Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pengakuan Gina


__ADS_3

Gina hari ini sedang merasa sangat jenuh luar biasa di rumah. Gina sudah melakukan semua aktifitasnya. Dia sudah mencoba membunuh rasa jenuhnya dengan membuat kue, saat sedang membuat kue itu dia merasa bahagia, selesai membuat kue dia kembali jenuh. Akhirnya Gina mengambil ponselnya dan menghubungi Mira.


Baru pada deringan pertama telpon Gina langsung diangkat oleh Mira.


"Wow keren loe. Ponsel loe gantung dileher? Cepet kali ngangkat telpon gue." Gina menyindir Mira yang tangannya super kilat mengangkat telponnya.


"Gue sedang main game. Makanya bisa cepat angkat telpon. Tumben loe nelpon gue?"


"Loe di kos kan? Sari ada nggak?" kata Gina


"Loe kalau mau nanyak Sari mending telpon ke ponselnya. Gue lagi nanggung main game nya "Mira kesal kepada Gina, dia kira Gina nelpon ada hal penting, kiranya cuma nanyak Sari doang.


"Woi emosian dia nyah, santai Mir, santai. Gue mau tanya kalau koe dan Sari ada di kosan. Gue mau kesana. Setelah itu kita bertiga ngemall seperti biasanya. Gue akan traktir loe dan Sari "


"Gue setuju. Gue ganti baju dulu. Plus mau nyruh Sari untuk ganti baju juga." Mira langsung mematikan ponselnya tanpa ada babibu dengan Gina.


"Dasar teman nggak ada akhlak." ketus Giba sambil menukar bajunya.


Gina yang sudah siap dengan memakai dress warna crem terlihat sangat cantik, apalagi Gina memadukannya dengan sepatu dari Gucci. Makin paripurna dah tu tampilan. Gina mengambil kunci mobilnya yang digantung di pintu masuk clean room, yaitu ruangan penghubung bagian rumah dengan garasi.


Gina masuk kedalam mobil mewahnya. Dia akan mengatakan siapa dia kepada kedua sahabatnya itu. Dia takut nanti Sari dan Mira tau dari orang lain, Gina takutnya kalau mereka berdua tidak.mau berteman dengannya lagi karena sudah dibohongi. Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, satu jam kemudian, Gina sampai di depan pintu pagar kosan lamanya. Gina turun dan langsung mengetuk pintu ruang tamu. Ternyata di ruang tamu sudah ada Mira dan Sari yang sudah menunggu Gina.


"Niat banget loe berdua untuk ngemall. Sampe-sampe biasanya gue yang nunggu sekarang loe berdua yang nunggu gue."


"Udah yon berangkat. Siapa yang mau pesan talsinya?" tanya Sari.


"Ngapain naik taksi. Gue aja bawa mobil. Yuk naik mobil gue aja." Gina melangkahkan kakinya mwnuju mobil yang terparkir. Sari dan Mira mengikuti langkah Gina.


"Mana mobil loe Gin?" tanya Mira karena tidak melihat mobil berdiri di depan kos, kecuali mobil.mewah itu, Mira berpikir nggak mungkin mobil itu monilnya Gina.


"Tu" tunjuk Gina kepada Sari dan Mira.


"Gin loe jangan ngasal deh Gin. Marah lo orang punyanya kalau mereka tau loe ngaku ngaku mobil mereka menjadi mobil loe."


"Beneran itu mobil gue." Gina menekan tombol di remot mobil itu. Terlihat lampu mobil mewah itu hidup.


"Sekarang loe percayakan ini mobil Gue. Sekarang masuk. Nanti gue ceritakan semuanya di mall." kata Gina sambil masuk kedalam mobil.


"Keren mobil loe Gin. Berapa sebulan neh ansurannya?" kata Mira


"Tenang udah lunas. Jadi nggak mikirin cicilan. Gila aja kali gue mau mikir cicilannya. Biarlah dak ada mobil." kata Gina.


Gina kemudian melajukan mobilnya menuju sebuah mall.


"Gin, gue denger dari Mira, loe sempat ke kampung Mira ya wak tu libur?"


"Yup. Nggak sengaja ketemu tu anak. Diakan lagi jualan bakso. Ya udah gue makan bakso gratis." jawab Gina sambil tersenyum melihat Mira dari kaca mobil.


"Tu anak mentang-mentang gratis nggak tanggung tanggung makan bakso gue Sar. Nambah aja sampe empat kali."


"Eeeee reseki nggak boleh nolak. hahahahahaha."

__ADS_1


"Tau nggak loe Sar. Gara-gara Gina. Aris mantan kak Putri sampe harus datang ke kampung gue tuh untuk cari Gina." Mira menyindir Gina


"Seriusan lo Mir?" Sari tak percaya dengan yang dikatakan Mira.


"Yup"


"Mir, loe tadi ngomong mantan kan. Apa bener mereka udah mantan?" Gina merasa sedikit bahagia mendengar Aris sudah mantan Putri.


"Yup. Nantilah gue ceritain pas kita udah sampe mall." Mira sengaja membuat Putri menjadi penasaran.


"Loe emang niat bikin gue penasaran Mir." ketus Gina.


"Hahahahahaha" Mira tertawa bahagia.


Tak terasa Gina dan kedua sahabatnya sampai juga di mall besar itu. Ketiga sahabat itu berkeliling keliling mall dengan tujuan cuci mata. Setelah puas berkeliling Gina mengajak kedua sahabatnya untuk makan di tempat biasa mereka makan.


"Makan dulu yuk gue laper." kata Gina.


"Oke" jawab kompak Mira dan Sari.


Gina dan kedua sahabatnya mengambil makanan yang mereka inginkan. Kemudian memilih tempat duduk yang bisa bebas memandang ke arah keramaian mall itu.


"Mir, jadi gimana dengan mantan." kata Sari tidak sabarannya.


"Loe kok jadi loe yang nggak sabaran?" tanya Mira curiga.


"Gue mewakili. Tenang aja loe. Gue tipe setia kepada Adrian."


"Terus, dia nyapa gue. Eeeee yang bikin somplak tu orang berpikir gue jualan kecil kecilan." Mira menceritakan sambil manyun.


"Hahahahahahaha" Gina dan Sari tertawa terbahak-bahak.


"Puas ya loe. Gue berenti aja cerita. Malez"


"Lanjut Mir. Sok asik loe."


"Jadi setelah gue ceritain kenapa gue bisa di situ kak Aris minta maaf ke gue. Terus dia menawarkan untuk ngantar gue pulang, ya gue nggak nolak dong. Mayan hemat limpul." Mira terdiam lagi sebentar.


"Terus di jalan dia tanya gue, apakah Gina udah di kos atau belum."


"Loe jawab apa?" tanya Gina langsung.


"Ya gue jawab aja loe udah pindah ke rumah loe sendiri, karena keluarga loe pindah kerja ke sini."


"Aris percaya gitu?"


"Kayaknya nggak ya Gin."


"Terus yang mantan?" tanya Gina.


"Hah yang mantan itu pas gue ngomong gina. Emang kak Putri nggak bilang ke Kak Aris, kalau Gina udah nggak ngekos lagi. Terus jawab Kak Aris, Kakak udah putus dengan Putri. Jadi sekarang kakak jomblo." kata Mira sambil menatap ke Gina. Sari juga menatap ke Gina.

__ADS_1


"Cie ada yang punya peluang ne. Pepet trus Gin. Jangan kasih kendor." kata Sari memberi semangat Gina.


"Apaan sih loe. Gue nggak akan mepet. Biar dia aja yang mepet gue." kata Gina


"Jadi loe juga suka gitu ke kak Aris?" Mira penasaran.


"Eeee nyet paket lengkap gitu gue anggurin rugi dong."


"Hahahahahahahaha" ketiga sahabat itu tertawa geli mendengar apa yang dikatakan Mira barusan.


"Mir, tadi loe kan di kos ngomong neh, mau cerita mengenai diri loe. Emang selama dua tahun ini apa yang loe sembunyiin dari kita?" Sari mengingat apa yang dikatakan Gina sebelum.mereka menuju mall.


"Sebenarnya gini. Gue sebenarnya bukanlah anak karyawan biasa aja. Tapi anak seorang pengusaha." Gina terdiam sesaat.


"Loe berdua kenal nggak dengan yang namanya Wijaya Grup?" tanya Gina.


"Kenal lah siapa yang nggak kenal. Suami Istri yang sangat sukses dibidangnya masing-masing. Mall yang kita injak sekarang aja mall baru kepunyaan mereka." kata Mira yang memang hobby membaca majalah bisnis.


"Jangan bilang kalau loe anak mereka?" Sari menatap Gina dengan tatapan kagum.


"Loe biasa aja kali menatap gue. Yup Gue anak bungsu mereka. Gue punya kakak laki-laki satu namanya Afdhal." kata Gina.


"Wah ternyata kamu anak orang kaya Gin. Terus kenapa selama ini kamu tidak mengakuinya?" tanya Mira penasaran. Biasanya yang ada orang yang sederhana bersikap sok kaya. Ini orang yang kaya beneran bersikap seperti tidak punya apa-apa.


"Gue dari dulu memang nggak suka menampilkan apa yang gue punya. Gue mau berteman bebas. Gue males kalau mereka tau gue anak siapa. Maka mereka akan memiliki motif untuk mendekati gue."


"Lah sekarang ngapain loe ngaku sama kami. Loe nggak takut kami manfaatin?" tanya Mira.


"Paling loe berdua manfaatin gue pas akhir bulan. Kalau untuk kerjasama. Babe loe berduakan bukan pengusaha. Kecuali noh babe Mira pengusaha warung bakso banyak cabang. Boleh juga tuh nanti bermitra dengan gue." kata Gina antusias.


"Somplak ne orang." kata Mira.


"Yuk jalan. Gue mau belanja. Loe berdua gue traktir beli baju." kata Gina sambil menarik tangan kesua sahabatnya.


Mereka bertiga sibuk keluar masuk butik ternama. Sari dan Mira pertama sangat canggung tapi setelah agak lama mulai terbiasa. Tiba-tiba Mira terkejut saat melihat tiga orang pria berbadan besar memakai baju hitam mendekati Gina.


"Gin tu orang bertiga mendekati loe." kata Mira memberitahu Gina.


"Biarin aja mereka asisten dan pengawal gue."


"Wow pake asisten dan pengawal."


"Udah yok pilih. Keburu maghrib nanti. Gue sebelum maghrib udah harus di rumah." kata Gina.


Akhirnya mereka bertiga memilih baju yang sesuai dengan gaya mereka masing-masing. Setelah menemukan apa yang mereka inginkan. Gina menuju kasir untuk membayar semua baju itu, tak ketinggalan Gina juga memintak asisten dan kedua pengawal memilih baju yang mereka suka juga.


"Berapa mbak semuanya?" tanya Gina.


"Eeee Nona Gina. Semuanya jadi Dua ratus lima puluh juta Non." kata Kasir.


Gina mengeluarkan black card dari sebuah bank ternama itu. Mira dan Sari melongo mendengar total belanjaan mereka. Gina dan kedua sahabatnya keluar dari mall besar itu. Setelah itu Gina melajukan mobilnya menuju kos-kosan lamanya. Gina melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia takut telat sampe rumah.

__ADS_1


__ADS_2