Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Uangkapan Penyesalan Aris


__ADS_3

"Kamu yakin akan membuka semua pesan dalam ponsel kamu itu Gin?" tanya Sari kepada Gina.


"Yakin, aku akan membaca semua pesan itu" kata Gina sambil membuka pesan yang dikirim oleh orang-orang di rumah keluarga Soepomo.


"Gue akan mulai dari panggilan suara dulu" lanjut Gina kepada Sari. Dia tidak ingin membaca pesan. Dia akan mendengarkan pesan suara saja.


Gina mulai mendengarkan pesan suara dari Mami. Gina harus menguatkan hatinya untuk mendangar suara salah satu orangtua yang sangat disayanginya.


"Gina sayang, pulanglah nak. Mami dan Papi menunggu kamu sayang. Kami berdua meminta maaf yang sebesar besarnya terhadap kesalahan yang diperbuat oleh Aris sayang. Pulanglah nak, kami menunggumu. Rumah terasa sangat sepi tanpa adanya kamu. Papi dan Mami tidak bisa menikmati makanan, kami memikirkan kamu dan cucu kami nak. Kami ingin merawat kamu selama masa kehamilan kamu" Mami terdengar menarik napasnya. Mami menenangkan kembali perasaannya.


"Pulang ya sayang. Kalau kamu tidak mau melihat dan serumah dengan Aris. Kamu akan bisa tinggal di rumah baru untuk kamu sayang. Pulang ya sayang. Gina, Mami berangkat dulu ya nak. Papi dan Mami akan bekerja dulu. Bram dan Aris harus mencari kamu dulu ya sayang, kan tidak mungkin perusahaan menjadi kosong pimpinan. Kamu disana harus hati hati ya nak"


Gina kemudian menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya.


"Sabar Gin. Kalau nggak kuat nggak usah kamu paksakan untuk mendengar panggilan suara dulu. Lebih baik kamu membaca semua pesan yang masuk saja" kata Sari memberikan saran kepada Gina. Gina kemudian mengusap air matanya.


"Aku akan membaca pesan saja. Aku nggak sanggup mendengar pesan suara lagi" kata Gina yang langsung membuka aplikasi pesan di ponselnya.


Gina membuka aplikasi pesannya. Ternyata semua pesan yang masuk ke ponsel Gina, semua berasal dari Aris, tidak ada dari yang lain. Walaupun Aris memakai nomor yang berbeda, tetapi tetap yang mengirim adalah Aris.


Gina membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Aris kepada dirinya. Semua pesan yang dikirim itu semuanya berisikan hal yang sama. Aris meminta maaf kepada Gina. Aris yang sudah menyesali semua perbuatannya kepada Gina. Aris yang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Aris yang selalu merindukan Gina disetiap apapun pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh dirinya. Aris yang selalu melihat bayangan Gina di setiap sudut rumahnya. Aris yang mengatakan kangen dengan anak mereka. Semuanya berisi penyesalan Aris. Gina sampai bosan membaca semua pesan yang dikirim oleh Aris kepada dirinya.


Aris yang sedang duduk menatap ke kolam renang yang ada di taman belakang rumah langsung melihat ponselnya ternyata semua pesan yang dikirimnya ke Gina sudah terkirim dan sudah centang biru tanda sudah dibaca oleh Gina. Aris kemudian menghubungi nomor Gina. Aris menunggu panggilan itu diangkat sambil mondar mandir di balkon kamarnya. Aris sudah tidak sabar ingin mendengar suara wanita yang paling dicintainya itu.


"Sayang, ayo angkat sayang. Angkat panggilan telpon dari diriku sayang." kata Aris sambil menatap tajam ponselnya. Ingin rasanya Aris menelan ponsel itu bulat bulat.

__ADS_1


Aris kembali menghubungi ponsel Gina. Dia sangat berharap Gina mengangkat panggilan telpon dari dirinya. Gina dan Sari yang sedang berkemas saling menatap. Dugaan Sari memang benar, Aris akan langsung menghubungi Gina saat semua pesan dari dirinya dibaca oleh Gina.


" Benerkan kata Gue. Udah angkat aja Gin." kata Sari.


"Sekarang?"


" Iya sekarang, Jadi nanti saat kita kabur dari sini, dia tidak bisa melacak keberadaaan kita lagi. Urusan membereskan barang, serahkan ke gue saja." kata Sari.


"Sip" jawab Gina.


"Tapi load speaker ya. Gue mau denger nada penyesalan dari seorang CEO yang paling hebat itu" kata Sari sambil tersenyum mengejek.


"Oke siap" kata Gina.


Aris kembali menghubungi ponsel Gina. Aris sangat berharap panggilan kali ini Gina akan menerima panggilannya. Gina yang memang sudah menunggu panggilan dari Aris, langsung mengangkat panggilan telpon itu, dia tidak mau panggilan itu berakhir lagi.


"Sayang aku tau kamu pastiĀ  marah, kecewa dan tidak akan pernah bisa memaafkan aku sayang. Tapi tolonglah aku sayang, berbicaralah kepadaku sayang. Aku sangat mencintaimu sayang. Tolong maafkan aku sayang. Berbicaralah kepadaku sayang." kata Aris berusaha membujuk Gina untuk mau berbicara kepada dirinya.


"Sayang aku tau kamu marah, tapi aku mohon sayang, berbicaralah walau hanya satu kata. Aku butuh mendengar suara kamu sayangku" kata Aris dengan memelas kepada Gina. Aris sangat ingin mendengar suara Gina. Dia rindu mendengarnya.


Gina hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Aris. Dia sama sekali tidak peduli dengan ucapan Aris. Gina masih menahan rasa kasiannya kepada Aris. Gina tidak ingin terlihat lemah di mata Aris. Aris harus tau kalau semua yang diperbuatnya kepada Gina itu sangat membuat Gina sakit hati dan kecewa.


"Sayang bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Aris kepada Gina.


Gina tetap tidak menjawab semua pertanyaan dari Aris. Gina hanya diam saja, Gina tetap dengan mode diamnya. Aris tau dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Gina.

__ADS_1


"Sayang, aku minta kamu mendekatkan ponsel kamu ke perutmu sayang." kata Aris mengutarakan permintaannya kepada Gina. Aris berharap Gina melakukan semua yang diminta dirinya.


Gina kemudian meletakkan ponsel tersebut ke perutnya. Dia tidak ingin Aris kecewa. Dia tau Aris pasti sangat sayang dengan anaknya. Aris tidak mungkin akan mengecewakan anaknya.


"Sayang, ini Papa nak. Papa minta maaf kepada kamu sayang. Papa tidak bisa menjaga kamu untuk saat ini. Papa janji sayang Papa akan menemukanmu dengan Nana secepatnya. Papa akan mengurus dirimu lagi. Untuk sementara tolong Papa untuk menjaga Nana ya sayang." kata Aris sambil mengusap air matanya yang jatuh.


Bram yang melihat Aris menangis langsung tau siapa yang sedang dihubunginya. Bram langsung mengambil ponselnya. DIa melacak keberadaan Gina melalui ponsel Gina yang sedang aktif. Bram memencet kaybord laptopnya dengan sangat cepat. Memasukkan angka angka dan huruf huruf dengan gerakan cepat.


"Sayang, jangan rewel ya nak. Jangan buat Nana susah di sana. Papa jauh dari kalian berdua sayang. Jadi Papa mohon kamu jangan rewel, jangan buat Nana menjadi lemah ya nak. Kamu harus janji kepada Papa sayang." kata Aris sambil mengusap air matanya yang sudah jatuh dengan deras. Aris sudah tidak bisa lagi menahan air matanya turun.


Gina yang mendengar semua yang dikatakan oleh Aris langsung menangis. Tapi dia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh Aris. Gina yang sudah tidak kuat langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Aris. Gina langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia membasuh mukanya. Dia tidak ingin semua ucapan Aris menjadi beban dalam hidupnya.


"Gin, apa kamu oke?" tanya Sari yang sudah berdiri di pintu kamar mandi.


"Aku oke Sar" jawab Gina.


"Gin, gimana kalau kita bergerak sekarang. Aku cemas kalau sekarang Aris sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Kamu tau kan Aris bisa melakukan apa saja."


"Iya, mari kita jalan. Semua barang sudah selesai dikemas kan?"


"Sudah, semua sudah selesai di kemas" jawab Sari.


Aris yang melihat Bram menutup laptopnya langsung menuju Bram.


"Gimana dapat posisi Gina?" kata Aris.

__ADS_1


"Dapat. Kita jalan sekarang." kata Bram kepada Aris.


Bram dan Aris langsung saja berlari menuju pintu rumah utama. Tetapi di sana ternyata sudah berdiri Afdhal dan Tuan Wijaya dengan wajah menahan marah.


__ADS_2