Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Berita Bahagia


__ADS_3

Bram mondar mandir di ruang tamu kamr hotel mereka. Aris yang melihat menjadi geli sendiri. Aris hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah aneh adiknya itu. Pengen rasanya Aris bertanya, tapi Aris ragu dengan keinginannya itu. Aris takut Bram menjadi makin panik saat Aris bertanya kepada Bram.


"Bram, lama lama kita nggak perlu pakai jasa seterikaan hotel Bram." ujar Aris sambil menahan tawanya.


"Maksudnya?" Bram sama sekali tidak paham dengan perkataan Aris.


"Iya itu. Loe dari tadi mondar mandir aja terus di ruang tamu. Nah gue takutnya nanti tu lantai jadi licin gara gara tingkah loe." ujar Aris.


"Hahahahaahaha" akhirnya Aris tidak tahan untuk tidak tertawa kepada Bram.


Bram melempar bantalan sofa ke muka Aris. Dia sangat kesal di tertawai oleh Aris. Aris mengambil sofa yang tadinya tepat mendarat di muka Aris.


"Loe kanapa?" tanya Aris dengan serius.


"Ponsel Sari nggak aktif dari tadi. Gue udah berkali kali nelpon." jawab Bram masih dengan muka paniknya.


"Loe positif aja mikir, mana tau batrai ponselnya habis." jawab Aris sambil menyeruput jus jeruk yang barusan diantarkan oleh pelayan hotel.


"Semoga aja bener." jawab Bram yang duduk dan langsung meminum jus jeruk milik Aris.


"Asal nyosor be. Punya loe ono" ujar Aris sambil menunjuk segelas jus jeruk milik Bram yang ada di atas meja.


Bram mengambil jus jeruk miliknya. Dia meminum jus tersebut dalam sekali sedotan. Aris makin heran melihat tingkah adeknya itu.


"Sepertinya sampe negara I memang harus ngelamar Sari biar ne anak jadi bener lagi." ujar Aris.


Bram keluar dan duduk di kursi balkon. Dia melihat ke arah taman hotel yang sudah nampak dekorasi yang begitu indah. Dekorasi yang di dominasi warna putih dan gold.


Aris yang tidak tega melihat Bram, mengambil ponselnya dan menghubungi Mira. Tapi nasib ponsel Mira sama dengan ponsel Sari, sama sama tidak aktif.


Aris kemudian menghubungi nomor Bayu dan hasilnya juga sama, tidak aktif juga.


"Apa di negara I sedang tidak ada sinyal ya, kok ketiga ponsel makhluk itu nggak ada satupun yang aktif." ujar Aris.


Saat Aris termenung itu dia teringat dengan Papi yang sudah lama tidak dia hubungi. Aris kemudian melakukan video call dengan Papi. Papi yang sedang tertidur karena di negara I tengah malam, mendengar bunyi ponselnya yang berdering langsung bangun. Papi tersenyum melihat wajah siapa yang terpampang di ponselnya. Rasa kesal karena di ganggu tidur mendadak menjadi hilang karena yang menghubunginya adalah anak yang selama ini tidak ada kabar sama sekali.


"Assalamualaikum Pi." ujar Aris dari negara yang jauh di sana.


waalikum salam Ris. Gimana kabar mu?" tanya Papi.


"Baik Pi. Papi gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik Ris. Gimana dengan pencarian menantu dan cucu Papi? Apa udah ada titik terang?"


"Udah Pi. Arga dan Gina berada di negara U." ujar Aris sambil tersenyum.

__ADS_1


"Papi seneng dengarnya. Gimana cara kamu menemukan Arga dan Gina?" tanya Papi lagi yang penasaran dengan prosesnya.


Aris kemudian menceritakan semuanya kepada Papi. Papi tersenyum bahagia mendengar apa yang diceritakan oleh Aris. Ternyata cucunya itu memang bener bener hebat dan jenius. Kepintaran yang tidak sesuai dengan usianya.


"Terus apa kamu sudah tau penyebab mereka berdua pergi dari rumah?" tanya Papi penasaran.


"Belum Pi. Udah tiga hari ini Arga tidak datang datang lagi." ujar Aris dengan lesu.


"Terus kenapa nggak datang ke mansionnya?"


"Pi itu yang Aris sesali, Aris lupa menanyakan alamat mansion mereka." jawab Aris dengan nada lemah.


"Semoga besok besok Arga datang lagi. Kamu sabar ya nak. Oh ya ada apa kamu menghubungi Papi tengah malam?" tanya Papi yang teringat dengan tujuan Aris menghubunginya.


Aris mengarahkan video ke arah Bram.


"Papi tai dia dari tadi ngapain aja?" tanya Aris kepada Papi


Papi menggeleng.


"Dia dari tadi jalan bolak balik kayak seterikaan. Sekarang duduk ngelamun di balkon."


"Kenapa emangnya?" tanya Papi yang penasaran dengan sikap aneh Bram.


"Ponsel Sari mati. Aris udah hubungi Mira dan Bayu, ponsel mereka juga mati. Tapi itu nggak penting Pi. Sekarang yang terpenting bulan besok kita akan ke Padang untuk ngelamar Sari." ujar Aris memberitahukan niatnya.


"Pulang nggak pulang Pi. Terpenting sekarang aku udah tau mereka dalam kondisi sehat dan baik baik saja. Jadi aku udah tenang Pi." jawab Aris sambil tersenyum bahagia.


"Baiklah. Setelah kalian pulang kita akan langsung melamar Sari untuk Bram. Sudah saatnya juga anak itu memiliki keluarga." jawab Papi.


"Oh ya Pi, Mami mana?" tanya Aris yang sama sekali tidak melihat Mami.


"Ris sebelumnya Papi minta maaf ke kamu dan Bram." ujar Papi.


"Ada apa Pi?" tanya balik Aris.


"Mami, sudah dua hari tidak Papi izinkan pulang ke rumah utama."


"Kenapa Pi?" tanya Aris biasa saja.


"Papi sudah tau Soepomo terguncang karena para investor terhasut oleh perkataan Mami. Makanya Papi sudah tidak bisa lagi melihat Mami. Maka Papi mengusir Mami dari rumah. Maafkan Papi Ris." ujar Papi menatap Aris.


"Papi tidak bersalah. Mami berhak menerimanya. Kalau sampai ketahuan ada lagi tingkah Mami yang lebih parah. Maka akan aku pastikan Mami akan menjadi gembel. Saat itu tiba Papi tidak boleh melarang Aris." ujar Aris menimpali perkataan Papi.


"Perusahaan bagaimana Pi?" ujar Aris mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Perusahaan baik Ris. Beberapa investor sudah kembali lagi ke Soepomo. Mereka berhasil diyakinkan oleh Paman Hendri kalau Arga adalah anak yang jenius." ujar Papi.


"Gimana cara Paman Hendri membuat para investor percaya Pi??" Aris menjadi heran.


"Paman Hendri minta bantuan ke Anggel untuk menerangkan kepada para investor kalau Arga tidak seperti yang mereka cemaskan. Karena mereka tau siapa Anggel makanya mereka percaya. Sehingga lebih dari separo dari mereka memilih untuk kembali ke perusahaan." jawab Papi.


"Sepertinya Papi harus memberikan bonus berlebih ke Paman Hendri Pi. Kalau Paman Hendri tidak sampai pikirannya kesana, alamat Soepomo akan tinggal nama saja Pi."


"Papi sudah memberikan kepada Hendri satu rumah di kawasan rumah utama. Jadi dia sudah bisa tinggal di sana dengan istrinya."


"Hahahaha. Itu modus Papi agar paman Hendri tidak lari kemana mana." jawab Aris sambil menahan senyumnya.


"Kamu bisa aja Ris. Okelah Ris di sini masih tengah malam. Besok Papi ada meeting pagi. Papi tidur dulu ya. Titip salam Papi ke Arga."


"Oke Pi. Maaf mengganggu tidur Papi."


"Nggak masalah."


Papi kemudian memutuskan panggilan video call nya dengan Aris. Papi kembali terlelap dalam tidurnya. Ternyata anaknya tidak marah kepada dirinya, karena sudah mengusir Mami mereka. Malahan yang lebih tidak disangka lagi Aris mendukung keputusan Papi


"Bram loe masih mau duduk do situ atau ikut makan ke lounge?" teriak Aris dari dalam.


"Ikut makan."


Mereka berdua menuju lounge untuk menikmati makan malam yang dipercepat waktunya. Aris dan Bram tidak berniat untuk makan malam di jam yang seharusnya karena sudah di pastikan lounge itu akan rame oleh pengunjung. Makanya Aris mengambil keputusan untuk makan sekarang saja.


Mereka berdua memesan makanan berat. Setelah pelayan datang mereka menikmati makan malam itu dengan begitu nikmatnya.


"Ris menurut loe siapa yang pesta besok ya. Itu tempat pesta mewah banget." ujar Bram sambil menunjuk tempat pesta kebun yang ada di taman belakang hotel.


"Palingan anak pengusaha terkenal di negara ini." jawab Aris sambil memakan ayam gorengnya.


Mereka berdua kemudian makan dalam suasana hening. Hanya terdengar alunan musik dari bagian dalam lounge yang menyajikan live music.


Selesai makan mereka berdua kembali ke kamar. Aris ingin melihat hasil kerja paman Hendri. Apakah benar perusahaan telah membaik atau Papi hanya ingin menenangkan hatinya saja.


Sesampainya di kamar Aris mengambil laptop dari dalam tas ranselnya. Dia langsung duduk di sofa.


"Ada apa Ris?"


"Kata Papi tadi perusahaan sudah membaik. Paman Hendri berhasil meyakinkan kembali para investor untuk kembali menanamkan modalnya di perusahaan kita."


Aris kemudian membuka file perusahaannya. Dia membaca grafik yang ada. Bram juga melakukan hal yang sama. Ternyata apa yang dikatakan oleh Papi adalah benar. Perusahaan memang sudah kembali kondusif. Aris dan Bram sangat bersyukur dengan semua ini.


"Paman Hendri memang keren." ujar Aris.

__ADS_1


"Yup. Pantesan dia dipertahankan Papi menjadi asisten." jawab Bram.


__ADS_2