
"Sayang, apa pelacakan yang dilakukan oleh Frenya tadi berhasil??" tanya Aris yang penasaran dengan hasil kerja anaknya itu. Frenya dan Argha sudah bekerja dari sore hari. Aris sangat berharap kedua anaknya memberikan dia kabar gembira.
"Sayangnya tidak sayang. Ponsel orang yang mengirim pesan ke Kak Bram sudah tidak di tangan pengirim pesan. Ponsel itu ditinggalkan begitu saja." jawab Ghina.
"Ditinggalkan dimana?" tanya Aris penasaran.
"Terakhir dilacak ponsel itu berada di mall tempat Sari diculik. Stefen sudah ke sana dan mengambil ponsel tersebut. Sekarang dia sedang melakukan penyelidikan sidik jari dan kemana saja nomor ponsel itu melakukan komunikasi baik panggilan telpon maupun pesan." ujar Ghina menjelaskan kepada Aris apa yang sedang dilakukan oleh Steven.
"Apa Steven ada kemampuan untuk hal itu sayang?? Maaf bukan maksud aku meragukan kemampuan dirinya." kata Aris yang takut Ghina tersinggung dengan kata katanya.
"Oh, Steven itu luar biasa sayang. Dia paket komplit dengan Frenya." ujar Ghina.
Aris layak meragukan Steven untuk saat ini. Aris sama sekali tidak tau tentang kelompok Ghina. Makanya Ghina sama sekali tidak tersingguh dengan ucapan Aris tadi. Ghina sangat maklum akan hal itu.
"Semoga dia bisa menemukan titik terang dari semua penculikan ini sayang. Aku benar benar lelah sayang." ujar Aris sambil memeluk Ghina.
"Kita langsung tidur aja ya sayang, aku luar biasa capek." ujar Aris kepada Ghina.
Ghina mengangguk, dia juga sangat capek. Tapi sebagai istri apalah daya Ghina kalau suaminya berkehendak, tetapi untuk hari ini, Aris sangat luar biasa bijak, dia sendiri yang meminta mereka berdua untuk langsung saja tidur tanpa melakukan aktifitas olahraga malam yang menjadi olahraga favorit Aris kalau sedang panik dan setress seperti saat ini.
TEMPAT SARI
Byur. Sekali lagi Sari terkena siraman air. Tetapi yang kali ini airnya agak berbau. Sari mencoba mengendus air tersebut.
"Sialan, mereka benar benar sudah keterlaluan" ujar Sari dengan pelan.
"Cepat hendaknya datang bos mereka. Jadi gue bisa minta tolong Felix untuk menekan kalung ini." lanjut Sari dalam hatinya.
"Hay, bangun loe kira ini rumah emak loe. Lie enak enakan tidur." teriak seorang penculik.
Sari membuka matanya. Dia langsung duduk dengan posisi siaga.
"Gimana air yang gue siramkan tadi wangi kan ya. Rasain loe nikmati tu air seni." ujar Penculik tersebut.
Sari hanya diam saja, dia sama sekali tidak membalas perkataan penculik itu. Sari berusaha untuk tidak mencari masalah baru. Dia hanya ingin masalah ini cepat selesai.
"Kenapa loe diam??? Apa energi loe untuk teriak teriak seperti kemaren sudah habis???" ujar penculik itu.
Sari tetap dengan diamnya. Jangankan untuk menanggapi dengan mulutnya, untuk berakpresi saja Sari enggan.
Penculik mulai emosi. Dia sudah mengangkat kakinya hendak menerjang Sari. Felix yang tepat di belakang penculik itu menahan rekannya.
"Kawan jangan siksa dia sekarang, kita tunggu Nyonya besar aja. Tadi Nyonya besar menghubungi ketua kita, katanya dia akan datang siang." ujar Felix berusaha melindungi Sari dari terjangan kaki penculik itu.
Felix hanya bisa berbuat seperti itu. Dia sebenarnya ingin membunuh penculik yang akan menerjang Sari tadi. Tapi apalah daya Felix dia hanya sendirian sedangkan di sana ada lebih kurang lima belas orang penculik dengan senjata. Makanya dia harus sabar untuk menunggu moment yang tepat. Felix juga yakin Sari sedang menunggu moment yang sama.
Penculik dan Felix kembali menuju tempat mereka berkumpul. Terlihat seseorang sedang memasukan serbuk obat kedalam sarapan yang akan diberikan kepada Sari.
"Hahahahahahaha. Rasian tu cewek. Siap makan sarapan ini dia akan berteriak meminta di antarkan ke kamar mandi. Hahaahahahahahaha" ujar penculik yang memasukan serbuk obat tadi.
"Gue rasa lebih baik biarkan saja dia berkubang tinjanya sendiri. Jadi kita hanya bisa menikmati kebodohan dia. Selama ini mereka sok paten, jadi tidak awas dengan gank kita." ujar salah satu rekan penculik.
"Bener juga lie. Cantik cantik berkubang tinja. Hahahahahahaha"
"Hahahahahahahaha"
Semua penculik dari kelompok itu tertawa terbahak bahak. Mereka sudah membayangkan Sari yang sebentar lagi akan berkubang dengan tinja.
__ADS_1
Felix yang mendengar rencana mereka menyusun sebuah rencana untuk menyelamatkan Sari dari memakan sarapan itu. Felix melihat salah seorang penculik membawa nampan berisi nasi seperti pelayan rumah makan Padang yang sudah handal. Dia hanya memegang nampan tersebut sebelah tangan dan mengangkatnya tinggi tinggi.
'Ini dia' ujar Felix.
Felix kemudian menekan sebuah tombol yang berada di dalam genggamannya. Pada saat itu melajulah dengan kencang sebuah mobil mobilan remot dari arah depan menuju penculik yang membawa nampan berisi sarapan. Penculik yang tidak fokus dan kaget itu tanpa sengaja menjatuhkan nampan yang berisi sarapan tersebut. Penculik itu kaget luar biasa. Felix melajukan mobil tersebut ke sarapan Sari, sehingga sarapan tersebut tidak bisa lagi di ambil.
"Ya loe nggak hati hati. Obat itu obat pencahar terakhir yang gue punya. Gagal sudah rencana gue." ujar penculik yang memiliki ide tadi.
"Gue mana tau ada mobil mainan yang datang tiba tiba dengan kencang. Lagian siapa juga diantara kita yang main mobil mobilan di sini." ujar penculik yang terjatuh tadi.
"Biarin ajalah. Felix tolong antarkan sarapan untuk Nona tersebut. Sepertinya kalau kamu ke sana dia terlihat jinak. Mungkin karena wajah bule kamu makanya dia bisa menjadi jinak." ujar ketua penculik.
Felix mengambilkan makanan untuk Sari. Sampai di luar ruangan Felix kembali mencampur makanan Sari dengan vitamin. Felix juga membawa sebotol air mineral.
Sari yang tadinya sedang termenung saja menjadi waspada dan awas saat mendengar derap langkah menuju ruangan yang ditempatinya.
"Nona, ini saya." ujar Felix memberitahukan kedatangannya.
Sari membalas dengan batuk batuk. Tanda dia setuju untuk Felix masuk. Mereka berdua selalu waspada dengan keadaan sekitar. Sari dan Felix sepakat untuk memakai simbol simbol saat mereka sedang di dekat para kelompok penculik.
"Nona makan dulu sarapan Anda." ujar Felix.
"Masih mau kamu nyuapin saya Felix. Kamu nggak lihat tangan saya masih diikat?" ujar Sari lagi.
"Nona nona padahal nona paling bisa melepas ikatan. Kenapa sekarang nggak Nina lepas?" tanya Felix sambil menyuapi Nona besarnya.
"Lix saya penasaran siapa yang menyuruh untuk menculik saya. Makanya saya bertahan di sini. Kalau tidak kita berdua bisa mengalahkan mereka. Jadi kamu sabar aja ya. Saat saya tau siapa dalangnya, nah mari kita menari membasmi mereka." ujar Sari dengan senyum jahatnya.
"Oke Nona." jawab Felix.
"Tapi Lix, saat saya tau siapa yang menyuruh mereka, kamu harus cepat menekan tombol di bandul kalung saya. Saat kamu menekannya Ghina dan Mira serta Argha akan tau keberadaan kita dimana. Kita hanya harus mengulur waktu sampai kedatangan mereka ke sini." ujar Sari memaparkan rencananya kepada Felix.
Karena keasikan mengobrol tak terasa sarapan Sari akhirnya habis juga. Felix kemudian memohon diri kepada Sari untuk kembali ke tempat para penculik berkumpul. Felix harus mencari informasi sedetail mungkin.
Sari memiliki rencana akan menekan tombol darurat miliknya saat sudah tau siapa dalang dibalik ini. Sedangkan Felix sudah menekan tombol daruratnya dari semalam. Sekarang di tengah hutan pinus itu sudah berkumpul semua anggota kelompom Ghina yang terkenal akan kekejamannya apabila salah satu dari mereka di usik.
Apalagi yang mereka usik sekarang adalah salah satu pimpinan yang memberikan mereka kehidupan yang layak serta kecukupan ekonomi. Apalagi bagi Juan, Alex dan Jero yang sudah memegang perusahaan penting.
Mereka semua sudah bersiap siap dari semalam. Mereka hanya tinggal menunggu kode dari Felix maka penyerbuan akan dilakukan. Mereka akan menari dalam gelap seperto biasanya. Grub ini terkenal dengan menghabisi tanpa jejak yang tertinggal. Mereka benar benar bermain rapi.
Felix yang sudah tau para sahabatnya sudah tidak sabar ingin menyerbu memilih untuk menemui mereka membahas tentang rencana yang disusun oleh Sari. Felix tidak mau Sari marah kepada dirinya karena tidak mendengar semua pesannya.
"Gue izin ke luar sebentar ya. Ada yang harus gue kerjakan" ujar Felix kepada salah seorang temannya yang sedang menunggu di pintu gerbang.
"Oke sip. Kamu harus datang sebelum Nyonya datang. Atau mau kepala kamu hilang sebelah?" tanya rekannya tersebut
"Tentu tidak. Ya udah gue permisi dulu ya." ujar Felix.
Fekix kemudian berlari keluar dari gudang tersebut. Felix melihat tanda yang diberikan oleh Alex di sepanjang jalan yang hanya dimengerti oleh Felix dan Alex saja. Tidak butuh waktu lama mereka semua sudah berkumpul di tengah tengah hutan pinus.
"Ada berita apa Felix?" tanya Alex yang sudah tidak sabaran.
"Begini semuanya, tadi Nona Sari mengatakan kalau dia akan menekan kalung miliknya supaya Nyonya Ghina dan Nyonya Mira mengetahui keberadaannya." ujar Felix yang belum masuk ke inti cerita.
"Sepertinya ketiga Nyonya itu pengen menari dalam gelap lagi." ujar Juan.
"Yup gue setuju" jawab Jero.
__ADS_1
"Terus apa lagi?" tanya Alex yang masih dalam mode serius.
"Nona Sari juga menunggu siapa sebenarnya pelaku utama penculikan dirinya." lanjut Felix.
"Sudah ya gue nggak bisa lama lama, gue harus pulang ke markas. Kasian Nona Sari nanti kalau gue tidak ada di sana. Minimal gue selalu menghindari Nona Sari dari makanan yang ada campuran tragis di dalam isinya." ujar Felix memperlagakan hasil kerjanya.
Felix berjalan kembali menuju gudang. Dia tak lupa memotong rambutnya supaya tidak ketahuan kalau dia sudah berbohong kepada rekan sama kerjanya.
.Felix hari ini bergaja di pintu gerbang masuk gudang tempat Sari di sekap. Dia melihat ke arah hutan tempat sahabat sahabatnya dan rekan kerjanya berkumpul.
"Semiga mereka masih bisa bersabar dan tidak melakukan tindakan konyo. Kalau teman teman gue, gue yakin mereka sabar. Nah kelompok black jack??? Gue meragukan mereka. Tetapi semoga aja Alex dan yang lain bisa menyabarkan mereka." ujar Felix sambil terus saja menatap ke arah hutan.
"Kenapa Lix sepertinya loe sedang berpikir?" ujar salah seorang rekannya yang ikut berjaga di pintu gerbang masuk gudang yang tidak luas itu.
"Gue penasaran apa di sekitar sini ada kehidupan ya?" Felix mulai membawa rekan kerjanya itu bercerita.
"Gue juga kurang tau. Gue baru kali ini ke sini. Biasanya kami tidak membawa sandra ke gudang ini. Ini permintaan dari Nyonya besar." ujar rekan sesama penunggu pintu gerbang.
"Nyonya besar?" tanya Felix dengan nada penasaran.
"Ya, yang sekarang menyewa kita adalah Nyonya besar. Menurut cerita yang gue dengar kenapa dia dipanggil dengan sebutan Nyonya besar, karena dia istri dari salah satu pengusaha ternama di kota ini." kata penculik memberitahukan kepada Felix apa yang diketahuinya tentang siapa yang menyewa mereka sekarang.
"Apa loe tau siapa nama pengusaha itu?" tanya Felix berusaha memancing jawaban dari penculik.
"Sayangnya tidak Felix. Kita tak ada satupun yang tau. Tapi dengar kabarnya sebentar lagi Nyonya besar itu akan datang dengan beberapa orang tambahan pengawal." ujar penculik.
"Tambahan pengawal?"
"Ya. Dengar kabarnya lagi wanita yang kita culik ini merupakan salah satu dari tiga wanita yang terkenal. Wanita ini mengendalikan satu kelompok yang isi anggotanya lengkap. Mulai dari peretas IT sampai sniper handal. Makanya Nyonya besar memutuskan untuk menambah kekuatan." kata penculik menceritakan informasi yang diperokehnya.
"Lagian nih ya Lix, calon suami dari wanita ini adalah ketua black jack."
"Oh. Gank yang keren itu?" tanya Felix lagi.
"Yup. Tapi sayangnya mereka tidak punya tim ahli IT yang handal. Makanya mereka sampai sekarang tidak berhasil menemukan jejak kita. Hahahahahahahaha." penculik tertawa riang karena menurut dirinya dia telah berhasil menipu gank black jack dan juga kelompok yang dipimpin Sari.
Penculik tersebut tidak sadar dirinya telah memberitahukan kepada lawannya tentang rencana rencana mereka. Semua yang diceritakan oleh penculik terdengar jelas oleh Alex, Jero, Juan dan ketua bridge balvk jack yang berada di hutan.
Salah satu pinpinan bridge kelompok black jack sangat geram saat mereka dikatakan bodoh karena tidak bisa menemukan jejak Sari.
"Apa boleh kami gank black jack menghajar mereka sekarang?" tanya ketua bridge bertanya kepada Alex.
Dia terlihat sangat marah kali ini. Perkataan penculij itu telah tepat menyinggung harga dirinya sebagai anggota kelompok black jack.
"Apa kamu mau Nona Sari tidak kembali dalam keadaan hidup?" Alex balik bertanya dengan menatap tajam ke arah ketua bridge tersebut.
"Sobat, kami sangat tau anggota gank black jack tidak takut mati dan sangat pintar bertarung. Tapi zaman sekarang kita harus bermain cantik sobat. Kita akan berperang dari dua sisi. Apa kamu mau menghancurkan rencana yang sudah kita susun dengan rapi?" tanya Juan yang tadinya tidak sabar sekarang dia yang berusaha menyabarkan orang lain.
"Anda mungkin belum lama mengenal Nona Sari, tapi yakinlah Anda Nona Sari memiliki rencananya sendiri. Jadi kita di sini hanya tinggal menunggu tanda dari Felix. Kalau menurutkan hati besar, kami juga dari semalan tidak sabar untuk membebaskan Nona Sari. Tapi apa daya kami, Nona Sari belum mengizinkan untuk kita melakukan eksekusi" kata Jero menambah pernyataan Juan.
"Kita sekarang harus percaya dengan semua yang terlibat. Kalau Nona Sari mengatakan belum berarti Nona Sari menunggu moment yang tepat Kalau menurut analisa gue, Nona Sari pasti ingin mengetahui siapa dalang dibalik penculikannya. Kan kita udah dengar sendiri kalau penculik Nona Sari sampai sekarang belum datang. Dia akan datang nanti siang. Makanya kita tenang tenang aja dulu. Saat perintah itu datang, maka kita akan menari dengan riang." ujar Alex yang sebenarnya juga nggak sabar pengen menari juga.
Tapi di sini Alex harus menjadi penengah yang bertujuan untuk menyabarkan setiap bagian dari mereja yang mulai menunjukkan rasa tidak sabarnya.
"Hadi gimana sobat? Apa sobat masih bisa bersabar atau akan tetap memilih berperang sekarang?" tanya Alex yang menunggu keputusan dari ketua bridge black jack.
Ketua bridge gank black jack terlihat berpikir sesaat. Dia harus menentukan pilihannya sendiri. Pilihan yang tidak boleh membuat ada pihak yang dirugikan. Akhirnya setelah berpikir ketia bridge membuat keputusan.
__ADS_1
"Oke baiklah. Semoga ring dua kita bisa bekerja maksimal." kata ketua bridge yang juga berusaha memaksimalkan kesabarannya.