Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ghina Sakit


__ADS_3

Aris melaksanakan meetingnya pagi ini di ruangan meeting perusahaan. Sedangkan Ghina bergelut dengan rasa sakit perutnya yang memang sangat sakit.


'Sayang sakit' bunyi pesan yang dikirim Ghina kepada Aris.


Aris yang memang sudah tau dengan kondisi Ghina saat mengalami hari pertama menstruasi sudah tidak konsentrasi dalam melakukan meeting pagi ini.


Aris melihat ponselnya menyala dan ada pesan masuk dari Ghina. Aris membaca pesan tersebut. Tanpa berpikir panjang Aris langsung berdiri.


"Bimo, Budi tolong lanjutkan meeting." ujar Aris dengan nada memburu.


"Maaf Pak Hans. Istri saya sedang menahan sakit sendirian di ruangan. Saya permisi ke sana. Lanjutkan saja dengan Bimo dan Budi. Saya mohon maaf dan pengertian dari Pak Hans." ujar Aris yang langsung memasukkan ponsel miliknya kedalam saku jas.


"Tidak apa apa Pak Aris." jawab Pak Hans yang sangat tau bagaimana sayang dan cintanya Aris kepada istrinya itu.


Aris langsung keluar ruangan meeting dengan terburu buru. Dia masuk ke dalam ruangannya dengan cepat dan tidak menjawab sapaan dari Jero.


"Jero bikin teh hangat ke pantry." teriak Aris dari dalam ruangan.


Jero yang paham dengan situasi langsung saja menuju pantry tanpa banyak bertanya. Dia tidak ingin kena semprot Aris dalam situasi seperti saat sekarang.


"Sayang." ujar Aris sambil melepaskan jasnya dan menyampirkan di kursi.


Aris membawa Ghina kedalam pelukannya. Ghina meringkuk menahan rasa sakit perutnya.


"Sakit sayang." jawab Ghina.


"Udah minum obatnya?" tanya Aris lagi.


Ghina menggeleng lemah. Dia sama sekali tidak sempat membeli obat karena sudah beberapa bulan ke belakang Ghina tidak merasakan sakit lagi. Aris juga lupa tadi meminta Jero untuk membeli obat tersebut.


Tok tok tok.


"Permisi Tuan teh hangatnya" ujar Jero dari depan ruangan.


Aris membuka pintu. Aris mengambil secangkir teh yang dibawakan oleh Jero.


"Jer, tolong belikan obat" ujar Aris.


Aris membisikkan obat yang dimintanya ke telinga Jero.


"Oh baik Tuan." jawab Jero.


Jero kemudian turun ke lobby kantor.


"Hay manis boleh Tuan tampan ini meminta tolong?" tanya Jero kepada seorang resepsionis.


"Bisa Tuan Jero. Ada apa?" tanya salah seorang resepsionist.


"Tolong belikan obat ini ke apotik ya. Nyonya Ghina sedang menahan rasa sakit di atas." lanjut Jero sambil memberikan kertas yang berisi nama obat yang harus dibelinya.


Jero kemudian duduk menunggu resepsionit itu di sofa yang ada di lobby. Dia sengaja meminta resepsionis tersebut untuk pergi membeli karena Jero tau obat apa yang akan dibelinya. Obat yang akan membuat malu Jero saat membeli ke apotik. Jeri tidak mau masuk lubang yang sama dengan Tuan mudanya.


"Tuan Jero ini." ujar resepsionis sambil memberikan kepada Jero obat yang dibeli dan kelebihan uangnya.


"Ambil kembaliannya. Saya hanya butuh obatnya." jawab Jero dengan nada dingin dan tidak seramah tadi saat meminta tolong.

__ADS_1


Jero mengambil obat dan kembali menuju ruangan Aris. Dia tidak ingin Nyonyanya lebih lama menahan rasa sakit.


Tok tok tok. Jero kembali mengetuk pintu ruangan.


" Tuan" ujar Jero sambil memberikan obat Ghina.


"Makasi Jer." jawab Aris.


Aris masuk kembali ke dalam ruangan. Sedangkan Jero duduk di sofa ruangan Aris.


"Sayang, minum dulu obatnya." ujar Aris sambil membuka obat.


Ghina duduk dengan susah. Kepalanya terasa berat untuk di bawa duduk. Aris mambantu Ghina meminum obatnya.


"Istirahat dulu ya. Nanti kalau kamu belum sanggup untuk pulang biar aku telpon Ivan untuk pulang terlebih dahulu." ujar Aris.


Ghina mengangguk. Dia kembali merebahkan kepalanga dengan menjadikan paha Ghina sebagai alas. Aris mengusap usap kepala Ghina dengan lembut. Dia terus melakukan itu sampai Ghina tertidur.


Aris melihat jam mewah miliknya.


"Pas jam istirahat Argha." ujar Aris.


Aris lalu mengambil ponsel miliknya. Dia melakukan panggilan video dengan Ivan.


"Siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ivan kepada Aris.


"Apa Argha sedang dengan kamu?" tanya Aris.


"Siap ada Tuan." jawab Ivan.


"Hallo Daddy, ada apa?" tanya Argha yang kaget Daddynya menghubungi di jam sekolah.


Aris kemudian mengarahkan kamera ponselnya kepada Ghina.


"Kenapa Bunda Daddy?" ujar Argha panik.


"Bunda sakit sayang." jawab Aris.


Argha menghentikan menyuap makanannya. Dia menatap ke arah Aris meminta penjelasan.


"Ya Argha. Bunda sakit. Jadi sekarang Daddy tanya sama Argha, kalau Bunda tidam sembuh menjelang jam pulang sekolah Argha. Apa boleh Bunda dan Daddy langsung saja pulang ke rumah tanpa menjemput Argha terlebih dahulu?" tanya Aris dengan rangkaian kata kata menerangkan kondisi Ghina kepada Argha.


"Boleh Daddy. Bawa aja Bunda pulang saat Bunda udah bisa jalan ya. Jangan paksakan Bunda. Nanti Bunda sakit." jawab Argha.


"Makasi sayang." jawab Aris.


"Argha lanjut makan ya. Daddy temani Bunda dulu. Sekolah yang rajin ya nak." lanjut Aris


"Aman Daddy. Jagain Bunda Argha." jawab Argha.


Aris merebahkan kepalanya ke atas bantal. Sedangkan kepala Ghina diletakannya di atas lengan. Mereka berdua memilih untuk beristirahat.


Cukup lama Aris dan Ghina tidur di ruangan pribadi Aris. Jero masih setia menunggu di sofa ruangan sambil memainkan ponsel miliknya. Sedangkan Bimo dan Budi sudah pergi menuju meeting berikutnya.


Aris mengucek matanya yang terasa sangat berat untuk diajak bangun. Aris melihat kesebelah kanannya. Ghina terlihat masih terlelap tidur. Aris tidak sampai hati membangunkan istrinya yang sedang sakit. Padahal sebenarnya perutnya sudah minta diisi. Aris kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Jero yang juga ternyata tertidur di sofa karena tidak tau mau ngapain lagi mendadak kaget mendengar bunyi pintu yang diketuk dari luar. Dia berjalan menuju arah pintu dan membukakan pintu ruangan Aris.


"Tuan muda?" tanya Jero kaget saat melihat siapa yang datang.


"Mana Daddy dan Bunda, Om Jero?" tanya Argha sambil masuk ke dalam ruangan kerja Aris.


"Masih dalam ruangan istirahat.." jawab Jero.


"Apa Bunda masih sakit?" tanya Argha kembali.


"Ya." jawab Jero.


Argha kemudian duduk di sofa. Dia juga akan menunggu kedua orang tuanya bangun. Sebenarnya Argha ingin masuk ke dalam ruangan, tetapi mengingat Bunda sedang sakit, Argha mengurungkan niatnya.


"Sejak kapan Bunda sakit, Om?" Argha membuka percakapannya dengan Jero.


"Pagi sehabis dari rumah. Tiba tiba aja Bundaa sakit." jawab Jero.


"Nah sekarang Tuan muda kok bisa ke sini bukannya langsung pulang ke rumah." ujar Jero yang menatap heran Argha yang datang ke kantor bukan langsung pulang ke rumah utama.


"Mau nengok Bunda." jawab Argha sambil menatap pintu ruangan pribadi Aris yang masih belum juga terbuka.


"Palingan bentar lagi juga keluar Tuan Muda." jawab Jero yang paham apa isi kepala Argha saat ini.


Argha terlihat bermain di ponsel miliknya. Sedangkan Jero dan Ivan berdiskusi tentang beberapa hal. Saat mereka sedang sibuk dengan kesibukan masing masing, pintu ruangan pribadi Aris terbuka dari dalam.


"Bunda" teriak Argha saat melihat Ghina yang berjalan pelan dan berwajah pucat.


Argha melemparkan ponselnya ke sofa, dia langsung berlari menuju Ghina.


"Bunda sakit apa?" tanya Argha sambil memeluk Ghina dengan erat.


"Sakit wanita sayang." jawab Ghina membalas pelukan anaknya yang sedang dalam mode cemas.


"Sakit apa itu? Tapi nggak parahkan?" tanya Argha yang heran mendengar nama sakit Ghina.


"Nggak apa apa. Besok juga sembuh. Kok Argha bisa ke sini pulang sekolah? Nggak ke rumah utama?" tanya Ghina.


"Argha cemas sama Bunda makanya Argha langsung ke sini." jawab Argha sambil membawa Ghina menuju sofa.


"Jadi Daddy dicuekin?" tanya Aris protes kepada anak bungsunya.


"Daddy nggak sakit jadi bisa sendiri." jawab Argha ketus.


"Bunda, Argha beli makan siang untuk Bunda. Tapi kayaknya ini cocok jadi makan sore." ujar Argha dengan sedih melihat jam dinding ruangan Aris.


"Pasti udah dingin dan nggak enak lagi." lanjut Argha masih dengan wajah sedihnya.


"Nggak apa apa sayang. Bunda akan tetap memakannya." jawab Ghina sambil tersenyum kepada anak bungsunya yang sengaja datang saat jam pulang sekolah untuk mengantarkan bekal makan siang.


Ghina memakan makanan yang dibawa oleh Argha. Dia memakan makanan itu dengan sangat lahap. Argha tersenyum bahagia melihat bagaimana lahapnya Ghina memakan makan siangnya.


"Sayang ayuk pulang. Aku udah mendingan semenjak makan makanan yang dibelikan putra tersayang kita." ujar Ghina kepada Aris.


"Hahahahaha. Kalau tau gitu dari tadi aku minta Argha untuk bawain kamu makanan sayang." ujar Aris sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Mereka kemudian pulang ke rumah utama. Hari ini benar benar hari yang berat bagi Aris karena Ghina yang mendadak sakit perut


__ADS_2