Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Penyelidikan Argha 2


__ADS_3

"Bunda!!!!!!!!!" teriak Argha saat melihat Ghina sedang sibuk memasak menu sarapan di dapur bersih rumah.


"Argha, kamu kira lapangan bola pake teriak teriak. Ini rumah tau." ujar Ghina membalas teriakan Argha.


"Hehehehehe. Maafin Argha Bun" jawab Argha sambil duduk di kursi depan meja bar.


Ghina menatap Argha dengan tatapan tidak percaya. Anaknya sudah terlihat sangat rapi dan sudah stay dengan pakaian hariannya.


"Gha, Bunda nggak salah hari kan ya? Ini hsri Kamis kan?" tanya Ghina dengan nada bertanya yang seakan akan tidak percaya dengan dirinya.


"Bener Bun hari Kamis. Emang ada apa ya?" Argha balik bertanya kepada Ghina. Dia tidak mengerti kenapa Ghina menanyakan ini hari apa ke Argha.


"Bukannya hari ini seharusnya kamu pakai baju batik ke sekolah. Bukan baju biasa seperti itu." ujar Ghina sambil menatap pakaian Argha.


"Makanya Bun, anak pulang sekolah itu dibaca bukunya. Bukan di diemin aja. Jadi nggak tau apa apakan tentang sekolah anaknya." jawab Argha.


Jawaban ketus Argha membuat Bik Imah dan Suster Rina harus menahan tawanya. Sedangkan Aris yang mendengar perkataan Argha langsung duduk di sebelah Argha.


"Bisa Argha ulang lagi omongan yang Argha berikan untuk Bunda?" tanya Aris sambil menatap tajam Argha.


"Bunda nggak pernah baca buku sekolah Argha. Sehingga tidak tau apakah Argha hari ini sekolah atau libur." jawab Argha menantang Daddynya.


"Kenapa Argha bisa ngomong kayak gitu?" tanya Aris lagi.


"Memang ghitu kenyataannya." jawab Argha.


Ghina yang mendengar percakapan antara Ayah dan anak ini makin panas berjalan mendekati mereka berdua. Ghina berdiri di seberang meja.


"Maksud Argha gimana?" tanya Aris lagi.


"Ya gitu. Argha sebenarnya sangat paham dengan kesibukan Bunda. Tapi agak sedikit kasihlah perhatian ke sekolah Arga. Argha juga tau Bunda perhatian, tetapi akhir akhir ini sudah jarang perhatian ke Argha." ujar Argha menyuarakan isi hatinya.


"Bunda lebih sibuk di dapur dan ke tempat Daddy kerja. Sedangkan melihat buku sekilah Argha nggak pernah. Argha nggak marah, tapu jangan abaikan Argha." ujar Argha kembali.


Gina yang mendengar langsung merasakan sebuah belati ditanjapkan di ulu hatinya. Anaknya sudah protes dengan sikapnya beberapa hari kebelakang ini. Argha selama ini tidak pernah protes ke Ghina. Baru ini pertama kalinya Ghina di protes Argha.


Gina berjalan ke dekat Argha. Dia langsung memeluk Argha.


"Sayang maafin Bunda kalau selama ini sudah cuek sama Argha. Bunda nggak pernah bermaksud seperti itu sayang." ujar Ghina lagi.


"Argha taukan betapa sayangnya Bunda ke Argha?" lanjut Gina berusaha meyakinkan Argha.

__ADS_1


Argha mengangguk, Argha sama sekali tidak meragukan kasih sayang Gina kepada dirinya.


"Apa mungkin Bunda mencuekin anak yang selalu menjadi pusat dunia Bunda?" tanya Ghina lagi


Argha menggeleng, dia tau akan semua hal itu.


"Jadi apakah Argha mau maafin Bunda karena selama ini udah buat Argha merasa diabaikan?" ujar Ghina dengan menatap mata Argha.


"Argha sayang Bunda. Apa perlu Bunda minta maaf sama Argha?" tanya balik Argha.


"Perlu sayang. Kita semua meminta maaf tidak perlu lihat umur. Kalau yang tua salah maka dia harus minta maaf. Sekarang yang salah Bunda, jadi Bunda yang minta maaf ke Argha." ujar Gina kembali.


"Argha selalu maafin Bunda. Argha sayang Bunda. Maafin Argha juga yang nggak peka dengan semua kegiatan Bunda." jawab Argha.


"Sini peluk Bunda." ujar Ghina.


Argha memeluk Bundanya.


"Daddy ikut." ujar Aris.


Mereka bertiga berpelukan. Semua orang yang menyaksikan keharmonisan keluarga kecil itu tersenyum bahagia. Orang diluaran sana pasti akan menganggap keluarga mereka jauh dari konflik. Padahal mereka baru saja menyelesaikan konflik yang diciptakan oleh keluarga mereka sendiri. Pondasi kekuatan cinta mereka begitu kuat. Sehingga masalah berat tersebut bisa mereka selesaikan juga akhirnya.


Gina terlihat menjadi sangat kikuk. Sedangkan Aris dan Argha santai saja. Mereka berdua dengan tenangnya berjalan menuju meja makan. Sedangkan Bram hanya bisa geleng geleng kepala saja. Ntah drama apa pula yang terjadi sebelum mereka datang ke meja makan.


Gina dibantu dengan dua orang maid meletakan berbagai menu sarapan yang telah disiapkan oleh Ghina.


Ghina mengambilkan suaminya dan juga Argha sarapan. Sedangkan Papi diambilkan oleh Bram.


"Oh ya Gha nanti siang kamu mau ikut Papi nggak?" tanya Bram yang rencana mau meninjau lokasi pabrik baru di pinggiran ibu kota.


"Nggak. Arga mau main sama Bunda hari ini." jawab Argha yang akan menceritakan semua cerita Atuknya kepada Gina.


"Oh baiklah." jawab Bram yang akhirnya sekali lagi harus pergi sendirian ke pembangunan pabrik.


Sedangkan Aris hari ini ada beberapa meeting yang harus dilakukannya dengn Budi sang sekretaris. Dia tidak mungkin meminta Bram untuk tidak jadi melihat pabrik yang baru itu. Dia tau Bram besok akan sangat sibuk menyiapkan lamarannya terhadap Sari.


Setelah selesai menikmati sarapannya, Papi, Aris dan Bram beranjak dari rumah utama. Mereka semua menaiki mobil masing masing untuk menuju tujuan yang berbeda.


"Gha, kita cerita di markas aja gimana? Biar bisa langsung ada tindakan." ujar Ghina mengajak Argha untuk ke markas mereka.


"Oke Bun. Argha bawa Rina ya?" tanya Argha yang ingin membawa Rina agar bertemu dengan Alex.

__ADS_1


"Jangan ngadi ngadi Gha. Kamu boleh comblangin siapa aja, tapi jangan bawa orang luar ke markas." ujar Ghina yang melarang hal keras itu ke setiap orang yang tau mengenai markas mereka.


"Naaf Bun lupa." jawab Argha dengan entengnya.


"Ya udah. Kamu tunggu sini bentar, Bunda ambil tas dulu." Ghina berjalan menuju kamarnya. Dia mengambil perlengkapannya.


"Cus Gha." ujar Ghina.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mobil kemudian meluncur menuju markas yang terletak di daerah pinggiran kota. Ghina tadi sudah menghubungi Alex dan Jero supaya tidak pergi dari markas. Sedangkan Juan diturunkan untuk emncari tau keberadaan pemilik rumah putih itu dan apa hubungan pemilik rumah dengan Mami.


"Jadi kamu beneran mau nyomblangin suster kamu dengan om Alex?" tanya Ghina sambil menatap Argha.


"Bun, mereka udah saling suka. Tapi takut ngungkapinnya. Argha cuma bantu aja kok ya Bun. Kalau mereka sama sama suka ayuk. Kalau ndak stop. Itu aja kok susah ya Bun. Heran" ujar Argha yang selalu menganggap gampang suatu masalah.


"Hahahahahaha. Kamu bemum merasakan cinta Gha. Makanya bisa ngomong segampang itu." jawab Ghina.


"Argha nggak mau jatuh cinta Bun. Malas." jawab Argha.


Ghina hanya menganggap perkataan anaknya sebagai angin lalu saja. Ghina untuk saat ini tidak ambil pusing dengan jawaban yang diberikan Argha tadi.


Setelah menempuh perjalanan dengan disuguhi macet ibu kota. Ghina dan Argha telah sampai di markas. Mereka berdua langsung masuk ke dalam tempat meeting. Alex dan Jero sudah menunggu di sana.


"Jadi gimana Jer?" tanya Ghina.


"Juan sudah dalam perjalanan kemari Nyonya." jawab Jero.


"Oke kita tunggu dia dahulu." jawab Ghina.


Jero kembali ke tempat dia sebelumnya bekerja. Sedangkan Alex masih di perusahaan, dia sedang dalam perjalanan menuju markas. Tadi pagi dia ada meeting yang nggak bisa ditinggalin.


"Gha jadi apa cerita kamu dengan Atuk?" tanya Ghina yang memeng sudah penasaran dari kemaren kemaren.


Argha kemudian menceritakan semuanya kepada Ghina. Tidak ada yang ditutupi oleh Argha. Semua yang diceritakan oleh Argha sangat sama dengan yang diceritakan Papi kepada dirinya.


"Jadi mami itu bukan ibu kandung Daddy? Apa Daddy sudah tau Gha?" tanya Ghina lagi.


"Nggak tau Bun. Atuk belum cerita sampe sana. Palingan nanti malam Atuk cerita lagi." ujar Argha.


"Oke. Kita akan nantikan cetita itu Gha." ujar Ghina.


Tak lama setelah Argha menceritakan semuanya kepada Ghina. Alex, Jero dan Juan datang. Mereka kembali masuk ke dalam ruangan merting. Ghina akan memulai meeting penting itu.

__ADS_1


__ADS_2