Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Hasil Akhir Sari


__ADS_3

Ayah orang pertama yang mengambil nasi. Dia mengambil dalam porsi besar, hal itu disengaja oleh Ayah untuk membangkitkan selera makan semua orang. Setelah melihat Ayah yang normal normal saja makan, semuanya kemudian mengambil menu makan siang mereka. Mereka makan dalam diam banyak hal berkecamuk di dalam diri mereka masing masing. Terutama Bram, Bram sampai saat ini belum tau kondisi terkibi Sari. Dia sudah bertanya kepada Daniel, jawaban Daniel sama, dia juga belum tau


Mereka makan dalam keadaan diam, tidak seorangpun dari mereka yang membuka obrolan. Ghina menatap Aris lama. Aris yang tau suasana isi hati istrinya, meraih dan menggenggam tangan Ghina. Aris mengajak Ghina berdiri.


"Ayuk ikut aku sebentar." ujar Aris.


Ghina berdiri dari duduknya. Dia dan Aris pergi ke suatu tempat yang hanya mereka yang tau.


Tiba tiba salah satu dokter membuka salah satu pintu ruangan operasi. Semua orang yang berada di depan ruangan operasi langsung berdiri dari duduk mereka. Mereka meletakan piring yang masih ada sedikit menu makan siang. Mereka berjalan menghampiri dokter.


"Bagaimana dokter dengan istri saya?" tanya Ayah yang melihat salah satu dokter keluar dari ruangan operasi Ibu.


"Maaf Bapak, operasi belum selesai dilakukan. Saya harus masuk ke ruangan sebelah." ujar dokter yang langsung berjaln ke ruangan tempat Sari di operasi.


"Niel kok bisa gini?" tanya Papi kepada Daniel.


"Dokter Toni salah satu dokter syaraf terbaik di sini Atuk. Sepertinya Sari juga membutuhkan dokter Toni sekarang." ujar Daniel.


"Niel tidak mau memberikan dokter yang tidak terbaik dibidangnya Atuk. Walaupun di sini semua dokter terbaik tapi masih ada yang di atas mereka maka Daniel akan berikan yang di atas mereka." ujar Daniel menenangkan hati keluarganya.


"Ayuk semua duduk lagi. Kita tunggu saja kabar selanjutnya." ujar Ayah yang sudah mengambil sepotong semangka dari dalam kotak.


Ayah memang terlihat sangat tenang sekali. Dia bisa mengendalikan emosinya dalam menerima kejadian yang menimpa keluarga besarnya.


Aris ternyata membawa Ghina keruangan Daniel. Dia sudah meminjam kunci ruangan itu ke Daniel tadi.


Sesampainya di dalam ruangan, Aris langsung membawa Ghina kedalam pelukannya. Dia memeluk Ghina dengan sangat erat. Selain memelik Ghina, Aris mengecup wajah istrinya yang sangat terlihat menyimpan masalah berat.


Aris memegang wajah cantik istrinya itu. "Sayang kamu harus yakin kalau Sari akan sembuh. Jangan seperti ini, kamu tidak hanya menyiksa diri kamu saja tetapi juga aku sayang. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini. Tersenyumlah sayang." ujar Aris.


Ghina menghamburkan dirinya kedalam pelukan suaminya itu. Dia menangis sejadi jadinya dalam pelukan Aris. Dia menumpahkan semua isi hatinya. Aris membiarkan saja Ghina melakukan hal itu. Aris tau Ghina membutuhkan tempat untuk menangis.


"Menangislah sayang kalau itu bisa membuat kamu tenang. Aku akan menunggu." ujar Aris.


Ghina terus saja menangis. Aris dengan sabar menunggu sampai tangisan Ghina mereda dengan sendirinya.


"Sayang cium aku sayang." ujar Ghina yang mendadak meminta ciuman dari suaminya.


Aris mendekatkan bibirnya ke bibir Ghina. Mereka kemudian berciuman cukup lama sampai Ghina mengambil nafasnya. Setelah itu mereka kembali berciuman. Ghina benar benar tidak menginginkan ciuman itu cepat berakhir. Mereka terus saja berciuman. Ghina dan Aris menikmati ciuman mereka.


"Sayang udah. Aku udah tenang." ujar Ghina kepada Aris.

__ADS_1


Mereka kemudian keluar dari ruangan Daniel. Aris dan Ghina kembali menuju ruangan operasi. Mereka berkumpul kembali dengan semua anggota keluarganya.


"Dari mana aja Ghin?" tanya Mira saat melihat sahabatnya itu pergi cukup lama.


"Ada perlu sebentar." jawab Ghina yang tidak mengatakan dari mana mereka tadi.


Mereka kembali duduk di kursi tunggu. Mereka semua sibuk dengan pikiran masih masing. Tepat pukul delapan malam pintu ruangan operasi tempat Sari dilakukan tindakan terbuka lebar. Seorang dokter keluar dengan wajah bertekuk sepuluh.


"Dokter bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Bram yang sudah tidak sabaran ingin mengetahui kondisi istrinya itu.


Dokter menatap Daniel. Daniel memberikan kode.


"Maaf sebelumnya Tuan. Kami semua tim dojter sudah berusaha memberikan tindakan yang terbaik untuk Nyonya, tetapi ternyata Nyonya memilih untuk tidur." ujar dokter tersebut.


"Maksud anda apa dokter?" tanya Bram sambil mengguncang bahu dokter itu dengan sangat kuat.


Dokter terluhat meringis manahan rasa sakit di pundaknya


"Papi." ujar Daniel sambil memegang tangan Bram.


"Oh maaf dokter saya tidak bermaksud" ujar Bram sambil melepaskan cengkram tangannya dari bahu dokter.


"Dokter apa maksudnya?" tanya Ayah yang daro tadi diam saja.


"Begini Tuan, Nyonya Sari mengalami trauma. Jadi dia lebih memilih untuk berada di alam bawah sadarnya. Hal ini lebih baik di jelaskan oleh dokter Rani." ujar dokter Toni.


"Baiklah dokter terimakasih atas informasinya." ujar Daniel.


"Saya permisi dulu dokter, Tuan, Nyonya." ujar dokter Toni yang kembali masuk ke dalam ruangan operasi.


"Pantesan mereka tulak tulakan untuk ngomong keluar, ternyata ini kejadiannya. Kalau tau gini, tadi juga nggak akan mau." ujar dokter Toni bermonolog sensirian.


Semua anggota Soepomo kecuali Ayah dan Papi yang tetap stay di depan ruangan operasi pergi menuju ruangan ICU. Mereka akan melihat keadaan Sari walau hanya bisa lewat kaca ruangan.


"Daniel, Rani mana?" tanya Bram.


"Maaf Papi, maksud dokter Toni tadi bukan Rani tetapi dokter Anggel istri Pailpi Afdhal." ujar Daniel.


Bram melihat kesekelilingnya dia tidak melihat Afdhal dan juga Anggel.


"Uda tadi minta izin pulang duluan Bang. Uni Anggel merasakan kram di perutnya." ujar Ghina kepada Bram.

__ADS_1


"Besok Mami kerja kok Pi. Jadi Papi bisa bertanya ke Mami besok." ujar Daniel sambil memegang pundak Bram. Kadang Daniel menjadi sahabat oleh Bram. Begitu juga sebaliknya Bram juga menganggap Daniel sebagai sahabatnya.


Mereka kemudian berdiri di depan ruangan ICU. Semua anggota keluarga melihat Sari dari balik kaca ruangan ICU itu. Mereka hanya bisa meraba kaca saja.


"Papi mau masuk?" tanya Daniel kepada Bram yang terlihat sangat ingin masuk ke dalam.


"Apa boleh Niel?" tanya Bram yang terlihat sangat berharap memang boleh masuk ke dalam menemani istrinya.


"Boleh Pi. Tapi harus mandi dan tukar pakaian dulu." ujar Daniel.


Bram terlihat sedikit kecewa. Dia tidak mungkin pulang dulu ke rumah untuk menukar pakaiannya.


"Papi pakai ruangan Niel aja. Di sana sudah ada baju kemeja dan celana levis baru." ujar Daniel.


"Mana kuncinya?" ujar Bram dengan semangat.


"Sama Daddy." ujar Daniel tanpa rasa bersalah.


Mereka semua melihat kearah Aris dan Ghina. Mereka yang ditatap hanya bisa senyum senyum kecil saja.


"Pantesan ngilang kalian berdua. Berapa ronde?" tanya Bayu.


"No ronde. Hanya sekwilda doang nggak lebih nggak kurang." ujar Aris.


"Yeyeyeye percaya. Kalau sempat seronde kami bunuh loe berdua." ujar Bram lagi.


Aris memberikan kunci ruangan Daniel kepada Bram. Bram berlari menuju ruangan Daniel. Dia tidak ingin lama berpisah dengan istrinya itu. Sedangkan yang lain tetap berdiri menunggu di depan ruangan ICU.


"Niel, apa Bundan dan Mami nggak bisa masuk?" tanya Ghina.


"Besok ya Bunda. Bunda bersih badan dulu. Talutnya nanti ada bakteri. Itu aja." ujar Daniel.


Bram yang selesai bersih bersih kembali menuju ruangan ICU..


"Kalian pulang aja dulu. Biar gue yang nungguin Sari. Nanti kalau ada apa apa gue telpon." ujar Bram.


"Gue di sini nemanin loe." ujar Aris.


"Sayang, kamu pulang dengan Bayu dan yang lainnya ya. Biar aku sama pengawal yang menemani Bram." ujar Aris kepada Ghina.


Ghina mengangguk setuju. Dia tidak mungkin melaranf Aris. Ghina sangat tau Aris begitu sayang dengan Bram.

__ADS_1


__ADS_2