Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Surat Cerai


__ADS_3

"Bay, kami jalan dulu. Papi ada urusan dengan Mami." ucap Papi sambil berdiri dari duduknya.


Tuan Soepomo dan Asisten Hendri berjalan keluar restoran. Mereka akan pergi menemui Mami membicarakan urusan yang tadi.


Asisten Hendri melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Mami. Asisten Hendri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Tuan, saya tidak tau dimana alamat rumah Nyonya Besar." ujar asisten Hendri.


"Saya sharelock ke chat kamu." ujar Papi.


Papi kemudian mengirim sharelock lokasi rumah Mami kepada Asisten Hendri. Asisten Hendri mengikuti petunjuk arah dari sharelock yang dikirim oleh Papi.


Paman Hendri yang sudah sampai di perbatasan ibu kota sedikit tidak percaya dengan jalan yang diikutinya.


"Tuan besar apakah benar ini jalannya?" tanya Asisten Hendri sambil menatap tidak percaya dengan jalan yang dilaluinya.


"Benar Hendri. Jalan terus saja. Nanti diujung jalan masuk ke gank tersebut. Nanti seratus meter dari gank utama ada rumah putih di sebelah kiri jalan. Kita berhenti di sana. Itu adalah tempat tinggal dirinya sekarang." ujar Papi menjelaskan letak rumah yang mereka tuju.


Hendri mengikuti instruksi yang diberikan oleh Tuan Soepomo. Tidak berapa lama mereka sampai di depan rumah putih itu. Beberapa pengawal yang melihat mobil Tuan Besar mereka berlari menuju gerbang.


Pengawal membukakan pintu mobil Asisten Hendri dan Tuan Soepomo.


"Apa dia ada di dalam?" tanya Tuan Soepomo kepada ketua penjaga.


"Ada Tuan besar. Dia seharian di dalam saja tidak ada keluar keluar dari rumah." ujar penjaga yang menunggu di depan rumah kontrakan Mami.


"Baiklah terimakasih atas infonya." ujar Tuan Soepomo.


Tuan Soepomo dan Asisten Hendri berjalan menuju rumah Mami.


Asisten Hendri mengetuk pintu rumah. Mami yang sedang memasak di dapur berjalan membuka pintu rumahnya.


Betapa terkejutnya Mami saat melihat Suaminya dan juga Asisten Hendri berdiri di depan pintu.


"Silahkan masuk Pi, Asisten Hendri." ujar Mami.


Papi melihat mata Mami yang bengkak sehabis menangis seharian. Papi sama sekali tidak merasa kasihan dengan Mami. Dia sudah memiliki tekad bulat untuk menceraikan Mami.


"Silahkan duduk Pi." ujar Mami.

__ADS_1


Papi dan Asisten Hendri duduk di kursi tamu rumah kontrakan Mami. Asisten Hendri menatap rumah kontrakan Mami dengan sangat miris. Dia tidak menyangka Papi akan setega itu dengan istrinya sendiri.


Mami meletakan air minum yang baru saja dibuatnya di dapur. Papi dan Asisten Hendri hanya melihat saja air minum itu. Mereka tidak berniat untuk meminumnya.


"Silahkan minum Pi, Asisten Hendri." ujar Mami mempersilahkan dua orang penting dari perusahaan Soepomo itu untuk menikmati minuman yang dibuatnya.


"Terimakasih Nyonya, kami barusan siap makan siang baru ke sini." ujar Papi menolak minuman yang dihidangkan oleh Mami.


Mami hanya bisa diam saja, hatinya terluka oleh penolakan Papi yang secara halus itu diucapkan.


"Hendri langsung saja. Kita masih banyak kegiatan yang harus kita urus." ujar Papi dengan dinginnya.


Asisten Hendri mengangguk. Dia kemudian meletakan sebuah dokumen di atas meja ruang tamu.


"Sebelumnya terimakasih Nyonya sudah menerima kehadiran kami di rumah ini." ujar Asisten Hendri yang sebenarnya masih segan mengungkapkan tujuan mereka ke rumah Mami.


"Asisten Hendri langsung saja. Tidak perlu basa basi." ujar Papi yang kesal dengan gaya asisten Hendri.


Asisten Hendri hanya bisa mengurut dada dan menyabarkan hatinya.


"Baiklah Nyonya. Maksud kedatangan Tuan Soepomo ke sini adalah mengantarkan dokumen ini. Silahkan Nyonya baca." ujar Asisten Hendri menyodorkan dokumen perceraian antara Tuan dan Nyonya nya.


"Apa ini?" tanya Mami kepada Papi.


"Anda bisa baca bukan?" tanya Papi kembali.


"Bisa. Tetapi kenapa harus bercerai?" tanya Mami.


Asisten Hendri sudah tidak bisa lagi duduk diantara Tuan dan Nyonya nya. Dia berjalan keluar. Ini adalah urusan antara Nyonya dan Tuannya.


"Jadi Anda mau apa?" tanya Papi kepada Mami.


"Apakah tidak ada pitntu maaf untuk ku??? Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahan ku." ujar Mami sambil menahan air matanya yang hendak turun itu.


"Apa semua hukuman yang sedang aku jalani ini masih belum cukup???" teriak Mami kepada Papi.


Papi hanya diam saja. Dia sama sekali tidak bergeming dan tidak terpengaruh dengan semua teriakan Mami.


"Apa kebersamaan kita selama ini tidak cukup?" tanya Mami lagi.

__ADS_1


"Apa pengorbananku untuk mengurus Aris yang bukan anak kandung ku tidak ada artinya bagi kamu?" teriak Mami lagi.


"Aku menyayangi kalian semua. Aku sangat menyayangi kalian. Kenapa huluman seperti ini yang kamu berikan kepada ku?" ujar Mami lagi.


Akhirnya air mata yang berusaha ditahan oleh Mami sudah tidak bisa dibendungnya lagi.


"Kenapa semua ini harus seperti ini? Kenapa kalian tidak bisa menghargai perjuanganku selama ini di tengah tengah kalian." ujar Mami sambil terisak.


"Selama ini saya selalu menghargai semua perjuangan anda untuk saya dan putra kandung saya. Tetapi yang Anda lakukan sekarang ini sudah sangat luar biasa di luar batas. Saya sudah tidak bisa lagi memakluminya. Jadi maafkan saya. Saya terpaksa melakukan hal ini kepada Anda." ujar Papi yang sama sekali tidak goyah dengan tangisan pilu Mami.


"Tapi kenapa harus seperti ini?" ujar Mami kembali bertanya kepada Papi.


"Maaf ini adalah keputusan final saya. Jadi sekali lagi maaf." ujar Papi.


Papi kemudian memberikan kembali surat surat yang tadi terjatuh oleh Mami. Papi tidak bisa lama lama di dekat Mami. Papi takut kembali goyah dengan keputusannya itu.


Papi tau selama ini Mami telah menjaga Aris seperti anak kandungnya sendiri. Semenjang kematian Mami kandung Aris yang bunuh diri di jembatan.


"Kamu silahkan tanda tangan. Untuk pembagian harta gono gini akan kita lakukan secara kekeluargaan. Tidak di persidangan." ujar Papi yang melihat Mami sudah tidak berminat membaca surat dari pengadilan.


"Maaf Tuan, saya akan membaca semua berkas ini terlebih dahulu. Jadi saya mohon kasih saya waktu." ujar Mami.


"Baik saya kasih waktu selama tiga hari. Silahkan berpikir dan buat berapa harta gono gini yang anda minta." ujar Papi.


"Hendaknya Anda bertindak kooperatif agar semua permasalahan ini cepat selesai. Saya tidak mau memperumit masalah yang sudah ada." lanjut Papi.


"Baik Tuan akan saya pikirkan semuanya. Terimakasih atas waktu yang diberikan untuk saya berpikir." jawab Mami.


"Baik saya permisi dulu. Anak buah saya akan tetap mengawasi anda di sini" ujar Papi.


"Masalah pengawal itu saya sangat keberatan Tuan. Saya bukan penjahat yang akan lari dari masalah. Jadi tolong pengawal anda, anda bawa saja dari sini." ujar Mami yang memiliki keberanian ntah dari mana.


"Baiklah saya akan membawa mereka pergi dari sini. Tetapi kalau Anda kabur, Anda tau sendiri resikonya." ujar Papi menatap tajam Mami.


Tuan Soepomo dan Asisten Hendri pergi meninggalkan rumah kontrakan Nyonya Soepomo. Mereka juga membawa semua pengawal untuk pergi dari sana. Tetapi ada satu pengawal yang tidak ikut. Dia diminta untuk mengintai Mami.


Mami yang melihat Papi dan Asisten Hendri membawa semua pengawal merasa mulai aman.


"Andra Soepomo kamu belum kenal dengan saya. Saya akan membuat kamu membatalkan perceraian ini. Saya akan keluarkan kartu yang akan membuat kamu bertekuk lutut kembali kepada Saya. Kamu tunggu saja." ujar Mami sambil tersenyum devil.

__ADS_1


Mami sudah merancang sebuah pembalasan yang setimpal untuk Tuan Soepomo atas semua penderitaan dan penghinaan yang selama ini didapatkan oleh Mami.


__ADS_2