Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Gerak Daniel


__ADS_3

Arga yang lebih dahulu terbangun dari pada Daniel, langsung menghujani pipi Daniel dengan ciuman yang sangat banyak agar bangun. Daniel yang biasa tidur sendirian merasa kaget dan langsung duduk saat seseorang mencium pipinya kiri dan kanan dengan bertubi tubi.


Arga yang melihat Daniel kaget langsung tertawa ngakak. Arga tertawa seperti anak seusianya. Bener bener tertawa lebar. Daniel ikut tertawa karena melihat tawa Arga.


"Hay bocah kecil, berani ya ngetawain udanya dengan sebegitu bahagianya." ujar Daniel sambil menggelitik Arga. Daniel semangat menggelitiki Arga.


Arga yang memang dasarnya tidak tahan digelitik tertawa terpingkal pingkal.


"Ngomong ampun dulu, baru uda hentikan." ujar Daniel kepada Arga.


Arga yang memang tidak bisa mengatakan ampun, hanya bisa tertawa saja. Arga belum mencapai titik emosinya. Daniel terus saja menggelitiki Arga.


"Ngomong ampun dulu baru uda berhentikan." ujar Daniel.


Tapi Arga tetap saja diam. Daniel terus menggelitiki Arga. Sampai


Bhuk. Sebuah tinju kiri Arga tepat mengenai hidung mancung Daniel. Daniel kaget luar biasa melihat reaksi Arga yang seperti itu.


Ow pekik Daniel yang tidak menyangka akan diberikan hadiah sebuah tinju kiri dari Arga.


Daniel menatap tajam Arga. Sedangkan Arga sama sekali tidak mau menatap Daniel. Daniel kemudian meredam amarahnya. Dia tidak boleh terpancing emosinya karena kelakuan Arga.


"Arga, boleh Niel ngomong sesuatu?" tanya Daniel kepada Arga yang sudah berdiri.


Arga bener bener emosi. Arga membenturkan kepalanya ke lemari yang ada di sana. Untung saja Daniel sudah mematikan speker yang ada di semua penjuru rumah, kalau tidak rumah bakalan heboh mendengar sesuatu yang dibentur benturkan.


Daniel berlari memeluk Arga yang sedang menyalurkan emosinya itu. Daniel memeluk Arga dengan begitu kuatnya. Dia tidak membiarkan Arga membenturkan kepalanya ke almari. Daniel merasa bersalah karena sudah memancing emosi Arga di pagi hari ini. Seharusnya tadi Daniel tidak menggeliti Arga. Tapi ada baiknya juga Daniel memancing emosi Arga, jadi Daniel tau bagaimana keadaan Arga kalau sedang emosi. Daniel jadi bisa mengatakan kepada dokter Rina bagaimana keadaan Arga kalau sedang emosi.


Sebagai ganti karena tidak bisa membenturkan kepalanya, Arga menggigit tangan Daniel dengan kuat. Daniel berusaha menahan rasa sakit yang diblakibatkan oleh gigitan Arga di tangannya. Daniel yakin bekasnya pasti akan sangat membiru di kulit putihnya, melihat begitu kuatnya Arga menggigit tangannya.


Setelah emosi Arga kembali stabil. Arga kembali mengajak Daniel untuk bermain. Daniel melayani Arga bermain. Tapi yang anehnya kalau anak anak seusia Arga dia yang akan bermain semua permainannya. Hal ini tidak berlaku kepada Arga. Mainan itu dimainkan oleh Daniel. Arga hanya menunjuk nunjuk benda apa yang harus dimainkan oleh Daniel. Lebih membuat heran, Arga selalu mencontohkan cara bermain permainan itu kepada Daniel. Daniel hanya menjalankan instruksi dari Arga tanpa membantah sedikitpun.


"Arga ayuk mandi. Nanti telat sarapan." ujar Daniel sambil berdiri dan meletakan mainannya.


Arga manyun. Dia takut setelah Daniel mandi, Daniel akan pergi kerja dan meninggakkan dirinya sendirian lagi di rumah besar itu. Arga baru merasakan enaknya bermain dengan Daniel. Makanya Arga tidak mau berdiri dari tempat duduknya, Arga takut akan hal itu.


"Daniel nggak akan pergi ke rumah sakit. Daniel cuti, jadi Daniel akan bermain dengan Arga seharian. Sampai Arga merasa bosan main dengan Daniel" ujar Daniel yang tau mimik ketakutan Arga yang terlihat jelas dari wajahnya.


Arga berdiri dari duduknya, dia langsung memegang tangan Daniel dan membawa Daniel ke kamar mandi. Daniel dengan teliti memandikan adik bungsunya itu. Selesai memandikan Arga, Daniel memakaikan pakaian Arga.


"Arga nanti ikut Daniel ke rumah teman Daniel ya? Arga mau kan temani Daniel?" ujar Daniel sambil memasangkan sendal Arga.


Arga mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


"Kaitkan jari Arga dengan jari Daniel. Itu cara kita berjanji." ujar Daniel sambil mengangkat jari kelingkingnya. Arga juga mengangkat jari kelingkingnya, Daniel kemudian mengaitkan jari kelingking Arga yang kecil itu ke jari kelingkingnya.


Setelah kedua duanya merasa sudah tampan. Mereka berdua turun ke lantai satu, terlihat di sana semua keluarga sudah duduk di kursi masing masing. Arga yang melihat kursinya berada di antara Gina dan Aris langsung menarik kursi tersebut ke arah Daniel dengan susah payah. Aris mambantu Arga untuk membawa kursinya.


"Mau pindah kemana sayang Daddy?"


Arga menunjuk Daniel. Aris meletakan kursi Arga tepat di sebelah kursi Daniel. Aris heran dengan keakraban dua pria tampan yang sebenarnya jarang akur itu, karena kesibukan Daniel di rumah sakit selama ini.


Arga makan disuapi oleh Daniel. Sepertinya Daniel tidak akan bisa lepas dari Arga. Maka selamatlah untuk suster Dila yang bisa bebas dari mengasuh Arga selama Daniel cuti.


Semua orang selesai sarapan pergi ke kantor untuk bekerja. Sedangkan Daniel mengajak Arga untuk menuju taman di belakang. Dia akan mengajarkan Arga cara bercocok tanam. Daniel ingin Arga sedikit memiliki fokus untuk melakukan sesuatu hal.


Daniel dan Arga bermain tanah dengan semangat. Maksud hati Daniel akan mengajarkan Arga bercocok tanam berubah menjadi perang tanah. Daniel hanya bisa menuruti semua kemauan Arga. Daniel tidak ingin Arga kembali emosi dan membahayakan dirinya sendiri.


Beranjak siang Daniel menghubungi dokter Rina untuk meminta waktu melihat kondisi Arga.


"Hallo dokter, apakah siang ini saya bisa meminta waktu senggang dokter sedikit?"


"Bisa dokter. Dokter langsung saja ke rumah saya. Saya sedang tidak praktek." jawab dokter Rina yang begitu senang dokter Daniel menghubunginya.


"Baiklah kami akan datang selesai makan siang. Anda sharelock aja rumah Anda." perintah Daniel kepada Rina. Dia memang tidak tau dimana rumah dokter Rina.


"Baiklah dokter akan saya kirimkan" jawab dokter Rina.


Setelah menghubungi dan mendapatkan kepastian dokter Rina bisa ditemui, Daniel langsung berjalan menuju Arga yang sedang sibuk bermain tanah.


"Boy kita bersihkan badan dulu setelah itu makan siang. Nah baru kita akan pergi ke tempat teman Niel. Kamu tadi udah janji akan ikut." ujar Daniel mengingatkan janji Arga kepada dirinya tadi.


Arga yang mendengar kata janji langsung mengangkat jari kelingkingnya. Dia mengaitkan jarinya dengan jari Daniel. Daniel tersenyum bahagia. Baru satu yang diajarkan Arga langsung bisa paham dan mengingat yang diajarkan oleh Daniel.


Melihat Arga yang begitu bisa cepat belajar, Daniel berjanji kepada dirinya sendiri untuk benyak meluangkan waktunya bermain dan belajar bersama Arga. Daniel tidak akan acuh seperti kemaren kemaren lagi. Arga sangat butuh perhatian dan pertolongan.


Gina yang melihat Arga begitu dekat dengan Daniel merasa nyaman dan kembali tenang. Gina berharap Daniel tau dan bisa membantu mengobati adiknya itu. Gina yakin, Daniel memilih cuti pasti karena tingkah dan kelakuan adiknya yang tidak sesuai dengan anak seusia Arga. Sebenarnya dari lama Gina ingin meminta Daniel untuk memerhatikan Arga. Tetapi mulut Gina begitu berat untuk meminta. Setiap dia akan bicara dengan Daneil, perkataan Aris selalu terngiang ditelinganya.


"Bun, aku bawa Arga bentar ya." ujar Daniel pamit kepada Bundanya.


"Mau kemana Niel?"


"Tempat teman Bun." jawab Daniel.


" Oh baiklah. Arga janji nggak nakal ya. Janji untuk tidak rewel selama Daniel berada di rumah temannya." ujar Gina kepada Arga.


Arga kembali mengangkat kelingkingnya. Daniel mengangguk kepada Gina. Gina juga mengangkat kelingkingnya. Mereka berdua mengaitkan jari kelingking itu.

__ADS_1


"Maksudnya apa Niel?" tanya Gina yang heran dengan gaya Arga.


"Maksudnya Arga setuju dengan semua yang Bunda minta kepada dia." ujar Daniel sambil tersenyum.


"Oh baiklah hati hati di jalan Niel. Jangan ngebut. Kamu pastikan bawa mobil yang bensinnya full." ujar Gina mengingatkan kebiasaan Arga yang raun selalu lama.


"Untung Bunda ingetin. Nanti tolong katakan ke pak Paijo untuj mengisi full bensin mobil aku ya Bun. Uangnya ada di dasbord mobil." ujar Daniel yang baru ingat kalau bensin mobilnya juga sudah di garis E karena membawa Arga raun kemaren.


"Oke. Kamu pake mobil Bunda aja ya." ujar Gina.


Daniel mengambil kunci mobil Gina. Dia dan Arga masuk ke dalam mobil. Daniel menuju rumah dokter Rani. Dia sangat berharap dokter Rani bisa memberikan solusi terhadap Arga.


Perjalanan yang sebenarnya dekat itu terpaksa menjadi jauh karena Arga yang meminta untuk raun memutar terlebih dahulu. Daniel mengikuti saja keinginan Arga. Dia sama sekali tidak membantah Arga. Setelah berkeliling selama satu jam, barulah Daniel mengarahkan mobilnya menuju rumah dokter Rani.


Daniel mengetuk rumah minimalis tetapi terkesan mewah itu. Seorang wanita cantik yang memakai baju rumahan terlihat membuka pintu rumah. Daniel terpana melihat kecantikan dokter Rani.


"Masuk dokter" ujar dokter Rani.


Daniel hanya mematung saja. Dia sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh dokter Rani. Arga yang melihat Daniel diam saja, langsung menarik tangan Daniel dengan kuat. Daniel kaget dengan reaksi Arga.


"Ada apa?" tanya Daniel.


Arga menunjuk dokter Rani. Daniel mengangkat alisnya kepada dokter Rani. Dokter Rani hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan dokter Daniel.


"Silahkan masuk dokter." dokter Rani mengulang kembali perintahnya kepada Daniel.


Daniel dan Arga masuk ke dalam rumah dokter Rani. Daniel dan Arga duduk di kursi tamu.


"Ini adik bungsu saya dokter." ujar Daniel.


"Panggil nama saja dokter." jawab Rani.


"Ini adik bungsu saya Ran."


"Hay cowok ganteng. Siapa namanya?" tanya Rani kepada Arga.


Arga diam saja. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Rani dan juga tidak merespon perkataan Rani.


"Arga suka mainan?" tanya Rani kembali memancing perhatian Arga.


Arga melihat sepersekian detik, setelah itu mengangguk. Rani mengambilkan sekeranjang mainan untuk Arga. Arga menarik tangan Daniel. Dia langsung menyebarkan mainan yang dibawa Rani. Arga meminta Daniel dan Rani untuk bermain. Sedangkan dia sibuk main sendirian.


Rani terus memerhatikan Arga. Tiba tiba hal yang tidak diinginkan terjadi. Hal ini semakin membuat Rani yakin kalau putra bungu dari Aris Soepomo memerlukan perhatian khusus

__ADS_1


__ADS_2