
✉️ Gina
Udah mendarat Hon?
✉️ Aris
Udah Sun. Tapi aku harus ke kantor dulu. Biasa.
✉️ Gina
Oke Hon. Aku di kampus sampe sore Hon.
✉️ Aris
Sip. Kamu bawa mobil Sun?
✉️ Gina
Nggak. Nanti pulang nebeng Mira aja. Mobil Bayu masih sama Mira.
✉️ Aris
Aku kirim supir ajalah untuk jemput kamu pulang Hon.
✉️ Gina
Serah lah Hon.
Aris tau Gina udah mulai ngambek. Gina selalu pengen dijemput pulang kuliah kalau Aris baru pulang dari perjalanan luar negeri. Hari ini Aris sengaja mengerjai Gina.
Aris langsung melajukan mobilnya ke arah Universitas tempat Gina kuliah. Aris tidak lupa singgah terlebih dahulu di sebuah toko bunga untuk memberi sebuket bunga mawar. Setelah menempu perjalanan selama lebih kurang dua jam, Aris akhirnya sampai juga di kampus Gina. Aris memarkirkan mobilnya di parkiran depan fakultas Gina.
Aris mihat Gina yang katanya pulang sore itu sudah menyandang tasnya dan berjalan kearah mobil Bayu diparkir. Gina berjalan dengan kedua sahabatnya yaitu Sari dan Mira. Gina tipe manusia yang tidak akan memerhatikan keadaan sekitarnya. Tiba - tiba saat berjalan tangan Gina ditahan oleh Sari.
"Kenapa Sar?"
"Noh tengok mobil siapa itu." kata Sari sambil meminyongkan bibirnya ke arah sebuah mobil yang parkir tidak beberapa mobil dari mobil Bayu.
"Perasaan gue kenal tu mobil." kata Gina.
"Ya kenal lah begok. Jelas itu mobil yang biasa loe tumpangin asal Aris pulang dari luar negeri."kata Sari sambil memukul kepala Gina.
"Sana loe pulang sama dia aja." kata Mira.
"Nggak mungkin dia Mir. Dia aja ke kantor kok: kata Gina
"Haduh. Goblok goblok. Memang dia itu." kata Sari mulai kesal.
"Nggak. Loe mada." kata Gina.
Akhirnya Gina diseret oleh Mira dan Sari menuju mobil Aris. Aris yang melihat tingkah ketiga sahabat itu tersenyum dibalik mobilnya. Saat mereka sudah agak dekat, Aris keluar dengan memakai kaca mata hitam. Betapa terkejutnya Gina. Aris datang masih dengan stailnya saat baru berangkat tadi.
"Katanya kantor. Emang kantor pindah?"
"Pindahlah. Kehatimu." Aris kemudian menyerahkan buket bunga yang dipegangnya. Gina langsung memeluk kuat Aris. Aris pun membalas pelukan hangat dari Gina.
"Masih marah?" tanya Aris.
"Nggak. Tapi akan marah besar kalau nggak dijemput. Biasanya asal habis dari luar langsung jemput. Eee ini malah ngomong mau ke kantor dulu. Siapa yang nggak kesal cobak. Sudahlah lima belas hari nggaknketemu. Eee baru pulang kertas yang ditemuin duluan." Gina nyerocos tanpa henti. Aris yang mendengar langsung geleng geleng kepala.
"Rem dikit Gin. Nggak capek tu mulut." kata Sari.
"Yuk pulang Sun." kata Aris.
Sari dan Mira kembali ke mobil Mira. Sedangkan Gina masuk kedalam mobil Aris.
"Hon kita singgah makan dulu ya. Aku laper." kata Gina sambil memegang perutnya yang berbunyi.
"Siap Ibu Negara."
"Apaan sih Hon." Gina kemudian mencubit pinggang Aris dengan keras.
"Wow. Mulai ni kekerasan dalam berpacaran." kata Aris sambil melirik Gina.
"Serah. Siapa suruh cari lawan."
"Mau makan dimana Sun?"
__ADS_1
"Biasa mie ayam tenda biru aja Hon."
"Sip."
Aris kemudian mengarahkan mobilnya menuju tempat makan favoritnya dengan Gina. Aris memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon besar.
"Makan disitu aja Hon. Sepi kok." kata Gina.
"Yup."
"Mereka pun turun dari mobil. Aris menggandeng tangan Gina.
"Wah Non Gina, udah lama banget nggak seni Non. Mmamang kira udah nggak makan mie lagi." kata mamamng penjaga warung.
"Lagi sibuk tesis mang."
"Pesan apa Non?"
"Biasa mang dua ya."
"Siap Non."
Aris dan Gina memilih duduk dipojokan. Aris terus menggenggam tangan Gina. Sedangkan tangan yang sebelah lagi membaca sebuah notifikasi pesan yang masuk.
"Gin. Aku nelpon Bram bentar ya."
Aris menghubungi Bram.
"Ada apa Bram?"
"Ris loe dimana?"
"Sedang makan mie ayam sama Gina. Loe mau?"
"Bungkus satu Ris."
"Jadi cuma minta mie ayam loe bilang ada yang penting."
"Bukan itu aja Bram. Gue udah baca proposal dari prusahaan Z itu. Gue menemukan keanehan yang wah didalam proposalnya."
"Bram. Nanti aja bahas oke. Pas kita udah di rumah. Capek gue bahas kerjaan terus aja"
Aris langsung memutuskan panggilan telponnya dengan Bram.
"Ada apa Hon?"
"Biasalah kerjaan. Tapi lagi malez mikir. Nanti aja malam"
"Silahkan dinikmati mbak" kata pelayan yang menghidangkan makanan.
Aris dan Gina langsung menyantap mie ayam yang benar benar menggugah selera mereka. Aris dan Gina menyantap sampai habis.
"Nambah Sun?"
"Nggak Hon. Pas"
"Mas bungkus lima mas. Kuahnya pisah ya." kata Aris.
"Kok bayak Hon?"
"Yup. Kasih bibik juga. Sekali sekali."
"Oh"
"Hon. Nunggunya di atas mobil aja yuk. Malez nengik orang yang menatap kamu dengan penuh harap itu." kata Gina.
"Hahahahaha. Posesifnya kamu"
Aris kemudian membayar semua tagihannya. Aris dan Gina lebih memilih menunggu pesanan mereka di atas mobil.
"Gimana sketsanya diterima?"
"Wah diterima dong. Aku bikinnya dengan penuh keseriusan dan tekad." kata Gina dengan bangganya.
"Ye lah. Teruz ngapain malam panik kayak gitu ngomongnya?"
"Kangen aja" kata Gina sambil memeluk pinggang Aris.
__ADS_1
"Eee mulai manja ya."
"Sekali sekali Honey."
"Sabtu kita pergi yuk sayang." ajak Aris kepada Gina.
"Berdua aja?" Gina menatap tajam mata Aris.
"Ya nggak lah. Kita bawa Bram, Bayu, Sari dan Mira."
"Emang mau kemana?"
"Ke Bali. Mau nggak?"
"Ada acara apa?"
"Sayang jangan banyak tanya. Jawabnya mau apa nggak, udah itu aja" Aris menatap kesal kearah Gina.
"Hahahahahaha. Mau mau. Nanti aku omongin sama mereka."
Tiba-tina ada yang mengetuk kaca jendela mobil Aris. Aris kemudian langsung menurunkan kacanya.
"Ini Mas pesanannya."
"Makasih."
Aris dan Gina langsung melaju pulang ke rumah Gina. Mereka tidak ada agenda lain. Gina paham Aris masih lelah sehabis melakukan perjalanan panjang. Kalau meu menurutkan kata hatinya Gina masih belum ingin berpisah dari Aris.
"Beneran mau langsung pulang?" kata Aris sambil mengusap rambat Gina. Gina pun mengangguk.
"Beneran?" tanya Aris.
"Ah. Sebenarnya nggak mau. Tapi kamu kelihatan capek Honey. Jadi pulang aja yuk. Lagian aku mau perbaiki tesis dulu. Jadi hari sabtu minggu bisa melala."
"Sayang kita berangkaynya jumat malam ya. Jadi sabtu bisa seharian main."
"Oke. Atur aja. Kamu bosnya hanoy."
Gina serius menatap keluar kaca. Gina selalu menikmati pemandangan selama perjalanan. Tak terasa mereka sudah sampai di Rumah Gina. Ternyata Gina tertidur.
"Dasar kebo. Perjalanan sebentat aja bisa lewat." kata Aris sambil menatap wajah cantik Gina.
"Gin, Gin. Bangun sayang. Kita sampe rumah." kata Aris.
Gina yang mendengar suara Aris membuka matanya perlahan lahan.
"Hm. Aku tertidur honey?"
Aris pun mengangguk.
Gina tiba tiba mencium pipi Aris. Aris langsung terkejut. Mereka belum pernah saling mencium walaupun hanua sekedar pipi saja.
"Wow mulai genit ya." kata Aris
"Alah bilang aja suka banyak gayapun." kata Gina.
"Boleh ulang lagi nggak. Sebelah lagi iri neh." kata Aris sambil mengarahkan pipinya yang belum dicium Gina ke arah Gina.
"Mana ada. Ngarep."
Gina langsung turun dari mobil Aris. Aris menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Jangan setres gara gara tesis ya. Kalau.kurang paham telpon aja."
"Oke sip. Sana pergi. Kembang tuh mie, lama lama berenti disitu."
"Masuk dulu sana. Baru aku jalan."
Gina kemudian masuk kedalam rumahnya. Saat telah membuka pintu rumah, Gina melambaikan tangannya kepada Aris. Arispun langsung melajukan mobilnya kearah rumah utama. Aris menghubungu Bram.
"Bram dimana loe?"
"Dalam perjalanan pulang menuju rumah utama. Loe dimana?"
"Sama. Setengah jam lagi sampe."
"Sip. Bertemu dimeja makan aja ya. Bawa mie ayam gue kan?"
__ADS_1
"Bawa"
"Siap"