
Pagi hari selesai sarapan. Ayah mengajak seluruh keluarga di tambah dengan Paman Hendri dan istrinya untuk membicarakan soal penguntit Gina yang ternyata seorang CEO terkenal ibu kota negara I.
"Na, tumben ayah mengajak kita berkumpul na. Ada apa? sepertinya serius Na." kata Gina saat berjalan bersama Nana ke dalam ruang kerja Ayah.
"Sepertinya begitu Gin."
Mereka semua sudah berkumpul di ruang kerja Ayah. Gina yang memang bukan seorang pebisnis seperti Ayah, Nana, Afdhal dan Paman Hendri serta istrinya hanya berusaha mengikuti alur yang ada. Gina bukan tidak paham dengan yang namanya bisnis. Gina sangat paham, tapi untuk saat ini Gina belum tertarik untuk berbisnis. Gina lebih tertarik ke dunia arsitektur. Saat mereka sudah lengkap ayah membuka percakapan yang beraroma serius itu.
"Gina, Ayah hari ini benar-benar akan meminta sesuatu dari mu. Tapi bukan perjodohan. Bukan." kata Ayah yang langsung menyatakan bukan perjodohan, karena raut muka Gina sudah mulai berubah waktu ayah mengatakan benar-benar meminta sesuatu kepada Gina.
"Apa yang mau Ayah minta? Gina akan coba mempertimbangkannya."
"Gini nak. Ayah sudah tau cerita semalam. Ayah mau kamu menceritakan dari awal kenapa kamu bisa sampai berurusan dengan Tuan Muda Soepomo." Ayah mulai serius.
"Apa ayah menyalahkan ku karena kejadian semalam?"
"Bukan sayang. Ayah tidak menyalahkan mu. Ayah hanya mau tau kenapa hal itu bisa terjadi." Ayah menatap tajam mata Gina. Gina kemudian menghela nafasnya, dalam hati Gina menggerutu 'Nggak di kos. Nggak di sini kamu selalu menyusahkan aku Aris. Lihat saja. Aku akan buat kamu jatuh cinta kepadaku.' Gina sudah mengambil keputusan dia akan menceritakan semuanya kepada Ayah dan semua anggota keluarganya. Agar tidak terjadi kesalah pahaman ini.
"Ayah, Ginanakan ceritakan semuanya. Tapi Gina mau bertanya satu hal penting kepada Ayah, Nana dan Uda Afdhal." Gina menatap satu persatu wajah orang yang disebut Gina tadi. Ayah menatap Nana dan Afdhal, Ayah memberikan isyarat untuk menyetujui apa yang diminta Gina.
"Oke, Uda dan Nana setuju. Kami akan menjawab pertanyaan kamu."
"Kalau seandainya Gina membuat marah Tuan Muda Soepomo, apakah itu berdampak dengan kerjasama perusahaan?"
"Oooo. Tentu tidak sayang. Perusahaan kita tidak ada yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Soepomo." Nana menjawab, Nana tidak menyangga hal itu yang akan ditanya Gina.
"Gina, perusahaan Nana dan perusahaan Afdhal memang tidak menjalin kerjasama dengan perusahaan Soepomo. Tapi perusahaan Ayah berencana menjalin kerjasama dengan perusahaan itu." Ayah tidak mau menutupi hal apapun kepada Gina.
"Jadi, kalau Gina bermasalah dengan Tuan Muda itu, perusahaan ayah akan terganggu atau bangkrut?" Gina terkejut mendengarnya.
"Nggak. Tidak akan bangkrut. Karena kita hanya baru akan menjalin kerjasama. Dan lagian saham keluarga Soepomo tidak ada di perusahaan yang ayah pimpin. Jadi kamu tenang saja. Apapun masalah kamu dengan tuan muda itu, tidak akan mengganggu perusahaan Ayah, Nana atau Afdhal." Ayah meyakinkan kepada Gina, karena ayah tau, Gina sangat takut ada dampak kepada perusahaan.
"Sebenarnya, Gina tidak sengaja kenal dengan Aris." Gina telongsong menyebut hanya nama saja.
"Nggak apa-apa sayang. Lanjutkan saja. Buat senyaman kamu" kata Ayah yang paham kenapa Gina tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
"Jadi gini, waktu itu Gina sama Sari sedang duduk di ruang tamu kos. Aris datang mau menemui pacarnya yang juga kos di situ. Namanya Putri. Kemudian Gina panggil putri ke kamarnya. Ternyata Putri nyuruh Gina nemani Aris sampai Putri turun." Gina berusaha mengingat kejadiab berikutnya.
"Setelah itu, Gina kembali bertemu saat Gina pergi main ke mall sengan Sari dan Mira. Di mall itu Gina tidak sengaja menabrak Aris. Kemudian Aris makan dengan kami di meja yang sama."
"Pertemuan ketiga dengan Aris saat kami di kos bikin rujak. Tiba-tiba Aris mintak rujak yang sedang Gina pegang. Aris langsung memakannya dari tangan Gina." Gina berkata sambil melihatkan wajah tidak sukanya.
"Nah pertemuan berikutnya, waktu Gina mengambil baju ke butik. Disitu Gina juga bertemu dengan Aris. Pertemuan terakhir di reuni itu." Gina selesai melaporkan semuanya kepada Ayah dan keluarganya yang lain.
"Nona muda, apakah selama ini Tuan Muda Soepomo ada bertingkah aneh kepada Nona Muda?" Hendri menanyakan langsung kepada Gina.
"Setau Gina tidak ada paman yang aneh. Kecuali saat pulang reuni itu." Gina mengingat semua pertemuannya dengan Aris.
"Menurut saya Tuan Besar, sebenarnya Nona Muda sudah diikuti Tuan Muda Soepomo saat di ibu kota." Hendri menatap tajam ke mata Ayah.
"Maksud kamu?" Ayah heran dengan analisa Hendri
"Tuan Besar, tidak mungkinkan seorang Tuan Muda Soepomo makan di food court.?" kata Hendri mengemukakan analisanya.
Ayah dan Afdhal setuju dengan pendapat Hendri. Ayah kembali menatap Gina.
"Ayah semenjak kapan Gina pernah membantah perkataan ayah. Kecuali harus mengakui keberadaan Gina. Gina untuk saat ini belum siap untuk dikenal oleh orang ramai sebagai anak ayah dan nana ditambah lagi sekarang Uda makin sukses." Gina cemberut.
"Kalau sudah begitu, maka ini akan sangat gampang sayang untuk kamu jalankan."
"Apa itu ayah?"
"Kamu ayah minta sampai kerjasama ayah jadi dengan perusahaan soepomo terjalin, Aris tidak boleh tau kalau kamu anak Ayah."
"Itu gampang ayah. Gelengnyah tu. Tapi kenapa ya Yah?" Gina menatap heran ke ayah.
"Karena kita tidak tau motif Aris mendekati kamu apa nak. Ntah niatnya baik atau niatnya jahat."
Gina yang paham apa yang dikatakan ayah. Langsung setuju untuk tidak akan memberitahukan Aris baik sengaja atau tidak tentang siapa dirinya. Gina memiliki ide di kepalanya.
"Ayah, lebih baik sekarang Gina kembali saja ke ibu kota karena kalau Gina di sini Aris pasti akan menyuruh mata-matanya mengikuti Gina." kata Gini memberikan solusi.
__ADS_1
Semua yang hadir rapat terdiam. Tiba-tiba istri Hendri angkat bicara.
"Kalau Nona muda ke ibu kota, sedangkan kegiatan perkuliahan tidak akan menambah kecurigaan Aris. Bagaimana kalau Nona Muda berlibur saja ke kampung saya?" kata Istri Hendri.
"Nana lebih setuju dengan hal itu. Kamu temani Gina aja Meri." kata Nana meminta asisten pribadinya menemani Gina.
"Tapi kalau tante Meri dengan Gina, Nana kerja sama siapa?"
"Tenang saja sayang, Ayah, Uda dan Paman Hendri ada yang akan menolong Nana. Jadi kamu tidak perlu khawatir dengan Nana." Nana meyakinkan Gina untuk pergi bersama Meri.
"Gimana Gin? Kamu maukan untuk sementara waktu tinggal di kampung tante Meri?" kata Afdhal.
"Oke uda Gina setuju saja. Tapi sampai kapan uda?"
"Paling lama hanya dua puluh hari sayang. Kalau para pengawal Aris tidak melihat kamu lagi. Maka Aris tidak akan berusaha mencari tau siapa kamu lagi." kata Ayah meyakinkan Gina.
"Baiklah Ayah dua puluh hari. Dalam waktu dua puluh hari kerjasama ayah sudah ada keputusannyakan yah?" kata Gina.
"Sudah sayang. Ha jadi aku nggak perlu ngungsi gara-gara diikuti orang." Gina tersenyum senang. Kalau demi perusahaan ayahnya Gina rela pergi, tapi kalau hanya sembunyi dari orang Gina tidak mau.
"Oke kita sudah sepakat kamu akan pergi ke kampung tante Meri besok jam satu malam. Saat kota tertidur." Ayah tidak mau sampai ada yang melihat Gina, makanya ayah meminta Gina untuk berangkat jam satu malam. Rapat mendadak itu langsung ditutup ayah dengan kesimpulan Gina ke kampung meri.
Gina tersenyum simpul, lihat saja kamu Aris aku akan buat perhitungan dengan mu. Kamu membuat aku liburan harus terpisah dengan keluargaku. Suatu saat kamu akan aku buat berpisah dengan keluargamu.
Semua orang kembali ke kegiatan masing-masing. Paman Hendri dan Tante Meri ijin untuk pulang ke rumah mereka. Tante meri akan menyiapakan beberapa baju untuk dibawanya ke kampung.
Gina dibantu mama juga menyiapkan barang-barang yang akan dibawa Gina berlibur ke kampung Meri. Nana yakin Gina akan betah disana, karena kampung Meri begitu indah dan banyak tempat yang bisa mereka jelajahi. Gina tidak rau bahwasanya kampung Meri juga merupakan kampung Mira teman kosnya.
...----------------...
Apa yang akan dilakukan Gina di kamoung Meri dengan sahabatnya Mira?????
Apa yang akan dilakukan Aris, untuk mengetahui siapa Gina sebenarnya????
Pantengin terus novelku ya kakak. Dan tolong tinggalkan jejaknya kakak.
__ADS_1