Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Tekad Frenya


__ADS_3

Hari ini Gina tidak bisa menemani Arga bermain. Gina harus pergi menuju rumah sakit, karena ada beberapa kasus yang harus ditangani Gina sebagai pemilik saham terbesar. Gina sebenarnya tidak mau pergi ke sana, tapi apalah daya Gina saat ini Sari masih belum mau kembali dari pelariannya. Sedangkan Mira sedang hamil muda. Mira sama sekali tidak bisa bangun dari kasur. Dia harus istirahat total. Jadilah Gina yang harus mengurus kembali semuanya sendirian. Terkadang Sari menolong dari jauh.


"Sayang, hari ini main dengan suster dulu ya. Bunda ada perlu sebentar." ujar Gina kepada Arga sambil mencium pipi gembul anaknya.


Arga mengangguk tanda setuju. Sekarang Arga sudah tidak menolak lagi kalau dicium oleh siapapun. Suatu hal yang sebenarnya membuat Gina takut, tapi di satu sisi membuat Gina senang.


"Sus, titip Arga ya. Kalau ada apa apa cepat telpon saya." ujar Gina.


"Baik Nyonya." jawab suster yang mengasuh Arga.


Ini adalah suster ketiga yang diganti Gina tanpa memberi tahukan kepada Aris. Dua suster yang sebelumnya menjaga Arga bukan diberhentikan, tetapi minta berhenti karena tidak kuat dipukuli, dicubit oleh Arga yang tidak bisa dilarang. Belum lagi saat Arga mengamuk. Maka Arga bener bener tidak bisa dikendalikan lagi. Arga hanya bisa dikendalikan oleh Gina.


Arga bermain dengan riang tanpa sekalipun Arga merabi karena kehendaknya tidak terpenuhi. Suster yang baru ini bernama Dila, dia bener bener bisa diandalkan untuk membujuk dan menuruti semua kemauan Arga.


Arga yang lapar mendekati Dila. Dia menarik baju Dila dan memperagakan cara menyuap nasi ke dalam mulut.


"Tuan muda yang tampan dan baik hati ini mau makan siang?" tanya Dila kepada Arga sambil jongkok agar sama tinggi dengan Arga.


Arga membalas dengan menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Ayo kita ke dapur. Kita berdua akan mengambil makanan untuk tuan tampan ini." ujar Dilla sambil menggandeng tangan Arga.


Mereka berdua berjalan ke dalam rumah. Dila menyuapi Arga dengan begitu tenangnya. Dila menuruti semua kemauan Arga. Dila selalu mengejar Arga. Tidak terasa sepiring penuh nasi yang diambil Dila tadi sudah pindah ke dalam perut Arga. Sekarang Arga sudah menguap dengan begitu lebarnya.


Tin tin tin, bunyi klakson mobil yang membuat Arga kembali kehilangan rasa kantuknya. Dia melihat mobil Frenya yang berenti di depan loby rumah. Arga langsung berlari menuju mobil. Frenya membuka pintu mobil, dia langsung memeluk dan menaikan Arga ke atas mobil.


"Dila kalau Bunda pulang katakan saja Arga aku bawa jalan jalan." ujar Frenya menitip pesan kepada Dila.


"Baik Nona muda." jawab Dila.


Mobil Frenya perlahan meninggalkan halaman rumah utama. Frenya memang sudah berniat untuk pulang cepat hari ini, karena dia tau kalau Bundanya sedang berada di rumah sakit. Frenya tidak mau tiba tiba Arga bosan di rumah. Arga setiap siang selalu di bawa raun oleh Bunda sebelum dia tidur siang. Frenya yang tau kebiasaan Arga dari cerita Bunda makanya mengosongkan jadwalnya siang ini.


"Kita kemana kesayangan Frenya?" ujar Frenya menatap Arga.


Arga menunjuk lurus ke depan.


"Baiklah hari ini Frenya akan ikuti semua telunjur Tuan Muda Tersayang ini. Tapi jangan masuk gank kecil ya. Mobil Frenya nggak muat nanti." ujar Frenya kepada Arga.


Arga mengangguk tanda setuju kalau dia tidak akan menunjuk jalan masuk ke dalam gank gank sempit itu.


Frenya betul betul menuruti semua kemaun Arga. Kemana arah telunjuk Arga maka Frenya akan ke sana. Mobil pengawal yang mengikuti mobil Frenya hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan kakak beradik tersebut.


"Sepertinya Nona dan Tuan Muda pengen memutari ibu kota." ujar salah satu pengawal.


"Bensin kita amankan ya?" ujar pengawal tersebut.


"Aman. Sudah gue isi penuh, saat Nona mengabari kemaren akan membawa raun Tuan Muda, gue langsung isi full bensin." ujar pengawal yang membawa mobil.

__ADS_1


"Dari mana loe tau kita akan seperti ini?"


"Gue tau dari pengawal Nyonya Muda. Mereka mengatakan kalau Tuan Muda Arga sudah raun maka alamat bensin harus full. Loe lihat aja nanti berapa jamnya Tuan Muda akan raun."


Ternyata apa yang dikatakan rekan satu timnya memang benar. Mereka telah berkeliling ibu kota selama dua jam.


"Hahahaha. Berarti ini yang dirasakan pengawal Nyonya Muda." ujar pengawal sambil geleng geleng tidak percaya.


Setelah tiga jam berjalan jalan. Akhirnya Frenya membawa Arga pulang. Bunda sudah berada di rumah utama. Tadi Bunda menghubungi Frenya. Untung saja Arga sudah puas dengan acara raunnya. Jadi Arga tidak mengamuk saat di ajak pulang ke rumah.


Gina menanti kehadiran putra bungsunya yang ditinggalkannya seharian itu. Dia sangat merindui putranya itu.


Arga yang melihat Bundanya sudah merentangkan tangan langsung berlari masuk ke dalam pelukan Bunda.


"Sayang satu." ujar Gina kepada Arga.


Arga langsung mencium pipi Gina dengan berkali kali.


"Berapa jam Nya?"


"Ngeri Bun, tiga jam. Capek juga nyetir tiga jam. Mana nggak boleh ngebut lagi. Dia bener bener menikmati perjalanan Bun." ujar Frenya menjawab pertanyaan Bundanya.


"Itu yang Bunda rasain tiap hari. Kamu sekali dalam sehari, Bunda bisa sampe tiga kali." ujar Frenya.


Sedangkan yang sedang dibicarakan asik memakan potongan buahnya. Dia memasang muka tak bersalah dan tak berdosanya.


Mereka kemudian mengobrol.


"Bun, kapan Oma dan Atuk pulang?"


"Sepertinya hari ini. Tadi oma kirim pesan ke Bunda."


Arga yang mendengar oma dan atuknya akan pulang, langsung membuka bajunya, dia menarik Gina untuk segera memandikannya.


"Arga mau mandi?" tanya Gina.


Arga mengangguk.


"Oke mari kita mandi"


Setelah kepergian Gina. Frenya bertanya tanya di dalam hatinya. Kenapa adik kecilnya itu tidak juga bicara. Semua keinginannya hanya pakai isyarat saja.


"Sepertinya aku harus ngomong dengan Daniel." ujar Frenya yang langsung menyambar kunci mobilnya.


Dia tidak bisa menunggu Daniel pulang baru berbicara. Frenya harus mengatakannya sekarang dan meminta Daniel untuk libur dan memperhatikan Arga dengan teliti. Agar Daniel bisa mengambil kesimpulan tentang Arga. Frenya tidak ingin terlambat dalam mengambil tindakan terhadap Arga.


.

__ADS_1


.


.


.


Frenya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dan berbicara dengan Daniel.


Sesampainya di rumah sakit. Frenya memarkir mobilnya disembarangan saja. Dia tidak memarkir di tempat khusus parkiran untuk keluarga Gina.


Setelah memarkir mobilnya perempuan cantik dengan baju kerja itu langsung masuk ke dalam rumah sakit. Dia berjalan dengan sangat cepat. Pengawal yang biasanya santai terpaksa harus berjalan cepat karena Nona mereka berjalan seperti dikejar Anjing. Semua kejadian tidak luput dari pengamatan para pengunjung rumah sakit. Tapi Frenya santai saja, dia tidak ambil pusing dengan tatapan tatapan orang orang itu. Bagi Frenya yang terpentinf sekarang adalah dengan cepat menemui Daniel.


Setelah sampai di depan ruang ptaktek Daniel, Frenya langsung saja masuk ke dalam ruangan. Ternyata ruangan Daniel kosong. Tidak ada dia di sana.


"Ah kemana lagi si Uda ini." ujar Frenya yang frustasi tidak menemukan udanya di ruangan.


"Maaf Nona, mau mencari dokter Daniel?" ujar seorang suster.


"Bener Sud. Dokter Daniel dimana ya?" ujar Frenya.


"Dokter Daniel di ruangan direktur Nona." ujar suster yang belum selesai memberitahukan dimana letak ruangan itu dan Daniel sedang mengapa di sana.


Frenya langsung berlari menuju ruangan direktur. Tanpa basa basi Frenya langsung masuk ke dalam. Ternyata di dalam sedang ada rapat antara Daniel dan beberapa pemimpin ruangan.


Daniel yang kaget karena ada yang berani menerobos langsung ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ingin marah dan bersiap akan membentak orang tersebut. Tetapi saat melihat siapa yang masuk, Daniel mengurungkan niatnya. Dia menemui Frenya yang tengah berdiri membatu di pintu ruangan. Dia sedang menahan rasa malunya karena menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.


Daniel memukul pelan pundak adiknya itu.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"Ada perlu. Tapi lanjutkan aja dulu meetingnya. Nanti kita bahas." ujar Frenya yang akan berjalan keluar.


"Kamu duduk aja di kursi itu. Aku nggak akan lama." ujar Daniel yang paham ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan oleh Frenya kepada dirinya.


Frenyas bukan seorang yang ceroboh yang melakukan sesuatu dengan tergesa gesa. Pasti ada sesuatu yasng membuat Frenya menjadi seperti itu. Daniel sebenarnya juga penasaran. Tapi dia harus berusaha bersabar, karena rapat ini juga penting.


"Maafkan adik saya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat dia seperti itu." ujar Daniel sambil melirik ke arah Frenya yang masih manahan rasa malunya.


.


.


.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya Daniel selesai juga rapat. Frenya yang lelah sudah tertidur dari tadi dengan merebahkan kepalanya ke atas meja kerja Daniel.


Frenya akan menceritakan semuanya kepada Daniel. Dia tidak ingin terlambat memperbaiki dan mengobati adik yang paling disayangnya itu.

__ADS_1


__ADS_2