Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Tikus Perusahaan


__ADS_3

Gina melajukan mobil dengan kecepatan agak ngebut. Gina berencana untuk sampai lebih cepat, Gina sudah terlalu lelah hari ini. Mulai dari lelah perasaan karena seharian melihat Aris yang tidak mengenalnya. Lelah badan akibat perjalanan jauh.


Aris yang melihat mobil Gina melaju dengan kecepatan penuh, juga melajukan mobil Bayu dengan kecepatan penuh. Aris tidak mau ada terjadi sesuatu dengan Gina dan Tuan Wijaya.


Ternyata kekhawatiran Aris terjadi juga. Saat persimpangan jalan mobil yang dikemudikan oleh Gina tiba tiba oleng. Aris yang takut akan terjadi sesuatu dengan Gina harap harap cemas. Ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Aris tidak terjadi. Mobil yang sempat oleng tadi kembali normal. Aris bernapas dengan lega.


Tuan Wijaya yang kaget dengan kejadian mobil oleh meminta Gina untuk menepikan mobilnya.


"Gin, biar ayah yang bawa mobilnya Gin. Ayah udah cukup beristirahat." kata Ayah.


Gina kemudian memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Aris yang melihat mobil Gina berhenti juga memberhentikan mobilnya. Aris tidak keluar dari mobil dia hanya memperhatikan keadaan mobil Gina dari dalam mobil.


Gina dan Tuan Wijaya kemudian keluar dari mobil berganti posisi. Tuan Wijaya yang akan membawa mobil pulang. Aris melihat Gina sedikit agak lesu. Aris berkata di dalam hatinya "Apa yang terjadi dengan Gina. Kenaoa dia pucat sekali ya?"


"Woi apa yang loe pikirin?" kata Bayu.


"Nggak ada"


"Mana ada nggak ada. Noh mobil Tuan Wijaya udah hilang" kata Bayu sambil menunjuk kedepan, ternyata mobil Tuan Wijaya sudah tidak terlihat lagi.


Aris kemudian melajukan mobil Bayu dengan kecepatan tinggi.


"Bro, loe mau ngabisin mobil gue?"


"Mobil loe baru bro. nggan akan habis."


"Serahlo. Rusak gue tinggal ngambil salah satu koleksi mobil mewah loe aja di garasi." kata Bayu ngasal.


"Sip. Bisa di atur." jawab Aris.


Aris menggeber laju mobilnya dengan kecepatan penuh dia tidak mau kehilangan jejak mobil Tuan Wijaya. Setelah berusaha mengejar dengan kecepatan penuh akhirnya Aris dapat melihat kembali mobil Tuan Wijaya. Aris terus mengikuti mobil tersebut dari belakang. Tak terasa pintu gapura ibu kota sudah terlihat. Aris merasa sudah aman untuk tidak mengiringi lagi mobil Tuan Wijaya. Aris kemudian mendahului mobil Tuan Wijaya. Tin tin tin bunyi klakson mobil Aris saat dia mendahului mobil Tuan Wijaya.


Aris melajukan mobil ke prusahaannya maminya. Dia tadi diperjalanan dapat telpon bahwasanya terjadi masalah di perusahaan mami yang sekarang sudah berada dibawah kendali Aris. Aris kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bram.


"Hallo Ris." jawab Bram.


"Bram sekarang juga kamu meluncur ke perusahaan Jaya. Saya tunggu di situ." perintah Aris.


"Oke. Saya langsung kesana." jawab Bram.


Aris dan Bram sama sama melajukan mobil mereka dengan kecepatan penuh. Aris ingin cepat sampai diperusahaan Jaya Grub. Sampainya di parkiran perusahaan Aris sudah melihat mobil Bram yang parkir ditempat parkir khusus Aris dan Bram apabila mereka diperusahaan Jaya Grub.

__ADS_1


Bram yang melihat mobil Aris sudah parkir langsung turun dari mobilnya.


"Ada apa bro? Mendadak banget nyuruh kesini?" tanya Bram langsung.


"Ada tikus yang mau bermain dengan kita." jawab Aris dengan tatapan dinginnya.


"Bro gue ke perusahaan dulu ya. Loe balek dengan Bram kan?" tanya Bayu.


"Yup. Thanks Bro." jawab Aris sambil memukul pundak Bayu.


"Santai." jawab Bayu.


"Bram, loe harus hati hati ya. Karena tadi ada orang dalam mode pura pura tidak kenal. Hahahahahaaha" Bayu menertawakan Aris.


"Ye serah loe." jawab Aris.


Bram memandang Bayu dengan tatapan menyelidik.


"Loe wa gue aja. Kalau ndak nanti gue ke rumah loe." kata Bayu.


"Oke sip. Kita bikin grub gunjing aja." jawab Bram.


"Bram. Masuk. Gue mau nengok tikus itu." kata Aris.


"Gimana ceritanya Ris?"


"Nggak tau gue. Ini baru akan tau. Kayaknya dia mau mencoba coba kita."


"Ah ini gue malez. Kalau tikus kecil, bentar banget mainnya udah ketahuan."


"Dasar loe." jawab Aris.


Aris dan Bram masuk kedalam ruangan meeting. Disana sudah duduk semua jajaran direksi dan para manager serta kepala kantor cabang. Mereka duduk dengan gelisah. Aris duduk di kursi kebesarannya dengan menatao tajam dan dingin manusia manusia yang berada di depannya saat ini. Bram juga sama menatap semua yang duduk diruangan itu dengan tatapan tak kalah dinginnya.


"Baik. Silahkan kemukakan dan silahkan mengakui bagi yang salah. Kalau anda mengaku maka masalah ini cukup sampai disini. Tapi kalau saya atau Tuan Aris yang memaparkan semua bukti maka Anda akan menerima akibat yang sangat baik. Anda semua sudah tau bukan bagaimana cara kami dalam menyelesaikan masalah." kata Bram dengan dinginnya.


Setelah menunggu sepuluh menit. Aris tiba tiba berdiri dan memukul meja ruangan meeting. Semua yang hadir mengeluarkan keringat sebesar jagung. Tidak tau akan berbuat apa. Mereka tau kalau Aris murka maka selesai sudah karier dan keluarga mereka.


"Manager keuangan dan staf keuangan kantor pusat serta kepala kantor cabang kota C dan manager kantor cabang kota C, kalian semua tinggal diruangan. Sedangkan yang lain silahkan keluar. Pesan saya untuk yang keluar. Berpikirlah sebelum mau menjadi tikus di perusahaan saya." kata Aris menatap tajam ke arah peserta rapat yang diperbolehkan untuk keluar ruangan meeting.


"Silahkan keluar bagi yang diminta keluar tadi." kata Bram dingin. Semua yang tidak disebut tadi perlahan berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.

__ADS_1


Sedangkan bagian keuangan dan kantor cabang kota C mendadak menjadi pucat pasi. Sebagian pucat karena memang sudah menjadi tikus, sebagian lagi pucat karena tidak tau apa-apa.


"Saya tidak akan memberikan waktu lagi. Silahkan berbicara bagi yang merasa bersalah." kata Bram.


Mereka semua pandang pandangan. Tidak tau akan memulai pengakuan dari mananya. Akhirnya salah seorang dari mereka mengakui.


"Maaf Tuan Aris, saya manager personalia dari kantor cabang C. Saya akui saya kemaren menerima salah seorang pekerja tanpa memberitahukan kepada kepala kantor cabang. Itu saya lakukan karena ketidakhadiran kepala kantor cabang. Saya menerima dia bekerja karena lulusan dari oxford dan juga memiliki pengalaman kerja yang sangat bagus. Hasil kerjanya memang terbukti sangat bagus. Kalau Tuan Aris merasa saya bersalah, saya bersedia menerima hukuman dari perusahaan." kata manager personalia.


"Kalau itu saya sudah dengar dan satu lagi orang yang anda terima itu merupakan sepupu jauh saya. Dia orang yang serius dalam bekerja. Jadi tidak masalah, itu tandanya anda menilai seseorang memang dari pengalaman dan kepandaiannya." jawab Aris.


"Sekarang yang saya tanya kepada Anda semua, siapa yang sudah berani menjadi tikus dalam perusahaan saya." lanjut Aris.


Bram yang sudah tidak tahan langsung memutar rekaman cctv dan rekaman percakapan para tikus dikantor Jaya Grub. Semua yang mendengar langsung melihat ke arah orang yang suaranya terdengar sangat jelas itu. Mereka shock mendengar suara itu, mereka sangat tau dengan jenis suara yang mereka dengar.


"Baik selain yang punya suara itu silahkan keluar." perintah Bram.


Semua yang yakin suara mereka tidak seperti itu langsung berdiri, yang duduk hanya dua orang yaitu kepala kantor cabang C dan Manager keuangan. Semua staff mereka melongo tidak percaya bahwa pimpinan mereka adalah tikus yang berani mengusik perusahaan Jaya. Apalagi mendengar berapa yang sudah mereka tilap, akan membuat semua yang mendengar menjadi melongo tidak percaya dengan angka yang disebut di dalam percakapan telepon itu.


"Anda yang berdiri silahkan keluar." kata Bram sambil menunjuk pintu ruangan.


Semua yang berdiri langsung berjalan menuju pintu keluar. Mereka tidak mau terlibat dalam masalah yang sangat berat itu. Mereka takut berimbas kepada karir mereka.


"Jadi siapa yang memiliki ide pertama untuk menjadi tijus di perusahaan saya?" tanya Aris dengan raut wajah kesal.


Manager keuangan yang bernama Erik itu sebenarnya orang kepercayaan Mami, tapi ntah karena bujukan siapa akhirnya Erik sanggup untuk melakukan tindakan bodoh itu. Sedangkan kepala kantor cabang kota C adalah seorang wanita yang bernama Vina seorang wanita karier yang sangat suka bekerja. Vina dulunya juga bekerja di perusahaan utam, tapi saat mami membuka kantor cabang di kota C, Vina ditunjuk untuk menjadi pimpinan. Kedua tikus kecil itu sontak merasa sangat takut dan langsung menggigil.


"Saya tanyakan sekali lagi, siapa yang memiliki ide pertama sekali untuk menjadi tikus?" tanya Aris.


"Atau anda berdua benar seperti isu yang beredar kalau kalian merupakan pasangan yang tidak resmi." lanjut Bram.


Erik dan Vina saling pandang pandangan. Mereka tidak menyangka kalau gosip itu akan sampai ketelinga Aris.


"Sekarang tinggal jawab. Benar atau tidak" kata Bram.


"Maaf Tuan Aris. Kami berdua memang ada hubungan diluar hubungan pekerjaan. Dan masalah penggelapan uang perusahaan itu, kami berdua yang melakukannya Tuan Aris. Ini terpaksa kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup kami yang terlalu tinggi." kata Erik.


"Erik, saya kenal kamu dari dulu. Saya yakin ini pasti ada hubungannya dengan Vina. Pasti karena gaya hidup Vina kamu berubah mau menjadi tikus." jawab Aris.


Erik yang mendengar langsung menunduk. Memang semua ini dilakukan Erik karena tuntutan dari gaya hidup Vina. Vina memang memiliki gaya hidup yang sangat higtclass.


"Baik, semua sudah jelas. Anda berdua saya pecat dengan tidak hormat. Pesangon anda tidak saya berikan, karena anda sudah mengambil yang bukan hak anda." kata Aris langsung berjalan keluar ruangan diikuti oleh Bram.

__ADS_1


Erik dan Vina hanya bisa menunduk pasrah. Semua sudah terjadi dan tidak bisa dimundur lagi. Penyesalan memang datang terakhir.


Aris dan Bram selepas dari kantor Jaya langsung saja pulang ke rumah utama. Aris merasa sangat letih. Dia berniat mau istirahat sampai makan malam tiba.


__ADS_2