
"Selamat Frenya, Juan. Ini benar benar berita yang membuat kita semua menjadi sangat bahagia, tidak hanya kamu berdua saja. Tapi kami juga sangat bahagia luar biasa" ujar Ghina kepada sepasang suami istri yang sudah menunggu sangat lama untuk mendapatkan penerus keluarga mereka.
"Juan, apa kamu sudah menghubungi orang tua kamu?" tanya Aris kepada Juan yang sangat terlihat kalau mereka sedang berbahagia sekali.
"Belum Daddy. Besok saja. Disitu pasti sedang dini hari" ujar Juan yang menunda untuk memberitahukan kepada keluarga besarnya di negara S.
"Oh ya dokter apa tidak ada yang harus di minum oleh anak saya?" tanya Ghina kepada dokter yang memeriksa Frenya tadi.
"Ada Nyonya, suster sedang mengambilkan nya ke apotek. Nanti akan saya jelaskan bagaimana cara minumnya kepada Nyonya muda" ujar dokter menjawab pertanyaan dari Ghina.
"Baiklah. Kami akan tunggu obatnya" ujar Ghina kepada kedua dokter yang memeriksa keadaan Frenya tadi.
Mereka kemudian duduk di sofa ruang tunggu. Frenya terlihat begitu di jaga oleh Ghina dan Rani. Juan yang sebagai suami hanya bisa diam saja melihat apa yang dilakukan oleh Nana dan juga kakak iparnya itu.
Setelah suster yang pergi mengambil resep obat untuk Frenya kembali dari apotek. Dokter kemudian menjelaskan kepada Frenya, Ghina dan Rani tentang tata cara meminum obat tersebut. Mereka bertiga menyimak dengan sangat sungguh sungguh apa yang dikatakan oleh dokter kandungan itu.
Setelah semuanya diselesaikan, keluarga besar Soepomo pergi meninggalkan rumah sakit. Kali ini yang membawa mobil yang isinya ada Ghina, Rani dan Frenya adalah Aris. Tuan besar Soepomo langsung turun tangan untuk mengemudikan mobil tersebut.
Juan yang yak lain adalah suami dari Frenya terpaksa mengalah. Karena apapun yang sudah diputuskan oleh Tuan dan Nyonya besar Soepomo tidak akan bisa dianulir lagi.
"Uda uda nasib uda akan sama dengan uda Daniel sepertinya" ujar Argha kepada Juan yang sekarang duduk di samping Daniel.
"Maksudnya gimana Gha? Uda nggak ngerti sama sekali" ujar Juan yang tidak paham dengan maksud dari perkataan Argha tadi.
"Parah uda. Waktu Uni Rani hamil, yang mengurus semuanya adalah Nana dan Frenya. Sedangkan kalau mau pergi pergi yang jadi sopir langsung turun tangan Daddy. Nggak ada bisa Daniel yang ngurus" ujar Argha memberitahukan kepada Juan bagaimana hebatnya keluarga besar itu dalam mendominasi seseorang anggota keluarga yang hamil.
"Serius kamu gha?" tanya Juan kepada Argha.
"Argha serius Juan. Waktu Rani hamil semuanya dikuasai sama Daddy, Nana dan Frenya. Aku cuma bisa duduk saja." ujar Daniel mengingat masa masa kehamilan Rani.
"Malahan ya Juan, saat Rani ngidam nah harusnya kan gue yang beli. Eeee Nana da Frenya kadang sampai Daddy duluan yang bawakan apa yang di mau oleh Rani. Hebat kan" ujar Daniel sambil berusaha menahan senyum dirinya.
"Wadauh. Jadi gue harus berperang dengan mereka bertiga?" ujar Juan sambil menganga tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya. Makanya loe harus pandai pandai dengan Frenya. Kalau Frenya ngidam, nggak langsung bikin di Grub tapi chat ke elo aja" ujar Daniel memberikan saran kepada Juan.
"Eeee uda mana bisa. Uda tau kan gimana Nana? Nana akan mengikuti kemana Frenya. Nggak akan ada yang bisa lolos dari pantauan Nana dan Daddy" ujar Argha mengingatkan kedua Udanya itu.
__ADS_1
"Akan sia-sia aja. Jadi terima ajalah, dari pada capek" ujar Argha berkata kepada Juan dan Daniel.
"Bener juga itu, nggak ada yang bisa terlewatkan dari pantauan mereka berdua" ujar Juan yang sangat lama bekerja dengan Ghina.
"Jadi, terima nasib aja lagi. Nggak udah diperparah atau diperburuk" ujar Argha menasehati kedua uda nya itu.
Mereka tetap mengikuti iring iringan mobil. Mobil terdepan adalah mobil yang dikemudikan oleh Aris.
"Gila bener Daddy bawa mobil. Jam berapa mau sampe ini" ujar Argha yang tidak bisa membayangkan Daddy mereia yang terkenal waktu muda membawa mobil dengan kecepatan gila gilaan bisa membawa mobil dalam kondisi pelan seperti ini.
"Tapi udah kamu bilang tadi Gha. Nikmati aja. Sekarang saatnya kamu menikmati" ujar Juan membalikkan kepada Argha secara tunai apa yang dikatakan oleh Argha kepada dia tadi.
"Tenang uda, ini baru permulaan, masih ada sekitar tujuh bulan lagi. Ayo semangat" ujar Argha menyemangati Juan. Tetapi yang paling utama Argha menyemangati dirinya sendiri.
"Haha haha haha. Sepertinya ya Uda, Uni nggak akan diperbolehkan dibawa ke negara S. Percayalah sama aku. Sama kayak Uni Rani nggak boleh pergi ke negara U waktu itu" ujar Argha yang mulai menakut nakuti Juan.
"Nggak boleh ke sana. Ya terpaksa uda di sini" jawab Juan kepada Argha dan Daniel.
"Terus perusahaan di sana gimana?" tanya Argha penasaran dengan keputusan yang akan diberikan oleh Juan.
"Sekali sekali kita ke sana" lanjut Juan.
"Hem semoga uda bisa ya" ujae Argha dengan nada pesimis.
"Stop Argha. Jangan dibuat semakin dansa otak Juan. Kamu nggak kasihan" ujar Daniel memarahi Argha yang sangat senang menggoda Juan.
"Haha haha" Argha akhirnya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel.
Daniel terus mengemudikan mobil dalam kecepatan sangat pelan sekali. Ini adalah perjalanan terpelan yang pernah dilakukan Daniel setelah kehamilan Rani.
"Orang tua di atas mobil itu sama aja. Mereka sama sama tidak ingin membuat anak mereka menjadi sakit. Mereka kayak bawa kristal aja. Nggak boleh kesinggung" ujar Argha mete mete sendirian saat menyaksikan cara Daddy membawa mobil.
Argha yang sudah tidak betah lagi dengan cara Daddy nya membawa mobil, langsung meraih ponsel miliknya yang di taruh di kursi.
"Mau ngapain?" tanya Daniel saat melihat Argha sudah melakukan panggilan ke seseorang di seberang telpon itu.
"Mau nelpon lah. Mau ngapain lagi" ujar Argha menjawab pertanyaan dari Daniel.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Daniel.
Belum sempat Argha menjawab pertanyaan dari Daniel. Sambungan telpon Argha sudah diangkat oleh orang yang berada di seberang itu.
"Hallo Daddy, nggak bisa ya mobil Daddy itu dilajukan dengan sedikit menambah kecepatannya? Aku udah mengantuk Daddy" ujar Argha sambil meneriaki Aris yang membawa mobil sangat pelan sekali.
Juan dan Daniel kaget mendengar siapa yang ditelpon oleh Argha. Mereka tidak menyangka kalau Argha bener bener akan menghubungi Aris.
"Hay, hati hati ngomong ya. Daddy memang harus pelan pelan bawa mobil karena Daddy harus menjaga keselamatan Bayi Frenya" ujar Aris balik memarahi Argha.
"Hay jangan marah marah. Pengen aku juga marah?" ujar Argha melawan Daddy nya itu.
Aris yang kesal dengan Argha, langsung saja menginjak pedal gas mobilnya dengan lebih sedikit dalam. Argha kemudian memutuskan panggilan dengan Aris.
"Berhasil kan Uda. Mau marah mau ngapain dia nanti aja kita pikirin sekarang udah capek" jawab Argha sambil melihat mobil suda bergerak lebih cepat.
Ghina yang sudah sangat hafal dengan tinggal Argha hanya bisa tertawa saja, Argha telah berhasil mengkonfrontasi Aris. Sehingga tanpa sadar Aris menginjak pedal gas lebih dalam lagi.
Keempat mobil masuk ke dalam par karangan mansion utama keluarga Soepomo. Argha dan yang lainnya langsung turun dari mobil.
"argha" teriak Aris memanggil anaknya itu.
"Apa Daddy?" tanya Argha dengan wajah pura pura tidak tahu apa apa.
"ada apa ada apa. Masak nelpon ke Daddy seperti tadi. Daddy marah inj" ujar Aris sambil membesarkan matanya kepada Argha.
"Marah aja sendiri Daddy. Bagi Argha terpenting kita udah sampai. Jadi, Argha nggak perlu duduk lama lama dalam mobil" ujar Argha sambil berlalu dari hadapan Aris.
"Makanya, jangan anggap remeh Argha. Kena sendirikan jadinya" ujar Ghina sambil mengusap punggung Aris.
"jadi?" ujar Aris tidak menyangka kalau dia sudah masuk perangkap Argha.
"ya gitu deh" jawab Ghina sambil tersenyum.
"argha" teriak Aris dengan sangat kuat.
Setiap orang yang mendengar suara dari Aris menatap tidak percaya kalau Tuan besar Soepomo bisa juga emosi dan berteriak keras.
__ADS_1