
"Daddy, kita mau kemana? Kenapa rasanya jauh sekali?" ujar Argha yang sudah tidak sabaran ingin sampai ke tempat tujuan mereka hari ini.
"Sabar Gha dikit lagi. Kamu pasti akan senang saat sampai di sana." jawab Aris sambil tersenyum ke arah anaknya lewat kaca spion mobil.
"Awas aja kalau nggak ya Dad. Argha akan ngambek Daddy belum tau kan susahnya Argha kalau ngambek." ujar Argha sambil membalas senyum Daddynya.
"Sudah tau Gha. Kamu pernah sekali ngambek dengan Daddy. Daddy nggak kuat lagi Gha." Aris memang sangat takut kalau Argha sempat merajuk. Membujuk Argha untuk kembali tersenyum lebih susah dari pada membujuk Ghina.
"Cukup satu kali kamu ngambek ke Daddy. Daddy nggak kuat lagi Gha."
"Kalau Bunda kamu ngambek cukup kasih Halmes, maka selesai masalah. Kalau kamu udah Daddy belikan apapun tetap aja ngerajuk." lanjut Aris sambil melihat ke istrinya yang duduk manis di samping dirinya
"Ooooo. Jadi Bunda hanya seharga Helmes. Nggak nyangka Argha Bun." kata Argha berusaha mengompori Bundanya yabg dari tadi hanya diam aja.
"Tanang Gha, besok kalau Bunda ngambek lagi Bunda akan minta setengah harta Daddy. Biar kita berdua makin kaya Gha." jawab Ghina sambil menatap suaminya
"Huf, Gha. Daddy nikahin Bunda karena Daddy sangka Bunda nggak matre Gha. Ternyata Bunda luar biasa matre." kelakar Aris menggoda istrinya.
"Kalau nggak matre nggak kaya Dad. Benerkan Bun?"
"Bener Gha, kalau nggak matre nggak kaya kita berdua ya Gha."
"Wow kalian berdua melawan Daddy sendirian???? Oke oke Daddy mengaku kalah. Lagian semua hasil kerja keras Daddy selama ini untuk kalian berdua juga." ujar Aris sambil tersenyum bahagia melihat kedua orang itu.
Aris tidak menyangka dia akan bisa kembali berkumpul dengan istri dan anaknya setelah kejadian yang sangat melukai siapapun kalau berada di posisi Ghina saat itu.
"Sayang, aku sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan kalian berdua." ujar Aris menatap istri dan anaknya.
"Kami juga senang berkumpul dengan Daddy kembali. Walaupun kami lama menunggu di negara U." ujar Argha menjawab dari belakang.
"Hem Bunda kamu juga Gha perginya nggak ninggalin jejak. Coba kasih klu kan bisa ceoat ditemukan."
"Tau nggak Gha saat itu Daddy udah kemana mana mulai dari negara" Aris mulai kembali akan menceritakan kisah pencarian Ghina dan Argha.
"Daddy alini cerita udah yang ke seribu seratus seluluh satu kali Daddy cerita. Jadi lebih baik nggak usah cerita aja lagi Dad. Capek dengernya." kata Argha sambil tersenyum ke Daddy nya.
"Hahahahahahahaha." Aris tertawa ngakak karena jawaban Argha yang nggak disangka sangka itu.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah sampai ke tempat tujuan piknik hari ini.
"Ayuk turun, kita harus lanjutkan berjalan kaki sekitar lima dua meter lagi kedalam." kata Aris mengajak Ghina dan Argha untuk turun.
Aris mengeluarkan semua barang barang untuk piknik. Aris mengangkat semuanya sendirian. Sedangkan Ghina dan Argha bergandengan untuk berjalan ke tempat yang ingin dituju Aris.
Setelah berjalan lebih kurang dua puluh meter, Ghina dan Argha terkejut melihat pemandangan indah yang ada di sana. Ada sebuah air terjun dengan kolam yang bisa dipakai mandi dan juga bebatuan lengkap dengan flayingfoxnya ada di sana. Di sana juga ada pengunjung yang lain yang juga sedang menikmati air terjun itu. Beberapa anak kecil dan orang dewasa terlihat berenang disana. Serta ada yang hanya duduk di atas bebatuan.
Aris membentangkan tikar yang dibawanya di padang rumput yang ada di sekitar air terjun. Air terjun ini masih sangat asri. Seertinya pengunjung masih menjaga keasrian dan keindahan air terjun.
"Dad ini bener bener wow. Argha nggak sabar mau berenang Dad." ujar Argha yang memang langsung ingin berenang saat melihat kolam air yang begitu jernih
"Boleh Gha tapi kita makan siang dulu. Nanti kamu masuk angin kalau nggak isi perut dulu." jawab Aris yang tidak ingin anaknya sakit.
Ghina mengeluarkan kota bekal yang sudah disiapkan oleh Bik Imah atas perintah Aris. Mereka bertiga mulai makan siang sambil menikmati keindahan alam yang berada di depan mata mereka.
"Dad, Argha udah selesai, jadi apakah Argha boleh berenang sekarang?" tanya Argha sambil menatap memohon kepada Daddy dan Bundanya.
"Boleh. Kami juga akan duduk di batu besar itu." ujar Aris sambil menunjuk batu besar yang muat untuk dua orang duduk di sana.
"Sayang, kapan kamu punya ide mau ke sini?" tanya Ghina yang memang kaget Aris tiba tiba mengajak mereka bertiga untuk piknik.
"Tadi pagi saat membuatkan Argha sarapan. Saat itu rasanya aku pengen kali ngajak kalian berdua piknik ke sini. Makanya langsung aku eksekusi saja. Takutnya kalau diulur ulur nggak ada waktu nanti." jawab Aris sambil memperhatikan Argha yang asik berenang itu.
Mereka berdua kemudian terdiam, mereka sama sama menikmati cipratan air terjun yang mengenai wajah mereka.
"Sayang boleh aku tanya sesuatu?" tanya Aris kepada Ghina.
"Boleh sayang. Nggak ada yang larang juga" jawab Ghina sambil menatap Aris.
"Apakah kamu nggak kepikiran mau nambah anak lagi sayang?" tanya Aris kepada Ghina.
"Emang kamu mau sayang?" tanya Ghina kepada Aris.
"Maulah sayang masak nggak. Satu lagi aja udah itu. Apalagi kalau kembar lebih bagus lagi." jawab Aris yang sangat senang ternyata Ghina tidak marah dia bertanya tentang permasalahan menambah anak.
"Oke sayang. Aku besok akan ke dokter untuk konsultasi. Sebenarnya aku juga udah lama pengen nambah lagi, tapi takutnya kamu tidak setuju." kata Ghina sambil menatap Aris.
__ADS_1
"Bunda mau tambah dedek???? Argha mau tapi perempuan ya." ujar Argha seketika ikut nimbrung percakapan orang tuanya.
"Sedikasih ajalah ya Gha. Nanti kita ngarepin cewek eeeee yang dapat cowok. Emang kalau cowok Argha nggak sayang?" tanya Ghina kepada anaknya itu.
"Sayang. Tapi takutnya nanti adek kalah ganteng sama kakak." jawab Argha dengan sombongnya.
"Sombong" balas Ghina.
"Dikit" jawab Argha.
Argha kembali berenang, dia sangat suka Bunda dan Daddynya akan memberi dia adik.
Setelah empat jam mereka di sana, dan matahari juga sudah mulai turun. Aris dan keluarganya pergi meninggalkan tempat itu. Mereka akan kembali ke rumah utama.
"Gimana Gha, senang nggak?" tanya Aris.
"Senang Dad. Kapan kapan kita piknik lagi ya Dad." jawab Argha yang sekarang duduk di kersi sebelah Daddynya. Sedangkan Ghina duduk di kursi belakang.
"Aman itu, saat kerja Daddy nggak banyak kita akan piknik lagi."
"Janji" tanya Argha sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji" ujar Aris sambil mengaitkan jari kelingking mereka berdua.
Tak terasa mereka sampai juga di rumah utama. Aris memarkir mobilnya di parkiran biasa.
"Darimana Gha?" tanya Papi yang sedang duduk membaca koran ditemani Bram.
"Piknik Tuk. tempatnya keren" jawab Argha.
Argha kemudian menceritakan kepada Papi dan Bram, dirinya tadi dari mana.
"Jadi Argha piknik nggak bawa Atuk? Atuk jadi sedih" ujar Papi menggoda Argha.
"Nggak mampan Tuk" jawab Argha sambil berjalan menuju kamarnya.
Dia tidak ingin melihat tingkah lebay atuknya itu. Apalagi di sana ada Papi Bram, maka akan semakin panjang drama yang terjadi. Makanya Argha memilih untuk pergi ke kamarnya
__ADS_1