Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
MAMI


__ADS_3

POV MAMI


Sepeninggal Papi, Aris, Bram dan Argha. Mami terduduk di lantai apartemen. Dia sama sekali tidak menyangka nasibnya akan berakhir seperti ini. Mami benar benar tidak tau harus berbuat apa lagi. Dia sudah kalah melawan Arga dan Gina.


"Apa yang harus aku lakukan?" ujar Mmai bertanya kepada dirinya sendiri.


Mami duduk termenung di kursi mini bar. Mami menikmati segelas minuman dingin. Dia benar benar tidak tau apa yang harus diperbuatnya lagi.


Tok tok tok. Bunyi pintu apartemen yang di ketuk dari luar. Mami membiarkan saja pintu tersebut di ketuk. Dia sudah tau siapa yang datang.


"Maaf Nyonya besar, kalau Nyonya tidak bisa bekerjasama kepada kami dengan baik, jangan salahkan kami, kalau kami menghubungi Tuan Besar. Mengatakan kalau Nyonya tidak mau membuka pintu apartemen. Nyonya mau pilih yang mana?" ujar Juan yang diminta oleh Papi untuk mengantarkan Mami ke kontrakannya yang baru.


Mami tetap saja diam, Mami benar benar menguji kesabaran Juan dan Teguh.


"Baik Nyonya, hitungan mundur saya mulai." ujar Juan.


"Sepuluh" ujar Juan.


"Sembilan." sambar Teguh.


"Delapan"


"Nyonya jangan memaksakan keberuntungan Nyonya. Kalau sampai hitungan kami di angka tiga, berarti Nyonya akan kami paksa keluar." ujar Juan.


"Lima" ujar Teguh sengaja mempercepat hitungan.


"Empat" lanjut Teguh kembali.


Juan mengeluarkan ponselnya. Dia sengaja mengloadspeakerkan panggilannya dengan Papi. Juan meletakan ponselnya di intercom kamar Mami.


Terdengar bunyi nada sambung di ponsel Juan. Papi yang sebenarnya lelah melihat Juan yang menghubunginya langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo Juan. Apa nenek lampir itu sudah keluar dari rumah?" tanya Papi langsung saja kepada Juan.


"Siap belum Tuan Besar. Nyonya mempersulit kami untuk mengeksekusi dirinya Tuan." ujar Juan mengadukan cara Mami kepada Juan dan Teguh.


"Kamu pakai loadspeaker kan Juan? Kamu arahkan ke microfon intercom kamar." ujar Papi kepada Juan.


Juan pura pura mengarahkan ponselnya ke intercom.


"Sudah Tuan besar." ujar Juan.


"Hay Nyonya, saya dengan segala kerendahan hati meminta Nyonya untuk pergi dari apartemen milik saya. Atau Nyonya mau secara kekerasan juga boleh." ujar Papi.

__ADS_1


"Juan, kamu dan Teguh tunggu sekitar lima menit lagi. Kalau dia masih tidak juga keluar dari apartemen dengan sendirinya, kalian berdua masuk dengan password pintu yang saya berikan tadi." lanjut Papi memerintahkan kepada Juan dan Teguh


"Intinya kalian harus bisa mengeluarkan dia dari sana. Mau pakai cara apapun terserah yang jelas dia keluar dari apartemen tersebut hari ini juga." ujar Papi dengan nada yang tidak bisa di bantah lagi.


"Setelah dia keluar, kalian berdua antarkan dia ke rumah kontrakan yang tadi daerahnya sudah saya sharelock ke chat Teguh." lanjut Papi menberikan perintah


"Baik Tuan besar semua perintah akan kami laksanakan sebaik baiknya. Nanti akan kami fhotokan bagaimana cara kami mengeksekusi target yang sama sekali tidak kooperatif." jawab Juan.


"Terpenting izin dari Tuan Besar sudah kami kantongi. Jadi kami aman untuk berbuat apapun. Terimakasih Tuan besar." jawab Juan.


"Sama sama Juan dan Teguh. Selamat bekerja."


"Saya tidak menerima kegagalan." ujar Papi kemudian.


Mami yang mendengar semua perkataan Papi menjadi membuat bulu kuduk Mami berdiri. Mami seperti melihat hantu saja saat mendengar semua ucapan yang dikeluarkan Papi.


"Aku sebenarnya mau kooperatif, tapi aku talut menjadi miskin kembali. Aku sudah susah mendapatkan posisi ini. Cara kotor sudah aku lakukan untuk mendapatkan posisi ini. Masak aku harus menyerah sekarang." ujar Mami bermonolog.


"Tinggal satu menit lagi Nyonya." ujar Teguh dari intercon apartemen.


Mami melihat jam dinding apartemen.


"Kenapa saat saat seperti ini jam itu seperti berlari." ujar Mami.


"Nyonya batas waktu anda sudah habis. Saya dan Teguh akan masuk dengan memakai password yang diberikan Tuan besar. Kami harap Nyonya sudah memasukkan pakaian Nyonya ke dalam tas." ujar Juan.


"Apa yang mau di bawa. Semua ini bukan milik saya." ujar Mami.


Mami hanya membawa satu koper pakaian. Dia hanya membawa pakaian saja dari apartemen.


Juan kemudian memasukkan password pintu apartemen. Pintu pun terbuka. Juan melihat Mami sudah siap untuk berangkat dari apartemen.


"Nah Nyonya kalau dari tadi Nyonya bersikap dewasa, maka kami tidak akan melakukan hal ini. Kami tau dengan batasan kami Nyonya. Mana yang boleh dan mana yang tidak" tutur Juan menohok tepat di hati Mami.


Juan, Teguh dan Mami masuk ke dalam mobil. Juan menyetir mobil mereka akan menuju rumah kontrakan Mami yang baru.


Juan menyetir mobil dengan kecepatan biasa saja. Juan sangat takut kalau Mami kabur atau Mami pingsan atau hal lainnya.


Mereka berkendara selama satu setengah jam. Akhirnya rombongan Mami sampai juga do kontrakan Mami yang baru.


Betapa terkejutnya Mami saat melihat tempat mereka akan tinggal


"Juan ini serius saat melihat rumah yang akan ditungguinya?" ujar Mami dengan tatapan tidak percaya saat melihat rumah yang akan ditempatinya mulai hari ini.

__ADS_1


"Serius Nyonya. Kami tidak salah. Ini adalah daerah yang di sharelock oleh Tuan Besar." jawab Juan.


"Saya tidak mau!!!!" teriak Mami.


"Maaf Nyonya suka tidak suka, mau tidak mau Nyonya harus turun." ujar Juan yang mulai kehilangan kesabarannya.


"Saya tidak mau." teriak Mami makin keras.


Teguh yang memang bukan tipe manusia sabar menghadapi perempuan. Menghubungi Papi kembali.


"Selamat sore Tuan Besar. Maaf saya mengganggu lagi. Nyonya tidak mau turun dari dalam mobil." ujar Teguh melaporkan kepada Papi.


"Seret dia turun dari mobil. Kalau perlu lempar barang barangnya. Seperti dia melempar barang cucu dan menantunya sendiri." ujar Papi yang juga sudah habis kesabarannya.


Mami terdiam mendengar ucapan Papi.


"Baiklah saya akan turun." ujar Mami yang memilih bersikap kooperatif dari pada membuat masalah menjadi lebih rumit lagi.


Mami dibantu oleh Juan membawakan dua kopernya ke depan pintu rumah. Juan memberikan satu set kunci kepada Mami. Setelah memastikan Mami masuk ke dalam rumah, Juan menelpon para pengawalnya.


Juan menunggu mereka sebentar di sana. Setelah pengawalnya datang. Juan membreafing mereka.


"Kalian tidak boleh lengah sedikitpun. Jangan sampai Nyonya besar kabur dari rumah. Kalau Nyonya besar mau belanja bahan makanan kalian harus mengiringinya. Kalian paham??" ujar Juan menatap satu persatu mata anggotanya.


"Paham Tuan Juan." ucap kepala pengawal.


Pengawal bergerak ke setiap penjuru rumah kontrakan. Setelah memastikan mereka menempati posisi masing masing Juan dan Teguh kembali ke perusahaan.


"Papi benar benar memberlakukan saya sebagai seorang penjahat." ujar Mami.


"Apalagi kalau Papi dan Aris serta Bram tau apa yang telah saya lakukan kepada seseirang yang berharga bagi Papi dan Aris. Bisa di bunuh saya." ujar Mami.


Tak terasa air mata Mami jatuh membasahi pipinya. Harta dan Tahta telah membuat hidupnya menjadi hancur lebur.


...................................................


Apalagi kalau Papi dan Aris serta Bram tau apa yang telah saya lakukan kepada seseirang yang berharga bagi Papi dan Aris. Bisa di bunuh saya." ujar Mami.


APA YANG TELAH DILAKUKAN OLEH MAMI????


SERTA KEPADA SIAPA???????


TUNGGU YA KAKAK

__ADS_1


__ADS_2