
Setelah memastikan Papi sudah meninggalkan rumah utama. Ghina kemudian pergi ke kamar. Dia akan menukar pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai Ghina saat dia ke markas.
Tok tok tok.
"Nyonya permisi, Nyonya Mira sudah ada di bawah." ujar Bik Ina memberitahukan kedatangan Mira.
"Baik Bik. Saya akan turun." ujar Ghina.
Bik Ina kembali menuju ruang tamu.
"Nyonya Ghina akan turun sebentar lagi Nyonya." ujar Bik Ina menyampaikan pesan dari Ghina.
Ghina kemudian turun dari kamar.
"Ayok berangkat" ujar Ghina.
"Bik Ina, Saya keluar dulu. Nanti kalau Argha pulang, suruh dia istirahat." ujar Ghina menitip pesan kepada Bik Ina.
"Baik Nyonya." jawab Bik Ina.
"Mobil gue atau mobil loe?" ujar Mira.
"Mobil loe ajalah. Lebih enak. Mobil barukan?" ujar Ghina.
"Hahahahaha. Mobil baru rampas dari Aris yang Bayu menang taruhan." ujar Mira.
"Hahahaha. Jadi mobil Aris loe bawa. Gue kira mobil baru yang hadiah ulang tahun loe bawa." ujar Ghina.
"Mana ada."
Ghina dan Mira kemudian masuk ke dalam mobil. Mira melajukan mobil menuju markas gank black jack. Markas yang terletak di tengah kota dengan dikamuflase dengan ruko ruko yang berjejer tinggi di depan markas genk black jack.
"Emang loe tau dimana markas mereka?" tanya Ghina yang sama sekali belum pernah ke sana.
"Nggak. Tapi mobil ini kan mobil pintar. Pasti dia udah merekam dimana letak markas itu." ujar Mira.
Ghina mulai mencari di map mobil. Ternyata letak markas memang sudah di tandai. Ghina mengaktifkan moda gps mobil. Mira tinggal mengikuti perintah yang diucapkan seorang perempuan cantik dari speaker mobil.
"Emang mau loe apain mereka nanti Mir?" tanya Ghina.
"Nggak ada. Gue cuma nengok doang." jawab Mira yang memang belum memiliki ide mau berbuat apa kepada semua pencuri itu.
"Mereka cukup berani membuat masalah dengan kita. Apa mereka nggak tau bagaimana kalau kita udah marah? Bener bener nggak habis pikir gue." ujar Ghina sambil menatap jauh ke depan.
"Itulah. Mereka kayak kekurangan. Heran." ujar Mira.
Mira melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Jadi habis ini kita ke rumah sakit."
"Yup. Gue kangen Sari. Udah seminggu gue nggak ada ke sana." ujar Ghina.
"Gimana hubungan Ayah dengan Kak Bram?"
"Masih sama. Masih perang dingin. Ayah terlihat memang sudah memaafkan tetapi belum bisa menerima keadaan." ujar Ghina.
"Gue berharap Ayah dan Kak Bram bisa mengendalikan diri mereka lagi. Nggak mungkin rasanya lama lama seperti saat ini."
__ADS_1
"Kita hanya bisa berharap Mir. Semoga Ayah dan Kak Bram bisa mencari jalan keluar yang terbaik bagi hidup mereka." ujar Ghina.
Mobil mulai memasuki daerah elit ibu kota. Mira menatap heran lokasi tersebut.
"Ghin, apa kita nggak salah ne. Masak iya di sini tempatnya?" ujar Mira yang tidak yakin dengan map.
"Kalau menurut map bener. Nggak ada yang salah. Tapi gue juga ragu, masak gank black jack mendirikan markas mereka di sini." ujar Ghina yang juga ragu.
"Ikuti aja Mir. Salah bener nanti kita hitung." ujar Ghina.
"Telpon mereka berdua gimana?" Mira mengusulkan sesuatu yang rada tidak mungkin kepada Ghina.
"Ogah. Nanti kita di bully sama mereka berdua. Loe kayak nggak tau mulut mereka aja." ujar Ghina.
"Gue nggak mau ambil resiko." lanjut Ghina yang sudah bisa membayangkan bagaimana mulut Aris atau Bayu mengejek mereka nanti.
Map mobil berhenti tepat di sebuah gank yang membelah dua buah ruko. Mira menatap ke arah gank itu. Dia terlihat ragu.
"Lanjut atau mundur?" tanya Ghina.
"Lanjut." jawab Mira.
"Keren" balas Ghina.
Mobil mewah berwarna hitam itu masuk ke dalam gank. Pintu pagar tinggi terbuka dengan sendirinya. Mira menatap ke pagar yang terbuka otomatis itu.
"Batu yakin gue ini bener markas mereka." ujar Mira.
"Hahahahaha. Dasar loe." ujar Ghina.
Mobil masuk terus ke dalam sejauh dua ratus meter. Setelah melewati deretan rumah mewah, barulah mereka melihat sebuah bangunan putih besar dengan gaya eropa.
"Selamat datang di markas gank black jack Nyonya. Kami sudah menunggu kedatangan Nyonya. Perkenalkan nama saya Rudi." ujar Rudi memperkenalkan dirinya.
"Baiklah Rudi, terimakasih atas sambutannya. Saya Ghina, istri Tuan Aris. Sedangkan ini sahabat saya Mira, istri Tuan Bayu." ujar Ghina memperkenalkan diri mereka berdua.
"Mari masuk Nyonya. Apa Nyonya mau langsung ke sel atau bagaimana?" tanya Rudi.
"Langsung saja Rudi. Apa mereka masih dalam keadaan sehat?" tanya Mira.
"Masih dalam keadaan sehat Nyonya." jawab Rudi.
"Baik, kita akan langsung kesana."
Ghina dan Mira mengikuti langkah kaki Rudi menuju sel tempat ketiga pencuri di penjara. Mira benar benar penasaran dengan siapa orang orang yang berani berbuat seperti itu kepada mereka.
Setelah berjalan masuk ke dalam markas. Ghina dan Mira sampai di depan sebuah sel bawah tanah yang memiliki suasana suram dan gelap. Bener bener sel yang mengerikan.
Pengawal yang bertugas membukakan pintu sel.
"Nyonya berani ke dalam?" tanya Rudi yang ternyata tidak paham dengan sepak terjang ketiga wanita tangguh keluarga Soepomo dan Wijaya.
"Anda bisa menemani?" tanya Mira.
"Bisa Nyonya." jawab Rudi.
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam sel. Ghina dan Mira memandang sel milik gank ini yang ternyata belum sekejam milik mereka.
__ADS_1
"Ini selnya Nyonya." ujar Rudi.
Rudi membukakan pintu sel untuk Ghina dan Mira. Tiga orang pengguni sel yang sudah sadar dari pingsan mereka menatap kearah pintu yang terbuka. Mereka bertiga tersenyum saat melihat yang masuk adalah Mira.
"Hay, pagi." ujar Mira menyapa ketiga pencuri itu.
"Bisa kita berbicara?" tanya Mira lagi.
"Bisa Nyonya. Nyonya tolong lepaskan kami. Kami tidak akan berbuat jahat lagi Nyonya. Kami sadar kami salah Nyonya." ujar Manager keuangan.
"Oh masalah lepas melepas itu masalah gampang. Tapi saya ingin melihat kembali keberanian kalian saat mencuri di kafe kami." ujar Mira dengan dingin.
Aura kekejaman mulai muncul di ruangan. Kata kata yang dikeluarkan Mira tidaklah mengerikan tetapi cukup membuat siapa saja menjadi ciut nyalinya kalau tau bagaimana Mira menindak musuh musuhnya.
Mira mengeluarkan sebuah kotak dari tas punggung yang dari tadi di pakainya saat turun mobil. Mira mengeluarkan tiga botol cairan. Ghina sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Mira.
"Hahahahahaha. Jadi loe akan menyiksa mereka dengan obat ini?" tanya Ghina sambil melihat salah satu botol yang ada di depannya.
"Yup. Kapan lagi ini akan terpakai. Semua orang berpikir keras untuk bisa melawan kita. Sedangkan mereka dengan seenaknya mengusik kita." ujar Mira.
"Oke eksekusi aja. Mereka kan kegantung itu. Jadi murahlah untuk mengeksekusinya." ujar Ghina.
Mira memasukkan obat otu kedalam alat suntik. Dia kemudian menyuntikkan obat itu ke ketiga pencuri. Setelah selesai, Mira mambuang bekas tempat obat dan alat suntik ke dalam keranjang.
Rudi yang melihat hanya diam saja. Dia sama sekali tidak mendapat gambaran apa reaksi dari obat yang disuntikkan Nyonya Mira tadi. Rudi juga luar biasa penasaran.
Ghina dan Mira duduk di kursi yang ada di dalam sel. Mereka akan menunggu reaksi dari obat tersebut.
Mereka menunggu sekitar lima menit. Tepat lima menit kemudian reaksi obat mulai timbul. Ketiga pencuri mulai terlihat resah. Badan mereka mulai gatal gatal yang tidak bisa mereka tahan lagi.
"Nyonya gatal Nyonya." ujar sekretaris.
"Gatal?? Kok saya nggak merasa ya." jawab Mira dengan santai.
"Nyonya gatal sekali." ujar sekretaris.
Ghina dan Mira hanya diam saja. Mereka berdua tidak lagi menggubris apa yang dikatakan oleh para penculik. Rudi melihat semua itu dalam diam. Dia tidak menyangka Nyonya ini lebih kejam dari pada Bayu. Tetapi melakukan permainan dengan cantik.
"Ayuk kuta pergi. Gue mau ke rumah sakit." ujar Mira.
"Silahkan menikmati. Efeknya dua kali dua puluh empat jam." ujar Mira.
"Hah? Gila loe Mir." ujar Ghina.
"Itu masih baek gue Ghin. Loe nggak kebayang berapa lama Bayu ngumpulin duit yang mereka curi dengan segala file filenya." ujar Mira.
"Lanjutkan. Gue setuju." ujar Ghina.
"Rudi, makasi. Kami pergi dulu. Reaksi obat akan hilang dalam dua puluh empat jam." ujar Mira.
"Baik Nyonya." jawab Rudi.
"Kalau mereka tidak tahan dengan gatalnya. Lepaskan saja ikatan mereka. Nanti setelah itu baru ikat lagi." ujar Mira.
"Baik Nyonya."
Ghina dan Mira kembali naik ke atas mobil mereka. Mereka kemudian menuju rumah sakit tempat Sari di rawat.
__ADS_1
"Gue kira, markas kita yang keren tempatnya. Ternyata mereka lebih keren." ujar Ghina.
"Mereka hebat dalam kamuflasenya." jawab Mira..