nengok badan aku yang besar ini?" tanya Gina sambil memandang tubuhnya yang agak besar sedikit.
"Nggak sayang. Aku suka kamu apa adanya. Tapi kalau kamu makan es krim lagi nanti anak kamu akan makin besar sayang." lanjut Aris memberi tahukan kepada Gina kenapa dia melarang Gina untuk memakan es krim.
"Tapi sayang." lanjut Gina yang masih berusaha membujuk Aris untuk diizinkan makan es krim.
"Baiklah satu cup saja. Oke." kata Aris yang akhirnya setuju.
"Akhirnya." jawab Gina sambil memasang senyum paling cantiknya.
Mereka berempat kemudian pergi ke mall pusat kota memakai mobil milik Aris. Tujuan mereka hanya pergi makan es krim saja tanpa ada yang lain.
"Sayang ke es krim dulu. Baru kita pergi ke tempat yang lain." kata Gina sambil menarik tangan Sari menuju toko penjual es krim.
"Saking senangnya dia hanya menyambar tangan Sari, bukan tangan gue." kata Aris sambil menatap Gina yang sudah berlalu dengan Sari.
"Sabar jangan bersedih teman. Masih untung tangan Sari kalau tangan pria lain gimana?" Bram menggoda Aris.
"Gue bunuh." jawab Aris.
Mereka kemudian menuju warung es krim. Giba sudah memesan es krim ke sukaannya. Dia melihat Aris yang memesan es krim susu.
"Sayang boleh coba punya kamu? Kelihatannya enak." kata Gina mulai memainkan siasatnya.
"Ini" kata Aris memberikan es krimnya kepada Gina.
Gina menyendok es krim milik Aris dengan mengambil seperempat milik Aris.
"Wow, loe mintak atau memindahkan isi es krim kak Aris ke punya loe Gin?" tanya Sari.
"Gue hanya boleh makan satu cup. Jadi gue mintak punya kak Aris seperempat jadi gue makan lebih dari yang diperbolehkan." jawab Gina sambil tersenyum.
Aris dan Bram hanya bisa geleng geleng kepala.melihat kelakuan Gina yang aneh aneh aja setiap harinya.
Selesai makan mereka berkeliling mall. Gina dan Sari tidak ada berniat untuk membeli apapun. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu saja.
"Sayang kita janjian dengan dokter jam berapa?" tanya Aris yang mengingat mereka ada janji dengan dokter kandungan Gina.
"Jam lima sayang. Hari baru jam empatkan ya?" tanya Gina sambil melihat jam mewah yang ada dipergelangan tangannya.
"Jalan ke sana lagi sayang. Ayuk berangkat." perintah Aris kepada Gina.
"Ngomong aja kalau capek sayang. Pake alasan ke dokter segala." jawab Gina sambil mencubit lengan Aris.
Mereka berempat berjalan keluar mall. Mereka sekarang akan menuju praktek dokter Ranti.
__ADS_1
"Yank mobil aku gimana?" tanya Sari yang teringat mobilnya masih di perusahaan Jaya.
"Tenang aja sopir akan mengantarkan mobil itu ke rumah utama." jawab Bram.