
"Loe yang bawa mobil Ris. Gue nggak kuat." ujar Bayu yang memang dari tadi sudah emosian karena peristiwa pencurian yang terjadi di kafe miliknya.
Aris kemudian meraih kunci mobilnya dari atas meja. Mereka berdua akan menuju rumah sakit Harapan Kita tempat Anggel akan melahirkan.
"Berapa lama loe akan mengurung mereka di markas Bay?" ujar Aris sambil tetap melihat ke arah jalan.
"Belum tau. Gue akan pastikan dulu kalau semua surat surat gue yang mereka curi ada di tempat yang mereka katakan." jawab Bayu.
"Emang mereka simpan dimana?" Aris mulai kepo dengan tempat penyimpanan dari surat surat berharga milik Bayu.
"Di dapur. " jawab Bayu dengan santai.
"Hah? Nggak ada tempat lain apa." ujar Aris yang tidak percaya mendengar dimana semua surat surat milik Bayu disimpan oleh ketiga pencuri itu.
"Nah kan itulah. Mereka ntah niat nyuri ntah gimana. Heran gue."
Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata rata. Aris dan Bayu tidak ingin melewati kesempatan membully Afdhal yang panik karena sedang menunggu kelahiran anaknya.
"Cepat dikit Ris. Gue nggak mau ketinggalan moment penting Afdhal." kata Bayu yang sangat ingin melihat Afdhal tersiksa.
"Dasar loe. Seneng kali nengok sahabat susah." ujar Aris.
"Alah kayak loe yang nggak aja." jawab Bayu yang nggak mau disalahin sendirian saja.
Mobil berbelok masuk ke dalam parkiran bestman rumah sakit Harapan Kita. Aris dan Bayu buru buru turun dan langsung naik lift khusus pasien menuju ruang bersalin yang terletak di lantai empat rumah sakit.
"Ris, kita kena marah pasti nanti." ujar Bayu saat dia sadar kalau dia naik lift khusus pasien.
"Mana ada yang berani marahin kita di sini. Loe lupa yang punya siapa? Otak loe kayaknya kececer waktu mukulin mereka Bay."
"Hahahahaha. Lupa gue. Bisa jadi ne otak kececer." ujar Bayu.
Kedua CEO tampan itu asik bercanda di dalam lift. Pintu lift terbuka di lantai empat. Aris dan Bayu keluar dari dalam lift. Mereka langsung menuju ruang bersalin. Terlihat di depan ruangan Papi dan Ayah sedang duduk di dampingi Ghina dan Mira.
"Sayang gimana?" tanya Mira saat melihat Bayu yang baru datang.
"Sudah beres sayang." jawab Bayu menenangkan wajah pucat Mira.
"Pelakunya?" tanya Mira yang penasaran.
"Besok kita ke markas black jack. Kamu akan tau sendiri siapa pelakunya." ujar Bayu sambil tersenyum.
"Mir, gue ikut sama loe ke markas." ujar Ghina yang juga penasaran dengan siapa sebenarnya yang melakukan pencurian di kafe Bayu.
__ADS_1
"Oke Mir. Kita pergi pagi." ujar Mira yang nggak sabaran melihat siapa yang telah berkhianat kepada suaminya.
Tiba tiba pintu ruangan bersalin terbuka lebar. Afdhal keluar dengan wajah kusut ya. Dia seperti habis ditangani oleh preman.
"Wow kakak ipar, kenapa dengan wajah?" ujar Aris mulai mejahili Afdhal.
"Kenapa loe bilang. Loe kayak nggak tau kenapa aja." ujar Afdhal sambil duduk di sebelah Ayah.
"Ayah, kenapa para istri ini tidak mau operasi saja sih Ayah. Ngapain harus nyiksa suami kayak gini. Apa karena kami nggak ikut membawa bawa anak dalam perut kali ya." ujar Afdhal curhat colongan kepada Ayahnya.
"Hahahahaha. Kamu ada ada aja Afdhal. Mana ada begitu. Istri pengen melahirkan normal karena mereka ingin berjuang menikmati bagaimana anak keluar dari sana." ujar Ayah yang nggak tau bagaimana cara menjelaskan bagian wanita yang itu kepada Afdhal.
"Uda" terdengar terian Anggel memanggil Afdhal yang katanya hanya menghirup udara sebentat.
"Panggilan darurat uda ipar." ujar Aris.
Afdhal dengan berat hati melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
"Yang semangat uda ipar. Masak bikinnya aja yang semangat. Saat ngeluarin juga harus semangat." ujar Bayu yang ikut serta menjahili Afdhal.
"Punya adik ipar dua sama sama nggak ada akhlak." ujar Afdhal.
Afdhal kemudian masuk ke dalam ruang bersalin. Dokter Anya sudah meminta Anggel untuk berbaring di ranjang khusus wanita bersalin. Dokter Anya kembali melihat jalan lahir sudah bukaan berapa.
"Masih enam Tuan." jawab dokter Anya.
Tiba tiba rasa sakit yang luar biasa kembali datang. Anggel meremas dan menjambak rambut Afdhal. Dia menyalurkan semua rasa sakitnya ke rambut dan kepala Afdhal. Anggel benar benar menyiksa Afdhal.
"Au sakit." ujar Afdhal dengan berteriak keras.
"Satu teriakan. Seperti ya teriakn ketiga keponakan kita akan lahir." ujar Ghina.
"Sakit" teriak Afdhal sekali lagi.
"Dua baru." ujar Mira yang ikut ikutan menghitung berapa kali Afdhal berteriak.
"Kalian ada ada aja. Masak dari tadi ngitungin berapa kali Afdhal teriak." ujar Papi yang tidak menyangka kalau kedua anak mereka sedang menghitung berapa kali Afdhal berteriak saat Anggel menahan sakit untuk melahirkan.
"Au sakit" ujar Afdhal sekali lagi.
"Ini pasti lahir lagi. Gue yakin." ujar Aris.
"Mau taruhan?" ujar Bayu.
__ADS_1
"Oke. Kalau lahir setelah ini gue akan pakai mobil baru loe yang belum ada plat nomor nya itu." ujar Aris.
"Oke. Kalau gue yang bener maka gue akan makai mobil elo." ujar Bayu.
"Sip sepakat."
Mereka berdua berjabat tangan tanda kesepakatan sudah diraih. Ayah dan Papi serta Ghina dan Mira hanya bisa menatap kelakuan dua CEO tersebut. Mereka akan menjadikan hal apapun sebagai bahan taruhan. Malahan dulu sewaktu masih muda, taruhan mereka menjadi supir pribadi selama satu bulan. Hal tergila yang pernah mereka lakukan.
Suasana kembali tenang. Tidak ada lagi tanda tanda mau melahirkan. Afdhal keluar dari ruangan Anggel.
"Kok diam uda?" tanya Ghina.
"Anggel ketiduran." jawab Afdhal
"Ketiduran? Emang bisa?" ujar Mira yang nggak habis pikir Anggel bisa ketiduran saat mau melahirkan.
"Bener ketiduran. Kalau nggak percaya tengok aja sono." ujar Afdhal.
Ghina dan Mira membuka pintu ruangan bersalin. Mereka berdua kemudian masuk dan menyaksikan kalau Anggel bener bener ketiduran.
"Dokter kok bisa?" tanya Ghina sambil menunjuk Anggel yang tidur.
"Capek Nyonya." jawab dokter Anya.
"Nggak apa apakan?" ujar Ghina.
"Tidak apa apa Nyonya."
"Bukaan ke?" ujar Mira ikut nimbrung.
"Bukaan tujuh Nyonya." jawab dokter Anya.
Ghina memandang Mira. Masih panjang lagi ternyata perjuangan Anggel untuk melahirkan anaknya ke dunia.
Ghina dan Mira kembali ke luar. Mereka kembali akan menunggu di luar bersama dengan anggota keluarga yang lain.
"Gimana kata dokter Ghin?" tanya Afdhal yang dari tadi tidak ada menanyakan hal apapun ke dokter Anya.
"Masih tujuh bang. Ada tiga lagi." ujar Ghina.
"Yah masih panjang dah tu penderitaan." ujar Bayu dan Aris bersamaan.
Mendengar jawaban suami suami mereka, Ghina dan Mira memberikan tatapan tajam nan dingin. Aris dan Bayu kembali terdiam. Mereka yakin kalau mereka melanjutkan terus menjahili Afdhal, maka alamat mereka berdua tidak akan dapat jatah apapun dalam tujuh hari ke depan.
__ADS_1