Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Sakit Gina #3


__ADS_3

Aris, Bram dan Bayu sampai di depan pintu kamar rawat inap Gina. Aris berhanti mendadak dan membuat dia hampir di tabrak oleh Bram.


"Loe ngapain berenti nggak pake ngomong." kata Bram berbisik di telinga Aris.


"Gue nentramkan hati dulu nyet."


Aris kemudian mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya pelan - pelan. Aris melakukannya berulang kali. Setelah merasa nyaman Aris kemudian langsung mengetuk pintu ruang inap itu.


Tok tok tok


"Masuk" terdengar suara laki laki dari dalam kamar.


Aris kemudian membuka pintu kamar. Dia dan kedua sahabatnya melangkah masuk ke dalam kamar itu. Aris kemudian langsung menatap ke arah ranjang pasien, di sana tergeletak tak berdaya Gina yang memakai selang oksigen dihidungnya dan jarum impus yabg tertancap di tangan kanannya.


"Oh Tuan Aris, silahkan duduk duan." kata Ayah.


"Terimakasih Tuan Wijaya. Maaf kalau kedatangan kami membuat kenyamanan istirahat Gina terganggu." kata Tuan Wijaya.


"Tidak Tuan Aris. Kami malahan senang ada yang melihat Gina."


"Oh ya Tuan, Gina sakit apa, sampai harus di rawat di rumah sakit." tanya Bayu langsung memotong basa basi Aris. Aris yang mendengar Bayu mengambil pertanyaannya membulatkan matanya dengan marah kepada Bayu.


"Loe kelamaan." jawab Bayu enteng.


Bram dan yang lain yang ada di kamar inap Gina hanya tersenyum simpul mendengar tanggapan Bayu. Aris kemudian kembali mengubah raut wajahnya.


"Jadi Gina kenapa ya Tuan?" tanya ulang Aris


"Sebenarnya Gina sakit usus buntu dan harus dioperasi secepatnya."


"Kenapa tidak dilakukan sekarang juga? Apa dokternya tidak mau?" Aris mulai emosi.


"Dokternya mau, tapi dari Ginanya sendiri yang tidak memungkinkan untuk dioperasi saat ini." kata Tuan Wijaya dengan wajah lesunya.


"Kenapa?" lanjut Aris.


"Kata dokter yang memeriksa Gina. Gina sedang mengalami penurunan kepercayaan diri." lanjut ayah.


"Kok?" Aris langsung heran dan rada tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Ya Nak Aris, itulah yang terjadi dengan Putri kami. Kami hanya punya waktu lima hari untuk mengembalikan percayaan dirinya, kalau tidak maka semua akan terlambat." kata Nana sambil duduk di sebelah Ayah.


"Apakah sudah tau masalah apa yang membuat Gina sampai seperti ini?" tanya Bayu.


"Sudah nak Bayu. Tapi baru dugaan kami saja." jawab Nana.


"Masalah apa itu?" jawab Aris dengan nada marahnya. Bram kemudian meremas pundak Aris, meminta dia untuk bersabar dan tidak marah-marah.


"Maaf sebelumnya Aris. Nana akan memberi tahu, tapi Nana mohon kamu jangan salah sangka kepada kami. Nana tidak mau urusan personal dikaitkan dengan pekerjaan kedepannya. Apakah Nak Aris sanggup?" Nana menatap tajam dengan dingin kemata Aris.

__ADS_1


Tatapan Nana yang seperti itu membuat aura ruangan kamar Gina menjadi beubah. Aris, Bram dan Bayu tidak menyangka Nana akan bisa berbuat seperti itu. Ayah dan Afdhal yang sudah tau dengan siapa Nana, tidak bisa berbuat apa apa kalau sudah menyangkut Gina.


"Oke Nyonya saya berjanji." kata Aris.


"Baiklah Nana akan menantikan janji seorang laki laki." Nana mengambil nafas terlebih dahulu dan menentramkan hatinya. Nana tidak mau terbawa emosi dan akan mengatakan hal hal yang akan membuat Aris tersinggung.


"Sebenarnya Nak Aris yang membuat Gina mengalami penurunan kepercayaan diri adalah saat Gina ijut dengan Ayah ke kota B."


Aris langsung tersentak, dia ingat semua kejadian di kota B, dimana dia pura pura tidak kenal dengan Gina. Apakah semua itu penyebabnya?. Ayah, Nana dan Afdhal memperhatikan reaksi Aris. Sedangkan Bayu yang tau kejadian itu hanya mampu menepuk jidatnya. Bram yang melihat ekspresi Bayu mengangkat alis. Bayu yang oaham langsung mengangguk. Bram kemudian melaukan hal yang sama dengan Bayu.


"Maafkan atas sikap saya kepada Gina waktu di kota B, Tuan, Nyonya dan Afdhal. Saya tidak menyangka, sifat kekanak kanakan saya yang saya perlihatkan ke Gina akan memiliki dampak yang sangat buruk bagi Gina. Maafkan saya, saya tidak bermaksud seperti itu." kata Aris dengan panjang lebar. Bayu dan Bram yang baru mendengar Aris berbicara panjang lebar dan penuh penyesalan langsung saling menatap.


"Kekuatan cinta." kata Bayu sambil berbisik. Bram kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Bayu.


"Kami tidak mempersalahkan Nak Aris. Tapi kami akan meminta satu hal kepada nak Aris. Karena menurut dokter yang menangani Gina, orang yang menjadi penyebab Gina mengalami hal inilah yang bisa mengembalikan Gina seperti semula." kata Nana.


"Baiklah Nyonya, saya akan membantu. Saya janji akan membuat Gina kembali seperti semula dengan cepat. Saya akan bertanggung jawab dengan sifat kekanak kanakan saya yang kemaren." jawab Aris mantap.


"Oh ya Tuan Wijaya, saya dari tadi tidak melihat Tuan Afdhal." kata Bram yang memang sudah lumayan akrab dengan Afdhal walaupun masih belum bisa dikatakan bersahabat.


"Afdhal tadi ada disini. Tapi dia langsung pergi saat tau permasalahan Gina." jawab Ayah.


"Maksudnya?" tanya Bram.


"Ya, Afdhal sangat menyayangi Gina. Hari waktu Gina ke kota B dengan ayah. Gina sudah minta ikut dengan Afdhal ke kantor. Tapi Afdhal menolak, disebabkan ada meeting dengan nak Bram. Makanya Gina ikut Ayah ke kota B. Ternyata seperti ini kejadian selanjtnya. Itulah yang membuat Afdhal marah kepada dirinya sendiri." jelas Nana.


"Apakah Afdhal juga marah dengan saya Nyonya?" tanya Aris.


Saat mereka asik berbicara beberapa hal. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.


Tok tok tok


"Assalamualikum wr wb." terdengar suara sworang wanita yang mengucapkan salam.


"Waalikum salam. Masuk" jawab Nana.


Bayu yang duduk dekat kepintu langsung berdiri pergi membukakan pintu. Saat pintu terbuka terlihatlah tiga orang mahasiswi cantik sedang berdiri di depan pintu. Bram dab Bayu yang melihat langsung terpana.


"Cantik" kata mereka lirih bersamaan.


Aris yang melihat perubahan ekspresi kedua sahabatnya langsung ngomong "Norak loe berdua." ketus Aris.


Bram dan Bayu mengembalikan ekspresi mereka menjadi seperti biasa.


"Oh Mira dan Sari. Masuk sayang." kata Nana dari bangkunya.


Mira, Sari dan Anggel langsung masuk kedalam kamar Gina. Mereka mencium pipi Nana. Setelah itu menyalami dan mencium tangan Ayah. Sedangkan dengan Aris,Bram dan Bayu mereka hanya menyatukan telapak tangan dan mengakatnya sedada. Nampaklah raut kecewa dari muka Bram dan Bayu. Aris langsung saja menggelengkan kepalanya.


"Satu lagi perempuan cantik ini siapa Mir?" kata Nana, setau Nana sahabat Gina hanya dua yaitu Mira dan Sari.

__ADS_1


"Namanya Anggel, Na. Dia teman satu kelas di kampus." jawab Mira.


"Kami ke Gina dulu ya Na." kata Mira melanjutkan. Nan pun menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Mira.


"Gin, kami datang. Lie cepat sehat ya. Nggak ada loe, kami juga malaz ke kampus. Nggak ada lagi yang traktir kami makan, yang nebengin kami pulang ke kos." kata Sari sambil meneteskan air matanya.


Mira, Sari dan Anggel tidak mampu berlama-lama dekat dengan Gina. Mereka menuju ke sofa tempat semua orang duduk.


"Na, Gina kenapa ya?"


"Sakit usus buntu Sar." jawab Nana.


"Terus kok nggak dioperasi?"


"Ada masalah dari diri Gina yang membuat dia tidak bisa dioperasi." jawab Nana.


"Cerita Na. Mana tau kami bisa membantu" kata Mira.


Nana kemudian menceritakan semuanya kepada Mira, Sari dan Anggel. Sari dan Anggel yang mendengar cerita dari Nana langsung terkejut, tidak menyangka Gina bisa seperti itu. Sedangkan Mira tanpa diduga langsung menuju ke arah Aris. Mira memang sudah tau semuanya dari Gina. Gina selepas pulang dari kota B langsung menelpon Mira dan menceritakan semuanya. Mira tidak menyangka akibatnya akan sebesar ini.


"Woi bajingan. Jangan loe kira karena loe tampan, kaya, punya kekuasaan. Loe seneak perut aja mempermainkan wanita. Loe kalau suka bilang, jangan hanya jadi penguntit. Terus saat orang udah nggak lari larian dengan loe lagi, lie buat seakan akan loe nggak mengenalnya. Loe kira manusia batu. Dasar manusia sedingin kulkas nggap punya perasaan loe." kata Mira menggebu gebu.


Kemudian setelah melepaskan semua yang dirasa lewat ucapannya. Mira maju dan langsung "Plak" bunyi tamparan keras mendarat di pipi Aris.


Semua yang melihat apa yang dilakukan Mira langsung terdiam. Mereka takut Aris akan berbuat nekat terhadap Mira. Mereka tau Aris adalah tipe pria kejam apabila ada yang berani mempermalukannya, Aris tidak akan memandang jenis kelamin. Sedangkan Mira dia acuh saja. Mira siap menerima konsekuensinya. Paling parah Aris akan menghancurkan kedai bakso Ayahnya. Tapi dia bisa membangunnya kembali.


"Gue memang salah. Gue akan bertanggung jawab kepada Gina. Gue akan membuat kepercayaan diri Gina kembali. Gue juga udah minta maaf kepada keluarga Gina." jawab Aris tanpa emosi dan kemarahan, yang ada hanya ketulusan.


"Oke gue pegang ucapan loe. Kalau nggak siap siap aja loe gue bilang banci kaleng." kata Mira. Dalam hati Mira berkata "Kesempatan emas ngata ngatai Aris."


Semua yang mendengar ucapan Mira langsung mebggelengkan kepalanya.


Tak terasa hari sudah sore. Gina tidak mengalami perubahan yang signifikan. Semua tamu pamit untuk pulang.


"Tuan dan Nyonya, besok pagi saya akan kembali lagi. Dan akan mencoba berbicara dengan Gina. Saya sekarang harus mengkondisikan perusahaan terlebih dahulu dengan Bram dan Bayu."


"Baiklah Aris. Maaf merepotkan." kata Tuan Wijaya.


"Tidak apa apa Tuan. Saya akan bertanggung jawab."


Aris, Bran dan Bayu berpamitan pulang. Saat mereka berbalik terlihat Mira, dan Sari juga akan pulang. Sedangkan Anggel sudah dari tadi pulang karena mendapatkan telpon dari rumah.


"Kalian bertiga pulang dengan apa? Biar diantar supir Ayah saja." kata Tuan Wijaya.


"Naik ojek aja yah." jawab Mira.


"Kami antar aja."Kata Bram langsung.


"Gini aja. Bram loe ikut dengan Bayu ngantar Mira dan Sari. Gue pulang sendiri aja ke rumah utama. Selepas loe antar mereka berdua. Loe langsung aja ke rumah." kata Aris.

__ADS_1


"Sip." Bram kemudian memberikan kunci mobil ke Aris.


Mereka semya berjalan munuju parkiran mobil. Aris masuk kedalam mobil Bram sendirian. Sedangkan Bram menemani Bayu untuk mengantar Sari dan Mira ke kosan. Dua mobil mewah itu pergi meninggalkan parkuran rumah sakit. Menuju tujuan masing masing.


__ADS_2