
Siang harinya semua keluarga berkumpul di restoran hotel. Mereka akan makan siang bersama barulah setelah itu akan pergi ke kebun anggur seperti keinginan dari Anggel.
Seorang Manager terlihat berjalan ke arah Gina dan Arga. Mereka seperti ingin memberikan sebuah laporan yang sangat mendesak untuk ditandatangani oleh Gina.
Gina dan Frenya sudah memberikan berbagai macam kode kepada Manager itu supaya tidak berjalan mendekat ke arah Gina. Tetapi Manager itu sama sekali tidak menghiraukan kode kode keras dari Gina maupun Frenya. Dia tetap dengan santainya berjalan menuju Gina.
"Maaf Nyonya, saya terpaksa mengganggu makan siang Nyonya dan keluarga." ujar Manager.
Gina manampakan muka kesalnya kepada Manager tersebut. Dia sudah mengatakan dengan sangat jelas saat breafing kalau dia selama seminggu semenjak pesta pernikahan Daniel dan Rani sama sekali tidak mau diganggu oleh siapapun masalah pekerjaan. Apalagi dengan datang ke hotel tempat semua anggota keluarganya menginap.
Manager yang mendapatkan hadiah tatapan tidak suka dari Gina, sudah paham dengan situasi.
"Maafkan saya sekali lagi Nyonya. Saya sudah melakukan apa yang Nyonya pesankan waktu breafing, kalau Nyonya tidak mau diganggu, serta saya juga sudah berkali kali menghubungi Nyonya melalui sambungan telpon, tapi tetap tidak Nyonya angkat panggilan saya. Makanya saya memberanikan datang kemari menemui Nyonya karena apa yang saya bawa ini sangat penting untuk pekerjaan hari ini Nyonya." ujar Manager yang biasanya terkenal dingin itu bisa berbicara panjang kali lebar seperti ini.
Frenya yang tau siapa dan bagaimana sebenarnya sifat dan perilaku Manager tersebut hanya bisa tersenyum saja. Dia tidak menyangka dalam ketakutannya melihat Gina dia bisa mengeluarkan begitu banyak rangkaian kata kata.
"Mana yang harus saya tandatangani?" ujar Gina.
Manager memberikan berkas berkas yang harus ditandatangani oleh Gina.
"Apa kamu sudah memeriksa dengan teliti? Kamu tau kan resikonya kalau sempat melakukan kesalahan karena ketidak telitian?" ujar Gina menatap dingin Manager tersebut.
"Tau Nyonya." jawab Manager.
Gina menandatangani berkas berkas tersebut. Dia sudah sangat tau tipikal bekerja seluruh Manager dan Stafnya serta karyawan. Mereka semua bekerja dengan sangat tekun dan jarang memiliki kesalahan akibat keteledoran sendiri.
Aris mencuri lihat logo dari perusahaan tersebut. Betapa kagetnya Aris saat melihat logo perusahaan yang ditandatangani oleh Gina.
Aris kemudian menatap Bram. Bram membalas menatap Aris.
"GA" ucap Aris dengan mengucapkan tanpa bersuara.
"GA???" tanya Bram penasaran.
Aris mengangguk meyakinkan Bram kalau yang dilihatnya adalah benar kalau itu logo dari perusahaan GA Grub.
"Terimakasih Nyonya. Maaf sekali lagi. Saya permisi" ujar Manager.
Setelah Manager pergi dari hadapan mereka. Aris mengambil alih kecanggungan yang sempat ada itu.
"Sudah selesai sayang?" tanya Aris kepada Gina.
Gina menatap tajam Aris. Gina tau Aris sedang berusaha menahan keingintahuannya itu. Aris mengangguk tanda dia akan bertanya nanti. Gina membalas anggukan Aris.
"Mari makan." ujar Aris.
Mereka menyantap makan siang dengan suasana sedikit agak canggung. Semua yang duduk di meja itu tau dengan sifat Aris. Mereka sangat yakin kalau Aris sekarang sedang menahan rasa ingin taunya dengan situasi yang barusan terjadi.
"Udahlah ya nggak usah canggung kek gini. Aku tau kok Gina pasti akan menceritakan semuanya nantinya. Jadi kita nikmati saja hari hari bersantai sebelum mulai mumet karena bisnis." ujar Aris dengan penuh wibawa.
"Sayang, aku berhutang banyak cerita ke kamu." ujar Gina sambil mengecup bibir Aris sekilas. Aris meremas jari jari Gina. Dia sangat bahagia dengan istrinya itu.
Mereka menyelesaikan makan siang, mereka semua akan berangkat menuju desa yang menyediakan paket memetik anggur sepuasnya. Mereka berangkat dengan menumpangi satu bus besar. Jadi tidak ada rombongan yang berpisah mobil.
"Bun, nanti boleh makan Anggur banyak banyak?" ujar Arga yang memilih duduk di pangkuan Aris.
"Boleh. Tapi kalau sakit perut Bunda nggak akan mau ngasih obat." jawab Gina berusaha menahan senyumnya.
"Berarti sama aja dengan nggak boleh. Ngapain juga pake ngomong boleh. Bunda aneh." ujar Arga.
__ADS_1
Aris yang mendengar ocehan anaknya hanya bisa tersenyum saja. Banyak cerita yang tidak diperolehnya, tapi biarlah waktu yang mengungkap semuanya.
Mereka bernyanyi bersama di sepanjang perjalanan menuju kebun Anggur. Mereka semua melepas embel embel pebisnis handal dan dokter handal dari bahu mereka masing masing.
Perjalanan selama dua jam itu berakhir dengan pemandangan yang luar biasa memanjakan mata mata yang biasanya melihat angka angka dan gedung gedung tinggi menjulang langit.
"Tuan dan Nyonya, kita sudah sampai di tujuan hari ini yaitu kebun Anggur terbaik di negara U. Perjalanan menuju kebun Anggur itu harus kita sambung dengan memakai mobil jip khusus yang disediakan oleh pihak perkebunan." ujar pemandu kegiatan hari ini.
Mereka semua turun dari atas mobil bus, mereka pindah ke beberapa mobil jeep yang sudah menunggu mereka di parkiran. Mereka melanjutkan perjalanan menuju perkebunan yang dituju.
Sepanjang perjalanan mereka semua disuguhi oleh pemandangan kebun anggur yang terbentang sangat luas.
"Bun, kita punya satu kayak gini di negara I pasti bagus Bun." ujar Arga.
"Arga nggak usah ke supermarket membeli anggurnya. Cukup di kebun aja ambil. Bisa makan sepuasnya. Nanti kan bisa kita bikin jadi selai, jadi jus, permen sama banyak lagi yang bisa kita bikin bunda. Bunda mau ya." ujar Arga membujuk Bundanya.
"Enak aja kalau ngomong." jawab Gina sambil memandang Arga
"Dad?" Arga beralih fokus ke Aris.
"Kita akan suruh Papi Bram mencari lahan yang bagus. Nanti kita bangun perkebunan sekaligus semua pabrik yang dibutuhkan." ujar Aris kepada Arga.
"Wow keren Daddy." jawab Arga dengan penuh semangat.
"Kerenlah Daddy gitu loh." ujar Aris membanggakan dirinya kepada Arga.
"Yayayayaya makan tu sombong." jawab Gina kepada Aris.
"Hahahahahahaha" Arga dan Aris tertawa mendengar jawaban Gina yang mengandung kekesalam itu.
"Dilarang kesal Bun." jawab mereka berdua kompak.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya rombongan sampai juga di tempat pemberhentian. Mereka semua turun dari atas mobil.
Arga yang sudah tidak sabar memakai sepatu bot dan topi miliknya dengan sangat cepat.
"Sabar Tuan Muda." ucap Stefen kepada Arga.
"Sabar ini pun, cuma ya itu tadi nggak sabarnya karena mau makan anggur besar besar. Arga suka anggur." ucap Arga sambil tersenyum bahagia membayangkan Anggur yang begitu nikmat masuk ke dalam perutnya.
Gina datang mencubit pinggang Arga.
"Jangan mikir macem macem. Sakit perut Bunda tinggal." ancam Gina.
Arga memutar kedua bola matanya. Dia benar benar tidak menyangka Gina akan mengatakan hal itu kepada dirinya. Arga mengira Gina hanya menggertaknya saja untuk tidak akan mengobati saat Arga sakit perut gara gara makan Anggur yang banyak. Ternyata Gina beneran dengan niatnya itu.
"Tenang Bun. Nggak akan banyak." jawab Arga meyakinkan Gina.
Mereka mulai memasuki area tanaman anggur yang sudah siap untuk di petik. Sekian banyak mereka yang pergi hanya dua orang yang luar biasa semangatnya, siapa lagi kalau bukan Arga dan Anggel.
Mereka berdua berjalan paling depan untuk memetik buah anggur tersebut.
"Mami, Arga akan petik anggur yang besar besar. Arga suka anggur besar."
"Mami akan ambil yang hijau di negara I anggur hijau tidak sebagus yang di sini." ujar Anggel mengutarakan anggur yang mana yang akan dipetik oleh dirinya.
"Baiklah Tuan Tuan dan Nyonya Nyonya, ini adalah kawasan dimana Tuan dan Nyonya bisa memetik anggur sepuasnya. Nanti akan kita timbang di kasir. Jadi silahkan menikmati Tuan dan Nyonya." ujar pemandu wisata.
Arga dan Anggel langsung masuk ke kebun anggur. Mereka sampai berdiri termenung di bawah rimbunnya buah anggur.
__ADS_1
"Kenapa diam? Nggak jadi metik anggur?" tanya Gina kepada Arga.
"Pusing, nggak tau yang mana harus diambil Bun." ujar Arga kepada Gina.
"Hahahahahaha. Arga ingat apa yang Bunda katakan dulu. Ambillah sesuai dengan kebutuhan."
"Ingat Bun. Tenang aja. Arga akan ambil sesuai kebutuhan." jawab Arga.
Arga mulai memetik anggur yang diinginkannya. Sedangkan Gina dan Aris hanya mengiringi dari belakang. Mereka sama sekali tidak ada memetik anggur.
"Bun, kok anggurnya nggak penuh penuh?" tanya Arga kepada Gina saat melihat anggur yang diambilnya nggak bertambah tambah, malahan habis.
"Tu tengok aja siapa yang nggak berenti makan." ujar Gina menjawab pertanyaan dari Arga.
Arga kemudian melihat ke arah Daddy dan Papi Bram serta Stefen mereka bertiga terlihat memegang satu tangkai anggur yang dipetik oleh Arga.
Arga mendekat ke arah tiga pria tampan itu.
"Ooooo jadi anak kecil ini di suruh ngambil yang makan orang tuanya???? Oke oke oke oke, Arga paham dengan cara kerjanya sekarang. Yang kecil kerja menikmati yang besar." kata Arga menyindir tiga pria tampan di depannya itu
"Nah itu Arga paham. Arga pinter sekarang cepat paham dengan semua situasi." jawab Bram dengan nada tidak ada rasa bersalahnya.
Arga yang mendengar jawaban dari Bram naik pitam.
"Papi. Arga ini marah bukannya berniat baik hati. Papi paham nggak sih." teriak Arga.
"Papi paham Arga. Papi paham kalau Arga sedang marah. Tapi apa boleh kita marah kepada orang tua??? Dosa atau nggak???" tanya balik Bram.
"Nasib yang kecil." jawab Arga berjalan menjauh dari tiga pria yang selalu ada saja jawabannya untuk melawan Arga.
Arga berjalan menuju arah Bunda dan Frenya serta Sari.
"Ada apa?" tanya Gina yang melihat anak tampannya itu sudah sewot saja.
"Kapan tiga pria itu mengalah ke Arga Bun?" tanya Arga sambil menunjuk ke arah Aris, Bram dan Stefen.
"Hahahahahahaha. Arga Arga, mereka bertiga itu sangat sayang sama Arga. Jadi mereka hanya berniat untuk membuat Arga jadi pria yang tangguh seperti mereka mereka itu." jawab Gina memberikan alasan kenapa Aris dan yang lain bersikap seperti itu kepada Arga.
"Tapi Bun sekali sekali Arga juga pengen kayak anak kecil lainnya yang selalu diajak main bukan dikerjai terus kayak gini." ujar Arga merajuk sambil memeluk Gina.
Sari yang merekam apa yang dicurahkan Arga kepada Gina mengirimkan pesan suara kepada Bram. Bram memperdengarkan pesan suara itu kepada Aris dan Stefen. Mereka bertiga saling pandang pandangan.
"Kayaknya dia kesal dan pengen main." ujar Aris.
Aris kemudian melangkah menuju Arga. Aris mengambil Arga dari pelukan Gina.
"Jagoan Daddy mau main dengan Daddy?" tanya Aris.
Arga mengangguk.
"Tapi Daddy dan Papi serta Stefen dan yang lain selalu hanya ingin mengerjai Arga. Arga juga pengen diajak main kayak anak anak seusia Arga Dad." ujar Arga mengutarakan isi hatinya.
"Oke, pulang dari sini Daddy janji akan bawa Arga main kemanapun Arga mau." ujar Aris.
"Papi juga janji akan bawa Arga kemanapun untuk pergi main." Bram menambahi.
"Kalau aku, kamu udah tau sendirikan Tuan Muda." kata Stefen.
"Oke pegang janjinya ya. Pulang dari sini kita main. Awas kalau ingkar janji. Arga akan bawa Bunda pergi jauh dan nggak akan muncul muncul lagi." ancam Arga.
__ADS_1
Aris dan Bram mengangguk memastikan perkataan mereka tadi bisa di pegang.
Setelah sore menjelang mereka semua kembali ke hotel. Mereka membawa masing masing sepuluh kilo anggur. Ntah untuk apa nanti anggur itu nanti pula akan mereka pikirkan.