Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Perang Dingin


__ADS_3

Keesokan harinya Gina sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Anggel. Gina dijemput oleh Afdhal dan Nana.


"Udah baikan sayanh?"


"Udah Nana." jawab Gina sambil memberikan senyum terbaiknya untuk Nana.


"Uda, Gina cuti tiga hari ini ya Uda. Gina mau istirahat dulu di rumah." kata Gina dengan memasang wajah memelas.


"Yup. Udah jangan pasang wajah memelas gitu. Jadi nggak cantik lagi" jawab Afdhal.


Tiba tiba pintu ruang rawat Gina terbuka. Mauklah seorang pria tampan memakai jas berwarna hitam dan kemeja biru muda. Pria itu memberikan senyum terbaiknya kepada Gina. Gina yang masih kesal tidak membalas senyum pria tersebut. Nana dan Afdhal yang paham berpura pura tidak tau masalah antara mereka. Afdhal berdasarkan kode dari Nana pura pura menerima telpon.


"Hallo ya Biru? Apa? Oke oke aku kesana sekarang dengan Nana" kata Afdhal yang berpura pura.


"Ada apa Uda?" Nana pura pura penasaran.


"Nana, sepertinya kita harus ke kantor, ada permasalahan yang harus Nana ketahui." Afdhal memanik manikkan suaranya.


"Terus Gina pulang sama siapa Uda?"


"Aris, kamu maukan mengantar Gina pulang ke rumah?" kata Afdhal kepada Aris.


"Siap Uda. Aku akan antar Gina ke rumah" jawan Aris dengan mantap.


Gina kemudian menatap Afdhal dan Nana dengan tatapan menyelidik. Nana yang tau arti tatapan Gina, langsung menggamit lengan Afdhal untuk langsung meninggalkan ruangan yang aura mengintimidasi Gina sudah keluar. Nana mencari jalan terbaik dan ternyaman untuk dia dan Afdhal.


"Nana, siap siap aja nanti sorw kita akan dicemberuti Gina."


"Urusan nanti, nanti saja kita pikir. Sekarang yang jelas kita udah keluar dari jebakan batman itu. Nana merasakan aura aura tegangan tinggi dari tadi"


"Bener Nana. Uda aja takut melihat tatapan Gina ke Aris tadi. Aris sepertinya tidak akan selamat hari ini dari amukan Gina."


Nana dan Afdhal kemudian pergi menuju kantor utama perusahaan Jaya Grub. Nana akan sampai sore hari di sana bersama Afdhal. Mereka harus memikirkan cara bagaimana lolos dari amukan Gina.


Sedangkan di ruang rawat Gina. Aris terlihat diam membisu. Aris tidak tau akan memulai percakapan darimananya. Sedangkan Gina sudah bertekad tidak akan memulai percakapan sebelum Aris memulai terlebih dahulu. Aura aura mencekam begitu terasa diruangan itu. Dua anak manusia yang sama sama keras kepala ini hanya saling menatap tajam tanpa ada yang mau mengalah.


Setelah berdiam diri cukup lama, Gina akhirnya mengangkat tas kainbya yang lumayan kecil itu. Aris yang melihat langsung menyambar tas yang akan diangkat Gina.

__ADS_1


"Biar aku aja yang bawa" kata Aris.


Gina sama sekali tidak menjawab. Bukan kalimat itu yang Gina harapkan keluar dari mulut Aris. Gina kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat menuju halaman rumah sakit. Aris yang melihat Gina sudah keluar langsung meminta Bram untuk parkir di lobby rumah sakit.


Gina yang melihat Bram sudah berdiri di sebelah mobil tidak bisa mengelak lagi. Gina terpaksa naik ke mobil Bram dan duduk disebelah supir. Aris yang melihat langsung meminta kunci kepada Bram. Aris langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan Bram dengan tas rumah sakit Gina.


"Dasar sahabat plus saudara nggak ada otak. Main tinggal aja" teriak Bram.


Bram tidak sadar kalau teriakannya mengakibatkan dirinya menjadi pusat perhatian orang orang. Bram kemudian menoleh dan melihat orang orang memerhatikannya langsung memakai kacamata hitamnya dan menelpon sopir kantor agar menjemputnya ke rumah sakit. Bram melangkahlan kakinya dengan santai ke lobby rumah sakit. Dokter dan suster yang tai siapa Bram langsung menunduk hormat.


Gina dan Aris di dalam mobil masih dalam kondisi diam diaman. Mereka masih saling tidak bertegur sapa. Salah satu dari mereka haris memutus mata rantai saling diam, kalau tidak maka acara saling diam ini akan sampai ke rumah Gina.


Aris baru tau kalau Gina sangat keras kepala. Aris juga menahan egonya untuk tidak marah marah kepada Gina. Aris tau dia juga bersalah telah membiarkan Gina menunggunya seharian tanpa ada kabar berita.


Tak terasa mereka telah sampai di rumah Gina. Gina langsung saja turun dari mobil tanpa berkata apa apa kepada Aris. Aris yang melihatpun terpaksa diam saja. Setelah memastikan Gina masuk kedalm rumahnya, Aris melajukan mobilnya kembali ke kantor dengan sangat kencang.


Gina yang melihat Aris sudah pergi dari balik gorden ruang tamu langsung saja masuk kedalam kamarnya. Gina mau mengistirahatkan badannya dan pikirannya yang capek sepanjang jalan menahan emosi yang kapan saja siap meledak kalau ada pancingan.


Aris yang melaju dengan kencang tiba di kantor dalam waktu dua puluh menit saja. Aris memakirkan mobilnya disembarangan tempat. Setelah itu Aris melempar kunci mobil Bram kepada petugas parkir. Bram yang juga baru turun dari mobil jemputan, melihat Aris dalam kondisi tidak baik baik saja. Bram memarkirkan mobilnya dengan benar di tempat biasa.


"Pak Bram, sepertinya Pak Aris sedang banyak masalah" kata juru parkir.


Bram kemudian masuk kedalam kantor. Dia akan berada di ruangannya saja. Bram tidak berani masuk ke ruangan Aris. Bram sangat tau tipikal Aris kalau sedang menahan marah. Siapapun pasti akan menjadi tumbalnya.


Apa yang ditakutkan Bram benar terjadi. Salah satu manager dengan santainya masuk keruangan Aris. Tiba tiba saja, belum sempat menyerahkan apa yang dibawanya, sang manager sudah kena caci maki dari Aris. Bram diruangan sebelah hanya bisa mengurut dada saja.


"Apa yang gue takutkan akhirnya terjadi juga. Tapi nggak apa apa bukan gue juga yang jadi tumbalnya." kata Bram sambil berdiri di meja sekretaris.


Sekretaris Aris yang mendengar apa yang dikatakan Aris kepada manager hanya bisa menelan salivanya kembali.


" Tuan Bram, apakah seperti itu kalau Tuan Aris sedang emosi?" tanya sekretaris kepada Bram.


Bram menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Aris keluar dari ruangannya. Dia melihat Bram berdiri dengan santainya.


"Loe ikut gue." kata Aris memberi perintah.


Bram kemudian berjalan mengikuti Aris dari belakang. Sekretaris yang tau ekpresi Bram mengepalkan tangannya memberi Bram semangat. Bram hanya tersenyum melihat tingkah lucu sekretaris itu.

__ADS_1


Aris dan Bram kemudian masuk kedalam mobil. Bram melajukan mobilnya kerah rumah utama.


"Loe kenapa??? Loe nggak kasian apa sama manager yang loe maki maki tadi?"


"Kasian. Makanya tugas loe tambahin bonus dia untuk bulan ini." perintah Aris.


"Wow enak bener tu manager. Hanya tinggal dengerin emosi loe doang cuan mengalir" kata Bram sambil geleng geleng kepala.


"Loe mau kena marah juga kayak manager tadi?"


"Ogah gue mah" jawab Bram.


Keheningan kembali terjadi di mobil itu. Bram penasaran dengan Aris. Aris juga penasaran bagaimana caranya membuat Gina mau berbicara dengan dia. Padahal hari pernikahan mereka tinggal sebentar lagi. Persiapan masih banyak yang belum mereka lakukan. Aris benar benar tidak tau bagaimana cara membujuk Gina kembali.


Gina yang sudah bangun dari tidur siangnya langsung menuju meja makan. Gina benar benar kelaperan. Gina melihat begitu banyak makanan favoritnya berada di atas meja.


"Bik, bik sini bentar" panggil Gina kepada pelayan rumah.


"Iya Non." kata seorang bibik yang berjalan dengan cepat ke arah Gina.


" Ini siapa yang nyuruh masak ya bik? Tadi pas Gina datang siang belum ada di atas meja."


"Oh Nana dan Uda Afdhal yang masak Non" kata bibik.


" Oh. Makasih ya bik"


Gina kemudian memakan semua hidangan di atas meja makan itu dengan lahap. Gina tai Nana dan Uda sedang mengintipnya di suati tempat. Gina pura pura tidak tau. Giba terus memakan semua yang ada dimeja tanpa bersisa satu sambalpun. Nana dan Afdhal yang melihat dari balik lemari dapur langsung saling menatap tidak percaya. Semua hidangan dimakan oleh Gina.


"Nana kayaknya dia sengaja makan tanpa nasi, biar bisa menghabiskan seluruh sambal yang kita buat." kata Afdhal memelas.


"Yup. Dia memang sengaja" kata Nana.


" Nana, Uda keluar gih dari dapur. Aku udah siap makan, dan aku juga udah maafin Nana dan Uda." teriak Gina supaya Nana dan Afdhal beserta pembantu mendengar apa yang dikatakan Gina.


Nana dan Afdhal keluar dari persembunyiannya. "Jadi kamu habiskan semuanya Gin?? Nggak ada tinggal dikitpun??" tanya Afdhal.


"Kihat aja sendiri uda." kata Gina.

__ADS_1


Nana dan Afdhal menatap tidak percaya kepada semua piring kosong seakan akan mencemooh Nana dan Afdhal.


__ADS_2