Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Menunggu Mu #1


__ADS_3

(Seluruh percakapan harusnya bahasa negara F, tapi author tidak pandai makanya langsung jadi bahasa kita aja)


Pagi harinya Aris yang bangun dengan suasana hati yang belum mambaik langsung mencari ponselnya. Aris berharap moodbosternya akan ada di ponselnya. Aris melihat begitu banyak notifikasi pesan, tetapi semua notifikasi itu diabaikan oleh Aris. Aris hanya ingin melihat satu notifikasi pesan, yaitu pesan dari Gina.


Ternyata apa yang diharapkan oleh Aris tidak menjadi sia sia, ada notifikasi dari Gina yang mengatakan bahwa Gina tidak marah, dan meminta Aris untuk pulang ke negara I dengan selamat. Setelah membaca pesan WA dari Gina, Aris langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ada meeting dengan seluruh jajaran direksi pagi ini. Aris tidak akan membuang buang waktu untuk berada di negara F. Aris harus mempercepat semua geraknya. Dia berniat tidak akan menghabiskan waktu sebulan di negara ini. Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya Aris langsung mengambil ponselnya.


✉️ Aris.


Syukurlah kalau kamu tidak marah. Kakak kira kamu marah karena tidak balas chat dari kakak.


✉️ Aris


Kakak tau di situ sedang malam hari, kakak cuma mau mengasih kabar, kalau kakak ada meeting. Selepas meeting nanti akan kakak WA lagi.


✉️ Aris


Kamu jangan lupa makan obat dan banyak beristirahat. Kalau ada keluhan langsung aja WA atau telpon kakak. Kakak akan langsung menyuruh dokter ke rumah kamu.


Aris setelah selesai menchat Gina, langsung turun dan duduk di kursi meja makan. Semua makanan sudah terhidang nikmat. Aris melihat Bram yang belum juga keluar dari kamarnya.


"Bik, Tuan Bram kemana?" Aris melihat ke semua penjuru rumah.


"Tuan Bram udah pergi dari tadi pagi Tuan. Tuan Bram malaz membangunkan Tuan."


"Oh. Terimakasih bik. Aris langsung saja hanya menyambar sepotong roti bakar."


Aris kemudian meminta supir untuk mengantarnya ke kantor. Aris sangat tidak hafal semua jalan di negara ini. Aeis tidak mau mengambil resiko tersasar. Setelah menempuh perjalanan yang tidak lama (Negara ini di kenal dengan tidak adanya macet, yang memakai kendaraan pribadi bener-bener mereka yang memiliki mobilitas tinggi dalam bekerja). Aris akhirnya sampai juga di perusahaannya. Aris masuk dengan langkah pasti, semua yang melihatnya langsung menundukkan kepala tanda memberi hormat.


Aris langsung masuk ke dalam lift khusus petinggu perusahaan. Saat sampai di depan ruangannya Aris sudah melihat Bram yang berdiri di pintu ruangannya.


"Woi nyet main tinggal aja." Aris mulai kesal.


"Gue takut loe nggak ngantor karena terlalu menunggu pesan masuk sampe pagi."


"Gue nggak sebucin itu. Masuk, kita bahas langsung penyakit dari perusahaan ini."


Aris melangkah masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Bram dari belakang. Aris duduk di kursi kebesarannya diikuti oleh Bram yang duduk di bangku depan bangku Aris.


Mereka kemudian sibuk membaca setiap laporan yang dibuat oleh manager bagian HRD. Aris dan Bram akan mengevaluasi setiap kinerja seluruh divisi yang ada di kantornya. Baik manager maupun staf. Setelah selesai membaca bertepatan dengan waktu meeting bersama devisi HRD masuk. Aris dan Bram langsung menuju ruang meeting. Betapa terkejutnya Aris yang duduk baru satu orang yaitu seorang pria dari bagian HRD.


"Kemana manager dan teman Anda yang lain" Bram langsung tinggi nadanya.


"Maaf Tuan, mereka masih di ruangan, karena kebiasaan di kantor ini kalau meeting dengan direktur ataupun dewan direksi akan molor selama sejam." Pria itu berkata sambil menunduk.


"Wow lamanya. Karena apa itu?" Aris mulai paham dengan alur kerja prusahaannya di sini.


"Karena setiap manager rajin memberikan tips kepada direktur. Sehingga mereka bisa seenaknya untuk menghadiri rapat." Pria tersebut menunduk dan gemetar saat melaporkan semuanya. Ditambah lagi saat dia melapor Aris dan Bram memberikannya tatapan membunuh.


"Hm jadi itu masalahnya. Sekarang kamu pulang dan buat surat untuk tidak dua hari. Kamu tulis alamat rumah kamu di sini." Bram memberikan secarik kertas.


"Mmmmaaakkkksssuud Tuan saya dipecat?" Pria itu langsung menitikkan air matanya, tapi dia tidak memohon untuk tidak diberhentikan. Sikapnya berbeda dengan sikap orang yang di pecat. Aris kagum kepada sosok anak muda seperti ini.

__ADS_1


"Anda tidak saya pecat. Saya akan datang ke rumah Anda untuk mengorek setiap informasi yang terjadi di perusahaan saya ini melalui Anda." kata Aris dengan tennag.


"Maksud Anda? Anda adalah Tuan Aris Putra Soepomo?"


Aris kemudian tersenyum. Pria itu sadar akan kesalahan ucapannya tadi.


"Maafkan atas ucapan saya tadi Tuan. Tapi memang itulah yang terjadi."


"Tidak masalah. Anda sudah membentu saya. Makanya saya katakan tunggu saya di rumah Anda."


Pria itu langsung permisi dan kembali ke defisi HRD untuk meminta izin pulang cepat karena sakit, untung saja muka pucat hasil bertemu dengan tuan Aris dan Bram masih ada. Jadi dia tidak perlu beracting lagi.


"Jadi begini pola kerja mereka. Pantesan" Aris duduk di kursinya.


Setelah satu jam lebih Aris dan Bram menunggu di ruangan itu, barulah masuk manager dan staf bagian devisi HRD.


"Siapa kalian berdua, berani sekali masuk ke kantor kami?"


"Kalian berdua mau melamar kerja? Tapi seperti kalian ini tidak kayak layak untuk bekerja di tempat kami. Perusahaan ini bonafit. Kalian saja tampilannya tidak layak di sini." kata manager HRD.


Tak lama kemudian direktur perusahaan yang ditunjuk oleh Papi masuk ke dalam ruangan meeting. Betapa terkejutnya dia, yang berdiri didepannya sekarang bukanlah sahabatnya, melainkan anak dari sahabatnyanyang terkenal kejam dan tegaan dalam berbisnis.


"Maaf Tuan Aris, saya tidak menyangka Tuan yang akan datang. Saya kira Tuan Andi yang akan datang." kata Direktur sambil membungkuk dan terdengar suaranya yang bergetar hebat.


"Ooo. Jadi kalau Papi saya yang datang Anda akan seperti ini? Pantesan perusahaan saya tidak maju maju." Aris mulai kesal.


"Kalian semua duduk. Saya mau bicara." Aris memberi perintah. Mereka semua langsung terkejut dengan perintah dingin yang dikeluarkan oleh Aris. Mereka duduk dengan rasa takut yang memenuhi rongga dada mereka.


"Jadi setiap ada rapat anda datang telat dua jam. Jadi kantor ini buka jam berapa?"


"Hari ini saya akan evaluasi siapa saja dari bagian HRD yang akan saya pertahankan. Jadi siap siap saja menerima surat pemberhentian." Aris melihat tajam ke setiap mata dari manager dan staf HRD.


"Anda" tujuk Aris kepada kepala kantor perusahaan yang negara F.


"Anda denger baik baik. Anda mulai dari jam ini detik ini, silahkan mengemasi barang anda. Anda saya pecat dengan tidak hormat." kata Aris dengan dinginnya.


Semua yang mendengar ucapan Aris langsung terkejut. Seorang direktur kepercayaan dari Tuan Andi bisa dipecat dengan langsung di depan mata para bawahannya. Apalagi dengan mereka yang jelas-jelas hanya bawahan dan membuat kesalahan.


"Meeting hari ini selesai. Silahkan keluar. Persiapkan diri kalian untuk angkat kaki dari perusahaan saya."


Aris dan Bram langsung keluar dari ruangan. Mereka berdua akan menuju ke rumah pria yang tadi sudah memberikan informasi kepada mereka.


Saat mereka baru akan keluar, tiba tiba mantan direktur berlari memeluk kaki Aris.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan kotor kau dari kaki Tuan Aris." teriak Bram dengan dingin.


Mantan direktur tidak melepaskan pegangan tangannya dari kaki Aris. Semua staf defisi HRD terejut dengan tingkah direktur.


"Keputusan saya sudah bulat. Tidak ada toleransi lagi. Jadi lepaskan kaki saya. Saya mau keluar."


Mantan direktur tetao tidak melepaskan kaki Aris. Aris sudah mulai kesal.

__ADS_1


"Bram telpon satpam. Seret dia keluar. Buat lebih malu lagi." teriak Aris kesal.


"Kemasi saja barang kamu. Tidak usah buat masalah lagi." kata Bram dengan dingin.


Direktur terpaksa melepaskan kaki Aris. Dia tidak mau lebih mempermalukan dirinya lagi di depan orang banyak.


Aris dan Bram keluar dari ruangan yang membuat hati kesal itu. Mereka langsung pergi ke ruangan Aris.


"Wah memang susah sepertinya Bram. Kayaknya kita harus mengambil beberapa manager dari perusahaan pusat untuk bekerja di sini. Minimal sampai perusahaan ini baik." kata Aris, Aris kemudian menyelonjorkan kakinya.


"Terus kapan akan kita oilih orangnya?"


"Kita dengar dulu seperti apa keadaan sebenarnya. Setelah itu kita akan memikirkan siapa yang akan kita bawa kerja ke sini. Kalau bisa kita hanya membawa dua orang saja dari negara I."


Aris kemudian memakan cemilan yang di bawanya dari rumah.


"Jam berapa kita akan bertemu pemuda tadi Bram?"


"Jam lima Ris. Dia tadi sudah menghubungi gue. Besok defisi.mana lagi Ris?"


"Keuangan. Gue penasaran kenapa untung penjualan produk bisa kecil. Apa yang terjadi sebenarnya."


"Oke sip. Gue ambil dulu semua laporan dari bagian keuangan. Gue juga penasaran. Apalagi mereka tidak sempat memperbaikinya. Karena kita mengambil secara diam diam."


Bram kemudian keluar dari ruangan Aris dan mengambil laporan yang sudah dicetaknya tadi pagi. Semua laporan itu hasil dari masuk ke komputer manager keuangan.


Aris dan Bram kembali membaca laporan keuangan. Betapa mereka terkejut dengan semua uang yang dikeluarkan perusahaan begitu tidak sebanding dengan harga pasar. Bram dan Aris langsung geleng geleng kepala.


"Gimana Bram?"


"Mantap Ris. Mereka sepertinya harus menerima ganjaran yang setimpal."


"Apa menurut kamu ada aliran dana dari keuangan kepada direktur yang sudah kita pecat tadi?"


"Sepertinya ada. Ini rincian aliran keuangan. Aliran dana memang tidak langsung masuk ke dalam rekening sang direktur, tetapi kedalam rekening seorang perempuan yang juga bekerja di sini. Sepertinya mereka ada permainan. Tapi di negara ini sudah biasa."


"Sepertinya kita akan bertemu dengan orang itu besok hari."


"Semangat ajalah kalau begitu untuk membuka semua aib yang ada. Gue nggak sabaran mau sampai rumah." Aris tersenyum penuh makna.


"Bilang aja nggak sabaran untuk ketemu Gina. Rumah lu andelin. Boong banget loe"


"Hahahahahaha. Makanya pepet lagi Sari."


"Woi Ris. Emang nggak ada apa wanita cantik selain sahabat Gina?"


"Ada banyak. Tapi loe nggak bisa mendekati. Apa yang kurang dari loe Bram. Tampan, pinter dan kaya. Apalagi cobak." Aris berkata sambil geleng geleng kepal.


"Serah loe Ris. Mentang mentang udah ada yang menunggu kepastian dari loe." teriak Bram.


Mereka kemudian pergi menuju tempat janji temu dengan pria yang bercerita kemaren. Mereka berdua memang bener bener penasaran dengan keadaan perusahaan sebenarnya.

__ADS_1


Apakah sebenarnya yang terjadi dengan perusahaan Aris???


Apakah ada gangguan dari orang luar.... Staycun ya kak.


__ADS_2