Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kontrol Blip 1


__ADS_3

Aris menatap Gina yang sudah lesu karena mengeluarkan semua isi perutnya. Ingin rasanya Aris membawa Gina kedalam pelukannya. Tapi apalah daya Aris, Gina selalu menolak setiap Aris mendekatinya.


"Sayang, coba makan jeruk itu agar mual kamu hilang sayang" kata Aris memberikan perhatian kepada Gina. Gina sama sekali tidak bereaksi. Dia benar benar lelah setelah memuntahkan seluruh isi perutnya.


Mami mengambilkan jeruk untuk Gina. Gina menerima jeruk itu. Dia memakan jeruk yang diberikan Mami, tetapi baru dua ulas jeruk masuk ke dalam mulutnya, Gina kembali merasakan perutnya bergejolak. Gina kembali lari ke dalam kamar mandi, dia memuntahkan jeruk yang masuk ke dalam perutnya. Jeruk yang asam membuat saluva Gina menjadi pait.


"Sar, Mir anterin gue pulang. Gue udah nggak kuat." kata Gina yang memang sudah sangat lemah.


Bram yang melihat Gina sudah lemah langsung mengambilkan kursi roda yang ada di ruang rawat inap Aris. Keadaan Gina seperti ini tidak memungkinkan untuk Gina pulang tanpa menggunakan kursi roda.


"Gin, ada baiknya sebelum kamu pulang periksa dulu di dokter kandungan. Nanti mereka bisa memberikan kamu obat dan vitamin" ujar Mami.


"Baiklah Mi. Nanti Gina akan konsul" jawab Gina sambil melirik Aris.


Aris sadar dengan lirikan Gina. Dia langsung mengambil alih kursi roda dari Bram. Aris sendiri yang akan mengantar Gina sampai ke lobby rumah sakit. Tapi sebelum ke lobby, mereka akan singgah terlebih dahulu di poli kandungan.


"Sayang kita ke dokter anak di rumah sakit ini atau rumah sakit milik Papi?" tanya Aris memecah kesunyian diantara mereka berdua.


"Sini saja" jawab Gina.


"Baiklah sayang, nanti sampai di dokter kamu harus menceritakan semua yang kamu rasakan. Biar dokter memberikan kamu obat yang tepat." Aris kembali berusaha membuat Gina berbicara agak panjang.


"Baiklah" jawab Gina singkat.


Aris pasrah saja, dia tidak mau lagi membawa Gina berbicara. Sari, Mira dan Mami hanya bisa geleng geleng kepala dengan sikap Gina. Gina berhak untuk marah, mereka masih bersyukur Gina mau pulang. Mereka tidak berharap hubungan Gina dan Aris akan seperti semula lagi. Biarlah waktu yang membuat mereka kembali menjadi Aris dan Gina yang dahulu.


Mereka sampai di depan ruang dokter ahli kandungan. Seorang dokter wanita yang sudah berumur tetapi masih terlihat sangat cantik.


"Silahkan duduk Nyonya , Tuan, yang lainnya bisa duduk di sofa" kata dokter sambil tersenyum ramah.


"Kami berdiri aja dok." jawab Mami yabg tidak mau kehilangan kesempatan mendengar bagaimana keadaan cucunya.


Dokter tersenyum dan paham maksud Mami.


"Ibuk terakhir mendapat tamu bulanan kapan ya?" kata dokter wanita itu.


"bulan lalu dokter" jawab Gina.


"Oh kalau begitu berarti udah masuk minggu ke empat ya buk usia kandungannya" kata dokter.


"Ada keluhan ibu selama hamil?" lanjut dokter.

__ADS_1


"Waktu pertama saat saya jauh dari suami, saya tidak pernah merasakan mual atau ingin muntah dok. Tetapi saat dekat, seperti tadi saya merasakan mual dok." kata Gina menerangkan apa yang dirasakannya.


"Bapak bagaimana? Apa ada keluhan yang dirasakan?" tanya dokter.


"Saya yang mual dokter. Semenjak istri saya pergi keluar kota, saya mual dan ngidam makan makanan aneh." kata Aris


"Bener dokter, saking anehnya pernah dia ngidam mangga yang ngambil harus Bram tidak boleh yang lain" kata Mami menjelaskan kepada dokter.


"Oh, berarti yang terkena sindrom hamil adalah Bapak, suami anda Nyonya. Harusnya Anda bersyukur karena berbagi rasa saat mengandung. Anda bagian membawanya sedangkan suami anda bagian ngidamnya" terang dokter kepada Gina.


Aris mengambil peluang itu dengan menggenggam tangan Gina. Gina langsung melirik Aris dengan tatapan mematikan. Aris santai saja karena ada dokter di depan mereka. Aris yakin Gina tidak akan mau mempermalukan dirinya dan juga keluarganya.


"Sekarang mari kita lihat udah sebesar apa dia di dalam sana" kata dokter.


Dokter membuka tirai yang ada di sebelah meja kerjanya. Balik.tirai itu sudah ada kasur periksa dan berbagai peralatan canggih untuk memeriksa pasien.


"Silahkan berbaring Nyonya" kata seorang suster dan menatap tidak berkedip kepada Aris.


Gina yang sudah terbaring langsung melirik jengah ke suster yang menatap tajam penuh nikmat kepada Aris. "Ah suster silahkan loe nikmati wajah pria itu" kata Gina di dalm hatinya.


Aris yang merasa dilirik tajam oleh suster, mulai merasa tidak nyaman. Gina paham akan hal itu, dia harus menolong Aris dan Gina juga ingin cepat selesai pemeriksaannya.


"Maafkan saya Nyonya, Tuan" kata suster.


"Maaf Nyonya bajunya akan saya naikan di bagian perutnya" lanjut dokter memecah kesunyian dan amarah dari keluarga ini.


Gina menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan dokter. Dokter kemudian melakukan pekerjaannya. Dokter mulai mengoleskan gel ke perut Gina yang sudah terlihat membuncit dari pada biasanya. Setelah mengoles rata perut Gina dengan gel, dokter mulai menari narikan alat pemeriksanya di atas perut Gina.


"Nah Nyonya dan Tuan, di layar nampak kantong rahim yang sudah membesar dan itu sudah ada isinya. Itu titik itu besok akan terus berkembang setiap harinya. Kalau sekarang masih berupa buah perlar kecil, maka beberapa bulan lagi dia akan ada organ organ tubuh seperti kita ini" lanjut dokter menerangkan.


"Apakah foto blip bisa dicetak dokter?" tanya Gina yang sangat ingin menyimpan setiap fhoto USG anaknya.


"Boleh Nyonya, nanti akan saya cetak hasil pemeriksaan semuanya." kata dokter.


"Jadi udah berapa minggu usia kehamilan saya dokter?" lanjut Gina.


"Sesuai prediksi kita, usia kehamilan masuk lima minggu. Keadaannya sangat stabil, air ketuban nyonya bersih. Saya sarankan nyonya rajin makan sayur dan buah serta vitamin dan obat yang akan saya berikan nanti" lanjut dokter.


Dokter kemudian membersihkan area perut Gina yang tadi diberinya gel.


"Selesai Nyonya, silahkan turun, saya akan menuliskan resep vitamin yang bisa di tebus di apotik depan" lanjut dokter.

__ADS_1


Gina, Aris dan keluarga besarnya menunggu dokter di tempat dia melakukan konsul. Sedangkan dokter mencetak fhoto hasil USG Gina.


"Sayang nanti sampai rumah istirahat saja ya. Jangan kemana mana" kata Aris kepada Gina.


"Kamu kira aku suka kelayapan dan boong gitu?" skak mati Gina kepada Aris.


"Bukan begitu maksud ku" Aris berusha meralat maksudnya kepada Gina.


"Udah jangan ribut. Aris kamu harus hati hati dalam bersikap dan mengeluarkan kata kata kamu." Mami melerai percakapan yang tidak bermutu dan berujung itu.


Dokter yang telah selesai dengan mencetak foto hasil USG kembali duduk di meja kerjanya.


"Baik Nyonya ini hasil cetak fhoto USG nya dan resep untuk di tebus di apotek rumah sakit."


"Kalau ada keluhan silahkan datang lagi." lanjut dokter.


"Oh ya dok kapan kami harus kemari lagi?" tanya Aris.


"Minimal sekali sebulan Tuan." jawab dokter.


"Baiklah dok, kami permisi dulu" Aris berkata sambil mendorong kursi roda Gina.


"Sari, Mira kalian ke kantor saja nggak usah ke rumah. Gue nggak mau dikira pergi kelayapan sama orang." kata Gina yang masih sakit hatinya mendengar ucapan Aris.


"Gin" tegur Aris.


"Mami, aku langsung pulang aja Mi. Nanti mami pulang tolong bawakan vitamin sama obat ya Mi. Mami tenang aja aku nggak akan kabur kemana mana" kata Gina yang langsung berdiri dan berjalan menuju parkiran mobil.


"Mi" kata Aris


"Hormon hamil Ris. Kita harus bisa menerima Gina yang seperti itu. Mau pulang aja dia udah bersyukur kita setelah apa yang kamu lakukan terhadapnya." kata Mami dengan nada prihatin atas nasib anaknya.


"Aris pergi nebus obat dulu mi" Aris melangkahkan kakinya ke apotik.


"Kita balik ke kamar aja Mi." kata Sari yang memang tidak akan masuk kantor hari ini. Mira juga sama.


Gina yang sudah sampai di mobil meminta sopir untuk langsung pulang. Selama di mobil Gina langsung tidur, dia sedang tidak mood untuk melakukan kegiatan apapun.


Tak terasa Gina sampai di rumah utama. Dia langsung selfi di depan pintu rumah dan mengirim foto tersebut kepada Sari.


Sari yang melihat notifikasi pesan masuk ke ponselnya, membuka pesan itu. Sari hanya bisa tersenyum saja karena foto yang dikirim Gina adalah foto dia selfi di depan rumah.

__ADS_1


__ADS_2