Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Puzel Masa Lalu 1


__ADS_3

Bram, Argha cukup. Makan." ujar Papi.


Mereka kemudian makan dengan tenang kembali. Mereka tidak lagi mengeluarkan suara sama sekali.


Setelah selesai menikmati makan malam mereka. Papi langsung masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan Aris dan Bram masuk ke dalam ruang kerja Aris. Ada beberapa laporan harus mereka diskusikan berdua.


Sedangkan Argha memilih untuk bercerita dengan suster Rina sampai waktu tidurnya datang.


Ghina yang melihat semua orang sibuk dengan urusan mereka masing masing melihat ponselnya. Ternyata ada pesan dari Daniel. Ghina membaca pesab tersebut betapa terkejutnya Ghina membaca email dari Daniel.


"Gha, Bunda ke perpus dulu ya. Nanti kalau Daddy cari Bunda bilang Bunda di perpus." ujar Ghina meninggalkan pesan kepada Argha.


"Oke Bun?" tanya Argha.


"Tidak. Daniel ngirim pesan." ujar Ghina.


"Argha ikut." ujar Argha sambil berdiri dari duduknya.


Mereka berdua berjalan munuju perpustakaan.


"Ada apa ya Bun?" tanya Argha.


"Nggak tau juga." jawab Ghina.


"Perusahaan di sana baik kan Bun?"


"Baik. Frenya dan Stepen di sana. Kita tidak meragukan kemampuan mereja berdua. Rumah sakit juga dalam kondisi aman." ujar Ghina yang mulai cemas.


Sesampainya di perpustakaan keluarga. Ghina menghidupkan laptopnya. Dia langsung melakukan panggilan video dengan Daniel.


"Ada apa Niel?" tanya Ghina langsung saja saat melihat wajah tampan putra sulungnya sudah berada di layar laptop.


"Niel. Jangan bikin Bunda stress." ujar Argha.


"Bun, Rani dari seminggu yang lewat muntah muntah." ujar Daniel.


"Niel kamu kan dokter. Rani juga dokter. Masak tanya Bunda yang nggak dokter. Apalagi Argha." ujar Ghina.


"Makanya Bunda denger dulu. Jangan asal marah aja." ujar Daniel.


"Maaf Niel. Muka kamu muka panik. Makanya Bunda juga panik." jawab Ghina yang tidak mau disalahkan.


Argha hanya bisa geleng geleng kepala. Dia menyesal telah ikut Ghina ke perpustakaan.


"Bilang aja kalau kak Rani hamil. Pake sok panik segala. Basi." jawab Argha sambil berdiri dari duduknya.


Argha berjalan menjauh dari laptop.


"Argha nggak sopan. Niel kan mau kasih kejutan." teriak Daniel.


"Hahahahahaha. Orang kalau mau kasih kejutan tu tespek nya di kirim. Ini ndak, bikin sok panik segala. Nggak main." ujar Argha sambil menatap mencemooh Daniel.


Argha berjalan menuju keluar dari perpustakaan. Saat dia akan membuka pintu ruangan, Aris masuk dengan tergesa gesa. Untung saja Argha sudah awas, kalau tidak siap siap aja kepala Argha kena pintu ruangan.


"Ada apa Gha?" tanya Aris.


"Kak Rani hamil. Jadi Daddy siap siap jadi Atuk Daddy." ujar Argha.


"Serius Daniel hamil?" tanya Aris.


"Nggak" jawab Argha.

__ADS_1


"Loh kok?" tanya Aris.


"Yang hamil Rani bukan Daniel." ujar Argha.


Argha berjalan keluar dari perpustakaan. Aris yang melihat Argha ngeloyor pergi berusaha menahan amarahnya. Dia nggak habis pikir dengan bocah ajaib itu.


Aris menuju Ghina yang masih melakukan video call dengan Daniel dan Rani.


"Niel, Ran selamat ya. Kalian berdua harus menjaga cucu kami. Kalau perlu kalian berdua kembali ke negara I. Daddy akan kirim pesawat besok." ujar Aris.


"Tapi Pi. Kerjaan di sini?" tanya Daniel.


"Banyak dokter di sana Niel. Tidak ada alasan." ucap Aris.


"Bun" ujar Daniel.


"Daddy bener Niel. Kalian berdua pulang besok. Bunda akan meminta Stepen untuk menyuruh anak buahnya menyiapkan pesawat." ujar Ghina.


"Baiklah Bun, Dad. Kami akan pulang lusa." jawab Daniel.


Mereka berempat mengakhiri panggilan videonya.


"Sayang tidur yuk." ajak Aris.


"Yuk. Tapi nggak bisa masuk sayang. Landasan pacu sedang basah." ujar Ghina memberitahukan keadaannya.


"Yah" ujar Aris dengan muka kecewa.


"Sabar sayang" jawab Ghina.


Mereka berjalan ke luar perpustakaan sambil gandengan tangan. Ghina melihat Rina sedang membersihkan mainan Argha.


"Argha mana Rin?" tanya Ghina yang tidak melihat anak bungsunya itu.


"Oh baiklah." ujar Ghina.


Aris dan Ghina kemudian membersihkan diri mereka. Setelah selesai Aris dan Ghina naik ke atas ranjang dan memilih untuk langsung tidur saja. Adegan panas yang biasanya mereka lakukan untuk seminggu kedepan harus dihentikan terlebih dahulu.


Sedangkan di kamar utama rumah utama itu, Papi dan Argha juga sudah siap siap untuk tidur.


"Atuk boleh Argha bertanya suatu hal?" tanya Argha kepada Papi.


Papi menghadap ke arah Argha.


"Boleh ada apa Gha?" tanya Papi.


"Tapi Atuk harus jawab jujur, nggak boleh boong ya." ujar Argha.


"Siap ketua." jawab Papi.


Argha menatap tajam Papi. Papi membalas tatapan Argha.


"Anak ini benar benar berjiwa seorang CEO dan Mafia. Tatapan mata yang tajam dan membuat siapapun takut untuk mengkhianatinya." ujar Papi di dalam hatinya.


"Jadi Argha mau tanya apa?" tanya Papi.


"Atuk, sebenarnya Daddy anak nenek lampir itu atau anak istri pertama Atuk?" tanya Argha langsung ke inti pertanyaannya.


Papi terdiam mendengar pertanyaan cucunya itu. Dia tidak menyangka Argha akan menanyakan hal itu.


"Maafkan Argha Tuk kalau Argha tidak berbasa basi. Tapi Argha pengen Atuk jujur sama Argha." ujar Argha sambil menatap Atuknya.

__ADS_1


Papi menatap mata Argha. Tatapan cucunya menuntut Papi untuk bercerita.


"Argha mau tau yang sejujurnya?" tanya Papi.


Argha mengangguk.


"Baiklah Atuk akan cerita semuanya kepada Argha. Atuk yakin Argha sudah tau. Tapi Atuk akan tetap menceritakannya." ujar Papi.


"Atuk dulu pernah menikah dengan seorang wanita tahun 1975, pernikahan Atuk dengan wanita itu sangat bahagia. Memasuki usia pernikahan ke enam tahun tepatnya 1980, Aris Daddy kamu lahir sebagai putra pertama kami. Kebahagiaan itu bertambah, tetapi di balik kami yang bahagia, ada musih musuh bisnis yang menginginkan kami bertiga tewas." ujar Papi.


Papi memandang langit langit kamarnya. Dia sebenarnya sudah siap berbagi semua cerita itu. Tetapi Papi sangat berat mengingat kisah lama yang suram itu.


"Tibalah hari itu, dimana Daddy kamu baru berusia enam bulan. Hari paling naas dalam hidup kami berdua. Hari itu Daddy kamu demam tinggi, Atuk sudah menghubungi dokter keluarga untuk datang. Tetapi dokter itu sedang berada di luar negeri. Sedangkan Atuk Hendri sedang Atuk minta menyelesaikan proyek di luar kota." lanjut Papi menceritakan kisahnya kepada cucunya yang luar biasa pintar itu.


"Hari telah larut malam, di tambah dengan hujan deras yang menyiram ibu kota seperti air yang ditumpahkan dari dalam ember. Saat itu Atuk dan Bunda Daddy memutuskan untuk membawa Daddy kamu ke rumah sakit." Papi terdiam sesaat.


Papi menarik nafasnya dan berusaha menentramkan hati dan pikirannya. Dia tidaj boleh terlihat masih bersedih di hadapan Argha.


"Perjalanan dari rumah ke rumah sakit sebenarnya tidak memerlukan waktu yang lama. Tetapi karena hari hujan, jarak pandang sempit, Papi melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Nah saat itulah baru separo jalan datang sebuah mobil box menabrakan mobilnya ke mobil kami." ujar Papi.


Papi mengingat semua moment sedih itu. Semua gambaran kejadian itu berputar kembali di memori otak Papi.


"Saat itu mobil yang kami tumpangi berguling masuk ke dalam jurang." ujar Papi menceritakan dengan suara yang sedikit bergetar.


Argha memegang pundak Atuknya.


"Atuk, kalau Atuk tidak siap untuk Lanjut menceritakannya tidak apa apa Atuk. Argha tidak akan marah." ujar Argha.


Papi terdiam sesaat. Dia harus membagi semua bebannya ini. Papi sudah menceritakan kepada Hendri. Dia harus berbagi lagi dengan yang lain.


"Atuk siap Argha. Atuk akan menceritakan semuanya kepada kamu." ujar Papi dengan nada mantap.


"Jadi saat Atuk jatuh ke dalam jurang, siapa yang bantu Atuk?" tanya Argha.


"Untunglah saat itu Atuk sempat menekan sebuah tombol di mobil dan juga di jam Atuk. Nenek kamu juga sempag memencet tombol yang ada di kalung Daddy kamu. Sedangkan untuk dirinya sendiri dia tidak sempat menekan tombol itu." ujar Papi.


"Hendri dan anggota black jack lainnya yang mendapatkan sinyal darurat dari Atuk dan Daddy langsung bergerak melakukan pencarian." ujar Papi.


"Saat jatuh itu, Nenek kamu memberikan Daddy kamu ke Atuk. Dia meminta kami untuk loncat. Sedangkan dia mengendalikan stir mobil. Nah di sanalah kami terpisah." lanjut Papi.


"Di saat itulah Atuk sangat menyesal. Kenapa Atuk setuju dengan ide gila nenek kamu. Sehingga hal itu mengakibatkan kami harus terpisah." Papi kembali melanjutkan kisahnya.


"Malam itu juga semua orang bergerak melakukan pencarian kepada kami bertiga. Saat itu Atuk dalam keadaan setengah sadar dan masih memeluk Daddy kamu yang sudah pingsan."


"Saat itu Atuk hanya bisa berharap bantuan cepat datang dan segera menolong Daddy kamu. Atuk terus memeriksa denyut nadi Daddy, Alhamdulillah Daddy masih terus bersama Atuk. Hal itulah yang membuat Atuk masih memiliki kekuatan untuk terus bertahan hidup." lanjut Papi.


"Atuk, apa saat itu Atuk tidak lagi memikirkan Nenek?" tanya Argha.


"Ya, Atuk masih memikirkan nenek. Tetapi kami berdua saat sebelum menikah sudah mengetahui resiko apa yang akan kami tanggung saat kami berdua sudah menikah dan mendapatkan keturunan." ujar Papi lagi.


"Terus kapan Atuk ditemukan anggota black jack dan Atuk Hendri?" tanya Argha yang sudah merasakan kantuknya. Tetapi dia berusaha menahan karena ketinggian tingkat kekepoan dirinya.


"Nggak sabar Gha?" tanya Atuk.


"Kita lanjut besok ya Gha. Atuk besok pagi ada meeting penting." ujar Papi yang sebenarnya tidak ada meeting. Tetapi Papi terpaksa berbohong karena dirinya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya lagi.


"Oke Atuk, kita tidur lagi. Tetapi Atuk janji besok akan melanjutkan ceritanya" ujar Argha.


"Asiap" jawab Papi.


Papi sangat senang Argha bisa mengerti dengan keadaan. Argha perlahan menutup matanya kembali.

__ADS_1


"Ye, kalau kamu masih hidup kamu akan selalu tertawa melihat kepintaran dan kelucuan cucu kita Ye. Tetapi aku yakin kamu di sana masih bisa tertawa melihat dirinya Ye." ujar Papi yang melupakan sejenak perihal video kiriman seseorang itu


__ADS_2