Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bali #1


__ADS_3

Aris yang sudah terlalu letih karena seharian mengendarai mobil mencari keberadaan Gina (yang ternyata Gina berada di rumah Aris sendiri), langsung saja melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi untuk sampai cepat di rumah. Aris bener bener ingin menikmati tidurnya, Aris ingin melepas rasa panik yang dialaminya seharian ini. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Aris sampai juga akhirnya di rumah utama. Aris memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, Aris masuk kedalam rumah, ternyata di ruang keluarga Aris sudah ditunggu oleh Papi dan Mami. Sedangkan Bram berdiri dipojokan sambil memainkan ponselnya. Mereka ingin mendengar cerita sebenarnya.


"Ris duduk!" kata Papi dengan dinginnya.


Aris duduk di kursi di depan papi. Aris tau dia akan menghadapi interograsi kedua orang tuanya dengan panjang lebar. Aris harus menghadapi dengan tenang dan tidak dengan emosi.


"Ceritakan yang terjadi"


Aris menatap Bram. Bram mengangkat kedua bahunya.


"Jadi begini pagi tadi aku jemlut Gina ke rumah ngantar dia ke kampus. Sampai kampus kiranya Gina dibully seniornya karena memiliki hubungan dengan Aku, sudah aku selesaikan. Nah saat aku udah meeting, kiranya dosenoembimbingnya lagi yang maki maki Gina. Masalah ini diselesaikan oleh Bram. Pas udah sore mereka pergi ke mall, aku menyusul setelah itu. Gina belanja, aku ngasih tau, eeee kiranya dia marah. Langsung kabur." kata Aris.


"Kamu ngasih tau nya dengan cara baik baik atau emosian?" Mami menatap tajam Aris.


"Gina pasti udah cerita kan Mi. Jadi ngapain lagi mami nanyak" jawab Aris ketus.


"Nggakm Gina nggak cerita apapun pas dia ke sini tadi." jawab Mami.


"Terus Mami tau Gina kabur dari siapa? Jangan ngomong dari....." Aris menatap tajam ke arah Bram.


"Tamat riwayat gua." kata Bram lirih.


"Aris Putra Soepomo, jawab." kata Mami dengan penekanan dan penuh emosi.


"Dengan emosi mi. Aris panik dan letih siap meeting Mi. Aris tidak yangka galau Gina akan marah kayak gitu." jawab Aris sambil menundukkan kepalanya. Aris tidak berani menatap ke arah mami yang marah.


"Aris, Mami tidak pernah mengajarkan kamu untuk kasar sama anak perempuan siapapun itu. Apalagi dengan orang yang kamu cintai. Mami kecewa dengan sikap kamu Aris." kata Mami sambil berlalu menuju kamarnya diikuti papi.


"Mi, tunggu Mi." Aris menahan tangan Mami.


"Aris udah minta maaf kepada Gina. Gina juga menyadari kesalahannya, Aris juga menyadari kesalahan Aris mi. Mamk jangan marah sama Aris, mi." Aris terus menggoyang tangan mami.


"Aris, mami minta sama kamu jangan pernah lagi kamu menyakiti hati Gina lagi. Kamu bisakan ngomong dengan baik baik. Tidak dengan emosi. Kamu bisa kan membedakan antara urusan kantor dengan urusan pribadi?" Mami menatap tajam ke mata Aris.


"Aris janji Mi. Aris akan berusaha mengubah cara komunikasi Aris dengan Gina Mi. Aris janji Mi. Jangan marah lagi ya Mi." Aris terus memohon kepada Mami.


"Aris, Mami tidak marah. Mami cuma kecewa, tetapi setiap kesalahan perlu perbaikan, mami harap kamu mau memperbaikinya." kata Mami dengan penuh harap.


"Aris akan memperbaikinya mi" jawab Aris.


Mami dan Papi meninggalkan ruang tamu dengan perasaan bahagia karena Aris mau mengubah cara berkomunikasinya dengan Gina. Semoga saja Aris tidak ingkar janji seperti yang sudah sudah.


Aris kemudian melihat Bram yang sedang memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


"Bram." panggil Aris dingin.


"Gue pas pulang, Mami langsung nanyak, ada masalah apa loe sama Gina. Loe tau lah gaya mami kalau ada maunya, loe aja nggak bisa nolak, apalagi gue." Bram membela dirinya dari amukan Aris.

__ADS_1


"Terus?"


"Terus gue ceritakan semuanya. Terus kata Mami ke gue dasar Aris katanya player ternyata cemen ditinggal kabur aja panik." Bram mengatakan apa yang diucapkan mami tadi kepada Aris.


"Serius loe Mami ngomong kayak gitu?"


"Seriuslah masak boong gue ke loe nya." kata Bram.


"Loe tau nggak Bram kemana Gina kabur?" Aris melemaskan tubuhnya agar rileks kembali.


"Tau ke sini kan?"


"Yup. Kesel nggak tuh. Padahal tadi rencana gue yang mau ngamuk ke papi dan mami karena mereka tidak ngasih kabar ke gue kalau Gina datang. Eee kiranya mereka duluan yang ngamuk ke gue."


"Mereka semen padang Ris."


"Yup. Gue ke kamar dulu Bram ngantuk. Rontok rasa badan gue."


"Bareng Ris, gue juga ngantuk plus capek berat." jawab Bram.


Mereka kemudian naik ke lantai dua. Bram langsung masuk ke alam mimpi. Sedangkan Aris pergi membersihkan badannya dulu, setelah itu Aris langsung masuk ke alam mimpinya.


...----------------...


Hari yang ditunggu tunggu oleh Gina dan kedua sahabatnya akhirnya datang juga. Mereka bertiga ditambah dengan Aris, Bram, Bayu dan Afdhal akan pergi berlibur, merehatkan otak dan badan mereka yang lelah. Mereka berencana akan weekand di Bali.


"Huf. Memanglah ya." kata Gina sambil mengeluarkan nafasnya dengan kasar.


"Sabar Gin. Itu cobaan karena punya pacar tampan dan sukses." kata Mira.


"Emang loe santai Mir?" tanya balik Gina.


Mira kemudian menggeleng. " Berusaha unthk santai aja Gin lebih tepatnya." jawab Mira.


"Udah lama sayang?" kata Aris sambil memeluk pinggang Gina dengan sebelah tangannya yang tidak memegang koper.


"Baru tiga puluh menit." jawab Gina sambil tersenyum.


Aris tau Gina sedang kesal, tapi Aris tidak mau memancing keributan. Aris diam saja tidak membalas ucapan Gina.


"Gimana Bram? Ready?" tanya Aris ke Bram yang baru siap mebghubungi seseorang.


"Aman Ris. Kita bisa berangkat sekarang." jawab Bram.


Gina yang sadar belum beli tiket langsung menjadi gelisah. Aris yang memperhatikan kegelisahan Gina merasa heran sendiri.


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Hon, aku lupa beli tiketnya." jawab Gina dengan wajah penuh penyesalan.


"Nggak perlu tiket Hon. Kita berangkat naik pesawat keluarga. Jadi kamu nggak butuh tiket. Tapi......"


"Tapi apa?"


"Tapi ada saratnya."


"Apaan?" Gina penasaran dengan apa alasan Aris sebenarnya.


"Saratnya adalah kamu tidak boleh jauah dari aku selamandi Bali."


"Mandi, tidur dan pasang pakaian nggak mungkin ada kamu kan sayang."


"memang nggak sayang. Nanti saat akan melakukan yang tiga itu kita pisah. Dosa sayang kalau kita mandi dan tidur bareng." kata Aris sambil tersenyum.


"Tapi sayang, mandi dan tidur bareng itu pasti enak sayang. Kita coba yuk sayang" canda Aris ke Gina.


"Boleh sayang, tapi lubang masuknya tempat kunci pintu yang bolong itu aja." kata Gina kepada Aris.


Tak terasa mereka sudah di dalam jet pribadi milik Soepomo grub. Mereka akan menikmati perjalanan selama kurang lebih dua jam penerbangan.


"Bram, Dion sudah kamu hubungi?"


"Sudah Ris. Dia akan mendarat setengah jam lebih dulu dari kita. Jadi dia akan menunggu kita di bandara saja"


Gina menyimak apa yang dibicarakan Aris dengan Bram. Gina penasaran dengan sosok Dion.


"Sayang, siapa Dion?"


"Direktur perusahaan di negara F. Perusahaan di sana sedang ada polemik. Nanti aku jelasin. Oke. Tidak di pesawat." kata Aris saat melihat raut wajah ingin tahu Gina.


"Oke Sip."


Gina dan kedua sahabatnya sibuk ngerumpi. Sedangkan para lelaki sibuk berbicara bisnis.


"Katanya mau liburan tanpa bisnis. Mana ada." kata Mira sambil menantap keempat pria yang sedang serius jtu.


"Di pesawat biarin aja Mir. Nanti sampe Bali kalau seharian bicara bisnis. Siap siap aja Aris gue diamin lagi."


"Gue setuju. Atau kita aja bertiga yang jalan jalan. Mereka biarkan saja." ajak Mira.


"Gue lebih setuju." jawab Gina dan Sari serempak.


Akhirnya setelah menempuh penerbangan selama dua jam. Pesawat pribadi keluarga Soepomo.mendarat dengan mulus di Bandara ngurah rai Bali. Semua penumpang turun. Mereka akan menikmati liburan selama dua hari. Liburan tanpa pekerjaan. Kecuali bagi Aris, Bram dan Dion, malam hari mereka akan membicarakan tentang Perusahaan Z yang ingin mengusik perusahaan Soepomo di negara F.


Semua rombongan langsung menuju Villa keluarga Soepomo yangbterletak di daerah pegunungan dengan hawa yang sejuk dan nyaman.

__ADS_1


Sesampainya di Villa. Semua perempuan mereka satu rumah. Begitu juga dengan laki laki juga satu rumah. Tapi dengan letak yang berdekatan dan kolam renang yang terpisah.


__ADS_2