
"Gimana Gin pulang sekarang atau besok pagi?" Sari bertanya kepada Gina karena udah nggak sabar lagi untuk pulang.
"Besok pagi ajalah. Sekarang udah malam, gue nggak mau kita kenapa kenapa di jalan"
"Sip. Kapanpun loe bilang kita berangkat gue siap untuk berangkat"
"Ye yang bahagia banget pengen pulang." kata Gina menyindir Sari.
"Bukan gitu Gin. Gue kasian sama loe. Walaupun loe kelihatan seneng dan bahagia dalam pelarian tapi gue tau loe sedih banget. Makanya keputusan untuk balik itu lebih tepat. Loe harus menghadapi semuanya" kata Sari memberikan semangat kepada Gina.
"Yup. Loe memang bener. Gue harus menghadapi permasalahan ini dengan kepala dingin. Gue rasa acara kabur kaburan ini selesai sampai sini. Gue akan menyelesaikan permasalahan gue dengan Aris." kata Gina dengan penuh keyakinan.
"Kakak balik ke hotel dulu Gin, Sar. Nanti sampe duluan si Aris di kamar." kata Bram kepada Gina dan Sari. Bram dari tadi sudah ingin balik ke hotelnya.
"Oke kak. Makasih atas sarannya ke aku. Maaf aku selama ini sudah egois" kata Gina.
"Kamu memang perlu mengambil jatah waktu kamu Gin. Kami tidak ada yang menyalahkan mu." kata Bram kepada Gina.
"Mau di antar yank?"
"Nggak usah aja. Kamu istirahat aja. Besok mau bawa mobil" kata Bram yang kemudian mengecup puncak kepala Sari.
"Hati hati ya sayang" balas Sari.
"Kamu yang hati hati besok bawa mobilnya"
"Siap bos ku" jawab Sari sambil mengecup bibir Bram sekilas.
"Norak gilak" teriak Gina.
"Hahahahahaha. Makanya baikan" jawab Sari kepada Gina.
Sepeninggal Bram, Sari dan Gina kemudian langsung beristirahat. Mereka berencana akan berangkat setelah subuh. Mereka tidak ingin Aris melihat mobil keluar pagi pagi dari hotel. Gina yakin Aris pasti membawa beberapa pengawal untuk mengintai dia.
"Bram" teriak Aris dari parkiran.
Bram yang baru sampai di parkiran terkejut saat namanya dipanggil seseorang. Bram langsung sjaa berhenti saat dia melihat orang yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Aris.
"Baru pulang loe?" tanya Aris kepada Bram.
"Yup. Keenakan jalan jalan malam. Eeee ternyata gue udah kejauhan jalannya"
__ADS_1
"Jadi apa loe udah ketemu jejak jejak Gina?" lanjut Bram kepada Aris. Bram ingin mengalihkan pemikiran Aris dari rasa ingin tahu Bram makan dimana tadi.
"Nantilah gue ceritain. Sekarang masuk dulu" jawab Aris.
"Okeh"
Aris dan Bram masuk kedalam kamar Aris. Mereka akan membicarakan strategi pencarian Gina kembali. Mereka mulai besok hari sudah mulai fokus untuk mencari Gina di daerah itu.
"Tadi gue kan pergi mencari ke daerah x ternyata penduduk di sana sempat melihat Gina di daerah itu tadi siang." Aris memberikan informasi kepada Bram.
"Terus apa loe udah cari ke hotel hotel yang ada di situ?"
"Belom. Gue sampe di situ aja hari udah jam delapan lewat. Rencana besok kita melakukan pencarian ke daerah itu. Jadi kita berangkat subuh. Gue nggak mau lagi buang buang waktu. Gue harus menemukan dia hari ini." kata Aris dengan menggebu gebu.
"Sip. Gue balik kamar dulu. Ngantuk" Bram pergi meninggalkan kamar Aris. Dia sudah sangat mengantuk.
✉️ Bram
Sayang, kayaknya kalian bisa pergi pagi. Aris mau mencari Gina siap subuh.
✉️ Sari
Makasi infonya sayang. Kita tidur lagi yuk sayang. Aku besok mau bawa mobil.
✉️ Bram
✉️ Sari
Hahahahahahaha. Sayang sayang, kamu protektif banget ya ke aku
✉️ Bram
Dikit sayang.
✉️ Sari
Sayang tidur lagi. Aku udah ngantuk
✉️ Bram
Oke.
__ADS_1
Sari memeluk bantal yang dijadikannya sebagai guling. Sari tertidur setelah satu jam berguling guling di atas kasur. Sedangkan Gina sudah dari tadi tertidur dengan nyenyak. Bram dan Aris jangan ditanya, dua pria tampan itu asal bertemu dengan yang namanya bantal, maka dalam hitungan detik mereka berdua sudah berpindah alam.
......................
"Sar, Sari bangun. Kita harus berangkat setelah subuh Sari" Gina menggoyang badan Sari agar bangun dari tidur nyenyaknya.
Sari yang merasakan ada guncangan hebat yang dialami tubuhnya. Dia mengira ada gempa yang mengguncang hotel tempat mereka nginap. Dengan sigap Sari langsung berdiri dan berlari ke bawah meja rias yang terletak di depan kasurnya. Gina yang melihat tingkah Sari langsung tertawa terbahak bahak.
"Hahahahahahahaha" Gina dengan puasnya tertawa.
"Loe ngapain tertawa? Loe nggak ngerasain guncangan hebat yang terjadi barusan?" tanya Sari kepada Gina.
"Haduh Sar yang ngeguncang badan loe tadi itu gue Sari bukan gempa seperti yang loe bayangkan." jawab Giba sambil masuk ke kamar mandi. Dia akan mengambil wudhu.
"Busyet jadi loe yang ngeguncang badan gue? Gue kira tadi gempa, mana gue pake acara sembunyi di bawah meja lagi" kata Sari dengan kesalnya keluar dari bawah kolong meja rias.
"Loe nya aja yang lebay" jawab Gina sambil memakai mukena untuk sholat. Gina menunaikan kewajibannya. Sedangkan Sari pergi mengambil wudhu untuk sholat. Mereka kemudian sholat bergantian. Selesai sholat Gina dan Sari membereskan bawaan mereka. Mereka memutuskan hari ini akan pulang ke ibu kota.
"Gin, malam kak Bram ngirim pesan. Katanya kita berangkat pagi aja, Aris akan keluar setelah subuh ini untuk mencari kita ke daerah X."
"Bagus kalau gitu, jadi kita bisa sarapan dan tidak perlu jalan dalam gelap gini apalagi dingin" jawab Gina yang kembali membaringkan badannya di atas kasur. Dia sangat setuju dengan perjalanan pagi dari pada perjalanan subuh.
Sedangkan di hotel depan, Aris sudah bersiap siap untyk mencari Gina kedaerah X. Aris keluar dari kamarnya, dia masih melihat kamar Bram yang masih tertutup rapat. Aris mengetuk pintu kamar Bram. Bram yang memang sudah siap langsung membuka pintu.
"Gue kira masih molor loe" kata Aris saat melihat Bram yang sudah rapi.
"Mana bisa, gue tau harimau akan menggedor pintu kamar kalau gue masih dalam posisi tidur" jawab Bram sambil memasang topinya.
"Kita sarapan dulu. Setelah itu baru berangkat. Ada dua mobil yang mengiringi kita. Mereka akan memperluas daerah pencarian" Aris menerangkan kepada Bram siapa saja yang akan melakukan pencarian Gina.
Aris dan Bram sampai di restoran hotel. Mereka berdua sarapan dengan begitu semangat dan terlihat sangat terburu buru. Bram yang biasanya santai dalam hal makan memakan terpaksa harus bersikap ngebut sekarang. Dia tidak ingin Aris ngamuk ngamuk karena dia makan seperti biasanya. Tidak lebih dalam waktu tiga puluh menit mereka selesai sarapan.
"Ayuk Ris berangkat" kata Bram dengan semangat. Bram harus cepat membawa Aris pergi dari hotel, agar Gina dan Sari bisa langsung kembali ke ibu kota.
Aris dan Bram keluar dan langsung menuju dua mobil yang sudah menunggu mereka di dekat mobil Aris terparkir dari semalam.
"Ris, mereka yang jaga di perbatasan kan ya?" tanya Bram yang sangat mengenal para anggota black jack yang menjaga di perbatasan.
"Yup memang mereka. Perbatasan nggak perlu dijaga lagi. Gina masih berada di sini." jawab Aris.
"Oh gitu, kita berangkat aja lagi. Makin cepat sampe sana semakin cepat kita bisa mencari Gina" kata Bram memberikan alasan kepada Aris.
__ADS_1
Aris dan Bram langsung berangkat menuju daerah X. Dua mobil anggota black jack mengiringi mereka dari belakang. Gina dan Sari yang sudah berada di dalam mobil, saat melihat mobil Aris dan dua mobil yang mengiringi sudah pergi, Sari melajukan mobilnya untuk menuju ibu kota. Mereka memilih cepat berangkat agar cepat sampai dan bisa beristirahat terlebih dahulu. Apalagi bagi Gina, dia harus istirahat sebelum memulai pertubjukan drama sesi dua.