Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 26


__ADS_3

"Semoga ini benar Nya" kata Rani dengan lembut sambil mengusap kepala adik iparnya itu.


Frenya merasakan kasih sayang seorang kakak perempuan dari Rani. Padahal mereka hanya memiliki hubungan antara adik ipar dengan kakak ipar, tetapi kedekatan mereka sudah melebihi saudara kandung.


"Apa aku hamil uni?" tanya Frenya dengan nada bergetar.


'Kalau benar aku hamil, maka aku akan cari cara untuk menyampaikan berita ini kepada Juan. Aku harus bisa mengatakannya kepada Juan' kata Frenya dalam pikirannya.


"Kita tunggu hasil dari dokter Ana dulu" jawab Rani yang tidak ingin mendahului keputusan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Ana kepada Frenya.


Dokter Ana kembali masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Sekarang dia sudah memakai sarung tangan dan juga jas putih kebesaran yang menandakan kalau dia adalah seorang dokter. Pemeriksaan Frenya akan segera di mulai.


"Siap Frenya?" tanya dokter Ana.


"Siap dokter" jawab Frenya dengan sangat yakin untuk melanjutkan pemeriksaan dengan menggunakan alat alat medis yang keren yang ada di ruangan itu.


"Kamu harus rileks Frenya. Jangan takut atau gelisah, santai saja" lanjut dokter Ana meminta Frenya untuk bersikap santai saja.


Frenya berusaha mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter Ana. Dia berusaha menentramkan hati dan juga pikirannya. Dia tidak mau pemeriksaan ini tidak ada hasilnya.


Dokter Ana kemudian melakukan pemeriksaan terhadap Frenya. Dokter Ana menaruh sebuah benda ke atas perut Frenya yang sudah dibuka tersebut. Dokter Ana menggerak gerakkan alat tersebut di atas perut Frenya.


"Frenya, lihat itu dia" ujar dokter Ana menunjuk sebuah gelembung yang di dalamnya sudah ada janin yang terbentuk.


"Apakah itu anak aku dokter?" tanya Frenya kepada dokter Ana.


"Ya ini dia. Dia sudah ada di sana selama tiga minggu." kata dokter Ana.


Frenya dan Rani menatap ke arah monitor besar itu. Di sana terlihat ada sebuah kantong yang di dalamnya ada janin. Mereka menatap terharu ke layar monitor itu.


"Uni, aku hamil Uni" kata Frenya dengan air mata yang sudah mulai turun. Air mata kebahagiaan seorang ibu.


"Iya Nya, kamu hamil. Selamat Nya" ujar Rani sambil memeluk sedikit adik iparnya itu.


"Aku sangat bahagia uni" kata Frenya.


"Iya, kita semua pasti akan bahagia mendengar berita bahagia ini Nya" jawab Rani.


Rani mengusap air mata bahagianya yang tidak sengaja turun itu. Rani benar benar bahagia untuk kebahagiaan yang didapatkan oleh Frenya.


"Janinnya bagaimana dok?" tanya Rani yang sangat gembira melihat hasil pemeriksaan Frenya.


Semua tebakan itu ternyata benar. Frenya benar benar sedang hamil. Kebahagiaan sebentar lagi akan hadir di tengah tengah keluarga mereka.

__ADS_1


"Janinnya sangat sehat. Kita bisa lihat dari semua hasil pemeriksaan ini. Dia benar benar sehat" kata dokter Ana menjelaskan kepada Frenya dan Rani.


Dokter Ana menjelaskan semuanya kepada Frenya dan Rani dengan terperinci dan lugas. Bagi Frenya satu yang penting, yaitu janin yang ada di dalam kandungannya itu dalam keadaan sehat. Itu yang penting bagi Frenya.


"oke pemeriksaannya selesai. Janin nya sehat dan ibunya juga sehat" kata Dokter Ana menyimpulkan hasil pemeriksaan kepada Frenya hari ini.


"Silahkan berdiri Frenya" kata dokter Ana setelah membersihkan perut Frenya dari gel yang tadi dijadikan sebagai pelumas supaya alat yang dipakai untuk memeriksa Frenya bisa berjalan lancar di atas perut.


Dokter Ana memasukkan hasil USG kehamilan Frenya ke dalam sebuah amplop putih.


"Ini hasil USG nya. Ini resep obat yang harus di minum oleh Frenya" kata dokter Ana memberikan foto hasil USG dan juga resep obat yang harus di minum oleh Frenya.


Frenya melihat kembali hasil USG janinnya tadi. Frenya menetaskan air mata saat melihat ada kehidupan di dalam perutnya. Kehidupan yang dihasilkan atas kerja keras yang terjadi antara dirinya dan Juan.


"Uni, aku hamil Uni" ujar Frenya dengan nada gembira.


Frenya benar benar bergembira karena kehamilannya itu. Dia memeluk erat Rani kakak ipar yang telah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri.


"Bener Nya, kamu hamil. Selamat Nya" ujar Rani dengan tulus memberikan selamat kepada Frenya.


"Frenya, selamat atas kehamilan kamu. Kamu harus menjaga janin ini dengan sangat baik." kata dokter Ana.


"Kamu tidak boleh stress, kamu tidak boleh terlalu lelah. Sampai saat ini janin kamu memang sangatlah sehat, tetapi kita tidak tahu ke depannya. Apakah dia akan sehat terus atau tidak" kata dokter Ana.


"Jadi, sebelum hal buruk terjadi, kamu harus menjaganya. Kamu harus mengurangi kesibukan kamu di perusahaan." kata dokter Ana.


"Semua kemungkinan itu ada Ran, makanya aku meminta Frenya mengurangi kesibukannya dan meminum dengan rutin obat yang aku berikan tadi" kata Ana menjawab pertanyaan dari Rani.


Frenya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Ana. Dia sangat senang ada janin di dalam rahimnya saat ini, tetapi dengan mengurangi kegiatan di perusahaan, itu akan membuat Frenya menjadi serba salah.


"Nya" panggil Rani saat melihat Frenya termenung cukup lama saat mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Ana kepada dirinya.


"Maaf Uni" kata Frenya saat dirinya tersadar waktu Rani memanggilnya


"Aku akan membicarakan hal ini dengan Nana dulu, semoga Nana mau menjalankan perusahaan aku untuk beberapa bulan ke depan" ujar Frenya.


Frenya benar benar berharap Ghina mau membantunya di perusahaan, apalagi dengan kondisi Frenya yang seperti sekarang ini.


"Nana pasti mau Nya. Argha dan Daniel serta Juan pasti sangat mau membantu kamu. Kamu jangan cemas. Sekarang yang terpenting kamu dan janin dalam kandungan kamu tetap sehat dan aman" kata Rani berusaha meringankan beban pikiran dari Frenya.


"Frenya, ini tidak akan lama. Saat kandungan kamu masuk Tri semester ke dua, kamu boleh bekerja lagi" kata dokter Ana.


"Kita akan terus pantau kondisi kamu sekali sebulan."

__ADS_1


"Lagian yang aku minta itu bukan kamu tidak bekerja, tetapi mengurangi porsinya dan menambah porsi beristirahat untuk kamu" kata Dokter Ana menjelaskan lebih terperinci lagi kepada Frenya.


"Aku berharap juga semua obat yang aku berikan ke kamu itu bisa membantu kamu untuk menjaga kondisi kamu dan juga kondisi janin kamu" lanjut dokter Ana.


Frenya menyimak semua informasi yang diberikan oleh dokter Ana kepada dirinya. Frenya tidak melewatkan sedikitpun informasi tersebut.


"Baiklah Ana, aku rasa semua informasinya sudah cukup, terimakasih banyak atas semua bantuan dari kamu" ujar Rani.


"Sip. Dua minggu lagi Frenya harus datang lagi ke sini untuk pemeriksaan kandungan lagi" kata dokter Ana meminta Frenya untuk datang ke rumah sakit menemui dirinya agar dilakukan pemeriksaan berikutnya.


"Oke dokter, aku akan datang dua minggu lagi. Terimakasih banyak atas bantuan dari dokter Ana" kata Frenya


"Maaf tadi sambutan aku saat kita pertama kali bertemu sama sekali tidak baik. Maafkan aku sekali lagi dokter" kata Frenya menyadari kesalahannya karena tadi saat bertemu dengan dokter Ana sama sekali tidak ramah.


"Tidak apa apa Fre." ujar dokter Ana yang sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Frenya saat pertama kali bertemu tadi di ruangan Rani.


"Kalau begitu kami permisi dulu" ujar Frenya.


Frenya dan Rani berjalan keluar dari ruangan dokter Ana dengan senyum yang merekah. Mereka berdua benar benar bahagia mendengar hasil pemeriksaan dari dokter Ana.


"Nona Frenya, maaf sebelumnya. Tuan Juan tadi menghubungi saya" kata Hendri pengawal Frenya.


"Terus apa yang kamu jawab?" tanya Frenya yang kaget mendengar kalau Juan menghubungi Hendri.


"Saya katakan kalau Nona bertemu dengan Nona Rani di kantin rumah sakit" kata Hendri.


"Terimakasih Hendri. Sekarang kita langsung pulang ke mansion. Tapi singgah sebentar di supermarket dekat mansion" kata Frenya memberikan perintahnya kepada Hendri.


"Siap Nona. Saya akan mempersiapkan mobil dulu" jawab Hendri.


Hendri berlalu dari hadapan Frenya.


"Uni pulang dengan aku atau dengan Uda?" tanya Frenya kepada Rani.


"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana cara memberikan suprise ini kepada Juan dan keluarga kita yang lainnya?" kata Rani memancing Frenya untuk bisa memberikan suprise kepada keluarga besar mereka.


"Bener juga ya Uni. Tapi aku nggak ada ide uni. Apa uni ada ide?" tanya Frenya yang sekarang sedang mati ide untuk memberitahukan kepada keluarga mereka tentang kehamilan dari Frenya.


"Uni ada ide. Sini" ujar Rani membisikkan ide yang ada di otaknya kepada Frenya.


"Wow keren uni. Aku akan ikuti ide dari Uni" kata Frenya dengan semangat.


"Uni memeng terus the best" lanjut Frenya memuji Rani.

__ADS_1


"Biasa aja kali" kata Rani yang merasa kalau pujian dari Frenya terlalu berlebihan.


"Mari kita eksekusi" kata Frenya


__ADS_2