Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Waktu untuk Argha #


__ADS_3

Semua anggota keluarga Soepomoo sudah berada di meja makan, kali ini ada sedikit perubahan pada posisi duduk mereka masing - masing. Aris yang biasanya duduk di sebelah kanan Papi, sekarang bergeser ke tempat Bram biasa duduk, karena tempat duduk yang biasa Aris tempati sudah di isi oleh Ayah Hans, itu semua karena permintaan Aris yang ingin Ayah Hans menjadi orang nomor dua di rumah utama.


" Ghina, ini semua kamu yang masak?" tanya Ayah Hans.


"Iya Ayah, ini Ghina yang masak dibantu oleh Frenya." jawab Ghina.


"Wow, Ayah sudah lama tidak memakan masakan rumahan yang pastinya sangat enak ini." ujar Ayah Hans yang sangat tau bagaimana rasa masakan Ghina, semua itu berbanding terbalik dengan rasa masakan yang dibuat oleh Sari.


"Ayah bisa aja." ujar Ghina.


"Tapi apa yang dikatakan Ayah Hans benar Ghina, masakan kamu paling mantap." ujar Papi menimpali ucapan Ayah Hans.


"Makasi Papi, Ayah karena sudah menyukai masakan Ghina, jadi sekarang mari kita nikmati masakan lezat ini." ujar Ghina berusaha memberhentikan pujian pujian yang keterlaluan daari mertua dan juga Ayah itu.


Mereka kemudian sarapan bersama. Suasana sarapan kembali seperti dulu, tetap hening dan tidak ada yang bersuara satupun, saat keluarga Soepomo makan, jarum jatuh kelantai pasti kedengeran saking nggak adanya bunyi yang terdengar saat mereka makan.


"Hans, kamu hari ini mau kemana?" tanya Papi.


"Ke rumah sakit, mau jaga Sari, kasian Bram yang sudah terlalu lama tidak ke perusahaan." jawab Ayah.


"Oke, kamu saya antar, sekalian saya ada urusan dengan Bram dan juga akan melihat Sari." kata Papi.


"Emang, kamu tidak ke kantor Andra?" tanya Ayah.


"Sudah tidak lagi, perusahaan Jaya sudah saya serahkan kepada Bram jauh jauh hari, sedangkan Soepomo sudah ditangani oleh Aris. Jadi, sekarang saya akan menikmati masa tua saya, masa pensiun dengan mengurus cucu." ujar Papi sambil tersenyum bahagia karena bisa terlepas dari beban pikiran perusahaan yang sangat menyita waktunya selama ini.


"Keren itu Andra, Saya setuju, kita berdua akan menjadi Atuk yang baik bagi cucu cucu kita." kata Ayah yang sudah sangat ingin menimang cucu itu, tapi apalah daya Ayah, Sari masih dalam keadaan sakit.


Dua kakek itu berjalan beriringan masuk ke dalam mobil, seorang sopir sudah menunggu mereka di lobby rumah utama. Sopir yang melihat kedua Tuan besar itu sudah mau keluar, dia membukakan pintu bagian penumpang, salah satu pengawal akan bertindak sebagai penjaga Papi dan Ayah hari ini.


"Daddy, Argha di antar sama Bunda ke sekolah. Nanti saat pulang harus Daddy dan Bunda yang jemput Argha." ujar Argha memberikan pesan kepada Daddynya.


"Siap big boss, saat pulang sekolah Daddy dan Bunda yang akan menjemput Argha." jawab Aris.


Aris kemudian melirik istrinya yang sudah rapi itu. Sebuah ide terlintas di otaknya.


"Sayang, kita ngantar sekolah Argha bersamaan aja, nanti kamu langsung ke kantor aku, jadi pas pulang Argha sekolah kita langsung jemput Argha lagi. Gimana? Argha setuju?" tanya Aris sambil mengedipkan matanya memberikan kode kepada Argha.

__ADS_1


Argha paham dengan kode yang diberikan oleh Daddynya itu.


"Bener Bunda, Argha setuju dengan Daddy, ngapain juga Bunda bawa mobil." jawab Argha.


Ghina melirik Aris, Aris membuang mukanya dengan menahan senyum.


"Hem pasti kalian udang kong kalingkong kan ya?" kata Ghina sambil menatap anaknya.


"Nggak" jawab Argha.


"Bohong, mau hidung jadi pesek, kulit jadi hitam?" ujar Ghina kepada Argha sambil memicingkan matanya.


"Ogah. Daddy tadi yang punya ide Bunda." kata Argha berkata jujur.


"Hahahahaha, dasar pria nggak mau jadi hitam." kata Aris kepada anaknya itu.


"Sayang, kamu pergi sendiri ke kantor, aku mau ke GA Grub setelah mengantar Argha." ujar Ghina memberitahukan kepada dia setelah mengantarkan Argha.


"Oke sayang." jawab Aris.


Aris kemudian mengecup kening istri dan anaknya, setelah itu mereka bersalaman dan berpelukan, kebiasaan yang selalu di terapkan Ghina kepada semua anak anaknya, termasuk Daniel dan Frenya serta Rani walaupun mereka sudah besar.


"Kita kemana dulu Nyonya?" tanya Jero yang selain sebagai asisten juga bertindak sebagai sopir Ghina.


"Ngantar Argha dulu Jero, setelah itu baru kita ke GA Grub." jawab Ghina dari kursi penumpang.


"Om Ivan, nanti jangan berdiri di sebelah kursi Argha di dalam kelas ya, tapi di depan pintu kelas aja." ujar Argha yang keberatan kalau nanti Ivan berdiri tepat di sebelah kursinya.


"Siap Tuan Muda, Om Ivan akan berdiri di depan pintu kelas Tuan Muda." jawab Ivan yang sangat tau Argha tidak suka di bantah.


"Itu baru keren.' jawab Argha.


"Nanti kan Om Ivan dan Om Jero ikut dengan Argha ke mall, jangan pakai baju kayak gini ya, tukar pake kaus dan jins, kalau kayak gini nanti di kira orang Argha ini anak presiden." kata Argha memberikan pesan kepada Jero dan Ivan.


"Banyak kali lah ni perintah." kata Ghina menatap Argha.


"Bunda mau apa, jalan dengan orang yang mengiringi kita dengan pakaian serba hitam, pake kaca mata hitam terus nggak lupa dengan handset yang terus terpasang di telinga?" tanya Argha.

__ADS_1


"Bener juga ya Gha." Ghina setuju dengan pendapat Argha.


"Kalian berdua nanti tukar pakaian ya, saya dengan Aris dan Argha mau ke mall, ogah bawa orang kayak gini." ujar Ghina menahan senyumnya saat dia melihat Jero akan protes.


"Baik Nyonya." akhirnya Jero setuju juga, sedangkan Ivan akan ikut apa yang dilakukan oleh Jero.


Akhirnya mereka sampai juga di sekolah Argha. Argha ditemani Ghina dan diikuti oleh Jero dan Ivan turun dari dalam mobil, mereka berempat berjalan masuk ke dalam perkarangan sekolah, Ghina akan mengantarkan Argha sampai ke depan kelasnya.


"Sayang, hati hati belajar ya, jangan sekali sekali menipu om Ivan. Sempat Argha lakukan maka Argha akan Bunda berikan hadiah. Argha mau hadiah?" tanya Ghina sambil tersenyum licik.


"No no Bunda No. Argha nggak mau hadiah dari Bunda." jawab Argha yang tau hadiah yang dimaksud Ghina seperti apa.


"Oke sip, jadi anak yang baik selalu sayang. Bunda nanti akan jemput dengan Daddy, kita akan main." ujar Ghina.


Argha kemudian berpamitan dengan Ghina, dia masuk ke dalam kelasnya.


"Jaga Argha, Van." kata Ghina berpesan kepada Ivan.


"Siap Nyonya." jawab Ivan.


Ghina dan Jero kemudian meninggalkan kelas Argha, mereka kembali ke parkiran.


"Tenang saja Nyonya, Alex sudah menempatkan orang orang kita di sekolah, ada yang sebagai guru dan juga petugas keamanan, ada yang jadi penjual makanan di pinggir jalan. Nyonya jangan khawatir." kata Jero memberitahukan kepada Ghina.


"Makasi banyak, kalian sungguh sungguh menjaga keluarga saya dengan sangat baik." ujar Ghina.


"Nyonya, kami akan selalu menjaga keluarga ini, karena dari sini kami merasakan menjadi manusia, kalau tidak Nyonya yang menyelamatkan kami, belum tau kami akan menjadi seperti apa." jawab Jero.


Mereka semua akan selalu mengingat apa yang telah dilakukan Ghina kepada mereka selama ini. Jadi, mereka juga akan melakukan apapun untuk keluarga Ghina.


"Kita sekarang ke GA Grub Jero" ujar Ghina memberikan instruksi kepada Jero.


"Siap Nyonya." jawab Jero.


Jero melajukan mobilnya menuju GA Grub. Tengah jalan, Ghina mengubah pikirannya. Dia sangat ingin bertemu dengan suaminya sekarang.


"Jero batal, kita ke Soepomo Grub saja." ujar Ghina.

__ADS_1


"Siap Nyonya." jawab Jero tanpa bertanya kenapa Nyonyanya ini gagal ke GA Grub tetapi malahan mau ke Soepomo Grub.


Jero mengubah arah mobilnya, dia sekarang mengarahkan mobil menuju GA Grub sesuai dengan permintaan Nyonyanya itu.


__ADS_2