Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertemuan Dua Keluarga Kembali


__ADS_3

"Frenya" teriak Ghina memanggil anak gadisnya yang sedang sibuk dengan ponselnya itu.


"Wadau Bun, Budek kuping Frenya, Bun" ujar Frenya sambil mengusap telingnya yang jadi corong bersorak Ghina.


"Kamunya juga yang salah, jelas masak tapi masih aja main ponsel, mau Bunda sita tu ponsel sehari ini?" tanya Ghina sambil menatap tajam putri satu satunya itu.


"Oh No, jangan Bun. Bunda kayak nggak coba waktu muda aja." jawab Frenya.


"Coba tapi nggak alay kayak kamu." jawab Ghina sambil bersungut sungut.


"Oke oke Bun, ponsel Frenya simpen lagi." jawab Frenya yang nggak mau merusak mood Bundanya itu.


Mereka berdua dibantu dengan Bik Imah dan suster Rina serius memasak wajik dan juga nasi kuning untuk di bawa besok ke Padang saat acara lamaran. Ghina sengaja tidak memesan ke katering atau meminta koki restoran miliknya untuk memesak semua itu. Ghina ingin mencoba sendiri bagaimana rasa capeknya menyiapkan semua hantaran itu sendirian.


"Nya, Bunda menyiapkan bubur nasi untuk Daddy dulu ya, kamu lanjutkan dengan yang lain menyiapkan semuanya." ujar Ghina yang beralih memasak makan malam untuk Aris.


Sedangkan untuk keluarga besarnya, sudah dimasak oleh Frenya tadi.


Tepat sesaat sebelum makan malam, semua masakan hantaran itu selesai sudah, Frenya dan Rina telah mengemas semua hantaran kedalam kotak kotak mika yang sudah dipersiapkan oleh Ghina.


"Nya, mandi sana, kita akan makan malam bersama." ujar Ghina.


Frenya kemudian berjalan menuju kamarnya, dia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu, Hari ini rumah akan dipenuhi oleh semua orang yang akan berangkat besok subuh menuju kota Padang untuk melakukan acara lamaran Papi Bram kepada Tante Sari.


Tok tok tok, bunyi pintu ruang utama di ketuk dari luar. Seorang maid yang sedang mengelap sofa tamu berjalan untuk membukakan pintu rumah. Terlihat Tuan Wijaya, Tuan Afdhal dan Nyonya Anggel sudah berdiri dengan dua koper kecil mereka.


"Ayah" teriak Ghina yang melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumah utama.


Ghina berlari menuju pintu rumah, dia memeluk Ayahnya yang sudah sangat dirinduinya itu, Ayah yang sudah lama tidak dilihat oleh dirinya selama ini.


"Sayang" ujar Ayah.


Mereka berdua berpelukan, Afdhal kemudian memeluk adik dan juga ayahnya itu yang harus terpisah gara gara ulah nana yang gila harta juga.


"Masuk Ayah, Ghina kangen sama Ayah." ujar Ghina yang tidak melepaskan pelukannya dari Ayah.


"Sama sayang, Ayah juga kangen dengan Ghina. Kamu udah pulang tetapi tidak pernah kerumah Ayah." ujar Ayah.


"Bukan Ghina nggak mau ke sana Ayah, cuma Ghina tau Nana sangat membenci Argha dan Ghina, makanya Ghina nggak mau kesana." jawab Ghina sambil menunduk.


"Hay, anak Ayah. Ayah tidak marah sama kamu, Ayah senang sekarang kamu sudah pulang." jawab Ayah sambil mengacak rambut Ghina.


"Oh ya, mana ketiga cucu Ayah?" tanya Ayah yang tidak melihat ketiga cucunya.


"Mereka sedang bersiap siap Ayah. Sama tau ajalah gimana anak muda sekarang kalau bersiap siap akan selalu lama." ujar Ghina.


"Atuk" ujar Daniel yang melihat Ayh berdiri dengan Ghina.


"Niel" ujar Ayah.

__ADS_1


Daniel kemudian berjalan kearah Atuknya itu, dia menggenggam tangan Rani istrinya.


"Siapa Niel?" tanya Ayah yang tidak tau kalau Daniel sudah menikah.


"Istri Neil, Tuk." jawab Daniel.


Rani kemudian menyalami Ayah. "Rani, Atuk" ujar Rani.


"Jangan katakan kalau kamu dokter anak yang sedang terkenal itu?" ujar Ayah mengamati wajah Rani.


Rani tersenyum mendengar perkataan Ayah.


"Oh No, kenapa aku begitu tertelan bumi selama ini." ujar Ayah sambil menepuk jidatnya.


Papi yang mendengar suara besannya dari dalam kamar, berjalan keluar, dia langsung menuju ruang utama untuk memastikan kebenaran dari suara yang didengarnya tadi.


"Ayah" ujar Papi


"Hay Papi" jawab Ayah


Kedua tuan besar itu salaing berpelukan dan berjabat tangan. Mereka berdua juga sudah sangat lama tidak bertemu semenjak kejadian yang menimpa Ghina dan Argha.


"Ghina, kenapa sahabat Papi tidak kamu suruh duduk" ujar Papi mengingatkan Ghina untuk menyuruh keluarganya untuk duduk terlebih dahulu.


"Waduh maafkan Ghina Pi, saking bahagianya bertemu dengan Ayah, Ghina sampai lupa menyuruh Ayah, Uda dan Uni untuk duduk. Silahkan duduk Ayah" ujar Ghina kemudian.


"Wow ada wajik, siapa yang buat?" tanya Ayah sambil menatap bahagia wajik yang terhidang. Wajik merupakan makanan cemilan favorit Ayah dari dahulunya.


"Ghina yang buat Yah, Ayah coba ya, enak atau ndaknya." ujar Ghina dengan bangga mengatakan kalau dia sudah berhasil membuat wajik dan nasi lamak kuning.


Ayah mengambil sepotong wajik, dia memakan wajik tersebut. Ayah mengunyah wajik itu dengan begitu pelan dan menikmati setiap kunyahannya.


"Gimana Yah?" tanya Ghina yang penasaran dengan ekspresi Ayahnya setelah memakan wajik buatannya.


"Enak sangat Ghin. Mantap." ucap Ayah sambil memberikan dua jempolnya.


Afdhal yang sudah mendengar pengakuan Ayahnya baru berani mengambil wajik yang dihidangkan oleh Ghina. Dia mencoba memakan wajik itu. Afdhal memberikan dua jempolnya kepada Ghina. Saat mereka mengobrol ringan, terdengar suara azand yang berkumandang dari musholla rumah utama, semua orang bergerak kesana, kecuali Ghina yang harus kembali ke kamarnya untuk menyiapkan kebutuhan Aris.


"Sayang, tumben lama ke atas?" tanya Aris yang sudah dari tadi menunggu Ghina.


"Maaf Sayangku, tadi ada Ayah, Uda Afdhal dan Uni Anggel. Mereka baru saja datang." jawab Ghina menjelaskan kenapa dia baru naik kembali ke kamar.


"Oh baiklah, aku akan ikut mereka makan malam di bawah ya. Bolehkan, sekalian belajar belajar untuk jalan besok."


"Oke sip. Sekarang kamu sholat dulu, Aku mau bersih bersih sebentar." kata Ghina sambil masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Aris mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Ghina menuju kamar Argha, dia tau kalau Argha tidak pergi sholat ke mushalla rumah utama.


"Sayang, boleh Bunda masuk?" ujar Ghina dari pintu kamar Argha.

__ADS_1


Argha yang mendengar suara Ghina, memencet tombol untuk membuka pintu kamarnya yang sudah dituker menjadi pintu digital itu. Ghina langsung masuk ke kamar Argha,


"Kamu udah siap sayang?" tanya Ghina yang melihat Argha sudah rapi.


"Udah Bun, Ini Argha mau turun lagi." jawab Argha sambil merapikan rambutnya.


"Oh ya Gha, di bawah ada Atuk Ayah, Argha marah sama Atuk Ayah?" tanya Ghina sambil memerhatikan raut wajah Argha.


"Nggak Bun, Argha ngggak marah sama Atuk Ayah, malahan Argha sangat rindu dengan Atuk Ayah. Kalau gitu Argha ke bawha duluan Bun. Bunda sama Daddy ya." ujar Argha yang sudah langsung berlari ke bawah untuk menemui Ayah.


"Loh mana Argha nya sayang?" tanya Aris yang melihat Ghina hanya berjalan sendirian kembali ke kamar mereka.


"Argha udah turun duluan sayang, katanya dia kangen dengan Atuk Ayah." jawab Ghina.


"Oh Alhamdulillah kalau dia kangen dengan Ayah, aku kira dia akan menolak kehadiran Ayah." ujar Aris yang mengeluarkan ketakutan dirinya tadi.


"Sama sayang, tapi untunglah Argha tidak marah." jawab Ghina yang kembali menyisir rambutnya.


"Kamu udah cantik sayang, mari kita turun. Jangan biarkan mereka menunggu kita berdua." ajak Aris.


Ghina kemudian menggandeng tangan Aris, mereka turun ke ruang makan. Ternyata semua orang sudah berada di sana, termasuk Bayu dan Mira, Paman Hendri dengan istrinya, Alex, Juan, Jero duoble dan juga Stefen. Setelah Aris dan Ghina bergabung, mereka semua kemudian makan malam bersama.


Ayah dan yang lain yang tidak tau kasus Aris masuk rumah sakit, menatap ke arah Aris dengan heran, saat Aris hanya makan dengan bubur nasi dan sayuran.


"Ghin, Aris kenapa?" tanya Bayu yang memang tidak diberitahukan perihal Aris yang sempat masuk rumah sakit.


"Dasar loe sahabat nggak guna, sahabatnya operasi dan hampir lewat aja nggak tau." ujar Bram sambil memukul kepala Bayu dengan serbet.


"Sungguh gue nggak tau. Kamu tau sayang?" tanya Bayu kepada Mira.


"Nggak sayang, aku sudah menyerahkan direktur rumah sakit kembali kepada Daniel, Aku nggak bisa ngurus rumah sakit, sekrang aku fokus ke Bee Grub." jawab Maya yang juga heran dengan makanan Aris.


Ghina kemudian menceritakan kenapa Aris harus sampai makan dengan bubur nasi. Semua orang menatap tidak percaya kepada Aris. Aris hanya bisa tersenyum saja melihat tatapan semua orang. Aris yang terkenal dengan hidup sehat itu bisa terkena penyakit usus buntu, hal itulah yang membuat mereka menjadi heran.


"Atuk ayah, kita main kembang api yuk di luar." ajak Argha yang sudah membawa kembang api.


"Oke sip" jawab Ayah.


"Atuk Papi boleh ikut Gha?" tanya Papi yang sangat pengen ikut main kembang api.


Argha mengangguk setuju. Dua atuk dan satu cucu yang kecil berjalan menuju depan rumah. Mereka akan main kembang api. Sedangkan Ghina, Mira dan Frenya minus Anggel yang sedang hamil muda, menyiapkan acara barbeque, mereka menyiapkan semua bahan bahan yang akan dibakar. Setelah menyiapkan semua bahan bahan untuk dibakar, giliran Bram, Bayu, Stefen dan Alex membakar. Sedangkan duoble Jero dan Juan menjaga Bree anak Bayu dan Mira.


Dua keluarga besar yang telah menjadi satu itu, menikmati moment kebersamaan mereka yang sudah lama menghilang. Mereka tertawa bahagia, sedangkan dari arah luar gerbang utama, terlihat seorang wanita yang sedang duduk di kursi taksi online meremas sebuah fhoto. Dia terlihat sangat marah menyaksikan semua kebahagiaan yang terpampang nyata di depan matanya saat ini.


"Awas kamu Argha dan Ghina, aku akan balas semuanya." ujar wanita itu dengan semakin kuat meremas fhoto tersebut.


"Pak kita kembali pulang, sepertinya keluarga itu sedang sibuk" ujar wanita tersebut.


Mobil kembali keluar menuju gerbang utama. Mobil bisa masuk keperkarangan rumah utama karena pos satpam sedang kosong, satpam sedang beristirahat, sedangkan dia lupa memencet tombol untuk mengunci gerbang, makanya mobil taksi online itu bisa masuk ke dalam pekarangan rumah utama.

__ADS_1


__ADS_2