
Sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel milik Jero dan Bimo. Jero membaca pesan itu yang ternyata dikirim oleh Alex.
Bimo menatap Jero. Jero kemudian mengangguk.
"Tuan Aris, bisa saya berbicara sebentar?" tanya Jero menatap Aris.
"Ada hal apa Jer. Sepertinya sangat penting sekali." ujar Aris.
"Penting sekali Tuan." jawab Jero.
"Tidak bisa setelah selesai masalah yang dihadapi oleh Bayu?" Aris memberikan penawaran kepada Jero dan Bimo.
Jero menatap ke arah Bimo. Bimo menggeleng.
"Maaf Tuan sepertinya Alex benar benar butuh kami berdua." jawab Jero.
Bayu memandang Aris. Bayu penasaran dengan isi pesan chat tersebut.
"Apa isi chatnya?" tanya Bayu menyuarakan rasa penasarannya.
"Ini menyangkut penyelidikan terhadap kecelakaan Nyonya Sari Tuan. Sepertinya Alex membutuhkan bantuan banyak orang untuk menangkap pelaku." Jero menjelaskan apa maksud dari isi pesan chat Alex.
Aris terlihat berpikir. Dia saat ini membutuhkan dua orang asistennya untuk membawa pelaku penculikan ke tempat yang aman untuk dieksekusi. Tetapi di satu sisi pelaku penabrakan Sari sudah ditemukan dan juga tinggal eksekusi. Aris harus memilih diantara dua yang penting dengan mendahulukan yang terpenting. Pilihan yang sangat sulit dirasakan oleh Aris.
"Baiklah Jero, kamu silahkan pergi dengan Bimo. Saya akan minta bantuan anggota black jack untuk mengurus masalah ini." ujar Aris memberikan izin kepada Jero dan Bimo untuk meninggalkan kafe Bayu.
"Terimakasih Tuan. Kami permisi dulu." ujar Jero.
Jero dan Bimo berbalik menuju pintu luar ruangan.
"Jero tunggu. Gimana dengan Ghina? Siapa yang akan menjaganya?" ujar Aris yang ingat dengan siapa yang akan menjaga istrinya itu nanti, saat Jero mengurus masalah ini.
"Tenang saja Tuan. Alex sudah menunjuk penggantinya." jawab Jero.
"Bimo. Makasih." ujar Bayu.
"Santai aja Tuan. Itu sudah bagian tanggung jawab kami terhadap Nyonya Mira." jawab Bimo.
Jero dan Bimo pergi meninggalkan kafe Bayu. Aris dan Bayu menatap kedua orang yang sangat loyal kepada orang orang yang telah membantu harkat dan derajat mereka.
"Gue kagum dengan kelompok mereka Ris. Mereka sangat loyal kepada siapa yang pernah menolong mereka." kata Bayu sambil menatap pintu yang sudah kembali tertutup rapat.
"Didikan Bay. Ghina dan Mira serta Sari mendidik mereka dengan memberikan kebebasan dan tanggung jawab. Lihat aja, mereka tidak membeda bedakan antara Alex dengan yang lain. Mereka bisa menjadi berbeda karena pilihan mereka sendiri. Ada yang mau lanjut dan ada yang puas hanya jadi pengawal saja." jawab Aris yang tau semuanya dari Ghina. Ghina menceritakan semuanya kepada Aris bagaimana semua anggota kelompok bisa loyal kepada dirinya dan kedua sahabatnya itu.
"Nah Bay, sekarang bagaimana dengan para pencuri ini. Apa yang akan kamu lakukan?" ujar Aris kembali memfokuskan pikiran mereka kepada kasus pencurian di kafe Bayu.
"Kita bawa ke markas black jack aja dulu gimana Ris?"
Aris terlihat memandang Bayu. Dia juga berpikir hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh Bayu. Satu satunya tempat yang aman hanya markas black jack.
"Gue setuju. Tapi lebih baik gue telpon Rudi dulu untuk membawa beberapa anggota ke sini. Tapi gimana cara membawa mereka keluar dari kafe ya Bay?" ujar Aris yang memikirkan pengunjung kafe begitu ramai. Sehingga tidak tau bagaimana cara membawa ketiga pencuri itu keluar dari kafe dengan tidak mencolok.
Bayu juga berpikir. Otak mereka sekarang agak susah dibawa berpikir ke arah sana, karena sudah lama sekali tidak melakukan hal itu.
"Jadi gimana Bay?" ujar Aris.
"Loe mending hubungin Rudi aja dulu. Gue yakin dia tau solusinya. Gue juga buntu." ujar Bayu.
"Hem okay." jawab Aris.
Aris meraih ponsel miliknya yang diletakkan di atas meja. Dia kemudian menghubungi Rudi yang sekarang diminta Aris sebagai ketua gank black jack.
"Hallo Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rudi langsung saat menerima panggilan dari Aris.
"Begini Rud." ujar memulai ceritanya.
Aris kemudian menceritakan semuanya kepada Rudi apa yang menimoa Bayu.
"Pencurinya sudah tertangkap Tuan?" ujar Rudi menyela perkataan Aris.
__ADS_1
"Sudah. Nama nama sudah ada di tangan kami berdua. Kami sekarang butuh bantuan kalian untuk menangkap pencuri itu dan membawa mereka pergi dari sini ke markas." kata Aris mengatakan kenapa dia menghubungi Rudi.
"Oh itu. Kita bawa mobil minibus aja Tuan. Di depan dan belakang baru mobil pengawal. Pengawal tidak kita minta memakai pakaian seperti biasa. Tapi cukup memakai pakaian seperti orang mau nongkrong di kafe." kata Rudi menjelaskan kepada Aris.
"Loe atur ajalah Rud. Saya sama Bayu ikut saja." ujar Aris yang sama sekali malas mendengar penjelasan dari Rudi.
"Baik Tuan. Kami akan bergerak sekarang. Serahkan saja kepada Kami untuk membawa pencuri. Tapi Saya harap Tuan Bayu bisa mengumpulkan mereka bertiga tanpa ada rasa curiga di dalam diri mereka." lanjut Rudi.
"Oke Rud. Itu masalah gampang." ujar Aris.
Aris memutus sambungan telponnya. Dia menatap Bayu.
"Loe bisa panggil mereka sekarang. Kita ajak mereka berbincang bincang membahas tentang kafe. Tapi jangan pernah bahas tentang pencurian itu." ujar Aris.
"Oke sip. Kebetulan sekali, mereka semua adalah orang kepercayaan elo. Jadi anggap aja elo sedang berdiskusi dengan mereka tentang perkembangan kafe berikutnya."
"Oke sip."
Bayu berjalan menuju telepon kafe. Dia sudah memprogram di sana nomor nomor yang akan ditujunya. Untuk pertana Aris akan menghubungi manager keuangan. Dialah yang bertanggung jawab atas keuangan kafe. Baik pemasukan maupun pengeluaran. Dia yang tau berapa banyak uang yang tersimpan di dalam brangkas Bayu.
"Hallo Dan, bisa keruangan gue sekarang? Sekalian tolong panggil manager pengelolaan dan Frenya bagian kasir ya. Gue butuh kalian bertiga. Gue ada ide baru untuk perkembangan kafe." ujar Bayu.
"Siap Tuan. Kami akan ke sana sekarang." jawab manager keuangan.
Manager keuangan mencari kedua rekannya yang diminta oleh Bayu untuk berkumpul ke ruangannya. Mereka bertiga kemudian berjalan bersamaan menuju ruangan Bayu. Mereka sama sekali tidak menaruh curiga kepada panggilan Bayu. Mereka menyangka apa yang telah mereka lakukan sama sekali belum diketahui oleh Bayu. Mereka menyangka kalau mereka sudah bermain aman.
Tok tok tok.
"Masuk" ujar Bayi dari dalam ruangannya.
Ketiga orang yang dipanggil oleh Bayu masuk ke dalam ruangan Bayu. Mereka terkejut saat melihat di dalam ruangan ada Tuan Aris. Tuan Muda dari grub Soepomo. Aris melihat ketiga orang itu terkejut dan agak risih.
"Hay santai aja. Saya ke sini cuma mampir minum kopi. Kalian lanjutkan saja diskusi berempat." ujar Aris yang beranjak duduk ke meja kerja Bayu.
Mereka kemudian berdiskusi tentang perencanaan kafe ke depannya. Saat mereka asik berdiskusi dengan wajah Bayu berusaha menahan amarah dan menetralkan raut wajahnya. Tiba tiba pintu di ketuk dari luar.
"Masuk" jawab Bayu.
"Ada apa ini Tuan? Kenapa pintu pakai di kunci?" tanya kasir yang sudah mulai cemas.
"Tidak apa apa santai saja." jawab Bayu.
Mereka bertiga saling pandang pandangan. Mereka sudah bisa membaca ke arah mana pembicaraan ini. Mereka yakin Bayu dan juga Aris sudah mengetahui apa yang telah mereka lakukan semalam.
"Tuan Bayu, saya rasa bisa kita bicarakan masalah ini baik baik." ujar Manager Keuangan.
"Dengan cara baik baik? Apa tidak salah Manager? Tidak ada yang bisa dibicarakan dengan baik baik kepada penghianat seperti kalian bertiga." ujar Bayu murka.
"Apa yang nggak saya kasih kepada kalian. Kalian bertiga orang kepercayaan saya. Eeee ternyata kalian menikam saya dari belakang. Sungguh hebat dan keren sekali. Saya suka itu." ujar Bayu.
"Rudi bawa mereka." ujae Bayu.
"Siap Tuan." jawab Rudi.
Dua manager mulai brontak. Saat melihat manager yang memberontak, kasir juga mulai ikut ikutan memberontak.
"Kalian mau di bawa secara baik baik atau dengan cara kekerasan dan akan membuat malu kalian saat keluar dari kafe ini. Ingat pengunjung sedang ramai." ujar Bayu.
Mereka bertiga akhirnya memilih untuk berkompromi dan diajak keluar dengan baik baik. Mereka tidak ingin menjadi pusat perhatian orang ramai.
Manager pengelolaan diapit dua orang rekan rudi. Sedangkan Rudi dengan seorang anggotanya menggamit manager keuangan. Sekretaris berjalan dengan dua orang rekan perempuan Rudi. Mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan rapi.
Tiga buah mobil sudah menunggu mereka di luar dengan penjagaan yang luar biasa di dalam mobil. Ketiga pencuri dimasukkan ke dalam satu mobil dengan empat orang penjaga di dalamnya. Sedangkan enam orang tadi yang menjemput pencuri ke dalam masuk ke dalam dua mobil yang berada di depan dan di belakang mobil yang membawa pencuri.
Tiga mobil hitam melaju beriringan meninggalkan kefe. Aris mengemudikan mobi paling belakang. Dia tidak ingin masuk dalam iring iringan tiga mobil itu.
"Mau loe apain mereka?" tanya Aris penasaran. Bayu terkenal dengan kelembutan hatinya. Jadi tidak mungkin Bayu akan menganiaya mereka bertiga.
"Tengok nanti aja." jawab Bayu.
__ADS_1
Perjalanan menuju markas black jack berlalu dengan cepat. Aris sudah tidak sabaran ingin melihat bagaimana cara Bayu mengeksekusi pencuri tersebut.
Ketiga pencuri diturunkan dari dalam mobil. Mereka di bawa masuk ke dalam markas oleh semua pengawal.
"Dimasukkan sel yang mana Tuan?" tanya Rudi.
"Sel bawah tanah." jawab Bayu.
Aris menatap Bayu terkejut, dia tidak menyangka Bayu akan meminta para penculik dimasukkan ke sel bawah tanah.
Para pengawal membawa ketiga pencuri ke sel bawah tanah. Mereka sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Bayu. Bayu terkenal tidak pemarah tetapi kejam. Itulah yang diketahui oleh pengawal yang tidak diketahui oleh Aris dan Bram.
"Loe ikut gue atau gimana Ris?" tanya Bayu saat melihat Aris duduk di sofa ruang tamu.
"Gue tunggu sini aja" jawab Aris.
"Rud. Loe ikut gue." ujar Bayu kepada Rudi yang terlihat akan menemani Aris duduk.
Aris memberikan kode kepada Rudi untuk ikut dengan Bayu. Rudi kembali berdiri, dia berjalan mengikuti Bayu ke sel bawah tanah. Sebenarnya Rudi sangat senang di ajak Bayu untuk ikut. Jadi, dia bisa melihat bagaimana cara Bayu bermain. Selama ini tidak ada satupun yang bisa melihat Bayu bermain.
Bayu dan Rudi masuk ke dalam sel. Dua manager di tempatkan di satu sel yang sama. Sedangkan kasir berada di sel yang berbeda.
"Hay Tuan Tuan, orang kepercayaan saya yang juga membohongi saya." ujar Bayu menyapa kedua managernya itu.
Kedua manager hanya bisa menekur saja. Mereka hanya bisa menyesali perbuatannya. Mereka tidak menyangka Bayu akan mengetahui perbuatan mereka secepat itu.
"Jadi, saya hanya mau bertanya, ada apa dan kenapa." ujar Bayu dengan nada dingin.
Kedua manager hanya terdiam. Mereka tidak bisa menjawab dan menatap ke wajah Bayu. Mereka tau kalau mereka benar benar sudah keliru dengan semua yang mereka lakukan.
"Tuan Bayu, mohon maafkan kami Tuan. Kami salah Tuan telah berbuat seperti ini Tuan." ujar Manager.
"Hahahahaha. Maaf kalian bilang? Gampang kali ya. Bagi saya uang hilang tidak masalah, tapi ini kepercayaan saya yang kalian makan. Bener bener sudah keterlaluan. Saya tidak bisa menerima hal itu." ujar Bayu.
Bayu kemudian mengambil cambuk yang ada di dinding ruangan. Dia memukul manager itu dengan sangat keras. Bayu benar benae sudah sangat luar biasa marah. Dia kesal dengan semua yang terjadi.
Setelah puas mencambuk para manager, Bayu menghidupkan air. Dia memfullkan putaran kran air tersebut. Bayu mengarahkan kepada kedua manager. Bayangkan saja betapa pedihnya luka terkena tembakan air. Kedua manager hanya bisa pasrah saja dengan apa yang terjadi kepada mereka.
"Tuan Bayu maafkan kami. Kami akan mengembalikan semua dokumennya Tuan Bayu." ujar Manager.
"Dimana kalian letakkan?" ujar Bayu.
"Di dapur kafe Tuan Bayu." ujar Manager yang sudah tidak tahan lagi dengan penyiksaan yang diberikan oleh Bayu.
"Oh makasi banyak." jawab Bayu.
Bayu kembali ke dekat mereka. Bayu kembali mencambuki mereka. Bayu benar benar sudah murka dengan semuanya. Dia tidak lagi memperdulikan erangan erangan kesakitan dari kedua manager.
Rudi yang melihat hanya bisa bergidik ngeri membayangkan rasa sakit yang diterima kedua manager itu. Sekretaris yang melihat semua kejadian langsung pingsan di tempat. Dia tidak akan sanggup menerima penyiksaan seperti itu.
"Rudi. Ikat kaki dan tangan mereka. Rentangkan se rentang rentangnya." ujar Bayu.
"Siap Tuan."
Rudi memanggil empat orang anggotanya yang berjaga di pintu masuk sel. Mereka selalu ada di sana saat ada orang yang dimasukkan ke dalam sel bawah tanah.
Sekretaris juga diikat dengan posisi seperti itu. Rudi benar benar tidak habis pikir dengan ulah ketiga orang itu. Mereka tidak tau Bayu kejam seperti apa. Kalau Aris dia akan langsung menghabisi nyawa orang itu. Tapi Bayu berbeda, dia akan menyiksa orang tersebut sampai dia merasa penyiksaan yang diberikan setimpal dengan apa yang diperbuatnya.
Bayu meninggalkan ruangan sel dengan keadaan manager dan sekretaris yang pingsan. Dia membasuh tangannya sampai di luar sel.
"Yuk pulang." ujar Bayu.
"Ke rumah sakit lebih tepatnya." ujar Aris.
"Hah" Bayu kaget mendengar kata kata rumah sakit.
"Siapa yang sakit?" tanya Bayu yang kaget.
"Anggel mau melahirkan." ujar Aris.
__ADS_1
"Ooo. Ayuk ke sana." kata Bayu.
Mereka berdua bergerak meninggalkan markas menuju rumah sakit. Mereka akan menunggu penerus keluarga Wijaya