Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Perubahan Gina, setelah Negara Api Menyerang


__ADS_3

Gina kembali ke rumah dengan perasaan yang sangat lapang. Dia merasa separo beban dakan dirinya diangkat keluar setiap pulang dari terapi dengan Anggel. Gina tertidur di dalam perjalanannya. Juan yang memang diminta untuk mengawasi Gina memberikan informasi kepada Aris kalau Gina sedang tertidur. Perjalanan dari klinik Anggel ke rumah yang memajan waktu sampai satu jam tidak dirasakan sama sekali oleh Gina.


"Nyonya, kita sudah sampai Nyonya" kata Juan membangunkan Gina yang terlelap.


Gina sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda orang mau bangun. Gina masih berada di alam mimpinya.


"Nyonya kita sudah sampai rumah Nyonya" Juan mencoba sekali lagi membangunkan Gina, tetapi hasilnya tetap sama. Gina tetap tidak bangun.


Juan mengambil ponselnya yang diletakan di atas dashbord mobil. Dia harus menghubungi Aris. Juan kehabisan akal dalam membangunkan Gina.


"Hallo Tuan. Nyonya tidur di mobil Tuan. Saya sudah berkali kali membangunkan Nyonya, tetapi Nyonya tetap tidak bangun Tuan." Lapor Juan kepada Aris.


"Juan, kamu masuk ke rumah. Cari Mami atau kepala maid, minta mereka membangunkan Nyonya Muda" jawab Aris.


"Baik Tuan" jawab Juan.


Aris memutuskan panggilan telponnya dengan Juan. Aris tidak habis pikir dengan kelakuan Gina yang satu ini. Gina bisa tetap tidur walaupun ada suara suara keras memanggilnya.


Juan keluar dari dalam rumah bersama dengan Mami. Untung saja Mami sudah berada di rumah. Kalau tidak terpaksalah kepala maid yang akan membangunkan Gina.


Mami yang melihat Gina tertidur nyenyak langsung membangunkan Gina.


"Gina, sayang bangun nak. Kita udah di rumah" kata Mami sambil menggoyang bahu Gina.


Gina yang merasakan ada goyangan di bahumya, langsung membuka matanya lebar lebar. Dia melihat Mami yang sudah duduk di sebelah kursinya.


"Mami?" tanya Gina heran.


"Kamu udah di rumah sayang. Juan membangunkan kamu dari tadi, tetapi kamu nggak bangun bangun. Makanya Juan manggil Mami ke rumah" kata Mami menjelaskan kenapa Mami sampai berada di dalam mobil.


Gina melihat sekitarnya ternyata dia memang sudah berada di halaman rumah.


"Maafkan saya Juan" kata Gina.


"Nggak apa apa Nyonya" jawab Juan.


Mami dan Gina masuk ke dalam rumah. Gina langsung naik ke kamarnya. Dia akan membersihkan badan terlebih dahulu. Setelah itu Gina berencana untuk memasak. Dia harus kembali seperti dahulu. Anggel bisa mengobatinya kalau dari dalam diri Gina, Gina mau berubah.


Selesai membersihkan badannya, Gina menuju dapur, di sana dilihatnya belum ada Mami tetapi ada seorang maid yang sedang menyiapkan bahan bahan untuk diolah menjadi masakan.


"Mau masak apa maid?" tanya Gina.


"Oh Nyonya muda. Tadi Nyonya besar berpesan untuk masak ikan pesmol, ayam bumbu serta sambal mangga dan sayur capcay" Maid menjawab masakan apa yang akan dibuat Mami.


"Sambal Mangga?" Gina bertanya dengan nada heran.


"Kenapa Mami minta sambal mangga?" lanjut Gina bertanya kepada maid.


"Bukan untuk Nyonya besar Nyonya. Tetapi untuk Tuan muda. Tadi Tuan muda nelpon, dia mau makan malam dengan sambal mangga yang dipetik di kebun belakang" jawab Maid.


"Oh oke. Biar saya yang olah maid. Kamu bantu iris saja ya. Biar yang ngulek bahan sampai yang masak saua yang akan mengeksekusinya" kata Gina sambil memasang celemek andalannya yang selama ini sudah lama terlipat rapi di dalam laci lemari dapur.


Gina mulai menggoreng ikan gurame yang akan dijadikan ikan pesmol. Saat ikan di goreng Gina merebus ayam dengan bumbu yang akan dijadikan ayam bumbu. Gina mengerjakan semuanya dengan sangat lues dan cekatan. Siapapun yang melihat Gina memasang pasti mengira Gina biasa memasak.


"Gina, kamu masak nak?" tanya Mami yang menatap heran ke Gina. Mami datang ke dapur rencananya akan memasak makan malam. Tapi telah didahului oleh Gina.


"Iya Mami. Tadi kata Anggel kalau aku ingin sehat harus datang dari akunya. Anggel hanya perantara dan posisinya hanya membantu saja. Makanya aku mulai sekarang akan melakukan aktifitas yang biasanya aku lakukan. Bantu aku dengan doa ya Mi" kata Gina kepada Mami.


"Kamu selalu dalam dia kami nak. Tidak pernah kami alfa sekalipun mendoakan kebaikan untuk kamu dan juga calon cucu kami" jawab Mami sambil memberikan senyum terbaiknya.


"Jadi sekarang apa yang bisa Mami bantu?"


"Udah siap semuanya Mi. Tinggal tarok di meja makan. Gina mau mandi dulu Mi" lanjut Gina yang langsung berjalan kembali menuju kamarnya. Dia akan menunggu Aris pulang di ruang tamu.


Mami menatap menantunya itu dengan perasaan bahagia. Semoga semua permasalahn antara Gina dan Aris cepat selesai dan mencair.


"Semoga ini awal perubahan yang baik ya Nyonya" kata kepala maid yang mendengarkan percakapan Mami dan Gina.


"Kita sama sama berdoa aja ya maid" jawab Mami.


Mami kembali ke kamarnya setelah selesai menata meja makan.

__ADS_1


Gina yang baru selesai mandi dan bersiap siap, Turun kembali menuju dapur. Dia akan membuatkan lemon tea untuk Aris saat pulang dari kantor. Hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Gina.


Gina kemudian duduk di teras rumah. Mami yang melihat langsung tersadar kalau Gina menunggu Aris pulang. Mami meraih ponselnya dia harus mengabari Aris sekarang juga agar cepat pulang.


"Hallo Mi? Ada apa?" tanya Aris dari seberang telpon.


"Kamu udah dimana nak?" tanya Mami.


"Udah di jalan Mi. Ini Bram yang bawa mobil." jawab Aris yang heran tumben tumbennya Mami menelponnya.


"Minta Bram untuk menginjak gas mobilnya. Gina sudah menunggu kamu di teras rumah" kata Aris.


Aris kemudian mengaktifkan loadspeakernya.


"Ulang lagi Mi. Aku nggak dengar" kata Aris yang kurang yakin dengan pendengarannya.


"Gina sedang menunggu kamu di teras rumah. Dia sudah membuatkan lemon tea kesukaan kamu" kata Mami.


"Oke Mi. Aku akan injak pedal gas ini dalam dalam" jawab Bram.


Bram kemudian menginjak pedal gas mobilnya. Dia tidak ingin Gina berubah pikiran. Bram juga memilih jalan tikus untuk cepat sampai ke rumah utama.


Ternyata memang benar, saat mobil sudah dekat dengan rumah utama, Aris dan Bram melihat Gina sudah menunggu di teras rumah. Seperti waktu dulu, sebelum negara ali menyerang hubungan mereka.


"Kamu harus yakin akan berubah Ris. Kalau nggak Gina akan lebih terpuruk lagi" kata Bram mengingatkan Aris sebelum turun dari mobil.


"Gue yakin Bram" jawab Aris.


Aris dan Bram turun dari mobil. Gina yang melihat dua pria itu turun langsung berdiri dari duduknya. Dia langsung menghampiri Aris. Gina mengambjl tas yang di bawa Aris. Setelah itu Gina menyerahkan lemon tea yang dibuatnya tadi kepada Aris.


"Untuk Aris aja Gin?" tanya Bram.


"Bram ini untuk kamu" kata Mami membawakan secangkir teh hijau kesukaan Bram.


Aris dan Bram duduk di kursi teras rumah. Mereka menikmati teh yang dibuatkan Gina dan Mami. Mami dan Gina juga duduk di kursi yang ada di samping Bram dan Aris. Mereka mengobrol ringan sambil menunggu Papi pulang dari kantor.


Tidak berselang lama dari pulangnya Aris dan Bram, Papi juga datang dari kantor. Papi menatap bahagia kepada keluarganya yang sudah kembali berkumpul seperti biasanya. Terlebih lagi di sana sudah ada Gina. Hal yang sudah lama tidak terjadi. Walaupun Gina sudah lama kembali ke rumah utama.


Mami yang melihat Papi sudah pulang, masuk kembali ke dalam rumah untuk menuang teh untuk diminum Papi. Papi juga memilih duduk di teras sebelum membersihkan dirinya. Mereka mengobrol tentang pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh masing masing perusahaan.


"Sayang, sudaj setengah enam. Kamu sudah mandi atau belum?" tanya Aris kepada Gina.


"Sudah, sebelum duduk di sini tadi aku mandi dulu" kata Gina.


Aris dan Gina berjalan berdampingan menuju kamar mereka. Walaupun interaksi kemesraan sebelum negara api menyerang belum ditampilkan lagi, tetapi ini adalag kemajuan terbesar dalam hubungan mereka. Gina selama ini terkenal cuek dan tidak memberikan perhatian sedikitpun kepada Aris.


"Mi, kok bisa?" tanya Bram saat melihat Gina dan Aris sudah naik tangga.


"Mami juga heran. Malahan yang memasak makan malam kita hari ini adalah Gina" jawab Mami.


Papi dan Bram bertepuk tangan. Mereka sangat senanh karena makan malam adalah menu makan yang dimasak Gina. Apapun yang dimasak oleh Gina dijamin lasti enak dan akan habis. Bukan melecehkan masakan Mami, dibanding masakan Mami memang lebih enak masakan Gina.


"Sepertinya terapi dengan Anggel membawa dampak yang sangat baik kepada Gina." kata Papi.


"Benar Pi. Tadi Gina juga mengatakan hal demikian. Anggel hanya sebagai perantara untuk kesembuhan Gina. Makanya Gina berusaha untuk berubah." kata Mami mengatakan apa yang dikatakan oleh Gina.


Mereka bertiga juga masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka akan membersihkan diri dan juga melakukan persiapan untuk sholat berjamaah.


"Sayang, terimakasih untuk teh yang enak tadi" kata Aris berusaha memecah kesunyian di dalam kamarnya.


"Sama sama Uda. Aku akan membuatkan teh seperti itu setiap pulang kerja" jawab Gina.


"Mandi sana Uda, bentar lagi azand maghrib. Aku minta hari ini kamu jadi imamnya" lanjut Gina.


Aris tersenyum bahagia, akhirnya setelah sekian purnama dan sekian kali negara api menyerang, Gina kembali meminta sesuatu kepada dirinya. Aris masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Gina pergi mengambil pakaian yang akan dipakai Aris untuk sholat dan makan malam. Gina mengambilkan Aris baju koko berwarna putih dan juga celana levis warna hitam. Gina juga meletakkan pakaian dalam Aris serta kain sarung yang akan dipakai Aris untuk sholat.


"Gina sayang, kamu dimana?" teriak Aris saat tidak melihat Gina di kamar.


"Aku di kamar ganti" jawab Gina sambil sedikit berteriak.


"Oh" jawab Aris.

__ADS_1


Aris memakai pakaiannya, setelah selesai, Aris menunggu Gina sambil membaca beberapa berita online. Gina yang ternyata menukar bajunya dengan mididress berwarna putih (agar penampilannya serasi dengan Aris) menuju Aris yang sedang duduk di kursi.


"Uda ayuk turun. Aku udah siap" kata Gina sambil memberikan senyum terindahnya untuk Aris.


Aris sangat senang istrinya sudah kembali kepadanya dengan semua sikapnya dahulu. Satu hal yang belum, Gina tetap jaga jarak, tapi Aris yakin kalau itu akan berubah kembali.


Mereka berdua turun menuju mushalla.


"Uda jangan lupa imamnya harus kamu" kata Gina mengingatkan permintaannya.


"Sip" jawab Aris sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Semua penghuni rumah utama kecuali satpam yang sedang berjaga sudah berada di mushalla. Mereka sudah mengambil shaf. Papi juga sudah berdiri di bagian Imam.


Aris kemudian maju. Dia menepuk pundak Papi dan berbisik di telinga Papi. Papi yang paham langsung mundur, hal ini membuat semua jemaah sholat maghrib merasa heran. Tetapi tidak bagi Gina. Gina tersenyum bahagia. Satu ujian yang diberikannya kepada Aris akan dilakukan Aris dengan segera.


Sholat mahgrib berjamaan itu diimami oleh Aris. Semua berjalan dengan lancar. Gina tersenyum bahagia. Sedangkan Mami meneteskan air matanya. Aris selama ini tidak pernah mau menjadi imam sholat. Tapi ntah kenapa anak laki lakinya itu sekali ini bersedia menjadi imam sholat.


Selesai sholat, keluarga besar Soepomo menuju ruang makan. Mereka akan makan malam bersama. Aris dilayani dengan penuh kerelaan oleh Gina, tidak sedikitpun terbersit keengganan di hati Gina. Mereka makan dengan lahap, terlebih lagi Aris yang tau kalau makan malam ini di masak oleh Gina.


Aris sampai nambah nasi tiga kali. Aris makan hanya dengan sambal mangga dan goreng ayam bumbu. Aris sungguh menikmati makan malamnya. Semenjak kejadian Gina pergi dari rumah, ini adalah makan malam terenak bagi Aris. Drama muntah juga sama sekali tidak ada. Selesai makan, biasanya keluarga Soepomo akan berkumpul di ruang keluarga. Khusus malam ini tidak terjadi karena Gina sudah mengajak Aris untuk masuk ke kamar. Gina akan mengatakan sesuatu yang penting.


"Sayang ada apa?" tanya Aris sambil duduk di sofa kamar.


Sedangkan Gina duduk di ranjang besar mereka.


"Aku mau mengajak kamu untuk terapi berpasangan." kata Gina sambil menundukkan kepalanya.


gina takut Aris menolak ajakannya. Makanya Gina sampai harus menundukkan kepalanya dalam dalam. Setelah menunggu waktu yang agak lama, Aris tidak juga menjawab pertanyaan Gina. Gina semakin yakin kalau Aris menolak ajakannya.


"Gina sayang, kalau kamu mau mendengar apa jawaban dari aku, kamu harus mengangkat kepalamu. Aku tidak mau melihat kamu seperti itu" kata Aris kepada Gina.


Kalau seandainya Gina bisa disentuh Aris. Maka Aris akan langsung memeluk Gina saat ini juga. Aris sangat tidak bisa melihat Gina terpuruk seperti itu. Gina mengangkat kepalanya.


"Jadi apa jawaban uda? Uda pasti menolak, makanya Uda diam saja dari tadi" kata Gina sambil menatap Aris.


"Kamu salah. Uda tidak menolak ajakan kamu. Malahan Uda sangat senang kamu mau melakukan terapis berpasangan dengan Uda di tempat Anggel." jawab Aris.


Gina melongo tidak percaya dengan jawaban yang dikatakan Aris.


"Benar Uda mau pergi dengan Aku ke tempat Anggel?" tanya Gina kembali.


"Yup. Kita berdua akan pergi Apa kamu sudah atur jadwalnya dengan Anggel?" tanya Aris.


"Sudah. Tiga hari lagi kita akan terapis." jawab Anggel.


"Jadi jatuhnya hari Selasa. Jam berapa?" tanya Aris.


"Selasa besok jam empat sore. Tapi karena Uda kerja. Kita undur aja siap mahgrib. Selesai terapi baru kita makan malam di luar. Aku kangen makan ayam geprek di simpang lampu merah tinju" kata Gina sambil membayangkan dia memakan ayam geprek yang terkenal sangat lezat itu.


"Sekarang aja kita kesana." kata Aris sambil mengembil jaket ke ruang ganti. Aris juga mengambilkan jaket untuk Gina. Gina langsung melongo karena Aris langsung mengajaknya malam ini juga.


"Beneran Uda?" tanya Gina.


"Beneran ini pake jaket. Kita akan ajak Bram. Aku nggak mau kamu pingsan lagi nanti saat aku tidak sengaja menyentuh kamu" kata Aris sambil tersenyum.


"Kamu berdoa saja supaya ketakutan aku cepat pergi setelah terapi berpasangan itu." jawab Gina.


Gina memakai jaket yang diberikan oleh Aris. Mereka berdua langsung turun ke lantai bawah. Bram dan Papi terlihat sedang berdiskusi. Gina menarik jaket Aris.


"Kak Bram sedang sibuk" kata Gina dengan ekspresi sedihnya.


"Nggak. Kita ke sana saja. Semua pasti beres" kata Aris meyakinkan Gina.


Aris dan Gina menuju ruang tamu.


"Bram, ikut kita. Gina tiba tiba pengen ayam grprek simoabg lampu merah tinju" kata Aris.


Papi menendang kaki Bram. Dia mengkode Bram agar mau pergi. Masalah pekerjaan bisa dilakukan nanti atau besok pagi.


"Oke. Gue ambil jaket dulu" jawab Bram.

__ADS_1


Bram mengambil jaketnya ke kamar, mereka bertiga pergi untuk membeli ayam geprek yang diinginkan oleh Gina. Papi sangat senang melihat semua perubahan Gina.


Aris, Gina dan Bram melahap ayam geprek itu dengan sangat lahap. Terlebih Gina, dia sudah dari lama menginginkan makanan itu. Tapi Gina takut memintanya kepada Aris. Saking pengennya Gina sampai nambah ayamnya tiga potong. Belum lagi Gina juga memesan untuk dibawa pulang. Aris dan Bram membiarkan saja apa yang dilakukan Gina. Bagi Aris perubahan Gina ini sangat berarti.


__ADS_2