Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 39


__ADS_3

"Bener tempatnya ini Hendri? Kenapa sepi nggak ada orang kayak gini?" tanya Ghina memastikan sekali lagi bahwa tempat makan yang dituju oleh Hendri benar yang sekarang sedang berdiri di hadapan mereka.


"Beneran ini Nyonya, saya tidak salah" jawab Hendri dengan yakin.


"Sudah kamu pastikan?" tanya Ghina selanjutnya.


"sudah Nyonya. Nyonya jangan khawati" jawab Hendri dengan singkat dan padat layaknya seorang Pengawal yang tidak banyak bicara.


Semua anggota keluarga yang ada di dalam mobil telah turun dari mobil mereka masing masing. Begitu juga pengawal yang berada di dalam rumah makan, juga keluar saat mendengar mobil mobil yang masuk ke halaman rumah makan.


"Hendri benar di sini tempatnya?" tanya Juan yang penasaran dengan tempat yang dikatakan oleh Hendri barusan.


"Benar Tuan Muda" jawab Hendri dengan sangat yakin.


"Kamu yakin Juan?" tanya Daniel yang ragu dengan tempat yang mereka datangi.


Keraguan aemua orang disebabkan karena tempat tersebut terlihat sangat sepi sekali, sehingga membuat mereka tidak yakin untuk makan di tempat tersebut.


Juan mengangguk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Daniel. Juan sangat percaya dengan apa yang dilakukan oleh anak buahnya itu. Anak buah Juan jarang meleset dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan oleh Juan kepada mereka.


Beberapa orang pengawal yang tadi diminta oleh Hendri untuk mencari tempat makan yang bernuansa alam berjalan menuju Hendri dan yang lainnya.


"Selamat siang Tuan Muda. Maafkan kami hanya bisa menemukan tempat di sini, jauh dari pusat kota" kata pengawal setelah memberi hormat kepada Juan.


"Kalian yakin di sini ada menjual bebek betutu?" tanya Juan sambil melihat tajam dan dingin ke arah semua anak buahnya itu.


"Yakin Tuan Muda. Kami sudah chek langsung" jawab Pengawal.


"Apa semuanya aman dan bersih?" tanya Juan sekali lagi meyakinkan dirinya untuk kebersihan dan keamanan makanan yang akan dihidangkan untuk semua anggota keluarga ya itu.


"Aman tuan muda. Saya turun tangan langsung memastikan semuanya aman untuk dikonsumsi" jawab Pengawal.


Ghina mencolek Frenya. Frenya hanya mengangkat bahunya saja. Dia juga baru melihat anak buah Juan yang ternyata sangat banyak itu.


"Baiklah kalau begitu. Lanjutkan pekerjaan kalian" kata Juan.


"Daddy, Nana warung makannya aman" kata Juan memberitahukan kepada kedua mertuanya itu.


"Sayang maaf hanya di sini mereka bisa menemukan tempat makan yang kamu inginkan. Di tengah kota tidak ada pemandangan sawah" kata Juan kali ini kepada Frenya.


Frenya menatap ke arah suaminya itu. Frenya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah memenuhi ngidam aku sayang. Dimanapun tumpatnya asalkan ada sawah dan bebek betutu aku bersedia untuk pergi sayang" kata Frenya sambil memeluk erat tangan Juan.


"Yah mulai lagi. Udah deh ayok masuk. Bisa kering kulit ini berjemur di sini" kata Argha yang memang paling alergi melihat kemesraan yang ditampilkan oleh tiga pasang suami istri yang ada di depannya saat ini.


"Is iri" kata Daniel sambil berjalan di depan Argha dengan memeluk mesra pinggang Rani.


Aries yang melihat apa yang dilakukan oleh Daniel dan Juan memanas manasi hati Argha, memilih untuk melakukan hal yang sama. Dia memeluk pinggang Ghina dan mendekatkan Ghina ke arah dirinya.


"Ini satu lagi nggak sadar dengan umur" kata Argha saat melihat Aries dan Ghina juga melakukan hal yang sama dengan Juan dan Daniel.


"Hendri sini" panggil Argha kepada asisten Frenya.


Hendri berjalan ke arah Argha.


"Siap Tuan Muda" jawab Hendri saat sudah berada di depan Argha.


Argha membetulkan letak tangan Hendri menjadi posisi tegak pinggang sebelah. Setelah itu Argha menarug tangannya di tangan Hendri. Mereka berdua berjalan seperti sepasang kekasih menuju altar pernikahan.


"Jangan anda kira anda anda saja yang memiliki kekasih. Aku juga punya." kata Argha sambil memamerkan Hendri kepada ketiga pasang suami istri yang tadi memanas mansi Argha.


"Wow pasangan kamu seksi sekali Argha" ujar Rani mulai mengomentari apa yang dilakukan oleh Argha.


Argha melepaskan tangan Hendri. Dia kemudian duduk di sebelah Daniel.


"Jadi itu beneran?" tanya Daniel kepada Argha.


"Siapa?" tanya Argha dengan santai.


"Tu" ujar Daniel sambil menunjuk ke arah Hendri.


"Hahaha hahaha hahaha, uda kira aku ini stres Uda. Mana ada aku suka sama terong. Ada ada aja" jawab Argha sambil memukul kepala Daniel.


"Walaupun Bree jauh, aku nggak akan mungkin suka dengan terong. Apa lagi terongnya kayak Hendri. Bisa bisa di bunuh tengah jalan" lanjut Argha mengomentari pertanyaan yang diajukan oleh Daniel kepada dirinya.


"Ehem" Hendri batuk saat mendengar apa yang dikatakan oleh Argha kepada Daniel.


"Lah Hendri emosi" kali ini Frenya yang mengomentari.


"Loe iya juga Gha. Habis manis sepah di buang" ujar Juan ikut ikutan membully Argha dengan semangat.


"Hay Hendri. Kontrak kita hanya dari parkiran sampai sini saat saya belum duduk" ujar Argha berkata kepada Hendri.

__ADS_1


"Tuan muda habis manis sepah di buang" jawab Hendri sambil bergaya menyelipkan rambutnya ke sela sela telinga.


"Is Hendri Hendri. Menyesal saya menggandeng anda tadi" ujar Argha sambil menutup wajahnya ke atas meja makan


"Sabar sabar sabar. Semua itu ada hikmahnya" ujar Frenya dengan mengusap punggung Argha.


Tidak berapa lama setelah mereka mengolok olok Argha karena ulahnya dengan santainya menggandeng tangan Hendri, semua pesanan yang telah dipesan dan merupakan menu utama di rumah makan itu telah dihidangkan.


"Wow beneran ada bebek betutu" ujar Frenya saat melihat makanan yang tadi di mintanya kepada Juan.


"Apapun yang kamu minta akan aku hadirkan sayang." jawab Juan


"Demi ini" kata Juan sambil mengusap perut Frenya yang di dalam rahim Frenya ada janin atau calon bayi mereka.


Frenya tersenyum bahagia. Dia memegang tangan Juan yang sedang mengusap perutnya yang belum membuncit tersebut.


"Uda Uni bisa tidak untuk santai saja. Aku beneran lapar ini. Aku butuh makan siang dengan memakan semua makanan, bukan dengan melihat kemesraan yang tidak ada ujungnya ini" kata Argha dengan mengatupka kedua tangannya di atas kepalanya memohon kepada Frenya dan Juan untuk tidak memperlihatkan kemesraan mereka di depan dirinya sekarang.


Juan melepaskan tangannya dari perut Frenya. Dia kemudian menatap ke arah Argha yang sekarang dalam posisi manyun itu.


"Nggak Uni, nggak Uda, nggak Daddy sama saja. Pusing saya pusing." kata Argha dengan kesal.


"Lama lama saya balik lagi ke negara Asia. Terserah perusahaan ada yang ngurus atau ndak." lanjut Argha ngedumel sendirian.


"Boleh mesra tidak ada yang larang, tapi tau tempat dikit napa. Tau sikon dikit" lanjut Argha dengan emosi.


"Sudah sudah, berapa kali harus daddy katakan, di depan makanan tidak ada yang mengumpat" ujar Aries emosi


"Atau pulang saja nggak usah makan" ancam Aries kepada semua anggota keluarganya.


"Daddy aja pulang. Kami mau makan" ujar kelima anaknya dengan kompak.


Ghina yang mendengar ke lima anaknya bisa kompak menjawab perkataan dari Aries hanya bisa geleng geleng kepala saja.


Itulah hebatnya ke lima anak Aries dan Ghina. Mereka memang suka ribut, tetapi di saat mereka harus kompak, maka mereka akan sangat kompak tanpa diminta.


"Haha haha haha, pas makan kalian kompak. Pas saling bully juga kompak. Heran" kata Aries yang mendapatkan sorakan dari ke lima anaknya saat dirinya mengeluarkan ancaman untuk pulang karena mereka masih meributkan hal nggak penting.


"Siapa suruh jadi orang pake anceman. Ya udah kami juga kompak melawan" jawab Argha dengan santainya.


"ye lah. Terserah" jawab Aries yang malas meladeni anak anaknya saat mereka dalam mode kompak seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2