
Papi dan Mami yang mengetahui kejadian yang menimpa Gina sudah menunggu menantu kesayangannya itu di rumah. Mereka sudah tidak sabar untuk menanyai kepada menantunya itu.
Aris, Gina dan Bram melangkahkan kaki mereka memasuki rumah besar yang bergaya clasik Amerika. Mereka bertiga kaget melihat Mami dan Papi sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Sayang kamu tidak apa apakan nak?" tanya Mami sambil langsung memeluk Gina.
"Nggak apa apa Mi. Cuma tangan Gina doang yang memerah." jawab Gina.
Mami melepaskan pelukannya dari Gina. Mami meraih tangan Gina. Tangan sebelah kanan Gina terlihat memerah dan sudah ada yang mengelembung sedikit.
"Kamu ngapain aja Aris. Nggak bisa jaga istri sedikitpun." kata Mami kepada Aris sambil menatap marah.
"Mi. Uda Aris nggak salah. Pelayan itu berdiri tepat di samping Gina. Bukan di samping Uda Aris." jawab Gina membela Aris.
"Oh." Mami mengedipkan sebelah matanya ke arah Papi.
FLASHBACK.
Mami menerima sebuah kiriman video dari Nana. Video yang membuat keluarga Wijaya kembali merasa tenang. Mereka sudah yakin kalau Gina sudah kembali bisa menerima Aris. Dalam video yang dikirimkan oleh Sari terdengar beberapa kali Gina memanggil dengan kata sapaan sayang kepada Aris.
Mami membuka video kiriman dari Nana. Mami tersenyum bahagia sambil melihat video video kiriman Nana itu. Papi yang melihat Mami tersenyum bahagia langsung berpikiran ke arah Gina.
"Apa video terapi Gina yang Mami tonton?" tanya Papi kepada Mami.
"Nggak Pi. Ini lebih dari pada video terapi Gina. Video ini sangat sangat bagus dan membuat hati kita yang mendengar menjadi nyaman." jawab Mami.
"Boleh lihat?" Papi berkata dengan nada penasarannya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Boleh" jawab Mami sambil memberikan ponselnya.
Papi menonton video di ponsel Mami. Papi mengikuti ekspresi Mami selesai menonton video tersebut. Papi tersenyum bahagia.
"Semoga ini menjadi awal yang baik Mi." kata Papi.
"Pi, yang Mami pikir sekarang. Kenapa mereka bisa sampai rumah sakit. Ada apa?" tanya Mami dengan nada yang sedikit takut dan heran.
"Iya juga ya Mi. Kenapa mereka bertiga bisa sampai rumah sakit. Papi juga denger suara yang nerekan seperti suara Sari." jawab Papi.
"Kita telpon Sari aja kali ya Pi?" Mami memberikan saran kepada Papi.
"Nggak usah aja. Dalam video nampak Gina yang sakit. Jadi kita tunggu mereka pulang aja. Nanti baru tanya Bram." jawab Papi yang tidak ingin mereka tau kejadian apa yang dialami Gina melalui Sari.
__ADS_1
"SEKARANG
"Jadi gimana ceritanya air teh panas bisa mengenai kamu sayang?" tanya Mami kembali kepada Gina.
"Jadi gini Mi. Tadi Gina memilih tidak ikut terapi karena rasanya Gina belum siap. Kami memilih untuk pulang. Nah, saat itu Gina sangat ingin makan ayam geprek di warung itu. Sampai di situ kejadian itu tiba tina sekali. Pelayan tersebut saat meletakan teh, matanya selalu ke arah Uda Aris. Sehingga teh yabg seharusnya diletakan di atas meja, akhirnya tumpah mengenai Gina." jawab Gina dengan lugasnya.
"Perut kamu kena dong ya?" tanya Mami kepada Gina.
"Iya Mi. Perut Gina kena. Mami tenang aja dojter udah kasih salepnya" jawab Aris yang tidak ingin Gina berbohong kepada Mami.
"Parah Ris?" tanya Papi yang mendengar bagian perut menantunya juga terkena siraman air panas.
"Lumayan Pi. Memerah." jawab Aris sambil melihat ke arah Gina.
"Ngasih obatnya gimana?" tanya Mami.
"Uda Aris Mi. Tadi dokter menjelaskan caranya ke uda. Bukan ke Gina" jawab Gina.
"Ya udah. Sekarang kalian naik ke kamar. Istirahat." kata Papi.
Aris dan Gina menuju kamar mereka. Bram juga mau ke kamarnya.
"Kamar Pi" jawab Bram.
"Kamu sini dulu. Ada yang harus kita diskusikan"
Bram kembali duduk setelah mendengar nada bicara Papi yang terdengar serius. Sepertinya ada suatu masalah berat yang harus mereka diskusikan bertiga.
"Masalah perusahaan Pi?" tanya Bram dengan nada serius.
"Nggak. Perusahaan aman."
"Terus?" tanya Bram yang curiga.
"Pasti masalah kata sayang kan ya?" tebak Bram yang udah sangat feeling pasti masalah itu yang akan ditanyakan oleh papi dan mami.
"Ya benar. Ada apa sebenarnya Bram?" tanya Papi.
Bram menceritakan semua kejadian yang terjadi di warung ayam sampai dengan kejadian di rumah sakit. Tanpa satupun yang dielakan oleh Bram dari ceritanya.
"Semoga ini menjadi awal yang baik bagi mereka. Kita terus bantu dengan doa." Kata Papi.
__ADS_1
"Bram kamar dulu Pi" jawab Bram pamit kepada Papi dan Mami.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar masing masing untuk.beristirahat.
Aris yang selesai mandi sesuai kebiasannya, naik ke atas ranjang. Gina terlihat sudah tidur dengan nyenyak. Dia terlihat sangat damai dalam tidurnya.
"Sayang, aku sangat senang kamu sudah memanggil aku dengan kata manis itu lagi. Untuk bisa menyentuh kulit mulus mu lagi, aku akan terus bersabar sayang." kata Aris menatap Gina.
Aris masuk ke alam mimpinya. Dia ingin bertemu dengan Gina di sana.
Bram yang semula berniat untuk tidur mendadak mengingat Sari kekasih hatinya itu. Bram meraih ponsel yang berada di samping tempat tidurnya. Bram menghubungi Sari.
[[ Sayang, udah tidur atau belum ]] tanya Bram sambil membayangkan Sari.
[[ Rencana mau tidur. Eeeee kiranya ada yang niat ganggu. Ada apa sayang? ]] tanya Sari yang penasaran kepada Bram menghubunginya malam malam begini.
[[ Sayang, kamu yang kirim video Gina manggil Aris dengan sebutan sayang? ]] tanya Bram dengab ekspresi menyipitkan matanya.
[[ Hahahahaha. Sayang sayang. Tau nggak aku lagi ngebayangin ekspresi mu sayang. Bener memang aku yang ngirim video ke Nana.]]
[[ Tunggu sayang, kamu tau dari mana???.]] tanya Sari yang penasaran kenapa Bram bisa tau masalah video itu.
[[ Mami. Tadi Mami ngelihatin video yang dikirim Nana. disitu sangat jelas Aris manggil sayang dan posisinya di rumah sakit. Nggak mungkin kan aku yang ngambil gambar.]] kata Bram.
[[ Nah tu tau. Ngapain masih nanyak cobak ya.]] kata Sari.
[[ Sayang sayang. Emang susah ye kalau udah jiwa kejepoan wanita muncul.]] kata Bram.
[[ Sayang. Besok kita jadi ke warung yang kamu bilang tadi di rumah sakit?]]
[[ Jadilah. Kita akan buat perhitungan dengan mereka. Tadi juga Aris nyuruh menjadikan tanah tersebut taman kota yang juga menyediakan lapak lapak untuk berjualan pedagang kaki lima. Cuma mereka harus seizin Aku kalau mau jualan di situ.]] jawab Bram menjelaskan kepada Sari.
[[ Kita bermain besok dulu ya. Baru didatangin buldozer nya. Aku mau lihat wajah palayan yang udah berani mencelakai sahabat ku.]] kata Sari dengan nada dinginnya.
[[ Oh ya sayang. Aku akan bawa Mira untuk bermain]] lanjut Sari.
[[ Silahkan. Sayang bobok yok ngantuk]]
[[ Sama.]]
Bram dan Sari menyusul Aris dan Gina yang sudah berada di alam mimpi.
__ADS_1