
"Ghin, Sari." ujar Mira memeluk Ghina.
"Sabar Mir. Kita percayakan semuanya kepada Tuhan dan tim dokter. Kita yakin semuanya akan memberikan yang terbaik untuk Sari." kata Ghina sambil memeluk erat sahabatnya.
Mereka bertiga bersahabat semenjak sama sama tinggal di kos kosan waktu kuliah dahulu. Persahabatan mereka terus terjalan sampai sekarang. Baik dalam hal bisnis maupun masalah pribadi. Makanya saat satu dari mereka bertiga tertimpa masalah, maka sakit bukan hanya ditanggung oleh satu orang saja, melainkan mereka sama sama merasakan rasa sakit itu.
Ghina dan Mira terus berpelukan, tatapan mata mereka tidak beralih dari ranjang Sari yang sekarang sedang dikerubuti oleh tim dokter.
Mira melihat salah seorang suster berjalan keluar. Suster membuka pintu ruangan lebar lebar.
"Suster ada apa?" tanya Papi.
"Nyonya Sari akan menjalani operasi Tuan besar." jawab suster.
Tidak beberapa lama saat pintu ruangan terbuka. Ranjang tempat Sari di rawat sudah di dorong oleh beberapa orang suster yang dibantu oleh dokter. Mereka akan memindahkan Sari keruangan operasi.
"Tuan Bram, silahkan tanda tangan surat ini." ujar salah satu dokter yang menangani Sari.
Bram menatap Daniel. Daniel mengangguk memastikan kepada Bram.
"Ayah?" tanya Bram kepada Ayah Sari
"Lakukanlah nak. Dokter pasti tau yang terbaik untuk istrimu." ujar Ayah menguatkan Bram.
Bram menandatangani surat tersebut. Bram tidak membaca terlebih dahulu isi surat itu. Dia sudah sangat yakin dan percaya dengan semua dokter yang menangani Sari. Apalagi di rumah sakit ini Sari juga memiliki saham dua puluh lima persen.
Semua keluarga Soepomo bergerak menuju ruangan operasi yang terletak di lantai tiga. Dua ruangan operasi yang bersebelahan sama sama melakukan tindakan ibu dan anak. Suatu hal yang sangat jarang terjadi di rumah sakit harapan kita.
Ghina dan Mira berjalan hilir mudik di depan ruangan operasi. Aris dan Bayu yang sebenarnya ingin menenangkan istri istri mereka membatalkan niat baik itu, saat melihat Ghina dan Mira yang memberikan mereka tatapan dingin sedingin salju.
Sedangkan anggota keluarga yang lain duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan operasi itu. Mereka menunggu dengan harap harap cemas dokter keluar dari dalam ruangan. Ntah ruangan yang mana dokter keluar terlebih dahulu, yang pasti kedua dua pasien yang berada di dalam kamar operasi merupakan orang terpenting dalam hidup mereka semua.
__ADS_1
Mereka menunggu dengan lama.
"Pesaraan Ibu udah tiga jam di dalam. Kenapa dokter belum juga keluar?" ujar Mira menatap Ghina.
Ghina menuju Daniel yang tadi sudah mendapat laporan tentang kondisi Ibu Sari.
"Daniel apa yang terjadi sebenarnya dengan ibu?" tanya Ghina kepada anaknya yang menjadi pimpinan di rumah sakit Harapan Kita.
Daniel berdiri dari duduknya. Dia mengajark Ghina dan Mira kepojokan yang agak jauh dari pendengaran semua orang. Ayah Sari yang melihat itu langsung mengerti dengan situasinya.
"Niel, kamu di sini aja mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Nggak usah pergi menjauh. Ayah siap mendengar semuanya." ujar Ayah dengan tegar.
Daniel menatap Ghina dan Mira. Kedua wanita itu mengangguk memberikan persetujuan kepada anak laki laki paling besar di keluarga Soepomo.
"Maaf sebelumnya Atuk, Dady, Bunda, Papi dan Mami, seharusnya aku dari tadi memberitahukan hal ini. Tetapi melihat kondisi Mami Sari makanya aku menunda untuk memberitahukan semuanya." ujar Daniel membuka awal ceritanya.
"Sebenarnya nenek mengalami pendaharan yang hebat di otaknya, serta patah tulang belakang. Makanya tindakan operasinya memakan waktu yang lama, tim dokter memperkirakan menghabiskan waktu sepuluh jam lebih." ujar Daniel sambil menunduk. Dia sangat takut melihat reaksi dari keluarga besarnya.
"Semua sudah kehendak yang di atas Niel. Kita sebagai umatnya hanya menjalaninya saja. Ayah akui Ayah syok mendengar kondisi Ibu, tetapi bersedihpun Ayah semuanya tidak akan kembali lagi. Waktu tidak bisa diputar, jadi Ayah tidak akan menyesali apa yang telah terjadi. Sekarang Ayah hanya berpikir untuk waktu kedepannya." ujar Ayah.
Ayah mengurai pelukannya dengan Daniel. Ayah memegang kedua pundak Daniel.
"Kakek sudah tau, semua tim dokter yang terbaik sudah kamu minta untuk menolong nenek kamu. Jadi percayakan kepada mereka dan berserah diri serta meminta kepada yang di atas." ujar Ayah kepada Daniel dan juga ke semua orang.
"Jangan larut dengan kesedihan, jangan larut dengan kata seandainya, jangan larut dalam penyesalan. Karena apapun itu datangnya dari yang di atas. Jadi kalau kita mengatakan seandainya seandainya dan seandainya sama aja kita tidak menerima apa yang sudah diberikan, ditakdirkan oleh yang di atas. Satu hal yang jelas yang di atas memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan kita." ujar Ayah sambil melihat kesemua orang.
Ghina dan Mira serta Daniel dan juga Bram merasa tertampar oleh apa yang dikatakan Ayah barusan, mereka dari tadi hanya sibuk menyalahkan keadaan saja. Sedangkan Ayah yang seharusnya lebih berhak untuk mengeluh menerima dengan penuh ikhlas semua kejadian.
"Ayah maafkan kami. Kami salah." ujar Ghina dan Mira sambil memeluk Ayah.
"Sedih boleh tetapi jangan meratap dan sampai mengatakan taldir itu salah. Ingat takdir, rezeki dan jodoh tidak pernah tertukar. Tu buktinya walaupun Sari mendapat musibah dia tetap menikahi Bram, itu yang namanya jodoh. Jadi terima dengan hati ikhlas apapun yang terjadi." ujar Ayah.
__ADS_1
"Ayah juga sedih sangat sedih, tetapi Ayah berpikir lagi yang di atas memberikan cobaan seperti ini berarti saya mampu menjalani serta di balik kejadian ini pasti ada hikmah dan juga kado besarnya." lanjut Ayah.
Ghina dan Mira kemudian mengangguk mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ayah. Sejak mendengar nasehat dari Ayah tadi, Ghina dan Mira mulai bisa tenang. Mereka tidak lagi uring uringan seperti tadi. Mereka semua tetap menunggu di depan ruangan operasi.
Ghina meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku roknya. Dia melihat ada panggilan dari bik Ina yang berada di rumah utama.
"Hallo Bik, ada apa? Argha dan Bree sehat sehat aja kan Bik?" ujar Ghina yang memang tidak membawa Argha ke rumah sakit.
"Baik Nyonya muda. Tuan dan Nona muda sedang istirahat. Oh ya Nyonya saya mau menanyakan apa saya boleh mengantarkan makan siang untuk Nyonya dan yang lainnya?" tanya Bik Ina yang ingat semua anggota keluarganya belum makan dari pagi. Mereka hanya sempat sarapan saja sebelum pergi ke acara pernikahan Bram.
"Bentar ya Bik. Saya tanya yang lain dulu." ujar Ghina.
Ghina berjalan menuju Ayah, Papi, Aris dab Bram serta Bayu.
"Bik Ina nelpon, apa dia perlu mengantarkan makan siang untuk kita semua ke sini." ujar Ghina memberitahukan kepada semua orang.
"Nggak apa apa Ghin, kebetulan Ayah juga udah lapar." ujar Ayah yang langsung menjawab perkataan Ghina.
Ayah sengaja menjawab langsung karena dia tau apa yang akan dijawab oleh yang lainnya. Ayah tidak mau semua orangenderita karena kecelakaan yang menimpa istri dan anaknya.
"Bagaimana Pi?" tanya Ghina kepada Papi.
"Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ayah aja Ghin. Suruh aja Bik Ina mengantarkan makanan untuk kita semua." ujar Papi menjawab pertanyaan Ghina.
Ghina kembali menghubungi Bik Ina. Dia meminta bik Ina mengantarkan menu makan siang ke rumah sakit untuk lima belas orang.
Tidak memerlukan waktu lama Bik Ina dan salah satu sopir serta dua pengawal sampai di depan ruangan operasi. Ghina dibantu Mira membuka kotak bekal itu. Ternyata Bik Ina memasak menu makanan yang menggugah selera.
Ayah orang pertama yang mengambil nasi. Dia mengambil dalam porsi besar, hal itu disengaja oleh Ayah untuk membangkitkan selera makan semua orang. Setelah melihat Ayah yang normal normal saja makan, semuanya kemudian mengambil menu makan siang mereka. Mereka makan dalam diam banyak hal berkecamuk di dalam diri mereka masing masing. Terutama Bram, Bram sampai saat ini belum tau kondisi terkibi Sari. Dia sudah bertanya kepada Daniel, jawaban Daniel sama, dia juga belum tau
Tiba tiba salah satu dokter membuka salah satu pintu ruangan operasi. Semua oranf bersiri dari duduk mereka. Mereka meletakan piring yang masih ada sedikit menu makan siang. Mereka berjalan menghampiri dokter.
__ADS_1