
Jadi Ris, gue kan nggak denger cerita tentang Mami itu saar Papi cerita. Sebenarnya Mami itu Mami kandung loe atau nggak?" Bayu menanyakan apa yang selama ini mengganjal di perasaannya.
Saat Papi menceritakan semuanya, Bayu dan Mira memang tidak ada di rumah utama saat itu. Argha yang sudah tau cerita sebenarnya juga ikut menyimak apa yang akan dicaritakan oleh Daddynya kepada Bayu.
"Benar Bay, Mami yang selama ini kita kenal sebagai orang tua kandung gue ternyata bukanlah ibu kandung gue" ujar Aris mulai menceritakan kepada Bayu.
"Malahan dialah yang menjadi dalang kecelakaan yang mengakibatkan Mami kandung gue meninggal." lanjut Aris.
"Serius loe???" ujar Bayu yang tidak menyangka orang yang selana ini dikiranya orang baik ternyata oh ternyata.
"Yup, kamu sendiri kan denger waktu kita melakukan penyergapan saat menyelamatkan Sari." ujar Aris yang heran Bayu sampai sebegitu kagetnya mendengar apa yang dikatakan oleh Aris.
"Tega banget tu orang ya. Menghabisi nyawa orang lain tanpa adanya perasaan bersalah. Malahan siap itu masuk lagi ke keluarga korban. Emang dasar psikopat tu orang." ujar Bayu dengan emosi.
"Tulah Bay. Gue nggak habis pikir dengan dia. Kenapa kok bisa ya setega itu ke kami." ujar Aris sambil menunduk.
"Daddy, motif nenek lampir itu jelas. Dia ingin cepat kaya dengan cara instans. Sebenarnya ya Daddy, kalau Argha perhatikan dan Argha analisa dari semua kejadian, sepertinya Nenek lampir itu tujuannya ingin membunuh Daddy dan Mami. Tapi sayangnya Daddy masih hidup." ujar Argha.
"Kok bisa gitu Gha?" tanya Aris yang tertarik dengan cerita Argha.
"Iyalah Daddy. Kalau Daddy dan Nenek meninggal, maka Atuk akan setress. Saat Atuk setress dia masuk ke dalam kehidupan Atuk dan mengambil semua harta milik Atuk dengan cara dia sendiri." ujar Argha dengan yakin.
Aris dan Bayu terdiam. Tak berapa lama Ghina dan Mira datang bersamaan. Mereka berdua menuju tempat Suami dan Anak mereka berada.
"Sayang" sapa Ghina sambil mencium pipi Aris.
Mira melakukan hal yang sama kepada Bayu dan Anak perempuannya.
"Gha, Mami Mira bisa kiss Bree. Kenapa Bunda nggak bisa kiss Argha?" tanya Ghina sambil menatap anaknya dengan harapan Argha akan memperbolehkan Ghina untuk menciumnya.
"Hahahahaha. Ya nggak lah Bun. Mana mau Argha dicium. Bunda cukup cium Daddy aja." jawab Argha yang memang sudah meneguhkan hatinya untuk tidak dicium dan mencium orang lain.
"Yelah." jawab Ghina dengan sedikit merasa kesal dengan jawaban anak laki lakinya itu.
"Sayang, tadi dari jauh aku melihat, bertiga berdiskusi hangat. Diskusi masalah apa?" ujar Ghina bertanya kepada ketiga pria dan satu wanita yang tadi terlihat sangat asik mengobrol dari jauh.
"Ini sayang. Argha tadi mengatakan kalau menurut analisa dia, target pembunuhan nenek lampir itu sebenarnya aku target utama dan target kedua adalah Mami. Tapi sayangnya hanya Mami yang meninggal." ujar Aris memberitahukan apa yang dikatakan oleh Argha tadi.
Ghina terdiam. Dia menganalisa semua kejadian itu. Mulai dari pembunuhan sampai Nenek lampir yang bisa masuk ke dalam keluarga Soepomo.
"Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh Argha sayang. Kita sama tau kan ya bagaimana sayangnya Papi kepada dirimu. Jadi nenek lampir itu memang targetnya membunuh kamu, setelah kepergian kamu, tentu Papi langsung down. Nah dia masuk saat itu. Bener bener licik tu manusia." ujar Ghina dengan geram.
"Kita buat perhitungan aja lagi Ghin. Kalau Aris yang buat perhitungan nanti dia akan dikatakan sebagai anak tidak tau terimakasih. Maka lebih baik kamu atau aku yang ekssekusi." ujar Mira kepada Ghina.
__ADS_1
"Setuju gue. Biar gue yang ekssekusi. Biar dia merasakan sakit saat kehilangan anak yang di sayang. Dasar manusia nggak tau terimakasih." ujar Ghina dengan nada sinis.
Aris melihag sisi kejam Ghina sudah kembali. Dia tidak mau Ghina semakin memiliki rasa tidak belas kasihan kepada orang lain.
"Sayang, jadi gimana dengan acara pernikahan Bram?" tanya Aris berusaha mengalihkan perhatian Ghina.
"Kamu mau mengalihkan perhatian aku sayang? Tapi nggak apa juga. Nggak masalah." ujar Ghina yang tau maksud Aris yang mengubah haluan pembicaraan.
"Hahahahahaha" Aris tertawa mendengar perkataan Ghina.
"Acara pernikahan dan resepsi Kak Bram dan Sari tetap berjalan seperti biasa. Acara akan diadakan di komplek perumahan Soepomo Grub. Untuk segala pernak perniknya sudah ada event organizer yang mengurus. Sedangkan untuk menu makanan nah itu dia. Rencana aku mau minta sama kak Bayu untuk menghendle makanannya. Bagaimana kak?" ujar Ghina menanyakan kebersediaan Bayu untuk menyediakan makanan untuk pesta pernikahan dan resepsi Bram dam Sari.
"Oke sip. Aku dan Mira yang akan menanggung semuanya. Jadi nggak usah bayar." ujar Bayu yang setuju dengan permintaan Ghina dan istrinya.
"Asiap. Pemasangan tenda dan tempat pernikahan akan dipasang besok. Lengkap dengan semua bunga bunga untuk menghias tempat pernikahan." ujar Ghina memberitahukan kegiatan untuk esok hari.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan seputar acara pernikahan Bram dan Sari. Argha yang melihat keempat orang dewasa itu bersemangat bercerita mendadak menjadi rusuh. Argha uring uringan melihat mereka berempat. Ghina menatap ke arah anaknya itu.
"Ada apa Gha?" ujar Ghina yang penasaran.
"Bun, kapan pergi ke markas. Argha ingin ke markas." ujar Argha menatap Bundanya.
"Daddy, jam berapa mau ke markas?" kata Ghina menatap suaminya.
"Loe ikut Mir?" tanya Ghina kepada Mira.
"Bolehlah Ghin. Gue pengen nengok manusia nggak ada hati nurani itu. Bener bener ular berkepala sejuta." kata Mira sambil geleng geleng kepala tidak percaya dengan apa yang dilihat dan disaksikannya selama ini.
"Gue juga ikut. Biar Bree nanti pulang dengan suster dan sopir." Bayu tidak menginginkan Mira pergi sendirian. Dia sangat tau Mira tidak bisa mengontrol emosinya seperti waktu pertama kali mereka ke markas mencari Mami.
Mira menatap Bayu dengan tajam. Bayu memberikan istrinya itu senyuman terbaik yang dimilikinya.
"Kok ikut sayang?" Mira menyuarakan apa yang terlihat di matanya.
"Pengen aja." jawab Bayu sambil tersenyum.
"Gue udah tau." jawab Aris.
"Sama kak." Mira menjawab persetujuan Aris.
"Satu mobil aja Bay. Nanti minta tolong karyawan loe nganterin mobil Ghina pulang." ujar Aris kepada Bayu.
Ghina memberikan kunci mobilnya kepada Bayu. Bayu menyerahkan ke manager kafe yang juga merupakan orang kepercayaannya.
__ADS_1
Mereka berlima masuk ke dalam mobil. Aris sendiri yang akan membawa mobil, sedangkan Bayu menjadi penunjuk arahnya. Ghina dan Mira duduk di kursi belakang sopir. Argha duduk di kursi paling belakang. Dia terlihat sibuk dengan ponsel miliknya sendiri.
"Sayang, kenapa bikin markas sejauh ini. Kenapa harus dipinggiran ibu kota?" tanya Aris kepada Ghina. Dia heran dengan daerah yang dipilih oleh Ghina untuk dijadikannya markas.
"Supaya nggak mencolok aja tu bangunan. Kamu belum lihat bangunannya sayang. Pas kamu lihat baru kamu tau kenapa aku tidak memilih di pusat kota." jawab Ghina yang sangat yakin Aris akan tercengang melihat markas mereka.
"Dulu waktu kak Bram dan kak Bayu pertama kali ke markas juga terkejut melihat isinya. Nanti aku akan mencoba bagaimana betul kehebatan ketua kelompok Black jack sayang." ujar Ghina menatap Aris dengan tatapan meremehkan.
"Oh jangan menatap aku seperti itu sayang. Kamu akan menyesal nanti." jawab Aris yang sangat yakin dengan kemampuannya yang bisa mengalahkan Ghina.
"Ris, mending nggak usah nantangin mereka." ujar Bayu sambil menatap Aris sekilas.
"Kenapa Bay? Loe takut sama mereka? Ah cemen loe jadi suami. Sama istri aja takut." ujar Aris mengejek Bayu.
"Berani taruhan sayang?" tanya Ghiba yang mendengar ucapan Aris kepada Bayu.
"Ayuk. Apa taruhannya?" tanha Aris kepada Ghina.
"Kalau aku kalah. Aku akan layani kamu selama seminggu full tanpa kosong pas malam hari." jawab Ghina memberikan tantangan yang akan membuat Aris menjadi termotifasi.
"Wow, kamu harus siap ya sayang. Aku akan membuat kamu terkapar dan tak kuat jalan." ujar Aris yang semangat saat mendengar taruhannya.
"Woi ada anak kecil woi." teriak Argha dari belakang dengan kesal. Daddynya ngomong asal ngomong aja.
"Daddy mah ngomong nggak nengok nengok situasi. Dasar Daddy omes. Susah ternyata kalau punya Daddy omes gini." ujar Argha mengejek Aris.
"Hahahahaha. Omes banget ya Gha." ujar Ghina memakan pancingan Argha.
"Nggak banget lagi Bun. Luar biasa omes." ujar Argha tersenyum ke arah Bundanya.
"Bay kemana lagi beloknya?" ujar Aris mengalihkan bullyan anak dan istrinya.
Bayu mengarahkan Aris untuk menuju markas. Aris mengikuti semua instruksi dari Bayu.
Tidak beberapa lama mereka telah sampai di depan gerbang markas. Aris menekan klakson dengan kuat. Tetapi pintu markas tetap tidak terbuka.
"Sayang" ujar Aris kepada Ghina.
"Nah kan baru aja dibdepan gerbang. Udah nggak bisa kamu membuka pintunya. Apalagi di dalam." jawab Ghina menyindir Aris.
"Sindir aja teros" ujar Aris tersenyum sinis ke arah Ghina.
"Hahahahahaha" Ghina tertawa dengan bahagia.
__ADS_1