Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kamu selalu milik ku sayang


__ADS_3

Gina sudah bangun pagi pagi sekali, dia sudah mandi dan juga sudah memakai pakaian kantornya. Hari ini Gina memutuskan untuk ke kantor. Gina melihat ke ranjangnya, Aris di sana masih terlelap dalam tidurnya. Gina sangat heran, tidak biasanya Aris tidur terlalu lama seperti ini.


"Tumben uda Aris lama tidurnya. Ada apa ini sebenarnya?" ucap Gina.


Gina kemudian mengguncang badan Aris. Gina sudah menggubcang berkali kali tapi tetap sama saja, Aeis tidak menunjukkan tanda tanda akan bangun dari tidurnya. Gina yang melihat Aris keenakan tidur, juga memilih untuk menukar bajunya kembali dengan pakaian rumahan biasa. Gina juga tidak akan masuk kantor. Dia akan menemani Aris tidur kembali.


Tapi sebelum tidur kembali Gina pergi untuk sarapan. Perutnya bener bener lapar dari semalam. Gina melihat Bram duduk sendirian di meja makan. Bram sedang memakan sarapannya.


"Hay kak" kata Gina menyapa Bram.


"Aris mana Gin? Dan kamu kenapa nggak pakai baju kantor?"


"Uda Aris masih tidur kak. Makanya aku nggak jadi ke kantor" kata Gina sambil memakan sepotong roti dan meminum teh hijaunya.


"Kalau gitu aku berangkat dulu Gin. Salam ke Aris." kata Bram.


"Siap kak Bram" jawab Gina.


Bram melajukan mobilnya untuk menjemput Sari ke kosannya. Ternyata di sana sudah ada Bayu yang juga menjemput Mira.


"Baru datang Bram?" kata Bayu.


"Yup." Jawab Bram sambil menganggukkan kepalanya


"Gimana korban, udah bangun belum?" tanya Bayu


"Belum. Kayaknya dosisnya terlalu banyak gue kasih." jawab Bram.


"Baguslah sayang. Jadi Aris nggak jadi ketemu sama sundel itu" kata Sari yang sangat marah ke Aris.


Mira masih bisa menyimpan rasa tidak sukanya di depan Aris. Sari mana ada. Sari dengan terang terangan mengkonfrotir Aris.


"Yuk berangkat: kata Bayu yang sudah tidak sabar ingin berduaan dengan Mira.


Sari kemudian masuk kedalam mobil Bram. Sedangkan Mira ke dalam mobil Bayu. Dua mobil mewah itu berjalan beriringan, letak perusaahan Bayu dengan Afdhal sangat dekat. Jadi mereka bisa terus beriringan. Tak terasa mereka telah sampai di depan perusahaan.


"Nggak mampir dulu kak?" kata Sari.


"Jangan Sar. Aku harus mengurus nenek lampir itu" kata Bram.


"Asal jangan kepincut kayak Aris aja sayang" kata Sari menggoda Bram.

__ADS_1


"Wah mana mau sayang. Permata ditukar dengan batu kali" kata Bram.


Bram kemudian melajukan mobilnya saat Sari sudah masuk kedalam perusahaan. Bram melaju dengan kecepatan tinggi. Bram ingin melihat ekspresi Vina saat melihat Aris masih tidak ke kantor.


Sedangkan di rumah Soepomo, Aris masih tertidur dengan lelapnya. Gina yang tau Aris masih bernyawa langsung saja membaringkan tubuhnya di sebelah Aris. Gina sudah minta ijin kepada managernya, kalau hari ini dia tidak masuk, karena Aris demam. Gina kemudian memeluk Aris dengan sangat kuat. Dia tidak mau membagi Aris dengan siapapun. Aris adalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.


Bram sampai juga diparkiran tempat dia dan Aris biasa memarkir mobilnya. Dilihatnya mobil Vina belum sampai, Bram sengaka menunggu mobil tersebut di parkiran. Tidak berapa lama mobil Vinapun datang juga. Bram pura pura baru sampai dan turun saat Vina juga turun dari mobilnya.


"Pagi Pak Bram" kata Vina sambil melihat lihat ke segala arah seperti ada sesuatu yang hilang.


"Cari apa Vin, ada yang jatuh?" kata Bram pura pura tidak tau.


"Ah tidak Pak. Bapak sendirian?" tanya Vina.


"Iya." jawab Bram.


"Oh, Aris mana Pak?" kata Vina kecepolosan memanggil Aris tanpa embel embel bapak.


"Maksud kamu?" tanya Bram.


"Eh maaf pak. Maksud saya Pak Aris kok nggak kantor pak?"


"Oh. Aria sedang enak tidur. Mungkin kecapekan habis ngegempur biniknya seharian maren. Terlebih siangnya Aris siap menemani Gina main di wahana bermain seharian. Mungkin karena itu Aris kecapekan, sehingga tertidur semalaman. Ditambah lagi tadi malam kami main jujur atau tantanga. Makanya Aris makin susah bangun" kata Bram panjang lebar. Ini kali pertama Bram berkata kepada Vina dengan panjang lebar. Biasanya singkat padat dan jelas tidak lebih dari satu kalimat sederhana.


"Saya ke atas dulu Vin" kata Bram sambil memencet lift khusus direksi.


Sedangkan Vina harus kelobby kantor dulu. Dia tidak akan pernah bisa naik lift direksi kalau hanya berdua dengan Bram. Bram bukan Aris.


"Aris menjengkelkan. Katanya pagi ini kantor. Kiranya masih enak dalam pelukan wanita itu" kata Vina dengan kesal.


"Awas aja kamu Aris. Aku akan datang ke rumah mu" ucap Vina.


Vina kemudian masuk ke dalam lift khusus karyawan. Dia tidak mau nanti terlihat lamban oleh Bram. Vina udah sangat gondok melihat Bram yang marah marah tak jelas kepada dirinya. Vina sampai di atas lebih lambat dari Bram. Bram sudah berada di ruangan Aris. Vina merapikan dirinya sebentar di mejanya. Baru dia masuk kedalam ruangan Aris.


"Permisi tuan Bram."


"Masuk" kata Bram tanpa mengangkat mukanya dari dokumen yang dibacanya.


"Agenda Tuan hari ini semuanya berada di kantor utama Soepomo. Tidak ada yang di kantor Jaya" kata Vina.


"Baiklah." kata Bram mengangkat mukanya.

__ADS_1


"Oh kamu seksi sekali. Bisa tidak kancing baju kamu itu, kamu pasang sampai ke atas?" kata Bram menatap jijik ke Vina.


"Oh maaf Tuan." kata Vina sambil menutup kancing bajunya yang terbuka dua itu.


Vina kemudian keluar dengan bersungut sungut. "Bram sialan. Mana sudi aku memamerkan ini untuk kamu" kata Vina sambil memasang kembali kancing baju yang sengaja dibukanya.


Bram kembali bekerja, dia harus memeriksa semua dokumen dari dua perusahaan besar. Bram sebenarnya sangat lelah, tetapi demi kebaikan rumah tangga Aris dan Gina, Bram harus kuat menjalani semuanya.


Sedangkan di kamar Aris, Aris menggeliat karena sudah mulai terbangun dari tidur panjangnya. Dia melihat Gina masih tidur memeluk dirinya.


"Jam berapa ini, tumben Gina masih tidur" kata Aris.


Aris melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Betapa terkejutnya Aris ternyata hari sudah sangat siang. Padahal dia janji dengan Vina akan ke kantor hari ini. Aris yang tidak mau Vina makin marah langsung bangun. Dia memindahkan tangan Gina dari perutnya.


"Sayang sudah bangun" kata Gina yang melihat Aris sudah duduk dan sedang meminum air putih hangat yang disiapkan Gina.


"Sudah sayang. Aku harus ke kantor" kata Aris sambil mengecup sekilas bibir Gina.


"Sayang mandi bareng aja. Aku juga mau ikut kamu. Aku malas di rumah sendirian" kata Gina yang juga langsung bangun dan berlari masuk kamar mandi terlebih dahulu.


Aris tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dia tidak mungkin melarang Gina untuk ikut ke kantor. Aris tidak memiliki alasan yang tepat untuk melarang Gina. Aris harus mencari alasan untuk Vina nantinya. Aris tidak mau Vina tambah murka saat melihat Gina yang ikut ke kantor.


Aris dan Gina mandi dengan sangat cepat. Mereka akan ke kantor Aris. Gina yang telah selesai terlebih dahulu langsung saja keluar untuk menyiapkan pakaian kantor Aris yang belum sempat disiapkannya. Gina memilihkan stelan jas dan celana berwarna navy sedangkan kemeja berwarna putih. Gina juga memilih dress di atas lutut yang berwarna navy juga. Mereka terlihat sangat serasi nantinya.


"Sayang sini aku bantu" kata Aris saat melihat Vina susah memasang bra nya.


Aris membantu Vina mengaitkan branya. Vina menahan nafas saat Aris melakukan itu.


"Sayang, nanti malam ya. Aku harus ngantor" kata Aris yang melihat Vina udah menahan nafasnya.


Vina langsung memeluk tubuh wangi suaminya.


"Sayang kamu akan selalu milikku" kata Gina.


"Iya sayang, ada apa ini?" kata Aris.


"Nggak apa apa sayang." jawab Gina.


Aris dan Gina memakai pakaian mereka. Aris membantu Gina mengeringkan rambutnya.


"Sayang separo basah aja ya." kata Gina.

__ADS_1


"Siap Nyonya Aris" jawab Aris.


Mereka berdua akhirnya siap berpakaian. Mereka berdua terlihat begitu serasi. Seorang CEO kaya tampan dan seorang Wanita pekerja keras dan setia. Pasangan yang sangat membuat orang iri.


__ADS_2