
"Kalian dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Papi kepada Aris, Ghina dan Argha yang baru sampai rumah saat jam makan malam.
Argha yang selalu bisa membujuk Atuk Papi berlari menuju Atuk yang sedang keluar tanduk itu. Argha duduk di sebelah Atuknya dengan menggeser Papi Bram.
"Atuk, tadi Daddy dan Bunda berkelahi." ujar Argha sambil menatap Aris dan Ghina.
"Berkelahi??? Serius kamu Gha???" tanya Papi dengan nada tinggi.
"Serius Atuk. Mereka perang pistol dan banyak lagi." lanjut Argha bercerita dengan tidak rinci.
"Ghina, Aris duduk. Tolong ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." ujar Papi sambil menahan emosinya.
Sedangkan Argha berusaha menahan senyumannya. Frenya dan Daniel yang melihat Argha berusaha menahan senyum langsung tau apa yang terjadi sebenarnya.
Rani menatap Daniel meminta penjelasan.
"Argha mulai lagi sayang." jawab Daniel.
"Kamu jangan tiru kejahilan auncle kamu saat udah besar ya nak, kalau kepintarannya tidak apa apa kamu tiru. Jahilnya jangan ya." ujar Daniel sambil mengusap perut Rani.
"Papi percaya dengan semua cerita Argha??? Papi masih belum tau gimana jahilnya cucu Papi ini??" tanya Aris kepada Papi.
"Maksudnya gimana?? Jelas jelas kamu dan Ghina bertengkar. Sekarang kamu malah nyalahin Argha." Papi marah kepada Aris karena Aris menyalahi Argha.
"Kamu marah sama anak kamu sendiri karena kamu dikaduin ke Papi? Gitu maksud kamu?" lanjut Papi dengan nada tinggi.
"Bukan gitu maksud Aris Pi. Aduh gimana cara jelasinnya ya." ujar Aris pusing sendiri.
"Jelasin aja tinggak ngomong apa susahnya." jawab Papi dengan ketus.
Aris menatap Argha. Argha tersenyum bahagia. Aris mengangkat kepalan tinjunya kepada Argha.
"Atuk, Argha mau ditinju Papi." ujar Argha merajuk.
"Aris." teriak Papi.
Ghina yang melihat Papi sudah termakan rayuan maut Argha langsung mengambil alih pembicaraan yang mulai tidak sehat.
"Pi, sebenarnya kami berdua tidak bertengkar seperti yang Papi bayangkan. Aku dan Daddy Argha hanya melakukan lomba saja Pi. Lomba menembak, lempar pisau dan memanah." ujar Ghina menerangkan kepada Papi.
"Nah anak ini ni yang membuat cerita semakin panas dengan bercerita hanya separo saja." lanjut Ghina.
__ADS_1
"Argha???" Papi menagap Argha dengan tatapan minta klarifikasi.
"Hehehehe. Bener yang dikatakan Bunda Atuk. Argha bercerita hanya separo." ujar Argha mengakui perbuatannya.
"Kenapa?" tanya Papi meminta penjelasan.
"Nggak ada kenapa kenapa. Iseng aja." jawab Argha sambil tersenyum.
"Emanglah ya. Ya udah lanjut makan aja. Kalian langsung makan malam aja. Setelah makan baru bersihkan badan." ujar Papi kepada Aris dan Ghina.
Mereka kemudian duduk di kursi masing masing. Mereka menikmati makan malam yang tadi di masak oleh Frenya.
Selesai makan malam, Ghina dan Aris pergi menukar pakaian mereka. Sedangkan Argha dibantu suster menyiapkan tugas sekolahnya.
Setelah selesai menukar pakaiannya. Ghina dan Aris kembali menuju ruang keluarga. Dimana Papi dan yang lainnya menunggu mereka di sana.
"Ghina gimana dengan persiapan acara pernikahan Bram?" tanya Papi membuka obrolan.
"Besok orang dari GA hotel akan datang untuk mendirikan tenda dan semuanya Pi. Sedangkan untuk konsumsi ditanggung sama Kak Bayu dan Mira." ujar Ghina memberitahukan hasil kerjanya hari ini.
"Bram, cincin loe gimana?" tanya Aris yang waktu pernikahannya sempat melupakan masalah cincin, untung saja Bram ingat.
"Udah selesai Ris. Cincin udah gue pesan. Besok tinggal ambil." jawab Bram.
"Udah Bun. Tinggal ambil aja H min dua acara. Undangan sudah di sebar Steven dan Jero." lanjut Frenya.
"Aris, keamanan bagaimana?" tanya Papi.
Papi mulai takut karena orang akan memasuki area perumahan keluarga Soepomo.
"Black jack akan dibantu oleh anggota Ghina Pi. Jadi keamanan kita akan dua kali lipat. Yang jelas rumah utama dan juga rumah Bayu akan dijaga ketat. Tidak ada yang bisa memasuki pekarangannya." jawab Aris.
"Sayang emang kamu udah ngomong sama Juan?" tanya Ghina yang kaget mendengar anggotanya juga akan ikut ambil andil dalam pengamanan.
"Nah aku tanyak ke kamu sayang, apa mungkin anak buah Sari akan membiarkan acara pernikahan Nona nya tanpa mereka melakukan pengawalan? Aku rasa itu hal yang tidak mungkin." ujar Aris.
"Kamu yakin banget." jawab Ghina cepat.
"Yakinlah. Aku kan belajar dari kejadian penculikan tempo hari. Mereka tidak membiarkan Nonanya berjalan sendirian walaupun Sari sudah meminta." jawab Aris tepat sasaran.
Ghina tersenyum, ternyata Aris sangat cepat membaca keadaan.
__ADS_1
"Oh ya Kak Bram. Apa kak Bram ada permintaan khusus di hari pernikahan kak Bram nanti?" tanya Ghina yang tidak mau dikatakan tidak bertanya kepada Bram.
"Nggak ada Ghin. Aku sangat yakin dengan kinerja kamu, Mira dan juga Frenya." jawab Bram lagi.
Mereka kemudian ngobrol berbagai hal. Tiba tiba Aris teringat sesuatu yang hampir sama sekali tidak dibahas oleh Ghina dari tadi.
"Sayang cendra mata untuk tamu apa sayang? Kenapa nggak ada membahas tentang hal itu dari tadi?" tanya Aris.
Ghina menatap ke arah Frenya. Frenya tersenyum dan mengangguk.
"Sudah sayang. Semua itu di atur sama Frenya." jawab Ghina.
"Oh syukurlah. Aku kira kamu lupa, Frenya juga lupa. Tapi hadiahnya nggak kecilkan sayang?" tanya Aris selanjutnya. Aris tidak mau keluarga Soepomo dikatakan keluarga yang pelit karena memberikan cendramata pernikahan dengan harga yang rendah.
"Tentu tidak Daddy. Semua orang akan puas saat menerima guddybag dari pernikahan Papi Bram dan Mami Sari. Frenya sudah menyiapkan hadiah spesial untuk mereka." jawab Frenya.
"Berarti lima puluh persen sudah bisa dikatakan selesai untuk acara pernikahan. Besok pelaminan akan disiapkan. Oh ya Ghina, pelaminannya minang kan ya?" tanya Papi yang tidak ingin meninggalkan citra kampung halamannya.
"Papi tenang aja, Ghina tau Papi dan Ayah Sari memiliki rasa kekampungan yang tinggi. Jadi aku udah mengantisipasinya dari awal." ujar Ghina sambil tersenyum.
"Hahahahahaha. Oke oke. Tapi di campur juga nggak apa apa Ghin. Papi setuju aja." lanjut Papi.
"Papi besok pas pulang kantor udah bisa lihat pelaminannya. Ghina akan minta mereka untuk cepat menyelesaikan pelaminan. Baru yang lain lainnya." ujar Ghina meyakinkan Papi.
"Oke sip kalau gitu. Besok Papi akan pulanf cepat. Satu lagi, mulai besok Papi akan cuti, paman Hendri akan mimpin perusahaan. Dan kamu Bram siap siap untuk pimpin perusahaan Jaya Grub. Papi udah tua, udah nggak sanggup lagi mimpin perusahaan." ujar Papi menyampaikan uneg unegnya.
"Papi bisa Bram pikir pikir dulu?" tanya Bram yang masih keberatan untuk memegang perusahaan.
"Nggak Bram. Kamu sudah cukup untuk selalu menjadi asisten bocah itu." kata Papi sambil menunjuk wajah Aris.
"Sekarang sudah saatnya kamu memegang dan mengambil keputusan sendiri. Lagian dua perusaan ini adalah perusahaan yang berbeda tidak sama. Jadi tidak akan ada persaingan yang tidak sehat." lanjut Papi.
Dari nada suara Papi sudah dapat dipastikan tidak ada lagi peluang untuk Bram melakukan penolakan.
"Oke Pi. Bram setuju. Tapi biarkan Asisten Hendri menjadi asisten Bram. Aris sudah ada Budi yang sudah handal dalam menggantikan Bram." ujar Bram melakukan penawaran kepada Papi.
"Oke sip. Asisten Hendri akan mendampingi kamu untuk bekerja." jawab Papi yang langsung main setuju saja. Papi tidak mau berpikir, Papi takut Bram akan mengubah pikirannya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan sambil memakan puding yang dibuat oleh Ghina tadi pagi sebelum pergi dengan Mira mengurus pelaminan untuk acara pernikahan Bram.
"Papi udah malam, bagaimana kalau kita istirahat terlebih dahulu. Besok ada kegiatan yang membutuhkan tenaga lebih." ujar Ghina saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.
__ADS_1
Papi melihat ke jam yang ada di dinding kamar. "Waduah bener udah malam. Ya udah mari kita istirahat. Besok ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra." ujar Papi setuju dengan pendapat Ghina.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka akan beristirahat karena besok ada pekerjaan yang lebih membutuhkan tenaga dan pikiran.