
"Argha, Bree lapar ini, kita berenti makan dulu gimana?" tanya Frenya kepada Argha yang dari tadi dengan santainya berjalan menuju tempat yang lain dengan Vian dan Hendri di sebelahnya.
Sedangkan Erik berjalan selalu di sebelah Bree kalau tidak ada Argha. Sedangkan kalau ada Argha, maka Erik akan berjalan di belakang Bree bersama dengan Hendri asisten Argha.
"Ya udah Uni, minta Bree untuk memilih di restoran mana dia mau makan Uni. Aku ikut aja" jawab Argha yang sedang serius membicarakan sesuatu hal dengan Hendri dan Vian.
"Bree, restoran mana?" tanya Frenya kepada Bree yang terlihat sedikit cemberut ke arah Argha.
"Jangan cemburu sama Vian. Vian itu sudah punya suami. Suaminya bernama Frans, asisten dari Juan suami Uni" ujar Frenya yang paham kenapa Bree menatap lama dan cemberut ke arah Argha, Vian dan Hendri.
"Nggak ada cemburu" jawab Bree yang tidak mau mengakui apa yang dirasakan oleh dirinya.
"Yakin?" tanya Frenya menatap Bree.
Bree menggeleng lemah.
"Haha haha, Bree denger Uni ya. Tipe tipe Argha sama dengan tipe suami Uni. Mereka kalau sudah cinta dengan satu orang, maka mereka tidak akan mau mendua. Mereka akan tetap fokus kepada satu orang saja." kata Frenya memberikan nasehat kepada Bree untuk tidak cemburu buta kepada Argha.
"Mereka walaupun bayak di dekati wanita, bagi mereka itu tidak penting. Mereka akan tetap bersama dengan kita. Mereka tidak akan berpaling sama sekali dari kita. Jadi kamu tenang saja. Nggak usah cemburu cemburu. Bikin capek sendiri aja" lanjut Frenya memberikan masukan kepada Bree.
Bree mencerna semua informasi yang diberikan oleh Frenya. Bree mengait ngaitkan dengan apa yang terjadi selama ini. Argha sama sekali tidak perduli dengan wanita manapun.
Bagi Argha juga seperti itu, yang ada di mata dan pikiran Argha serta hati Argha hanya Bree seorang tidak ada yang lain. Makanya saat semua wanita mendekati Argha, Argha akan mengelak dan akhirnya mengatakan kalau Bree adalah tunangannya. Argha memang menginginkan Bree menjadi tunangannya. Dia akan mengatakan hal itu kepada Daddy dan juga Nana saat dia sampai di negara I besok pagi.
"Iya Uni, Bree tidak akan cemburu lagi. Capek. Lagian kalau Argha tipe playboy tentu dari kemaren kemaren dia udah banyak pacarnya. Ini satupun nggak ada. Malahan saat di dekati Argha kabur dan memilih mengatakan kalau aku adalah tunangannya." ujar Bree yang sudah kembali sadar dalam bayangan bayangan buruknya.
"Makanya nggak usah pake cemburu, nggak ada gunanya juga" ujar Frenya sambil menggandeng tangan Bree menuju salah satu restoran ternama yang ada di mall itu.
Bree kemudian memiliki sebuah ide cemerlang di otaknya. Dia secara tidak langsung akan mengatakan kepada Argha, kalau Argha hanya milik dia seorang.
Bree melepaskan tangannya dari Frenya. Frenya menatap ke arah Bree.
"Mau ngapain?" tanya Frenya kepada Bree dengan isyarat mulutnya.
__ADS_1
"Tenang aja. Saksikan aja" ujar Bree menjawab pertanyaan dari Frenya.
Bree berjalan mendahului Frenya. Frenya hanya bisa melihat saja apa yang akan dilakukan oleh Bree kepada Argha.
Tiba tiba saja Bree membelah antara Argha dan Vian. Bree menggandeng tangan Argha. Argha yang kaget dengan tingkah Bree memandang ke arah Bree.
"Kenapa?" tanya Argha melihat ke wajah cantik Bree.
"Laper" jawab Bree dengan santainya dan tetap menggamit lengan Argha.
"Ya makan kalau laper. Kan udah di bilang pilih sendiri aja restorannya. Kenapa nggak milih sendiri" ujar Argha kepada Bree.
"Males milih sendiri. Milih sama kamu aja" ujar Bree sambil memberikan tatapan tajam ke arah Vian.
Vian paham dengan apa yang terjadi. Vian kemudian bergeser ke arah Frenya. Frenya hanya bisa geleng geleng kepala saja dengan apa yang dilakukan oleh Bree untuk mengusir wanita yang berdiri di sebelah kekasih hatinya itu.
"Dia cemburu" ujar Frenya kepada Bree.
Vian mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Frenya kepada dirinya. Vian bisa dengan sangat jelas melihat bagaimana sikap dan tingkah yang diperlihatkan oleh Bree tadi kepada dirinya.
"Terserah aja, yang penting makan. Lapar" jawab Bree yang kembali ke sifat aslinya yang cuek saja.
"Lah tadi manja nggak jelas, sekarang cuek lagi. Ada apa ini?" ujar Argha protes dengan sikap Bree yang berubah total
"Nggak kenapa kenapa. Emang ada apa?" ujar Bree balik bertanya kepada Argha.
"Tadi kelihatannya mesra banget sampe sampe menggenggam tangan aku kayak nggak akan lepas aja." ujar Argha sambil memandang penuh selidik ke arah Bree.
"Perasaan dari tadi biasa aja. Nggak ada yang luar biasa" jawab Bree yang nggak mau ketahuan oleh Argha kalau dia cemburu saat menyaksikan Argha berjalan bersisian dan mengobrol akrab dengan perempuan.
"Jujur?" tanya Argha menatap tajam mata Bree.
"Jujur" jawab Bree berusaha membalas tatapan Argha. Bree tidak mau Argha tahu kalau dia cemburu tadi kepada Vian.
__ADS_1
"Oke." jawab Argha mengalah mendengar jawaban Bree yang Argha tahu kalau Bree berbohong.
"Sudah nggak usah ribut. Itu restoran udah banyak kali yang terlewatkan. Kalian mau makan dimana coba" ujar Frenya berkata kepada Argha dan Bree yang terlihat masih meributkan hal hal yang tidak penting.
"Depan masih ada Uni" jawab Argha.
Argha dan Bree melanjutkan langkah mereka mencari sebuah restoran untuk dijadikan tempat mereka menyantap makan sore yang tertunda.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran masakan dari negara matahari terbit.
"Uni di sini aja Uni" ujar Bree kepada Frenya yang berjalan di belakang mereka berdua.
Mereka berenam kemudian masuk ke dalam restoran tersebut. Mereka duduk di dua meja yang berbeda. Dua orang pelayan datang menghampiri meja mereka dan memberikan daftar menu yang bisa mereka pesan.
Bree melihat menu menu yang disajikan oleh restoran. Bree menyebutkan beberapa pesanannya.
"Kamu apa Gha?" tanya Bree kepada Argha.
"Saya sama dengan dia. Jadi semua pesanan dia buat dua saja" ujar Argha yang malas membaca menu yang ada dan memilih untuk menyamakan saja menu dirinya dengan Bree.
"Anda bagaimana Nyonya?" tanya pelayan saat melihat cincin yang dipakai oleh Frenya.
Frenya menyebutkan apa saja pesanannya. Meja sebelah juga sudah melakukan pemesanan. Mereka kemudian menunggu pesanan datang sambil mengobrol ringan.
"Uni apa Uda Juan nggak datang ke pesta pernikahan Daddy dan Nana?" tanya Argha yang dari tadi tidak ada mendengar tentng Juan dari Frenya.
"Tadi udah telpon. Katanya diusahakan datang karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Jadi, sepertinya dia akan datang pas acara di mulai aja" ujar Frenya mengatakan apakah Juan akan hadir atau tidak di acara Daddy dan Nana.
"Ooo. Ribet jadi pebisnis ya. Apalagi kalau harus memilih antara keluarga dan kontrak kerjasama" ujar Argha sambil menatap jauh ke depan.
"Kamu besok akan mengalaminya. Jangan dipikir dari sekarang" ujar Frenya kepada Argha yang terlihat memikirkan apa yang dikatakannya tadi.
Saat mereka asik mengobrol pesanan mereka datang diantar oleh pelayan restoran.
__ADS_1
"Mari makan" ujar Argha.
Argha kemudian memimpin pembacaan doa sebelum makan. Setelah itu barulah mereka berenam menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pelayan restoran sesuai dengan yang mereka pesan tadi.