Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kemarahan Ayah Hans


__ADS_3

"Sayang, menurut kamu apa yang harus kita lakukan kepada Sari?" tanya Aris saat mereka baru selesai berolahraga malam.


"Maksud kamu sayang?" tanya balik Ghina sambil meraba dengan ujung jarinya dada bidang suaminya.


"Iya sayang. Apa yang harus kita lakukan lagi agar Sari cepat kembali sadar. Apa kita harus membawa Sari keluar negeri?" tanya Aris sambil menggenggam jari tangan Ghina yang mulai membangkitkan sesuatu di bawah pusat inti Aris.


"Sayang stop. Udah, aku udah capek ngebor kamu sayang. Satu jam kita main. Besok lagi" ujar Aris protes dengan ulah jari Ghina.


"Ye..... Emang aku ngapain coba sayang?" ujar Ghina memandang Aris.


"Jari kamu nakal sayang. Membangkitkan yang udah diam. Aku capek." ujar Aris.


"Hahahahahaha. Maaf sayangku." ujar Ghina memindahlan tangannya. Dia menghentikan kegiatan jari jarinya.


"Sayang fokus." ujar Aris.


Ghina kembali memfokuskan pikirannya kepada apa yang akan dibicarakan oleh Aris.


"Apa yang kamu katakan tadi sayang?" tanya Ghina yang memang sama sekali tidak fokus dengan apa yang dikatakan oleh Aris.


"Masalah Sari. Gimana caranya lagi biar dia cepat sembuh."


Ghina terlihat berpikir, dia sama sekali kehabisan ide bagaimana caranya supaya Sari cepat sembuh. Ghina sudah mendatangkan semua dokter terbaik dari luar negeri untuk merawat Sari. Tetapi sampai sekarang masih sama. Sari belum menunjukkan peningkatan.


"Jujur sayang, aku juga sudah kehabisan ide. Semua yang bisa kita lakukan sudah kita lakukan, tapi hasilnya masih belum." ujar Ghina.


"Itulah sayang, aku juga nggak tau harus berbuat apa lagi. Kalau kita hentikan semua alat penunjang pernafasan, Ayah Hans pasti akan ngamuk lagi seperti waktu Bram menyampaikan ide itu. Kita biarkan terus kita kasihan dengan Sari. Aku bener bener nggak tau apa yang harus aku lakukan sayang. Aku bener bener kasihan dengan Sari dan Bram." ujar Aris mengeluarkan semua beban pikirannya.

__ADS_1


"Kalau menurut aku sayang, kita tunggu aja keputusan Ayah Hans lagi. Biar ayah yang mengambil keputusan. Aku juga nggak berani ngomong dengan Ayah Hans."


Aris berpikir merenungkan apa yang dikatakan oleh Ghina. Dia menimbang nimbang baik buruknya ucapan Ghina tadi.


"Gimana sayang?" tanya Ghina.


"Setuju sayang. Mari kita tidur." ujar Aris sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Aris membawa Ghina ke dalam pelukannya. Ghina selalu tidur beralaskan lengan Aris, kalau tidak maka akan sudah bagi Ghina untuk memejamkan matanya. Tapi malam ini walaupun sudah beralaskan lengan Aris, mata Ghina tetap saja tidak mau terlelap. Matanya masih terjaga dengan besar, pikirannya berkelana kemana saja.


"Sayang kenapa?" tanya Aris yang terjaga dari tidurnya.


"Nggak sayang." jawab Ghina berusaha menyembunyikan kegalauannya dari Aris.


"Kalau nggak ada kenapa kamu seperti ini sayang. Ada apa?" tanya Aris sambil menghadapkan wajahnya ke arah Ghina.


"Aku cuma teringat dengan Sari aja. Aku takut kalau Sari terksiksa dengan semua alat penunjang hidupnya itu." ujar Ghina mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Sekarang lebih baik kita istirahat karena besok akan ada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi kita. Kita akan selalu mendukung apa keinginan Ayah Hans." ujar Aris.


Ghina kemudian memeluk tubuh Aris. Dia benar benar tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia mengikuti saja perkataan suaminya untuk mengikuti apa kehendak Ayah Hans.


RUMAH SAKIT


Sedangkan di rumah sakit Bram masih setia menunggu istrinya yang masih belum juga mau bangun. Dia sudah menunggu berbulan bulan. Harapan untuk memiliki keluarga bahagia mulai punah kembali. Bram sekarang hanya menunggu mukjizat dari Tuhan untuk kesembuhan istri yang sangat dicintainya.


"Sayang, aku mohon sayang, bangun sayang. Apa kamu tidak kasihan dengan aku sayang? Aku sudah berbulan bulan menunggu senyum mu kembali. Aku rindu bercanda dengan kamu." ujar Bram sambil menggenggam tangan Ghina.

__ADS_1


"Sayang bangunlah sayang. Temani hari hari aku kembali sayang."


"Sayang, tolong bangun. Cintai aku lagi sayang. Aku sangat butuh cinta dan kasih kamu sayang. Aku sangat ingin kamu memeluk ku kembali. Kamu memberikan aku kata kata untuk membuat aku kembali bersemangat." ujar Bram sambil terus menggenggam tangan Sari.


Sari yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram. Mencoba membuka matanya, tetapi semakin kuat Sari mencoba membuka mata, maka semakin kuat pula Sari di tarik kembali ke alam mimpinya.


"Sayang. Aku tidak meninggalkan kamu sayang. Aku selalu ada bersama kamu. Aku mendengar apa yang kamu katakan sayang." ujar Sari berusaha mengucapkan semua yang dirasakannya.


Tetapi setiap usaha yang dilakukan Sari sama sekali tidak berhasil. Sari masih tidak bisa berucap apapun. Mulutnya sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata kata apapun.


Sari kembali berusaha mengangkat tangannya. Tetapi tetap saja hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak bisa. Sari melihat Bram yang melangkah pergi dari dirinya berada saat ini.


"Sayang jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri sayang." teriak Sari.


Tapi Bram tetap berjalan pergi meninggalkan Sari sendiri. Sari hanya bisa menatap punggung Bram yang berjalan menjauh dari dirinya. Sari benar benar marah ke dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa mencegah Bram untuk pergi tidak meninggalkan dirinya


Bram dengan berat hati berjalan menjauh dari Sari. Dia sebenarnya ingin menunggui Sari, tapi apalah daya Bram. Saat ini dia harus meninggalkan istrinya itu sendirian.


"Keluar." ujar Ayah Hans berkata sambil membuka pintu ruangan Sari.


Ayah Hans akan tidak membiarkan Bram menunggui Sari. Bram hanya bisa menunggui Sari saat Ayah Hans dibawa pulang oleh Papi. Ayah Hans akan bersedia pulang ke rumah utama hanya sebentar, setelah itu dia akan kembali lagi ke rumah sakit. Semenjak Bram mengatakan idenya, Ayah Hans tidak pernah lagi tidur di rumah utama. Dia selalu tidur di rumah sakit. Hal ini membuat Bram semakin tidak bisa menjaga istrinya itu. Hal yang sangat membuat Bram frustasi.


"Sebentar lagi Ayah. Aku masih kangen berbincang bincang dengan istri Aku Ayah." jawab Bram berusaha memohon kepada Ayah mertuanya itu.


"Dengan orang mati anda tidak akan bisa berbincang bincang. Lebih baik Anda berbincang bincang dengan manusia hidup di luar sana." jawab Ayah Hans dengan ketus.


"Ayah tolong beri Aku maaf Ayah. Hari itu aku bener bener sudah frustasi. Aku tidak ingin melihat istri Aku lebih menderita lagi Ayah." ujar Bram berusaha menjelaskan kepada Ayah mertuanya.

__ADS_1


"Kamu sudah aku beri maaf Bram. Tetapi maaf pula aku belum bisa melupakan setiap kata kata yang engkau keluarkan. Saat anak saya sadar, saya akan menyerahkan semuanya kepada dia. Apakah dia akan tetap dengan suami yang menginginkan kematiannya atau memilih berpisah." ujar Ayah mengeluarkan bom atom tepat di wajah Bram.


Bram terdiam mendengar apa yang dikatakan mertuanya. Dia sama sekali tidak bisa berkata apa apa lagi. Bram takut semakin dia berbicara maka akan semakin panjang alur ceritanya. Jadi, Bram memilih untuk diam. Menikmati saja kebencian Ayah mertuanya karena kata kata yang dikeluarkannya sendiri.


__ADS_2