Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kekesalan Gina


__ADS_3

Gina yang sedang berbahagia karena perjuangannya selama ini berbuah manis langsung saja mengajak kedua sahabatnya untuk berbelanja belanja cantik ke mall terbesar ibu kota. Mereka pergi diantar oleh Bram, yang dari tadi setia menunggui Gina di kampus.


"Gin ternyata bener ya proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Noh contohnya elo, berkali kali ditolak dosen sarap. Eeeee kiranya sketsa loe di tawar salah seorang dosen yang terkenal sangat lihai membuat sketsa." kata Sari


"Iya Sar. Makanya gue bersyukur banget. Sebagai tanda bersyukur gue, elo berdua gue traktir belanja. Ambil aja semaunya." kata Gina


"Beneran Gin?" Mira meyakinkan pendengarannya.


Gina kemudian mengangguk tanda membenarkan pertanyaan Mira tadi. Gina kemudian melirik ke arah Bram yang sedang serius menyetir mobil. Hari ini Bram.merangkap sebagai asisten Gina us supir Gina.


"Kak, emang nggak ke perusahaan?" tanya Gina saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju mall.


"Nggak Gin. Pas kamu bermasalah dengan doson goblok tadi, kakak udah menceritakan semua permasalahannya kepada Aris. Makanya kakak disuruh hari ini untuk menjadi asistes sekaligus menjadi sopir yang selalu siap untuk mengantarkan kemana saja kamu akan pergi khusus hari ini."


"Oh. Pantesan setia banget duduk di ruang tamu. Gina kira tadi lagi nungguin bos besar kakak yang selalu aja bikin takut semua orang."


"Mau bagaimana lagi Gin, dia bossnya."


"Ye kakak kan juga bos, tapi nggak mau jadi bos. Aneh"


"Hahahahahahahahaha" Bram tertawa mendengar apa yang dikatakan Gina.


Mereka akhirnya sampai di mall yang dituju. Bram dan ketiga perempuan cantik itu turun dari mobil. Mereka melangkah masuk kedalam mall. Security yang mengenali Bram langsung menundukkan kepalanya. Bram tidak membalas sama sekali.


"Kak, aku nggak mau tiba tiba mall ini mendadak kosong loh. Aku mau biasa aja tidak lebay. Aku bukan Aris yang luar biasa lebay itu" Gina mengingatkan Bram.


"Sip. Tidak ada pengosongan dan tidak ada pengawalan. Pyur kita menjadi orang kebanyakan." jawab Bram.


"Hello kak Bram, mana ada orang kebanyakan pake jas mahal, celana mahal, sepatu kulit mahal. Kakak yang bener ajalah kak." kata Sari melihat Bram dari ujung kepala sampe ujung rambut.


Bram yang melihat ada toko penjual pakaian Pria langsung masuk kedalam toko. Bram memilih satu baju kaus putih, dan jelana jins. Setelah membeli pakaian Bram masuk ketoko sepatu, Bram membeli sebuah sneakers baru.


"Kak, kok jadi kakak yang kami temani belanja?" tanya Gina sambil menatap tajam Bram.


"Tukar gaya dulu Gin. Siap ini kakak akan menjadi Bodyguard kalian bertiga. Tenang saja."


Mereka kemudian melanjutkan berkeliling mall tanpa niat membeli. Bram yang sebenarnya udah capek, tapi harus menahan rasa capeknya. Kalau Gina tau Bram capek, Gina pasti akan menyuruhnya istirahat. Nah sukur kalau Aris nggak tau, kalau Aris tau, Bram tidak mengikuti Gina, maka selamat Bram akan dimarahi habis habisan oleh Aris. Bram tidak mau mengambil resiko itu, Bram walaupun capek tetap mengikuti Gina.


Saat asik berkeliling tiba tiba perut Gina mendadak berdisko ria. Cacing cacing dalam perut Gina memberontak minta dikasih makan siang. Gina kemudian naik ke lantai empat mall tersebut, Gina menuju foodcourt yang ada di mall. Sesampainya di sana Gina memgambil makanan yang sedang diinginkannya, begitu juga dengan Bram, Mira dan Sari, mereka juga mengambil makanan yang mereka inginkan.


Bram, Gina dan kedua sahabatnya asik memakan makanan yang di depan mereka. Saking seriusnya mereka makan, mereka tidak menyadari kedatangan Aris dan Bayu.

__ADS_1


"Hm mentang mentang makan, nggak nampak aja orang berdiri dari tadi disebelahnya." kata Bayu menyindir Mira.


"Maaf sayang, beneran nggak nampak." kata Mira sambil mengelus tangan Bayu. Bayu yang mendapatkan perlakuan seperti itu tidak jadi marah ke Mira.


"Lemah" kata Bram menyindir Bayu.


"Udah siap makannya Sayang?" tanya Aris kepada Gina.


"Udah. Tapi ada satu yang belum siap." jawab Gina.


"Apaan?" Aris menatap tajam Gina melihat sesuatu yang disembunyikan oleh Gina.


"Is nengoknya biasa aja kali say. Yang belum itu adalah belanja. Tadi baru cuci mata doang, yang belanja noh." kata Gina sambil membesarkan matanya ke arah Bram.


Aris dan Bayu yang dari tadi memang tidak memerhatikan Bram dengan saksama, langsung melihat kearah Bram, mereka mencari keanehan dalam diri Bram. Tapi mereka tidak tau apa yang aneh.


"Suruh berdiri aja sayang, kak Bramnya" kata Gina sambil.menatap geli Bram.


Bram yang merasa dikerjai Gina langsung pasrah tapi tak rela.


"Berdiri loe Bram." kata Aris.


Bram kemudian berdiri, betapa terkejutnya Aris dan Bayu melihat penampilan Bram sore itu yang luar biasa berbeda dengan tadi pagi.


"Yang bikin gue begini salah satunya ya pole elo nyet. Masak dia bilang kalau gue pakai pakaian kantor tadi dikira sebagai bodyguard. Makanya gue beli ne baju, celana ampe sepatu gue beli baru." jelas Bram kepada Aris dan Bayu kenapa stail gaya Bram bisa berubah dari yang tadi pagi.


Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan. Obrolan obrolan receh mengingat masa lalu yang mereka ungkit kembali.


"Gin, Mir loe berdua ingat tidak, dulu ada seorang CEO yang katanya siap meeting di luar terus kangen makanan yang di foodcourt. Gue sampe sekarang penasaran itu disengaja atau tidak. Menurut loe gimana Mir, disengaja atau tidak?" tanya Sari menatap ke arah Mira sambil sekali sekali.melirik ke Aris. Gina yang sadar dengan permainan Sari langsung menyikut Aris agar menjawab pertanyaan Sari.


"Sengaja" kata Aris gamblang.


"Wow jadi Aris penguntit dong." kata Sari sambil menutup mulutnya. Semua yang melihat tingkah lebay Sari langsung tertawa.


Mereka kemudian kembali melanjutkan shoping yang tertunda karena cacing cacing dalam perut berdemo.


.Gina kalap mata, membeli semua yang dilihatnya menarik. Aris yang melihat langsung geleng geleng kepala. Aris baru sekali ini melihat Gina bersikap seperti ini.


"Sayang, kamu mau mindahin isi mall ke rumah?" tanya Aris.


"Rencana." jawab Gina ketus.

__ADS_1


Aris yang merasa Gina masih kesal karena kejadian hari ini, tidak memperpanjang lagi pertanyaannya, ditambah kaki Aris diinjak oleh Sari untuk memperingatkan Aris.


Gina kemudian masuk kedalam sebuah toko barang brended. Aris kemudian memegang tangan Gina. Gina yang merasa dilarang langsung naik pitam.


"Hello Tuan. Gue belanja pake uang gue sendiri, bukan pake uang elo. Jadi jangan larang gue. Gue mau belanja ya terserah gue. Ngapain loe larang." teriak Gina ke arah Aris.


"Oooooo. Mentang mentang pake uang elo makanya kayak gini. Gue cuma mau bilang, ini semua udah keterlaluan, tapi karena prinsip loe kayak tadi terserah elo. Habiskan tuh duit." kata Aris nggak mau kalah.


"Oh memang terserah gue. Duit duit gue. Nggak minta sama loe." kata Gina makin kesal.


Gina yang memang dari tadi menahan emosinya langsung meledak seperti bom atom. Gina melemparkan semua barang yang dibelinya tadi, kemudian Gina berlari keluar dari mall. Gina naik taksi sembarangan saja, Gina naik taksi yang sudah dipesan orang.


Aris dan teman temannya terbengong melihat Gina yang berlari dengan kencang dan masuk kedalam salah satu taksi. Aris dan Bram berusaha mengejar Gina.


"Jalan pak. Ke jalan Adi Sumarmo Rumah utama keluarga Wijaya" kata Gina kepada sulir taksi.


"Tapi Non. Saya sudah dipesan ibu ibu itu." kata supir taksi sambil menunjuk ibu ibu.


"Bu saya pinjam taksinya ya. Saya sedang dikejar kejar oleh orang yang mau menjadikan saya istri keempatnya. Saya masih ingin kuliah Bu." kata Gina.


"Silahkan Nak. Nggak apa apa. Kamu langsung pergi yang jauh. Ini pak uang untuk bayar taksi nona ini." kata ibu ibu sambil memberikan lima lembar uang seratus ribuan.


"Terimakasih Bu maaf merepotkan ibu." Gina kemudian menyalami tangan ibu ibu itu.


Gina melihat Aris dan Bram berlari mengejar dirinya. Gina kemudian meminta sopir untuk jalan. " Jalan pak. Tetapi tidak.ketujuan yang tadi. Kita putar arah saja pak." kata Gina dengan air mata yang mulai tergenang. Gina menyesal karena sudah menjadikan Aris pelampiasan kekesalannya.


Aris ya kesal karena ditinggal oleh taksi yang dinaiki Gina langsung meremas rambutnya. Ibu ibu yang taksinya diserobot oleh Gina tadi langsung bisa membaca situasi.


"Ooo jadi kamu pria yang mau menjadikan anak gadis yang kabur naik taksi tadi menjadi istri keempat."


Aris dan Bram yang tidak paham langsung melongo saja melihat ibuk tersebut marah marah.


"Kalau oerempuan tidak suka jangan kamu paksa. Dasar mentang mentang kaya, Anda mau memiliki banyak istri?"


Aris dan Bram yang tidak tau apa apa langsung saja masuk kedalam mobil mereka masing masing. Mereka berdua akan mencari Gina sampai bertemu.


...----------------...


Kemanakah Gina akan pergi???


Apakah Aris akan menemukannya???

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya ya kakak.


Kakak mampir ke novel ketiga ku dong. Judulnya "Kepahitan Cinta"


__ADS_2