Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Sama sama menunggu


__ADS_3

Hari ini Gina sudah diperbolehkan oleh dokter untuk pulang. Kebetulan Aris tidak bisa menjemput Gina. Aris harus terbang ke negara F karena ada permasalahan dengan perusahaan di sana. Aris harus berada di negara itu lebih kurang selama lima belas hari. Aris sengaja tidak memberitahu Gina. Aris mau Gina lah yang bertanya kepada dirinya kenapa tidak datang untuk menjemput Gina saat keluar dari rumah sakit.


"Ris beneran nggak ke rumah sakit dulu?" tanya Bram.


"Kita langsung aja Bram. Gue penasaran apakah Gina akan menghubungi gue karena nggak menjemputnya saat keluar rumah sakit, atau dia akan diam saja."


"Nanti kalau dia nggak menghubungi loe jangan sakit hati ya"


"Sip. Kalau dia nggak hubungi gue, berarti hubungan ini hanya sampai disini. Tidak ada kelanjutannya."


"Emang udah ada hubungannya?"


"Belum Baru teman. Lupa gue. Hahahahaha"


"Dasar"


"Cepat Bram. Nanti ketinggalan pesawat kitanya."


"Wah bucin memang parah ya. Mana ada pesawatnya bisa terbang. Wong orang yang mau dibawanya kita berdua. Udah deh Ris, ke rumah sakit aja yok. Gue takut nanti selama di negara F loe nggak normal."


"Nggak akan, gue akan normal. Loe tenang aja ya."


"Hm, awas aja loe banyak tinggah. Gue kaduin Mami loe."


"Ancaman loe maut bener."


Mereka berdua sampai di bandara, mereka akan langsung terbang ke negara F.


Sedangkan di rumah sakit. Gina sudah bersiap siap mau pulang.


"Ayah ke bawah dulu ya. Menyelesaikan administrasi nya."


"Na, kapan Gina mulai kuliah?"


"Kata dokter tadi, kamu istirahat dulu selama seminggu baru boleh beraktifitas keluar rumah."


"Oh. Baiklah."


Tak lama kemudian Ayah datang.


"Kok cepat yah?"


"Kata bagian administrasinya tidak usah di bayar."


"Kok bisa yah?" tanya Gina.


"Ya bisalah Gin. yang punya adalah keluarga Aris. Aris presdirnya"


"Oh. Baru tau"

__ADS_1


"Yuk turun"


Ayah, Nana dan Gina turun menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobby rumah sakit. Gina sudah kelihatan lebih bugar dari pada sebelumnya. Tapi Gina menatap semua penjuru rumah sakit, dia tidak melihat keberadaan Aris.


"Cari siapa Gin?" kata Nana saat mereka sudah di dalam mobil.


"Kok Gina nggak nampak Kak Aris ya Na?"


"Kerja kali Gin."


"Bisa jadi Na."


"Mending di wa aja nanti Gin."


Perjalanan selama satu jam itu berakhir juga. Mereka sampai di rumah. Gina langsung masuk ke dalam kamarnya, Gina langsung merebahkan dirinya untuk beristirahat. Setelah selama dua jam Gina tertidur, saat bangun Gina langsung meraih ponselnya.


✉️ Gina


Kak, kok nggak datang pas Gina boleh pulang tadi. Kakak dimana?


Aria yang menerima pesan WA dari Gina langsung bersorak girang. Dia tidak menyangka Gina akan menchat dirinya.


"Ye ye ye. Dia wa gue" teriak Aris senang.


Bram yang melihat hanya mampu geleng geleng kepala saja, tanpa bisa berkomentar


"✉️ Aris


✉️ Gina


Berapa lama kak disana?


✉️ Aris


Sebulanlah Gin. Masalahnha lumayan rumit. Jadi bener bener harus diperbaiki dulu baru bisa pulang kenegara I.


Gina yang melihat jawaban dari Aris langsung merasa lemas di kakinya. Gina langsung saja duduk dan bersandar ke kepala kasurnya tanpa membalas wa dari Aeis sudah panas dingin menunggu balasan dari Gina. Aris takut kalau Gina marah.


✉️ Aris


Gin? kenapa diam? marah?


Aris kemudian menatap lama ponselnya.


"Aku pikir engkau bahagia dengan dirinya


Aku pikir engkau bahagia menerima pesannya


Tapi oh tapi kenapa engkau jadi begini" Nyanyian Bram yang dikarangnya sendiri. Aris yang sedang tidak minat melayani Bram hanya diam saja tanpa ada keinginan untuk membalasnya.

__ADS_1


Aris yang mulai bosan menunggu balasan wa dari Gina, langsung saja membuka bajunya yang hanya meninggalkan celana pendek, Aris langsung mencebur masuk ke kolam. Padahal cuaca sangat tidak mendukung untuk berenang. Cuaca benar benar sedang dingin. Aalagi stelan untuk air panas tidak dihidupkan. Bram yang melihat kelakuan Aris hanya tertawa saja.


"Galau galau dah tu gara gara bucin."


"Apa loe bilang!"


"Ris, boleh ngomong serius nggak sama loe?"


"Hm"


"Saran gue nih ya Ris. Mending sepulang dari sini loe ungkapin dah tu perasaan loe ke Gina. Dari pada loe kayak gini."


Aris terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Bram. Aris menimbang nimbang apa yang dikatakan Bram memamg ada benernya juga.


"Sip. Pulang dari sini akan gue ungkapin semuanya kepada Gina. Kalau perlu dia gue lamar langsung"


"Gaya loe." teriak Bram. Bram kemudian berjalan masuk ke dalam kamar nya.


"Bram tunggu." Aris kemudian keluar dari kolam dan menyusul Bram ke ruang tengah rumah. Bram yang duduk di kursi dapur langsung heran dengan Aris.


"Kenapa?"


"Bram kalau gue udah punya pacar, sedangkan loe belum, terus loe kawan dengan siapa? Bayu juga udah punya pacar."


"Sok gaya loe. Gue ya kerja lah. Afdhal ada juga yang jadi teman gue. Atau karena loe udah punya pacar loe nggak mau temanan sama gue lagi?"


"Bukan begitu Bram. Gue tetap mau, tapikan nggak seasik dulu lagi Bram."


"Serah loe. Gue capek mau tidur. Loe kalau mau berkutat dengan menunggu pesan wa terserah yang jelas besok tidak boleh telat." Bram langsung masuk ke dalam kamarnya. Bram tidak menyangka seorang Aris bisa berpikiran kecil seperti itu.


Aris yang ditinggal Bram tidur juga langsung pergi ke kamarnya. Dia juga akan tidur. Aris tidak mau melihat ponselnya, dia takut kecewa. Dalam sekejap Aris sudah terbuai dalam mimpinua.


Gina yang baru selesai olahraga ringan di taman langsung melihat ponselnya. Ternyata disitu ada beberapa pesan dari Aris yang menanyakan dia marah kepada Aris atau tidak.


✉️ Gina


Maaf kak telat balas. Tadi keasikan olahraga ringan di taman. Nggak kak, aku nggak marah kok kepada Kakak.


Lama Gina menunggu balasan, setiap ponselnya masuk sebuah notifikasi Gina akan langsung membukanya, tapi hanya kekecewaan yang di dapat oleh Gina. Tak satupun setiap notifikasi itu berbunyi berasal dari Aris.


Setelah larut dengan pemikirannya Gina baru ingat kalau perbedaan waktu antara negara F dengan negara I adalah dua belas jam. Berarti di situ sedang tengah malam.


"Kayaknya kak Aris udah tidur. Semoga besok pagi kak Aris akan balas wa."


Gina kemudian turun untuk mengambil beberapa cemilan sehat.


"Non mau kolak pisang batu?" tanua bik yem.


"Wah mau bi. Enak itu." Gina kemudian langsung duduk di kursi meja makan, menunggu kolak pisang datang. Gina memang pecinta kolak pisang apalagi kalu dingin. Gina melahap kolak tersebut dengan semangat.

__ADS_1


Tak terasa hari sudah mau malam Gina akan beristirahat lagi, kondisinya belum seratus persen pulih. Gina sampai di kamar kembali menatap ponselnya, belum ada notifikasi pesan yang berasal dari Aris. Gina kemudian merebahkan badannya untuk masuk ke alam mimpi. Gina berharap dalam mimpinya dia akan bertemu dengan Aris.


Seperti kata orang mimpi panuah rasian.


__ADS_2