Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pencarian 1


__ADS_3

Pagi harinya semua penghuni rumah sudah bangaun. Kecuali Bayu yang memang paling susah untuk bangun tanpa adanya tukang gedor pintu kamarnya. Semua sudah berpakaian santai. Hari ini kedua perusahaan akan diambil alih oleh Hendri asisten Papi. Semua sudah berkumpul di meja makan. Kecuali ya yang tasi manusia susah bangun pagi. Siapa lagi kalau bukan Bayu.


"Bram, mana tu tukang tidur?" kata Mami.


"Biasa Mi. Perlu di gedor dulu" jawab Bram.


Bram langsung menuju kamar Bayu. Bram menggedor pintu kamar tersebut seperti sipir menggedor ruang tahanan. Bayu keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi.


"Tumben nggak sedang ngucek mata keluar kamar loe. Biasanya masih ngucek mata" kata Bram yang heran karena Bayu sudah rapi.


"Perubahan" jawab Bayu yang langsung menuju meja makan.


"Woi. Main nyelonong bae" kata Bram sambil menutup pintu kamar Bayu.


Bayu kemudian duduk di kursi dia biasa duduk. Begitu juga dengan Bram yang duduk di kursinya. Mami mengambilkan Papi sarapan.


"Gin ambilan sarapan aku ya. Aku mau nasi goreng tambah dengan mie goreng" kata Aris.


Semua yang mendengar apa yang dikatakan Aris langsung berhenti beraktifitas. Aris heran kenapa semuanya diam. Aris baru tersadar kalau istrinya tidak lagi berada di rumah. Dia langsung berdiri masuk ke kamar Bram. Dia tidak sanggup untuk ikut sarapan di meja yang biasanya ia dilayani oleh istrinya itu. Mami yang melihat Aris masuk ke dalam kamar langsung menemui Aris.


"Kita lanjut makan saja. Aris belum terbiasa tanpa Gina disisinya. Malam dimana dia tidur Bram?" kata Papi sambil menyuap sarapannya.


"Di kamar aku Pi. Sepertinya Aris tidak akan masuk ke dalam kamar itu lagi. Untuk mengambil pakaiannya saja maid di suruh tadi pagi" jawab Bram.


"Kita doakan saja, semoga Aris cepat bisa menerima keadaan seperti ini. Papi takut dia depresi, itu saja" kata Papi.


Mereka akhirnya sarapan tanpa Aris. Mami keluar dari kamar Aris, mami menuju meja makan. Dia mengambilkan sarapan Aris.


"Kenapa Mi?" tanya Papi yang melihat Mami mengambil sarapan Aris.


"Sepertinya Aris tidak kuat untuk makan di meja makan Pi. Makanya Mami bawakan sarapannya ke kamar" kata Mami.


Mami kemudian membawa sarapan Aris ke dalam kamar Bram. Mami melihat Aris memandang ponselnya. Aris melihat fotho dirinya dan Gina saat mereka pergi ke taman bermain. Kiranya saat itu Gina sudah mengandung anaknya.


"Mi, apa Aris bisa menemukan Gina, Mi?"


"Bisa sayang. Kamu harus semangat. Makanya kamu harus makan biar kamu ada tenaga untuk mencari istri kamu" kata Mami memberikan semangat kepada Aris.


Aris mengambil piring yang berisi sarapan untuk dirinya. Aris makan dengan tanpa semangat. Tapi demi Gina dia harus makan, agar dia kuat mencari istrinya itu. Setelah menghabiskan setengah porsi sarapannya, Aris keluar dari kamar Bram. Dia duduk di sofa ruang tamu menunggu Papi dan yang lainnya. Papi yang melihat Aris sudah siap langsung berdiri untuk pergi menuju markas black jack. Semua yang di meja makan melihat papai sudah berdiri mereka juga ikut berdiri. Mereka akan meluncur ke markas black jack.


Tepat sebelum mereka berangkat Mira dan Sari datang. Mereka berpenampilan tidak seperti biasanya. Hari ini mereka memakai jins dan kemeja longgar serta kacamata hitam. Daniel yang melihat Sari dan Mira langsung menjabat tangan kedua wanita cantik itu. Bram dan Bayu langsung menarik kerah baju Daniel.

__ADS_1


"Woy, main nyosor aja. Dia pacar gue" kata Bram.


"Yang satu lagi pacar gue" kata Bayu.


"Loe mau mati" teriak Bram dan Bayu bersamaan.


"Maaf Tuan Bram dan Tuan Bayu. Bukan maksud saya seperti itu. Cuma saya sungguh tidak menyangka akan bertemu dua dari tiga pimpinan kelompok yang bisa menggemparkan dunia kalau mereka sudah bekerja menolong orang yang ke susahan." jawab Daniel.


"Apa?" teriak Bram dan Bayu yang mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel.


"Maaf Tuan Besar Soepomo" kata Sari.


"Panggil Papi saja. Kamu akan jadi menantu kedua ku" kata Papi.


"Baiklah Papi. Kami lebih menyarankan untuk rapat di sini saja" kata Sari.


"Kenapa?" Papi merasa heran.


"Pi. Gina merupakan seseorang yang disegani oleh banyak orang. Papi tidak akan menyangka ketemu tukang parkir di suatu tempat, bisa jadi itu adalah anggota Gina. Jadi saran kami lebih baik kita rapat di sini saja. Buat setidak mencoloknya." kata Sari.


"Kami saja ke sini tadi naik taksi online. Malam tadi aja kami tidur di hotel. Tidak di apartemen. Kami tau Gina seperti apa. Gina kalau sudah marah hanya satu yang bisa mengendalikannya yaitu Nana. Tapi dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa minta tolong Nana, yang ada nanti Soepomo dan Jaya Grub akan menjadi mangsa Wiyaja dan Bramantya." kata Sari.


"Jadi Sari bagaimana cara kita harus bergerak mencari Gina?" kata Papi.


"Pi. Sebenarnya Gina tidak pergi jauh. Gina masih di sini. Dia hanya pergi menenangkan dirinya. Gina masih tau apa yang dikerjakan oleh Aris. Kalau Gina beneran marah, maka Kak Aris udah nggak ada di sini lagi Pi. Perusahaan Soepomo dan Jaya grub tidak akan ada lagi, hanya tinggal nama saja" kata Sari.


"Sari, yang gue butuh sekarang adalah gue harus menemukan Gina" kata Aris yang mulai tidak sabar, dia meneriaki Sari dengan nada tinggi.


Sari yang memang pantangannya di hardik seseorang langsung berdiri.


"Oooo. Gue jangan loe hardik. Loe kira loe siapa? Kalau bukan gara gara kelakuan nggak bermoral loe, temen gue yang hamil nggak bakalan hidup sendirian di luar sana. Sialan loe manusia nggak punya otak." kata Sari sambil berjalan dari ruang tamu untuk keluar dari ruangan itu.


"Mira. Loe ikut gue atau ikut manusia nggak bermoral itu" tunjuk Sari kepada Mira.


Mira langsung berdiri dari duduknya.


"Maaf Pi. Mira nggak bisa bantu. Mira dari malam susah membujuk Sari agar mau membantu. Tapi ternyata bantuan kami tidak dibutuhkan di sini. Kami berdua permisi Pi." kata Mira sambil berjalan keluar menyusul Sari


Baram dan Bayu menyusul mereka berdua


"Sayang tunggu" teriak Bram.

__ADS_1


Sari tidak memperdulikan panggilan Bram. Dia langsung naik ke atas mobil golf yang terparkir di taman. Dia melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh. Taksi sudah menunggu mereka di luar. Sari dan Mira langsung naik taksi itu.


"Sar matikan ponsel loe. Nanti Bram melacak kita melalui ponsel ini" kata Mira kepada Sari. Sari mematikan ponselnya


"Sialan tu makhluk. Sudahlah dia yang salah eeee kita mau nolong malah di bentak kayak gitu. Dikiranya kita sampah kali ya" kata Sari dengan murka.


"Pak Ke jalan ini pak" kata Sari memerintahkan supir taksi mereka.


Taksi mengantarkan Sari dan Mira ketujuan mereka, yaitu markas mereka.


"Mir waktu Gina membawa Bram dan Bayu ke sini, mata mereka ditutup kan?"


"Ditutup. Mereka nggak akan tau jalan ke sini. Loe tenang aja"


"Sekarang kita harus bagaimana mencari Gina?"


"Gampang itu mah." kata Sari.


Sari mengeluarkan laptopnya dari meja kerjanya di markas itu.


"Loe panggi Beni sana Mir"


"Sip"


Mira pergi memanggil Beni, salah satu tim IT yang hebat yang kemampuannya hampir setara dengan Gina. Beni adalah seorang hekker yang sudah membobol sekian banyak bank. Dan menyerahlan hasil pencuriannya untuk badan amal.


"Ben dipanggil Sari keruangannya" kata Mira.


"Kalian mau cari Nona Gina kan ya?" tebak Beni.


"Yup"


"Suruh Sari kesini. Komputer gue lebih canggih dari pada laptopnya itu" kata Beni kepada Mira.


Mira yang capek jalan ke sana kemari langsung menghubungi ponsel Sari.


"Sar loe ke sini" kata Mira.


Sari langsung menuju ruangan IT, mereka akan melacak keberadaan Gina yang sedang bersembunyi di suatu daerah. Daerah yang tidak diketahui oleh sahabat dan keluarganya.


Tapi apakah Gina bisa bersembungi dari Beni, salah satu anak didiknya di grub itu. Beni banyak belajar dari Gina selama ini.

__ADS_1


__ADS_2