
Pagi harinya mereka semua sudah memulai kembali aktifitas seperti biasa. Papi sudah berangkat ke perusahaan dengan Asisten Hendri. Aris hari ini berangkat sendirian karena Bram akan mengurus acara lamarannya.
Bram yang berencana mau minta tolong dengan Frenya tidak jadi, karena Frenya sedang berada di negara U menggantikan Ghina di sana.
"Ghin, apa aku bisa minta tolong kamu?" tanya Bram kepada Ghina.
"Apa kak?" tanya balik Ghina.
"Rencana mau minta tolong untuk mengurus acara lamaran. Aku benar benar nggak tau gimana cara lamaran." ujar Bram.
"Kakak mau melamar berdua aja atau kita harus ke Padang?" tanya Gina.
"Berdua aja dulu."
"Oke. Nanti aku akan telpon manager GA Hotel. Kakak adain aja di rofttop hotel. Kakak bisa menghubungi manager hotel." ujar Ghina.
"Acaranya untuk kapan Kak?"
"Malam besok la." jawab Bram dengan penuh keyakinan.
"Oh okay kak kalau gitu. Akan Ghina atur nanti. Ghina memang ada rencana juga mau ke hotel." jawab Ghina.
"Makasi Ghin. Tapi Ghin apa kakak boleh menyarankan sesuatu ke kamu." ujar Bram.
"Boleh Kak. Ada apa ya?" ujar Ghina penasaran.
"Menurut kakak, kamu lebih baik mengaku ke Papi tentang siapa kamu sebenarnya. Jangan sampai Papi tau dari orang lain Gin." ujar Bram dengan menatap Ghina sungguh sungguh.
"Aku memang ada rencana Kak. Tapi nggak tau kapannya." ujar Ghina dengan pelan.
"Sekarang aja. Papi sedang nggak banyak pikiran. Kakak hanya tidak ingin nantinya ada lagi keributan di rumah besar ini. Rasanya sudah cukup dengan semua keributan yang sudah ada Gin." ujar Bram berharap Ghina mau mengerti dan segera membicarakan semuanya kepada Papi.
"Baiklah Kak. Aku akan ke kantor Papi." ujar Ghina.
"Aku bersiap siap dulu. Kakak jadi ke hotel hari ini?" tanya Ghina.
"Kayaknya besok Gin. Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu." jawab Bram.
"Oh baiklah Kak." ujar Ghina.
"Ghin semua demi kebaikan kita bersama." ujar Bram sambil tersenyum menenangkan ke arah Ghina.
"Aku tau kok kak. Semuanya yang terbaik untuk kita." jawab Ghina.
__ADS_1
Ghina sama sekali tidak marah kepada Bram. Malahan dia senang Bram mengingatkannya untuk melakukan hal itu. Suatu hal yang seharusnya datang dari Aris. Tetapi Aris bukannya tidak mau mendorong Ghina untuk mengaku kepada Papi. Tapi Aris memberikan semua keputusan kepada Ghina. Aris tidak mau terkesan memaksa Ghina untuk melakukannya.
Ghina selesai bersiap siap. Dia sudah menghubungi Sari dan Mira untuk berangkat menuju perusahaan Jaya Grub. Mereka bertiga janjian saling tunggu di parkiran perusahaan.
"Bik Imah. Kalau Argha pulang katakan saja saya ada janji dengan Sari dan Mira ya Bik." ujar Ghina kepada Bik Imah yang sedang sibuk membereskan kulkas dan isinya.
"Baik Nyonya. Nanti akan saya sampaikan. Nyonya hati hati di jalan ya." ujar Bik Imah yang khawatir dengan Nyonya nya itu.
"Makasih Bik. Saya akan selalu hati hati. Bik Imah jangan ragukan kehati hatian Saya. Saya jalan dulu ya Bik." ujar Ghina.
Ghina melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya yang terparkir rapi di teras rumah. Pak Paijo sudah menyiapkan mobil itu sejak dari tadi pagi. Saat Ghina mengatakan akan keluar hari ini.
Ghina masuk ke dalam mobil miliknya. Dia melajukan mobil itu dalam kecepatan sedang
'Kami sudah sampai' bunyi pesan masuk di ponsel Ghina yang dikirim oleh Sari.
'Gue dikit lagi' balas Ghina juga dengan mengirim pesan.
Ghina menambah laju mobil miliknya. Dia tidak mau kedua sahabatnya itu menunggu terlalu lama. Tidak berapa lama Ghina sudah membelokan mobil untuk masuk ke area parkir perusahaan Jaya Grub. Ghina memarkir mobilnya di sebelah mobil Mira.
Mereka bertiga kemudian turun dari mobil masing masing.
"Tumben telat loe?" tanya Sari.
"Udah masuk. Gin loe beneran udah siap untuk menceritakan semuanya ke Papi?" tanya Mira yang memang sudah dianggap sebagai menantu oleh Papi.
"Udah Mir. Gue akan beritahukan semuanya kepada Papi. Termasuk dengan kepemilikan kalian di dalamnya." jawab Ghina sambil tersenyum meyakinkan ke dua sahabatnya untuk selalu percaya dan mendukung dia.
"Oke sip. Mari kita hadapi." ujar Mira sambil merangkul bahu kedua sahabatnya.
Ketiga wanita yang pintar dan juga pebisnis handal itu masuk ke dalam perusahaan Jaya Grub. Semua orang yang kenal dengan Ghina menunduk memberikan penghormatan kepada Ghina. Ghina membalas dengan seulas senyum tipis. Itu adalah kebiasaan Ghina saat akan menghadapi pertemuan penting.
"Santai Ghin jangan tegang." ujar Sari sambil menahan tawanya.
"Mana ada tegang. Loe baru kenal gue?" tanya Ghina kepada Sari.
"Nggak. Makanya gue ingetin elo supaya nggak tegang." jawab Sari tidak mau kalah.
Mereka masuk keluar dari dalam lift. Mereka bertiga bertemu dengan Asisten Hendri yang sudah menunggu di depan pintu ruangan Papy. Ghina tadi sempat menghubungi semua orang untuk berkumpul di perusahaan Papi. Semua itu dilakukan Ghina dengan persetujuan kedua sahabat terbaiknya.
"Apa semua sudah di dalam paman Hendri?" tanya Ghina.
"Sudah Nyonya Muda. Tinggal menunggu Nyonya dan Nona." ujar Asisten Hendri melirik Sari.
__ADS_1
Sari mendekat ke Asisten Hendri.
"Katakan kepada anak Asisten itu. Suruh lamar saya, kalau tidak saya yang akan lamar dia." ujar Sari sambil menatap tajam Asisten Hendri.
Gina dan Mira yang mendengar kalau Sari yang akan ngelamar Bram, mereka berdua hanya bisa geleng geleng kepala saja.
Asisten Hendri membukakan pintu ruangan Tuan Soepomo untuk ketiga wanita cantik yang ternyata merupakan pebisnis handal.
"Nah ini ni yang ditunggu dari tadi. Akhirnya mereka datang juga." ujar Papi.
Asisten Hendri yang tadi keluar kembali dari ruangan Papi kembali masuk.
"Tuan, ruangan sudah siap." jawab Asisten Hendri.
Mereka semua bergerak ke ruangan meeting keluarga yang terletak di rofttop perusahaan. Papi sengaja mengajak untuk berdialog di sana agar suasana kekeluargaan tidak hilang sama sekali.
Aris menggandeng tangan Ghina.
"Kamu siap sayang?" tanya Aris.
Cup. Ghina mengecup bibir Aris sekilas.
"Demi keluarga kita, aku akan selalu siap sayang." jawab Ghina.
Aris memeluk Gina di depan semua orang. Bayu juga melakukan hal yang sama kepada Mira. Bram mulai terpancing, dia hendak memeluk Sari.
"Stop Bram. Halalin dulu." ujar Papi dengan menatap tajam ke arah Bram.
"Hehehehe. Maafin Bram Pi." ujar Bram.
Mereka semua akhirnya sampai juga di rooftop perusahaan. Mereka duduk di kursi kursi yang sudah disediakan oleh Asisten Hendri. Terlihat di sana juga terpasang sebuah layar dan infocus.
"Kita mulai Ghin?" tanya Papi kepada Ghina.
Ghina mengangguk. Dia mengambil sebuah flashdis yang ada di dalam tas tangannya. Ghina menampilkan sebuah folder yang terbagi dalam tiga bagian. Tapi yang satu folder masih terkunci.
"Baiklah, sebelumnya Saya pribadi meminta maaf yang sebesar besarnya terutama kepada Suami tercinta saya yang beberapa tahun silam tidak saya beritahu siapa dan ada apa dengan saya. Tapi intinya aku mencintaimu selalu sayang." ujar Ghina sambil menatap Aris dengan penuh cinta.
"Selanjutnya Saya juga minta maaf kepada mertua tercinta saya. Maafkan Ghina Pi, bukan maksud Ghina tapi ya itulah Pi." ujar Ghina menatap Papi.
Papi mengangguk memaafkan Ghina.
"Oke kita kembali ke layar. Pada layar terdapat tiga buah folder yang setiap folder dinamai dengan nama kami bertiga. Kami akan membahas sendiri sendiri. Tetapi ada satu folder yang masih terkunci. Ntahlah apa dia mau membahas sekarang atau pada saat dia sudah di lamar. Kami berdua sepakat menyerahkan kepada dirinya sendiri." ujar Ghina sambil menatap sahabatnya Sari.
__ADS_1
Sari tersenyum bahagia. Ghina memberikan keputusan kepada dirinya sendiri. Sari juga sudah memiliki keputusannya sendiri.