Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Presiden Direktur RS.Harapan Kita


__ADS_3

Pagi harinya semua penghuni rumah sudah bersiap siap akan berangkat pergi kerja. Aris dan Bram hari ini akan meeting dengan perusahaan Zain di luar kantor. Sedangkan Papi akan bekerja di perusahaan Soepomo Grub.


Sedangkan Mami dan Gina duduk santai sambil melihat lihat tanaman bunga Mami yang sedang bermekaran.


"Sayang, kamu jadi mau ke kantor Sari nak?" tanya Mami kepada Gina.


"Jadi Mi. Rencananya nanti sekitar jam sembilan Gina berangkat dengan Daniel. Ada pesan Mi?" tanya Gina balik kepada Mami.


"Nggak sayang. Kamu hati hati ya berangkatnya. Mami takut orang orang yang berniay mencelakai kalian kemaren masih berkeliaran di luar sana." kata Mami melihat ke arah Gina dengan tatapan penuh rasa kekhawatiran.


"Mami tenang saja ya. Gina akan selalu berhati hati. Mami nggak lihat tuh anggota black jack semakin di tambah oleh Uda untuk mengamankan kita. Nanti pas Gina pergi juga ada dua mobil yang menemani Mami." papar Gina kepada Mami.


Gina tidak ingin Maminya terlalu paranoid dengan khasus yang kemaren. Apalagi Gina, dia akan selalu di jaga oleh kawan kawannya itu dimanapun dia berada.


"Baiklah sayang, Mami sangtat senang mendengarnya. Pokoknya kamu harus hati hati sayang. Kamu pakai sopir?" tanya lanjut Mami.


"Nggak Mi. Tadi udah minta izin sama Uda kalau yang akan membawa mobil adalah Daniel. Uda sudah menyetujuinya." jawab Gina.


"Oh ya udah kalau begitu. Sekarang kamu berasiap siap dulu. Hari udah jam delapan." kata Mami sambil melihat jam tangan mewahnya.


"Baiklah Mami. Aku ke atas dulu mau bersiap siap." kata Gina sambil beranjak dari kursinya.


Dia akan bersiap siap untuk ke kantor Sari dab mengajak Sari ke rumah sakit tempat Daniel akan menjadi direkturnya. Sebenarnya Gina bisa saja sendirian. Tetapi lebih baik ada Sari yang memiliki saham sama besar dengan Mira. Nanti Gina juga akan menghubingi Mira kembali, apakah Mira sudah bisa ikut atau masih seperti kemaren, Mira tidak bisa ikut karena ada meeting penting dengan perusahaan lain. Pada intinya Mira sudah setuju kalau Daniel akan menjadi direktur baru rumah sakit.


Daniel sudah duduk dengan Mami di kursi teras. Mereka terlihat sedang berdiskusi. Gina sangat senang keluarganya menerima baik Daniel.


"Niel ayuk berangkat." kata Gina kepada Daniel.


"Oma Daniel jalan duluan ya. Doakan Daniel dapat kerja." kata Daniel sambil tersenyum.


"Kalau tidak dapat di Rumah Sakit Harapan Kita, Rumah Sakit Soepomo masih ada Niel. Jadi tenang saja ya." Kata Mami kepada Daniel.


"Terimakasih oma. Kedua rumah sakit.itu sama sama bagus." jawab Daniel.


Gina dan Daniel naik ke atas mobil mereka, begitu juga dengan anggota Gina yang akan mengiringi mereka juga sudah naik ke atas mobil masing masing. Iring iringan mobil meninggalkan rumah utama Soepomo. Tujuan mereka adalah kantor Bramantya grub.


Tidak membutuhkan waktu lama, Daniel sudah membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan perusahaan Bramantya. Gina dan Daniel turun. Mereka langsung menuju ruangan Sari.


"Permisi apa Nona Sarinya ada?" tanya Gina kepada karyawan Sari.


"Manager ada di dalam ruangannya Nona." jawab Karyawan.


Tok tok tok. Karyawan mengetuk pintu ruangan Sari.


"Masuk" jawab Sari dari dalam yang masih berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Permisi Nona. Ada Nyonya Gina datang untuk bertamu." kata karyawan kepada Sari.


"Suruh langsung masuk saja." jawab Sari.

__ADS_1


Gina dan Daniel masuk ke dalam ruangan Sari. Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Susah ya mau bertemu manager keuangan. Harus melewati karyawan dulu." kata Gina mengejek Sari.


"Hm pinter mengejek ya." jawab Sari.


"Gimana Gin? Sekarang kita antar Daniel ke rumah sakit?" tanya Sari.


"Mira gimana?" tanya balik Gina.


"Mira tetap nggak bisa datang. Dia ada meeting penting. Tapi dia sudah setuju dan sangat setuju." jawab Sari.


"Baiklah ayo berangkat. Kita pake satu mobil saja. Tapi jangan heran akan ada dua mobil tambahan mengikuti kita. Anggota black jack diminta Papi untuk mengawasi keluarga Soepomo dan Wijaya." papar Gina kepada Sari.


"Buntut penyerangan itu?"


"Yup. Ayuk jalan. Ada yang mau gue bahas di mobil. Nggak mungkin di sini." lanjut Gina.


"Gue udah tau apa itu. Ayuk jalan." Sari mengambil tas tangannya.


Mereka bertiga meninggalkan perusahaan Bramantya. Mereka menuju rumah sakit Harapan Kita.


"Sar jadi bagaimana dengan tahanan itu. Segera kirimkan satu ke keluarga Zain. Mereka sudah berani mengusik kita." kata Gina memerintah Sari.


"Siap buk bos. Tapi gue ingin tahanan itu dikirim saat dia sudah sekarat. Jadi keluarga Zain tau kalau dia sudah salah mencari lawan. Makanya sampe sekarang belum gue kirim salah satu tahanan kepada mereka." kata Sari melanjutkan.


"Sip. Gue akan buat salah satu tato di badan mereka. Bukan tato black jack atau yang lainnya. Gue akan buat tato grub ntah grub apaa. Itu semua udah ada dalam pemikiran gue." papar Sari.


Sari sudah menyiapkan semuanya. Dia hanya tinggal eksekusi saja.


Tidak terasa mobil sudah berbelok ke parkiran rumah sakit Harapan Kita. Mereka bertiga kemudian turun dan menuju ruang meeting. Semua petinggi rumah sakit dan juga dokter sudah diminta Sari untuk berkumpul di ruangan meeting.


"Kita langsung ke ruangan meeting Gin. Semua sudah berkumpul di sana." kata Sari kepada Gina.


Mereka bertiga menuju ruang meeting. Sesampainya di sana. Sari membuka pintu ruangan. Semua petinggi rumah sakit dan dokter berdiri melihat siapa yang datang.


"Silhkan duduk. Kita mulai saja pertemuan hari ini. Anda semua pasti kaget kenapa ada Nyonya Soepomo di antara kita hari ini, dan kenapa pula Nyonya Gina duduk di bangku tengah, di bangku yang selama ini kosong dan tidak pernah di tempati." kata Sari sambil menatap petinggi rumah sakit dan para dokter.


"Saya akan menjelaskan hal ini, bahwasanya pemilik saham terbesar rumah sakit ini sebanyak lima puluh persen adalah milik Gina Putri Wijaya, ya yang tak lain adalah Nyonya Muda Soepomo. Sedangkan pemilik kedua terbesar pemegang saham barulah saya dan Mira." lanjut Sari.


Dokter Ranti yang mendengar apa yang dikatakan Sari langsung kaget. Dia tidak menyangka kalau pasiennya adalah pemilik utama rumah sakit tempat dia bekerja. Tidak hanya dokter Ranti yang terkejut, semua dokter juga terkejut, selama ini mereka menyangka kalau Gina mendapatkan pelayanan utama karena bersahabat dengan Sari dan Mira. Ternyata semua itu adalah salah. Hal ini dikarenakan Gina adalah pemilik utama rumah sakit.


"Sebelumnya saya mohon maaf kepada rekan rekan semua. Mohon maaf karena selama ini saya tidak muncul. Saya hanya memberikan wewenang kepada Sari dan Mira. Pada hari ini perkenankan saya untuk mengucapkan rasa terimakasih saya kepada semua pihak yang sudah bersemangat memajukan rumah sakit kita ini." kata Gina sambil menatap satu persatu para pimpinan rumah sakit dan dokter yang berada di ruangan meeting.


"Pada hari ini tujuan saya ke sini dan kenapa saya bersedia tampil di hadapan rekan rekan semua adalah tak lain dan tak bukan, akan mengangkat anak saya sebagai presiden direktur rumah sakit yang baru. Dimana selama ini jabatan itu sengaja saya kosongkan, karena saya menunggu dia kembali datang dari menyelesaikan kuliahnya di negara E." lanjut Gina.


"Daniel sini nak." panggil Gina kepada Daniel.


Gina, Sari dan Daniel berdiri.

__ADS_1


"Perkenalkan dia anak pertama saya yang bernama Daniel Aries Soepomo, dia adalah dokter spesialis penyakit dalam yang baru menyelesaikan S2 nya di negara E." kata Gina memperkenalkan Daniel kepada seluruh dokter dan jajaran petinggi rumah sakit.


"Daniel silahkan sampaikan sepatah dua kata dari kamu untuk semuanya." kata Gina yang tau Daniel bulan tipe orang yang banyak bicara, ntah kenapa dia memilih jalan menjadi dokter bukan menjadi pebisnis.


"Saya Daniel mohon kerja sama kita semua untuk kemajuan rumah sakit ini. Saya bukan tipe yang banyak bicara, satu kesalahan yang Anda buat maka siap siap akan saya depak dari rumah sakit dan saya pastikan anda tidak akan bisa bekerja di rumah sakit manapun." kata Daniel dengan menebarkan hawa dingin.


Gina dan Sari heran dengan gaya Daniel. Mereka tidak menyangka kalau Daniel akan bisa mengendalikan hawa ruangan seperti itu.


"Saya rasa pertemuan kali ini cukup sampai di sini. Lain waktu saya akan mengumpulkan Anda semuanya. Terimakasih atas waktunya. Wassalam." Daniel menutup pertemuan itu dengan gaya dinginnya.


Semua orang yang berada di dalam ruangan keluar dan kembali bekerja. Gina, Sari dan Daniel menuju ruangan presiden direktur yang selama ini menjadi ruangan Gina yang dibiarkan kosong.


" Niel, dari mana loe belajar hawa dingin seperti Bunda loe itu. Gue aja dari dulu nggak bisa bisa." kata Sari dengan herannya. Sari saja tidak pernah bisa seperti itu. Ini Daniel yang tidak pernah berada di dekat Gina bisa melakukan hal itu.


"Turunan calon Mami." jawab Daniel.


"Hahahaha. Calon Mami." kata Gina sambil tersenyum mengejek Sari.


"Mak, Ayah, anak sama aja ngejek gue. Apalagi besok Frenya pulang ya Gin, makin merase gue." kata Sari sambil geleng geleng kepala.


"Oh ya Niel, selama di negara E, kamu ada ketemu Frenya? Kalian berdua sama aja, pas pergi langsung lost contack. Untung Bunda nturuh orang untuk ngikutin kamu berdua kalau nggak udah Bunda cari kalian ke sana." kata Gina yang kesal dengan kelakuan anak anaknya itu.


"Bunda tenang aja. Pas setahun umur Blip, Frenya juga udah selesai S3 nya. Dia nggak pulang karena lanjut kuliah di sana." kata Daniel memberikan berita gembira untuk Gina.


"Apa S3? Kenapa nggak kamu larang, haduh susah besok cari jodoh dia itu. Daniel kamu memang lah ya." kata Gina sambil menjitak kepala anak laki lakinya itu.


"Bun, harusnya bangga. Bunda tinggal nyuruh dia membangun perusahaan aja. Bunda tantang dia untuk membangun dan mengembangkan perusahaan itu. Mampu nggak Frenya." kata Daniel yang mulai menghasut Gina.


"Bener juga Gin. Loe tinggal bangun perusahaan kecil loe suruh dia mengembangkannya. Mampu nggak Frenya." Sari mendukung ide dari Daniel.


"Bener juga. Besok kita lihat, kita tunggu apakah dia mampu atau tidak. Gue ragu dia akan pulang cepat. Loe kayak nggak tau Frenya aja. " kata Gina kepada Sari.


"Udah yuk pulang. Daniel nanti pas makan malam mau ke rumah Ayah sama Nana." kata Gina membubarkan acara ngobrol itu.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Daniel melajukan mobilnya menuju kantor Sari. Setelah Sari turun mereka melunjur ke rumah utama Soepomo. Mereka akan berangkat dari sana dengan Aris.


"Bun, Daddy meeting dengan perusahaan Zain kan ya"


"Iya. Nanti Bunda tanya apa hasilnya. Kalau perusahaan itu masih ingin bermain dengan Daddy maka dia akan bermain dengan Bunda." Gina menatap keluar dengan sangat tajam, sangat terlihat kalau dia menyimpan api amarahnya.


"Bun, biar aku aja yang bermain. Aku pastikan mereka akan menyesal." jawab Daniel sambil tersenyum penuh makna.


"Serius?"


"Serius Bun. Masalah itu mah kecil Bun." kata Daniel.


"Sip. Hajar." kata Gina.


Daniel menambah kecepatan mobilnya sedikit. Aris baru siap menelpon Gina mengatakan kalau mereka akan berangkat pukul empat menuju rumah Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2