Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Akhir dari Perusahaan Zain


__ADS_3

Gina yang kelelahan dan merasa badannya sudah lengket karena keringat lebih memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahuku. Setelah memberihkan badan barulah nanti Gina akan mencari Aris di setiap ruangan yang mungkin dikunjunginya.


Gina melepaskan semua pakaiannya, dia sudah mengisi bathup dengan air hangat. Gina sedang ingin merasakan sensasi berendam di dalam air hangat untuk memulihkan kembali badannya. Setelah bathup penuh, Gina menuangkan sabun aroma therapi ke dalam air. Dia benar benar ingin merasakan kerilekan saat ini. Gian kemudian masuk ke dalam bathup. Dia menikmati air hangat yang serasa memijat mijat badannya. Gina memejamkan matanya. Dia benar benar menikmati semua itu.


Setelah dirasakan badannya sudah kembali rileks dan segar. Gina keluar dari bathup, dia kemudian memakai pakaiannya sebuah dress babydoll berwarna pink. Gina memoles wajahnya dengan bedak tabur. Setelah dirasa wajahnya sudah berseri kembali Gina keluar dari ruang makeupnya. Dia melihat masih tidak ada siapa siapa dikamar. Gina membuka pintu yang menuju ranjangnya. Masih sama tidak ada siapa siapa di sana.


"Kemana uda Aris ya?" tanya Gina sendiri.


Gina mengambil sandal rumahnya. Dia kemudian berjalan ke luar kamar berniat untuk mencari Aris. Pertama Gina menuju kamar blip, tidak ada penampakan Aris di sana.


"Pustaka." kata Gina.


Gina ke perpustakaan yang berada di antara kamarnya dan kamar Bram. Aris juga tidak ada di situ.


"Ruang kerja palingan." kata Gina.


Gina naik ke lantai tiga rumahnya. Di sana semuanya adalah ruang kerja dan juga perpustakaan utama rumah serta rooftop. Gina membuka ruang kerja Aris. Aris juga tidak ada di sana.


"Kemana tu orang ya?" tanya Gina berpikir panjang.


Gina yang merasa lelah mencari Aris, lebih memilih duduk di rooftop sambil melihat lihat pemandangan ibu kota. Bram ke luar dari ruangan kerja Papi. Dia melihat Gina sedang duduk duduk di bangku rooftop.


"Sedang ngapain Gin?" tanya Bram kepada Gina.


"Kecapekan mencari uda Aris. Sampai sekarang nggak ketemu. Padahal kangen." jawab Gina sambil mengusap air matanya yang jatuh.


"Jangan nangis. Uda kamu tu di ruang kerja Papi." kata Bram menunjukkan Aris sedang dimana sekarang.


"Bener?" tanya Gina tidak percaya.


"Bener, kami dari tadi siang berdiskusi tentang perusahaan Zain." jawab Bram.


Gina kemudian menghembuskan nafasnya. Dia tidak menyangka kalau Aris berada di ruang kerja Papi. Gina dari tadi sudah berpikiran macam macam. Gina takut Aris kenapa kenapa.


"Kalau kamu mau, kamu bisa masuk ke ruangan kerja Papi. Di sana juga ada Mami dan Daniel." kata Bram menginformasikan siapa siapa saja yang ada diruangan Papi sekarang.


"Bentar lagi lah kak. Aku pengen nikmati udara dulu." jawab Gina.


Bram kemudian melanjutkan tujuannya. Dia akan mengambil file yang dikirimkan oleh Daniel. Tapi Bram sampai sekarang tidak mengetahui siapa yang telah mengirimkan semua file itu.


Saat sedang menikmati udara pagi hari. Ponsel Gina tiba tiba berdering. Gina merogoh sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya. Pada layar ponsel tertulis Rudi yang menghubungi Gina.


"Wow Rudi." kata Gina dengan pelan.

__ADS_1


"Hallo Rud. Ada berita apa?" tanya Gina langsung pada intinya saja.


"Nona lihat siaran kita yang biasanya sekarang ya. Kami akan melakukan penggerebekan tetapi usahakan nontonnya memakai televisi. Biar terlihat jelas." kata Rudi memberikan Gina informasi tentang penggerebekan yang akan mereka lakukan.


"Sudah mulai?" tanya Gina yang mendadak menjadi oon.


"Hahahaha. Tentu belum Nona, kalau sudah mulai tidak mungkin saya menghubungi Nona. Bisa di tembak musuh saya Nona." kata Rudi sambil menertawakan Gina.


"Iya iya. Kenapa gue jadi mendadak oon begini." kata Gina dengan suara pelan. Tetapi Rudi tetap bisa mendengarnya.


"Karena sedang hamil Nona." jawab Rudi.


Gina memutuskan panggilan telponnya dengan Rudi. Dia sudah sangat penasaran denhan penggerebekan itu. Gina menuju ruang kerja Papi.


"Pi boleh Gina memakai televisi Papi?" tanya Gina ke Papi tanpa menghiraukan Aris.


"Boleh Gin. Tumben kamu mau nonton?" tanya Papi yang heran. Tumben tumbennya Gina mau menonton.


"Ada berita penting Pi." jawab Gina.


Gina mengetikan situs milik mereka yang selalu menayangkan penggerebekan secara live. Bram yang baru balik dari kamarnya, melihat semua orang serius menatap televisi juga ikut menonton.


"Acara apa Neil?" tanya Bram kepada Daniel.


Setelah melihat beberapa iklan akhirnya seorang reporter muncul dengan pakaian serba hitam dan wajah sengaja di blurkan.


"Gin, ini siaran resmi?" tanya Papi kepada Gina.


"Nggak Pi. Tadi Gina diberikan linknya oleh teman lama. Sepertinya ini adalah siaran khusus." jawab Gina dengan memberikan informasi separo jujur separo tidak.


"Oh baiklah. Kita lihat saja apa yang terjadi." kata Papi.


"Baiklah para pemirsa. Kali ini kami akan melakukan penggerebekan sebuah perusahaan ternama yang ternyata bergerak di kegiatan ilegal jual beli senjata api dan juga narkoba." kata reporter itu memberikan informasi.


"Jangan ngomong itu adalah penggerebekan dokumen yang dikirim oleh orang lain ke email aku tadi." kata Bram.


Aris melihat dokumen itu. Ternyata memang benar perusahaan Zain melakukan penyelundupan dan jual beli senjata api dan juga narkoba.


"Parah. Untung tidak jadi kerja sama." kata Aris dengan geram. Gara gara mendiskusikan masalah perusahaan ini, dia harus berjuang nanti untuk membujuk Gina agar tidak marah lagi.


Pada layar televisi terlihat beberapa polisi khusus memakai baju serba hitam dan rompi anti peluru berwarna hitam. Mereka membawa berbagai jenis senjata api. Salah satu pimpinan dari grub khusus itu adalah Rudi. Rudi memberikan kode ke arah kamera yang hanya dia yang tau dimana letaknya. Rudi mengangkat jari nya ke depan kamera. Dia menunjukkan jari tengahnya. Gina dan Daniel yang melihat berkata dalam hatinya sombong. Gina metapa Daniel, Daniel mengangguk.


"Daniel aja yakin satu jam. Kenapa aku ragu ya?" kata Gina dalam hatinya.

__ADS_1


Daniel mengaktifkan stopwach di ponselnya, dia akan menghitung waktu apakah benar Rudi bisa memporak porandakan dalam waktu satu jam seperti yang dikatakannya.


Gina dan anggota keluarga lain melihat tayangan di televisi itu. Semua anggota polisi masuk dengan senyap ke dalam gedung tinggi itu. Mereka menyerbu dalam semua posisi ada yang dari atas dan dari bawah. Dengan jumlah anggota yang tidak banyak tetapi semuanya adalah manusia manusia pilihan.


Setelah berada tepat di lantai yang mereka tuju. Rudi memberikan kode kepada salah satu anggotanya untuk memecahkan kaca jendela yang ada di ruangan itu.


Semua polisi dalam posisi siap tempur. Mereka menembaki semua orang yang berada di ruangan itu. Tetapi tetap menyisakan beberapa untuk dimintai keterangan. Rudi melihat Tuan Muda Zain berada di sana. Dia membidik kaki target. Tuan Muda Zain yang tidak menyangka akan menjadi target langsung terduduk saat kakinya berhasil ditembak Rudi.


Rudi memberikan tanda oke kepada kamera. Gina dan Daniel tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah selesai tu makhluk." kata Gina.


Setelah melihat Tuan Muda Zain tertembak Gina mengalihkan pandangannya dari televisi. Dia sudah tidak berminat lagi melihat siaran langsung itu. Apa yang diinginkannya sudah terlihat.


Ponsel Gina berkedip tanda ada pesan masuk. Gina membuka pesan itu.


[[ Lihat kembali chanel kita Nona. Ada penggerebekan dari dirjen pajak ke perusahaan Zain. ]] bunyi sms yang dikirim oleh Alex.


Gina kembali melihat ke arah televisi. Televisi sudah menyiarkan siaran langsung tentang penggerebekan perusahaan Zain yang dilakukan oleh dirjen pajak.


"Apa lagi itu Gin?" tanya Papi yang melihat layar televisi menampilkan orang orang dirjen pajak masuk ke dalam perusahaan Zain.


"Nggak tau Pi. Kayaknya ini adalah penggerebekan yang lainnya lagi." kata Gina kepada Papi.


"Oh. Mari kita lihat." kata Papi.


Mereka semua kembali mengarahkan penglihatan ke arah televisi. Aris melongo melihat semuanya. Orang orang dari dirjen pajak mengeruduk paksa perusahaan Zain. Mereka menggeledah perusahaan itu. Mereka membawa berbagai banyak barang bukti tentang penyelewengan pajak yang dilakukan oleh perusahaan Zain.


"Untung saja kita tidak jadi bekerja sama dengan mereka." kata Papi.


"Sekarang yang jadi pertanyaannya, siapa orang yang mengungkap semua ini. Kita saja tadi baru mau membicarakan tentang hal ini. Ternyata sekarang mereka sudah ditangkap. Bener bener hebat orang yang bisa mengungkap kasus perusahaan Zain. Perusahaan besar yang begitu ditakuti." lanjut Papi.


"Mungkin mereka juga ada masalah dengan perusahaan Zain Pi. Tapi kita juga harus bersyukur karena tidak terkena imbas dari perusahaan Zain." kata Bram.


"Kita harus berterimakasih kepada mereka. Tau atau tidak orangnya." lanjut Papi.


Gina melirik Daniel. Daniel tersenyum senang karena bisa membantu keluarganya. Bisa menolong menyelamatkan Perusahaan Jaya dan Soepomo Grub dari keculasan Perusahaan Zain.


"Kakek, presiden direktur perusahaan Zain sedang dibawa penyidik dirjen pajak." kata Daniel menunjuk televisi.


Daniel berusaha mengalihkan pembicaraan. Daniek tidak mau mereka menjadi hot topik pada pembicaraan ini.


"Uang membuat orang menjadi kemaruk dan sangat ingin berkuasa." kata Papi sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2