Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Batal Gara Gara Argha


__ADS_3

Nanti kamu tidur di kamar Daddy dan Bunda ya." ujar Ayah sambil menatap Argha.


"Kenapa Tuk?" tanya Argha yang penasaran dengan perintah Atuk Ayah.


"Bunda kamu mau diimpit Daddy. Apa Argha mau nggak punya Bunda lagi?" ujar Ayah mengompori Argha.


"Nggak Tuk. Argha nggak mau nggak punya Bunda. Argha akan tidur dengan Bunda nanti. Argha akan tidur di tengah tengah Bunda. Argha akan peluk Bunda tidur." ujar Argha dengan semangat.


Ayah dan Argha kembali ke dalam ruangan, mereka terlihat tidak sedang merencanakan sesuatu, padahal sebenarnya owow rencana yang sudah mereka berdua sepakati.


Jam dinding ruang keluarga sudah menunjukkan angka sebelas malam. Aris sudah sangat gelisah sekali. Dia takut kalau Ghina telah tidur terlebih dahulu. Tapi tanda tanda semua penghuni rumah akan mengakhiri percakapan masih belum terlihat. Aris dibuat semakin gelisah saja.


Papi dan Ayah melihat semua tingkah Aris. Begitu juga dengan Argha yang sudah senyam senyum sendiri melihat Daddynya sudah seperti ulat keket saja.


"Kenapa Ris?" ujar Papi pura pura tidak tau.


"Aku kecapekan Pi, boleh izin duluan masuk ke kamar? Rasanya bekas operasi aku sedikit berdenyut." ujar Aris lagi. Dia berusahan meyakinkan Papinya untuk percaya dengan semua alasannya.


"Oh oke nggak apa apa Ris. Kami juga sudah mau bubar. Iya kan Yah." jawab Papi mengajak Ayah untuk menjawab Iya.


"Iya Ris, kami juga udah mau bubar. Apalagi besok kita harus berangkat pagi pagi ke bandara." kata Ayah menyetujui pendapat Papi.


Aris berdiri terlebih dahulu, dia berencana untuk langsung ke kamar. Argha terlihat masih duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya.


Ayah menyenggol tangan Argha.


"Sabar Atuk. Sekarang bukan momen yang tepat. Atuk mau lihatkan ya moment yang paling tepat?" ujar Argha yang ternyata lebih licik dari Papi dan Ayah dalam hal jahil menjahili.


"Maksud kamu?" tanya Papi lagi.


Bram dan Afdhal yang melihat Papi dan Ayah serius ngobrol dengan Argha mendekati kakek dan cucu itu.


"Apaan Pi?" tanya Bram serius bertanya.


"Kamu denger aja ya." jawab Papi lagi.


"Kita tunggu setengah jam lagi. Nanti Atuk dan Papi lihat apa yang akan terjadi dengan Daddy ku yang sudah berbohong tadi." ujar Argha dengan senyum sinisnya.


"Hahahahahahaha. Dasar atuk dan cucu sama aja jahilnya." ujar Bram yang sudah merasakan apa yang akan dilakukan oleh atuk dan cucu itu.


Aris yang baru bisa terbebas dari obrolan para lelaki itu langsung menuju kamarnya. Dia melihat Ghina yang sudah memakai pakaian tidurnya yang bisa dengan mudah di buka oleh Aris.


"Sayang" ujar Aris sambil memeluk Ghina dari belakang.

__ADS_1


"Udah selesai ngobrolnya sayang." ujar Ghina sambil membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Aris.


"Sudah. Obrolan receh yang membuat aku dari tadi menahan rasa sakit kepala." jawab Aris.


"Sakit kepala?" ujar Ghina yang mulai cemas dengan kondisi Aris.


"Iya sayang sakit kepala karena sudah kebelet ingin bercinta dengan kamu." jawab Aris yang langsung menyerang bibir Gina


Ghina membalas setiap ******* dari bibir Aris. Aris sudah tidak sabar lagi, tangannya sudah kemana mana memulai aksinya.


"Sayang" ujar Aris kembali yang sudah menginginkan sesuatu.


"Boleh ya sayang." jawab Aris lagi. Dia benar benar sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Gina mengangguk tanda setuju. Dia mengizinkan Aris untuk memasuki dirinya sekarang juga.


"Boleh sayang, aku juga udah luar biasa kepengen." jawab Ghina sambil membasahi bibirnya.


Aris membuka semua pakaiannya dengan begitu cepat. Setelah menyelesaikan pakaiannya, Aris membuka semua pakaian milik Ghina.


Dia kemudian memposisikan benda keramatnya dibagian keramat Ghina.


"Ah" ujar Aris saat memasukkan benda keramatnya kedalam milik Ghina.


Baru saja Aris akan memulai goyangan mautnya.


Bruk burk burk bruk. Bunyi pintu kamar yang dipukul dengan keras dari luar.


"Daddy Bunda, buka pintunya." ujar Argha berteriak dengan keras dari luar.


"Daddy, Argha takut." ujar Argha dengan sedikit membuat suaranya seperti orang panik.


Padahal di luar Argha sedang muntah muntah karena mendengar suara pura pura panik miliknya.


"Dad. Dady. Oooo Daddy. Argha takut." teriak Argha sekali lagi.


Ghina langsung mendorong Aris dari atas badannya.


Bruk. Bunyi tubuh Aris yang mendarat di atas lantai kamar. Ghina langsung memakai pakaiannya. Dia juga memberikan pakaian Aris.


"Jatuh kayaknya Gha." ujar Papi.


"Iya Tuk." jawab Argha.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar berusaha menahan tawanya. Frenya yang baru datang dari dapur melihat semua pria berdiri di depan pintu kamar Daddynya menuju kerumunan itu.


"Ada apa Pi?" tanya Frenya yang kepo.


"Atuk kamu dan Argha menjahili Daddy. Kamu tengok aja bentar lagi. Ada singa lapar akan mengamuk." jawab Bram.


Semua laki laki kecuali Argha yang memasang akting duduk di depan pintu kamar sambil menarok mukanya di atas tangan memasang ekspresi ketakutan yang luar biasa. Semua orabg hanya bisa geleng geleng kepaka melihat tingkah Argha.


"Hahahahahaha. Sepertinya dia serius mengerjai Aris." ujar Ayah.


Aris membuka pintu kamarnya. Dia syok melihat anaknya yang sangat luar biasa ketakutan itu.


"Argha" ujar Aris langsung menggendong Argha.


"Argha takut Daddy" ujar Argha.


"Apa Argha boleh tidur di sini?" tanya Argha masih dalam pelukan Aris.


Aris menatap Ghina. Ghina mengangguk. Mereka berdua tidak boleh egois. Kebahagian Argha adalah yang penjadi prioritas mereka sekarang.


"Boleh sayang. Argha akan tidur dengan Daddy dan Bunda." jawab Aris.


"Apa Argha tidak mebgganggu Daddy dan Bunda?" tanya Argha pura pura merasa bersalah karena mengganggu kedua orang tuanya.


"Sama sekali tidak sayang. Argha tidak mengganggu kami berdua." jawab Aris.


Aris membawa Argha ke dalam kamar. Argha memberikan kode oke kepada semua penonton yang berada di luar kamar.


Aris membaringkan Argha di atas kasur. Argha kemudian beringsut ke tengah tengah ranjang.


"Argha mau bobok di tengah biar bisa peluk Bunda dna Daddy." ujar Argha yang pura pura bersikap adil. Padahal hem ada udang balik guling.


"Oke boleh." jawab Aris lagi.


Ghina hanya bisa menyabarkan suaminya. Dia tau Aris sangat butuh berhubungan dengannya malam ini. Tapi demi Argha, Aris memilih untuk mengalah.


"Bun, Dad jawab jujur ya. Apa aku mengganggu aktifitas Daddy dan Bunda?" tanya Argha kembali memastikan kalau dia bukan pengganggu.


"Nggak Gha. Malahan Daddy dan Bunda senang Argha tidur di sini." jawab Aris.


"Hoam" Aris pura pura menguap tanda sudah mengantuk.


"Kita tidur yuk Gha. Besok pagi harus ke bandara lagi. Kita akan kembali ke ibu kota." ujar Aris yang langsung menarik selimut.

__ADS_1


Argha dan Ghina langsung tertidur. Aris merasakan kalau jaluk sedang bangun. Dia kemudian masuk ke kamar mandi. Aris menyiram dirinya dari atas kepala. Dia benar benar tidak habis pikir, begitu susah untuk memulai hal yang diinginkannya.


__ADS_2